Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 31

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 31

Tak perlu diherankan jika dalam pertempuran terakhir tadi siang dia pun menerima ancaman pembunuhan, sebab kaum penyerang tadi siang merupakan perampok tulen seperti kata Paman Manggala.

Namun, mengenai penyerang yang kedua dan pertama, Pragola tidak mengerti mengapa dia menjadi sasaran pembunuhan. Memang sudah ada kabar dari Pangeran Yudakara bahwa prajurit Cirebon secara rahasia akan menghadang mereka agar perjalanan mencari orang pandai ke wilayah timur terganggu. Para penghadang mungkin akan melakukan pembunuhan. Ya, mungkin begitu.

Tetapi mengapa dirinya menjadi sasaran pembunuhan juga? Paman Manggala memang berkata bahwa untuk memperlihatkan serangan itu nyata, maka semua orang seolah-olah mengalami bahaya yang sama. Namun, tetap saja ucapan ini meragukan. Apa pun dalihnya, Pragola merasa bahwa nyawanya diancam orang.

Siapa yang mengancamnya dan apa pentingnya dia dibunuh? Pragola mencoba menganalisis jalan pikiran Pangeran Yudakara dan Nyi Mas Layang Kingkin. Pangeran Yudakara mengirimkan dirinya untuk menyelundup ke puri Yogascitra tentu karena percaya. Mengapa orang kepercayaan harus dibunuh?

Sekarang Pragola mencoba menelaah jalan pikiran Nyi Mas Layang Kingkin. Menyimak bicaranya, wanita cantik ini adalah orang yang pro terhadap Kanjeng Prabu Nilakendra dan sama sekali menolak gagasan Pangeran Yogascitra yang berupaya mengirim dan mengumpulkan orang pandai ke Pakuan. Karena itulah Nyi Mas Layang Kingkin menyuruhnya ikut menghalangi perjalanan Banyak Angga.

Ia tidak menyangka bahwa Nyi Mas Layang Kingkin bisa juga bertindak keras dengan mengirimkan pasukan pembunuh untuk melenyapkan Banyak Angga, bahkan dirinya. Dirinya? Pragola mencoba menepiskan prasangka buruk ini. Bisa jadi serangan terhadap dirinya adalah kekeliruan. Atau seperti kata Paman Manggala, semua dilakukan dengan sungguh-sungguh agar Banyak Angga percaya bahwa semuanya bukan diatur.

Pragola menjadi pusing sendiri sebab semua yang dia pikirkan hanya berupa dugaan-dugaan belaka. Pemuda ini tersentak dari lamunannya ketika dari belakang terdengar gerakan halus. Ketika dia membalikkan tubuh, ternyata Paman Manggala yang datang.

Pragola tidak menyapanya. Dia merasakan ada kerenggangan di antara mereka. Atau setidaknya, dia merasa bahwa Paman Manggala sudah menjadi renggang dengannya karena orang tua itu dicurigai menyembunyikan suatu rahasia.

"Tidurlah, engkau pasti lelah dan mengantuk," bisik Paman Manggala.

Pragola menggelengkan kepala.

"Kalau begitu kita berbincang saja," bisik Paman Manggala lagi. Orang tua itu terus berbisik, menyadarkan Pragola bahwa Paman Manggala menginginkan pembicaraan penting yang hanya bisa didengar berdua saja.

"Engkau tentu menemukan sesuatu yang penting tadi siang," kata Paman Manggala.

"Paman sendiri bagaimana?"

"Ya, sebetulnya kita telah sama-sama menemukan sebuah misteri," jawab Paman Manggala.

"Ada lebih dari satu misteri bagiku dan Paman perlu menerangkannya padaku," gumam Pragola.

"Kau kan sudah tahu, tawanan yang mati itu diutus oleh siapa?"

"Kemudian siapa yang mengutus penghadang pertama yang kemudian Paman bunuh itu?" tanya Pragola.

Paman Manggala terpekur sejenak, kemudian menghela napas. "Aku membunuh tawanan yang sebetulnya orang sendiri itu agar rahasia kita tidak terkuak," kata Paman Manggala.

"Agar rencana mereka untuk membunuhku juga tidak terbongkar," potong Pragola. "Mengapa mereka hendak membunuhku?" tanya Pragola lagi dengan penuh desakan.

Kembali Paman Manggala menghela napas. "Ya, aku juga sebetulnya merasakan bahwa sepertinya ada upaya untuk membunuhmu. Namun, aku belum tahu dasar kecurigaanku pada utusan Pangeran Yudakara itu. Dan kalaupun aku membunuh mereka, sebetulnya aku lebih mengkhawatirkan mereka buka mulut sewaktu diperiksa nanti. Makanya kulenyapkan saja mereka."

Pragola tidak berkomentar.

"Sungguh, aku juga berpikir sepertimu, mengapa kau jadi sasaran pembunuhan. Kebingungan kian bertambah ketika kita menerima hadangan kedua. Aku curiga mereka bukan orang sendiri. Dan terbukti bahwa penghadang kedua diutus oleh Nyi Mas Layang Kingkin. Ini mencurigakan."

"Paman mengenal juga Nyi Mas Layang Kingkin?"

"Bekas selir mendiang Sang Prabu Ratu Sakti ini adalah kekasih gelap Pangeran Yudakara," bisik Paman Manggala.

Serasa ada halilintar menyambar ubun-ubunnya manakala Pragola mendengar ucapan Paman Manggala ini. Nyi Mas Layang Kingkin kekasih gelap Pangeran Yudakara?

"Aku bingung dan curiga. Nyi Mas Layang Kingkin punya pasukan tentu di luar pengetahuan Pangeran Yudakara. Yang patut dicurigai, apa keperluan Nyi Mas Layang Kingkin mengirimkan pasukan pembunuh seolah ingin menyaingi upaya-upaya Pangeran Yudakara?" tanya Paman Manggala.

"Apakah Nyi Mas Layang Kingkin pun bekerja untuk Cirebon?" tanya Pragola setengah menerawang ke sana kemari.

"Nyi Mas Layang Kingkin adalah orang Pakuan tulen, namun merupakan tokoh yang diasingkan di negerinya," kata Paman Manggala lagi.

Pembicaraan yang dilakukan dengan pelan menyerupai bisikan ini tidak dilanjutkan karena terdengar suara batuk. Ternyata Paman Angsajaya yang batuk. Dalam keremangan, tampak dia bangun dan duduk seraya menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanan.

***

Para perampok yang ditawan sudah diserahkan kepada cutak terdekat untuk diurus sebagaimana mestinya. Sesudah tugas ini diselesaikan, keempat orang itu kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan masih tetap dilakukan dengan berjalan kaki kendati cutak menawari mereka empat ekor kuda yang bagus. Banyak Angga memberi alasan bahwa lebih aman berjalan kaki ketimbang naik kuda. Dengan berkuda hanya akan menarik perhatian orang, padahal perjalanan mereka harus dilakukan secara diam-diam.

"Kaum perampok akan menganggap kita saudagar kaya dan pihak musuh akan mencurigai bahwa kita adalah orang-orang penting," tutur Banyak Angga.

Sekarang perjalanan tidak dilakukan tergesa-gesa walaupun sudah terlambat satu hari. Keempat orang itu berjalan santai. Di samping kelelahan karena banyak mengalami bahaya, mereka juga tahu bahwa Sagaraherang letaknya sudah tidak terlalu jauh lagi.

Mereka berjalan tanpa terlalu banyak bicara. Banyak Angga berjalan di depan, diikuti oleh Pragola. Sedangkan yang melangkah paling belakang adalah Paman Manggala dan Paman Angsajaya. Kedua orang itu hanya sesekali berbicara, itu pun bukan hal yang penting. Sementara Banyak Angga lebih banyak diam.

Hal ini membuat Pragola lebih leluasa mengumbar lamunannya. Tak bisa dipungkiri, ada semacam pukulan batin bagi pemuda ini setelah mendengar berita perihal Nyi Mas Layang Kingkin. Nyi Mas Layang Kingkin adalah wanita dewasa. Barangkali usianya dengan Pragola terpaut lima tahun. Jika Nyi Mas Layang Kingkin wanita biasa, mungkin Pragola harus memanggilnya seperti seorang adik kepada kakak perempuannya.

Namun, Nyi Mas Layang Kingkin bukan wanita sembarangan. Dia adalah bekas selir mendiang raja terdahulu. Walaupun wanita itu menjadi orang terasing seperti kata Paman Manggala, namun wanita anggun itu tetap menjadi penghuni puri di istana raja. Bahkan disebut-sebut sebagai wanita yang cukup berpengaruh, terutama bagi Sang Prabu Nilakendra. Ya, Nyi Mas Layang Kingkin adalah seorang agung di istana Pakuan.

Tetapi mengapa wanita berdagu runcing dengan hidung kecil mancung itu demikian manis budi kepadanya? Senyumnya selalu merekah, kerlingnya selalu memikat jantungnya. Ada kerling cinta terhadapnya. Oh, Layang Kingkin, benarkah engkau cinta padaku? Usia bukanlah halangan. Banyak lelaki mendapatkan wanita lebih muda. Mengapa wanita yang lebih tua tidak berhak mendapatkan lelaki lebih muda? Itu bukan sebuah dosa.

Yang menjadi ganjalan sekarang, betulkah Nyi Mas Layang Kingkin terlibat urusan politik? Namun, semua orang punya keputusan sendiri-sendiri, termasuk dalam politik. Itu tidak menjadi halangan. Namun kesedihan di hati Pragola adalah ucapan pahit Paman Manggala. Benarkah Nyi Mas Layang Kingkin menjadi kekasih gelap Pangeran Yudakara? Pahit sekali. Pahit dan menyakitkan.

Nyi Mas Layang Kingkin yang bersikap manis kepadanya, nyatanya punya kekasih gelap, Pangeran Yudakara lagi, yaitu seseorang yang dianggap atasannya dan harus disegani. Kekasih gelap? Mengapa harus menjadi kekasih gelap? Mengapa harus bersembunyi, bukankah Pangeran Yudakara seorang duda dan Nyi Mas Layang Kingkin seorang janda? Apa yang membuat mereka bersembunyi seperti itu? Pragola berharap ini hanyalah kabar burung. Artinya, berita yang disampaikan Paman Manggala kepadanya hanyalah isu yang kebenarannya diragukan. Ya, itulah harapan hatinya.

Selama melakukan perjalanan, bila malam tiba atau suasana menjadi sunyi, Pragola selalu terkenang Nyi Mas Layang Kingkin. Dia teringat akan pipi wanita itu yang putih kemerahan di saat tubuhnya jatuh ke pelukan Pragola karena kakinya keseleo di tepi kolam kaputren. Pragola pun teringat betapa lekuk tubuh Nyi Mas Layang Kingkin demikian menantang ketika pakaian sutra tipisnya tersorot cahaya lentera.

Ya, pemuda itu baru sadar belakangan ini bahwa Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya telah menawarkan gelora cinta kepadanya, namun peluang itu dibuang percuma olehnya. Nyi Mas, betapa sebetulnya engkau mencintaiku. Namun benarkah orang lain bilang bahwa engkau bermain asmara secara gelap dengan lelaki lain? Keluh Pragola.

Jika saja suasana sunyi di perjalanan terus berlangsung, barangkali lamunan Pragola akan terus berlarut-larut. Namun hati pemuda ini segera tersentak manakala pada jalan setapak di depannya terlihat seorang wanita berlari tergopoh-gopoh. Wanita itu lari dengan penuh ketakutan. Penyebabnya baru diketahui kemudian; ternyata wanita yang ditaksir berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tengah dikejar seorang lelaki. Lelaki itu barangkali berusia tiga puluh lima tahun, pantas menjadi suaminya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment