Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 30

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 30

"Betulkah tawanan Banyak Angga yang mati ini diutus oleh ibu suri Nyi Mas Layang Kingkin?" Dencingan senjata yang beradu disertai teriakan kemarahan mengganggu lamunan Pragola, sehingga ia menoleh ke arah pertempuran.

Hanya tersisa tujuh atau delapan orang yang mengepung Banyak Angga dan Paman Angsajaya.

Melihat perkelahian itu, meskipun dikeroyok, tingkat kepandaian Banyak Angga dan Paman Angsajaya jelas satu atau dua tingkat di atas para pengeroyoknya. Namun, mereka tidak sanggup menyelesaikan pertempuran karena kelemahan batin mereka sendiri. Baik Banyak Angga maupun Paman Angsajaya sepertinya tidak pantas menjadi tulang punggung keamanan negeri karena ketidaktegasan mereka.

Para pengeroyok jelas menginginkan nyawa mereka, tetapi mereka tetap enggan menurunkan tangan dengan kejam. Padahal, jika berniat, sangat mudah bagi mereka untuk menghabisi nyawa para pengeroyok. Mungkin jalan pikiran Banyak Angga tak pernah berubah, bahwa manusia berbuat jahat karena sakit jiwanya. Maka, untuk melenyapkan kejahatan, bukanlah badannya yang harus dibasmi, melainkan jiwanya yang harus diobati. Itulah barangkali yang menyebabkan pemuda anak pejabat Pakuan ini tidak bertindak kejam. Adapun Paman Angsajaya, sebagai bawahan, ia pasti akan mengikuti perilaku tuannya. Perkelahian yang dilakukan prajurit setengah baya ini hanya untuk menjaga diri agar tidak terluka dan mengusahakan menundukkan lawan tanpa membunuhnya.

Pragola menduga begitu, namun ia turun membantu agar tidak terkesan membiarkan Banyak Angga bekerja sendiri. Pragola melibatkan diri dalam perkelahian tanpa menggunakan senjata. Saat melihat Pragola ikut terjun, Paman Manggala pun segera mengambil bagian pula. Namun, orang tua ini rupanya tidak mau bertele-tele seperti yang lainnya. Ia segera melakukan gerakan cepat. Dalam belasan jurus, sudah banyak tubuh yang terpelanting. Mereka memang tidak mati, tetapi setiap orang yang terkena pukulan Paman Manggala rata-rata menderita luka dalam yang cukup parah.

Dua orang pengeroyok mengaduh karena tangan mereka patah. Empat orang dilumpuhkan oleh Paman Manggala sendirian. Empat orang lagi langsung menjatuhkan diri berlutut karena merasa tidak sanggup memenangkan perkelahian. Tentu saja, ini adalah pemandangan yang mengherankan. Empat orang bertubuh tinggi besar dengan wajah brewok merunduk memohon ampun kepada dua orang pemuda bertubuh biasa saja. Dari sekitar dua puluh lima orang perampok, hanya empat orang ini yang masih bisa duduk, meskipun tubuh mereka menggigil seperti tikus tercebur air. Sebagian besar dari mereka tergeletak di tanah tak berdaya.

Banyak Angga merunduk sedih melihat banyak orang tergeletak. Apalagi, dari jumlah itu, ada belasan yang tewas. "Pemandangan ini sungguh membuat aku tidak suka," gumamnya sendirian.

"Namun, harus diingat pula olehmu, Raden, bahwa misi yang sedang engkau emban ini pun sebetulnya persiapan menuju kejadian seperti ini, barangkali lebih besar dan lebih mengerikan daripada ini," jawab Pragola tanpa sadar.

Banyak Angga menoleh heran, dan Paman Manggala mengerutkan dahi. "Mengapa engkau merasa seperti begitu?" tanya Banyak Angga.

"Secara diam-diam engkau dan ayahandamu berupaya mengumpulkan orang-orang pandai untuk memperkuat kembali Pakuan. Ini adalah tindakan berisiko tinggi. Kangjeng Prabu Nilakendra belum tentu setuju dengan kebijaksanaan ini. Jika benar tidak setuju, maka akan terjadi pertentangan di istana. Jika pertentangan berlarut-larut, mungkin akan terjadi adu kekuatan di antara kalian sendiri. Sebaliknya, jika usaha kalian berhasil, maka musuh Pajajaran yang berada di sekeliling kalian pun akan lebih meningkatkan kemampuannya. Itulah risiko yang lebih besar dan barangkali akan menghasilkan korban serta kesengsaraan yang lebih parah daripada pertempuran kecil hari ini," tutur Pragola panjang lebar.

Terlihat jelas Paman Manggala semakin mengerutkan kening mendengar Pragola semakin banyak bicara. Jelas, Paman Manggala tidak senang dengan ucapan Pragola. Sebaliknya dengan Banyak Angga. Pemuda ini menundukkan kepala, wajahnya tampak sedih. Ucapan Pragola sepertinya meresap ke benaknya. "Ya, pada akhirnya kita tidak berdaya diombang-ambingkan situasi ini?" gumam Banyak Angga, masih menundukkan kepala.

***

Akhirnya, perjalanan menjadi terlambat satu hari karena keempat orang itu sibuk mengurus para pengeroyok. Semuanya bekerja keras membuat lubang untuk mengubur perampok yang mati. Celakanya, yang paling keras bekerja adalah keempat orang itu karena kebanyakan pengeroyok sudah luka parah dan tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam membantu menguburkan teman-teman mereka. Banyak Angga tetap ingin menempuh prosedur yang berlaku, yaitu mengirimkan para penjahat itu ke tempat pengadilan terdekat agar diadili sebagaimana mestinya.

"Mengapa Paman setuju dengan kebijakan Raden Banyak Angga yang memaksa mengirimkan tawanan agar diadili?" tanya Pragola kepada Paman Manggala. "Kalau mereka diperiksa, jangan-jangan mereka membuka rahasia penyamaran," tuturnya setengah menyelidik.

"Jalan pikiranmu terlalu polos, Pragola. Pada suatu saat, kepolosanmu ini akan menjebakmu ke arah sesuatu yang membahayakan," gumam Paman Manggala, suaranya hampir dingin.

"Benar, Paman, sehingga orang yang berpikiran polos perlu dibodohi," desis Pragola dengan nada dingin pula.

Paman Manggala menatap dengan alis berkerut. Pragola pun balik menatap, sehingga kedua orang itu saling tatap.

"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Paman Manggala pendek.

"Justru saya tidak mengerti maksud Paman. Dan saya memerlukan keteranganmu," jawab Pragola.

"Tentang apa?"

"Tentang siapa mereka!" tunjuknya dengan mata kepada sekelompok tawanan di sebelah sana.

"Mereka adalah perampok biasa. Makanya aku biarkan mereka diperiksa orang Pajajaran agar mereka yakin bahwa kaum penghadang yang lainnya pun mereka sangka sebagai perampok biasa juga," kata Paman Manggala.

"Berarti sudah ada tiga kelompok berbeda yang menghadang saya?" gumam Pragola.

"Aku tidak mengerti maksudmu," tutur Paman Manggala.

Namun, percakapan mereka tidak diteruskan karena Banyak Angga tampak mendekati. "Kita terlambat satu hari," tutur Banyak Angga.

Baik Pragola maupun Paman Manggala hanya mengangguk. "Kita memang banyak dihadang kesulitan. Maafkan saya telah membuat kalian repot," tutur pemuda itu mengeluh.

Pragola dan Paman Manggala buru-buru menimpali bahwa keributan ini adalah bagian dari tugas negara dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

"Tapi kalau saya tidak memilih kalian, tidak nanti kalian dirundung kesulitan dan dihadang bahaya terus-menerus," tutur Banyak Angga lagi.

"Saya selalu siap membela Pakuan, Raden," kata Pragola, yang kemudian daun telinganya terasa panas. Hatinya mengakui, sebenarnya ini adalah ucapan bohong belaka. Padahal, yang sesungguhnya dia lakukan adalah berupaya menggagalkan usaha pemuda ini.

"Seorang raja hanya bisa bertitah tanpa mau tahu apakah itu berkenan atau tidak di hati hambanya. Begitu pula seorang pemimpin atau orang berpengaruh lainnya. Mereka punya keinginan, gagasan, atau rencana. Tapi hanya itu. Yang harus melaksanakannya adalah bawahannya, atau orang-orang yang harus melaksanakan gagasan si pemimpin, sementara hati kecilnya menolak. Anggota perampok yang mati itu belum tentu setuju merampok. Tapi karena pemimpin memaksanya dan dia tidak punya daya, dia akhirnya ikut jadi perampok. Ada juga yang ikut-ikutan merampok karena tertekan sesuatu, oleh sesuatu keadaan, misalnya," tutur Banyak Angga panjang lebar.

"Saya bekerja untukmu tanpa rasa tertekan atau keterpaksaan, Raden," gumam Pragola, namun kembali telinganya memerah sebab ucapannya berlawanan dengan hatinya.

Banyak Angga hanya termanggu, kemudian tersenyum tipis. Pragola tidak bisa menduga apa yang ada di benak pemuda itu ketika tersenyum. Sementara itu, malam telah semakin larut. Pragola menyodorkan diri untuk menjaga tawanan sendirian sepanjang malam. "Baik Raden maupun kedua Paman pasti menderita kelelahan yang sangat. Biarlah kalian bertiga beristirahat penuh, sehingga esok hari semuanya sudah dalam keadaan bugar," kata Pragola memberikan alasan.

"Dan engkau sendiri bagaimana?" tanya Banyak Angga.

"Lebih baik hanya satu orang yang kelelahan daripada semuanya harus capek. Lagipula, saya belum merasa payah benar," tutur Pragola.

Akhirnya, ketiga orang itu mau beristirahat, dan Pragola sendirian menjaga tawanan. Pragola duduk terpisah tiga sampai empat tindak dari ketiga orang yang terbaring tidur. Lamunannya menerawang ke mana-mana. Pragola masih teringat kejadian tadi siang. Tawanan yang mati sebelumnya mengaku sebagai utusan Nyi Mas Layang Kingkin. Siapa yang akan dibunuh Layang Kingkin? Banyak Angga atau dirinya? Lantas, apa kepentingan ibu suri membunuh mereka?

Selama dalam perjalanan, sebetulnya Pragola selalu teringat Nyi Mas Layang Kingkin. Wanita cantik bekas selir terkasih mendiang Kangjeng Prabu Ratu Sakti ini demikian penuh perhatian kepadanya. Dua kali pertemuan dengannya, wanita dewasa bermata binar itu seolah menjanjikan sesuatu kepadanya. "Jadilah mata-mataku agar segala keinginanmu terkabul," kata Nyi Mas Layang Kingkin tempo hari. Janji yang disodorkan wanita berlesung pipit ini seperti tak ada ujung batasnya. Sebab naluri kelaki-lakiannya membisikkan bahwa ada janji cinta dari kerling manis mulutnya. "Janji cinta?" Tapi mungkinkah orang yang mencinta akan melakukan pembunuhan? Membunuhku? Atau membunuh Banyak Angga?" pikir Pragola. Tiga kali menerima penyerangan, memang dirinya selalu menjadi incaran lawan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment