Chapter 32
Tapi mengapa lelaki itu seperti marah dan berniat hendak menganiaya wanita yang dikejarnya? Siapa pun pasti menduga ia hendak menganiaya, sebab di tangan kanan lelaki itu terpegang erat sebuah golok.
Golok itu tidak begitu mengilap, pertanda kurang tajam. Namun setumpul-tumpulnya golok, jika dibacokkan ke kepala orang, tentu akan berakibat fatal. Wanita itu sudah tampak kepayahan karena terus dikejar. Dalam satu-dua langkah saja, ia sudah terkejar. Golok di tangan lelaki itu segera terayun, tampak jelas akan mengenai bagian belakang kepala wanita itu.
Namun sebelum benda itu menghantam kepala, tiba-tiba golok tersebut terlempar ke udara, kemudian ujungnya menancap keras di dahan pohon. Pemegangnya sendiri terpental ke belakang dan jatuh berdebuk. Lelaki itu meringis seraya memegangi pergelangan tangannya. Ia tampak sangat kaget, menatap Banyak Angga yang baru saja melemparkan sebutir batu dan mengenai telak pergelangan tangannya.
"Perempuan laknat itu yang berdosa. Mengapa aku yang dihukum?" kata lelaki itu dengan kasar.
"Siapakah perempuan itu dan mengapa hendak kau bunuh?" tanya Banyak Angga.
"Dibunuh atau tidak, itu urusanku sebab dia adalah istriku!" jawab lelaki itu sambil bangkit dan hendak memukul wanita yang berdiri menggigil ketakutan.
Namun sebelum tujuannya terlaksana, lelaki berangasan itu sudah didorong mundur oleh Banyak Angga sehingga tubuhnya kembali terjengkang.
"Dia adalah istrimu. Tapi bila sudah menyangkut keselamatan nyawa, maka semua orang bisa ikut campur. Aku tak suka melihat orang dianiaya, apalagi seorang wanita," kata Banyak Angga.
Lelaki yang terjengkang itu sebenarnya tidak memiliki kepandaian apa-apa, hanya bersikap berangasan saja. Namun karena sifat itulah, ia seolah tidak memiliki rasa takut.
"Melihat pakaianmu dan juga kulit wajahmu yang sehat, tentu engkau seorang santana. Engkau juga seorang yang gagah, hai pemuda. Sayang, kegagahanmu tidak kau gunakan di atas jalan kebijaksanaan. Kau hanya melihat kulitnya saja. Hanya karena melihat seorang lelaki hendak menganiaya perempuan, engkau langsung bersimpati pada si perempuan tanpa melihat sebab musababnya," tutur si lelaki berangasan sambil masih memegangi pergelangan tangan kanannya.
"Tentu aku akan melihat permasalahannya. Karena itulah aku hentikan dulu perbuatan penganiayaanmu," jawab Banyak Angga lagi. "Sekarang sebutkanlah alasanmu, mengapa begitu tega hendak mencelakai istri sendiri?" lanjutnya.
Si lelaki berangasan itu mendengus dan memalingkan muka. "Aku enggan menerangkan aib yang dilakukan bedebah itu. Tapi kalau engkau suka mendengarkan dendang prepantun, tentu engkau ingat kisah-kisah sedih Raden Banyak Angga yang kerap dilantunkan mereka," kata si berangasan.
Seketika memerah kulit pipi Banyak Angga.
"Sudahlah Raden, kita tidak perlu berurusan dengan mereka," tutur Paman Angsajaya melibatkan diri dalam persoalan.
"Nah, sekarang tentu kalian tahu tentang permasalahan kami. Jadi tidak perlu lagi melindungi perempuan tidak berharga yang gila pangkat dan gila harta ini," kata si lelaki berangasan sambil bangkit menggenggam pisau.
Demikian bencinya ia pada istrinya sehingga tetap bertekad ingin membunuhnya. Namun untuk kesekian kalinya, Banyak Angga menghalangi tindakan brutal lelaki itu.
"Engkau selalu berusaha menghalangiku, apa hakmu?" teriak si berangasan.
"Hakku adalah menghalangi tindakan kejammu," kata Banyak Angga menatap dengan sorot mata lesu. "Dan aku harus menghalangi agar kau tidak bertindak kejam terhadap wanita," lanjutnya.
"Maksudnya, engkau menyuruhku agar berhati lemah terhadap wanita seperti kisah-kisah prepantun mengenai Raden Banyak Angga itu?" tanya si lelaki berangasan. "Ingat, aku bukanlah Banyak Angga, melainkan seorang lelaki yang punya harga diri. Aku adalah lelaki yang tidak mau dihina oleh perempuan, tidak seperti Banyak Angga yang pasrah begitu saja dikhianati Layang Kingkin, kekasih tidak setianya itu!"
Paman Angsajaya hendak menghambur ke depan dan tampak ingin melayangkan serangan kepada lelaki kasar itu. Namun dengan sigap, Banyak Angga menghalanginya. Pemuda yang wajahnya kini pucat pasi karena ucapan tajam si berangasan segera menghampiri wanita yang ada di belakangnya. Dengan gerakan tidak terduga, Banyak Angga melayangkan tangan kanannya.
"Plak!" Pipi kiri wanita itu ditamparnya sehingga tubuhnya terpelanting.
"Engkau memang patut dihukum. Tapi cepatlah pergi. Aku tidak mau kau binasa karena perbuatan burukmu itu!" desis Banyak Angga menatap tajam si wanita.
Wanita itu bangkit dengan mata berlinang. Ia pergi dari tempat itu dengan tergopoh-gopoh. Terdengar isaknya yang tertahan. Makin lama suara itu makin pelan karena wanita itu semakin menjauh. Namun si lelaki tidak puas dengan keputusan ini. Ia segera mengejar istrinya, yang kemudian langsung dihalangi oleh Paman Angsajaya.
"Kalau kau tetap akan membunuh istrimu, maka kau pun akan kubinasakan!" teriak Paman Angsajaya mengancam.
Si berangasan malah menerjang menyerang Paman Angsajaya, yang ditepiskan dengan mudah oleh prajurit setengah baya ini. Banyak Angga tidak sempat melihat perkelahian kecil ini sebab ia segera pergi dari tempat itu dengan wajah murung. Selang beberapa langkah, Pragola pun ikut melangkah di belakangnya. Ia melangkah tanpa sadar sebab perasaannya kacau-balau.
Kini kepadanya sudah datang lagi berita baru mengenai Nyi Mas Layang Kingkin. Kemarin malam ia mendapat informasi melalui Paman Manggala bahwa Nyi Mas Layang Kingkin adalah kekasih gelap Pangeran Yudakara. Hari ini, Pragola pun menambah perbendaharaan pengetahuannya lagi. Betulkah Nyi Mas Layang Kingkin pernah punya hubungan dengan Raden Banyak Angga?
***
**Perburuan Tak Pernah Selesai**
Banyak Angga berdiri mematung di atas tonjolan batu, melihat hamparan padang ilalang bercampur tanah rawa di dataran rendah itu. Rawa ini banyak ikannya, sehingga selama masa istirahat di tempat itu, mereka tidak kekurangan bahan makanan. Pragola pun berdiri di sana, agak sedikit di belakang Banyak Angga.
"Maafkan bila saya terlanjur mengetahui peristiwa kelabu Raden," tutur Pragola memecah kesunyian.
"Kalau engkau sering pergi malam-malam ke Dayo Pakuan, maka di kedai tertentu suka ada prepantun mendendangkan kisahku. Jadi dengan demikian, sudah banyak orang tahu mengenaiku," gumam pemuda itu menunduk. "Yang aku sesalkan, mengapa banyak pendapat seperti itu. Sepertinya aku lemah terhadap wanita," sambungnya.
"Mungkin para penyimak cerita pantun mengenai Banyak Angga berkeinginan, sekurang-kurangnya Banyak Angga melakukan suatu tindakan dan bukan sekadar bersedih berkeluh kesah melihat Nyi Mas Layang Kingkin berkhianat seperti itu," kata Pragola. Untuk kesekian kalinya, Pragola mengulum senyum.
"Banyak cara laki-laki membenci wanita. Mungkin ada laki-laki yang marah besar karena harga dirinya merasa dilangkahi. Sedangkan aku sendiri cenderung memilih menjauhi. Dan aku tidak percaya lagi kepada mereka," kata Banyak Angga.
"Raden mendendam Nyi Mas Layang Kingkin?" tanya Pragola.
"Mungkin begitu. Tapi lebih besar lagi perasaan kasihan terhadapnya. Lihatlah, hanya karena terlalu besar mengejar ambisi pribadi, hidup Nyi Mas Layang Kingkin jadi seperti itu. Dia mungkin tinggal di istana dengan kekayaan melimpah, tapi hidupnya sebetulnya sepi. Semua orang mengasingkannya," kata Banyak Angga.
"Demikian sepikah dia?" Pragola begitu tertarik sebab berita mengenai Ibu Suri datang langsung dari Banyak Angga, lelaki yang semasa remaja amat dekat hubungannya dengan beliau.
"Ya, aku kira demikian. Tidak ada orang yang paling sengsara selain orang yang menderita kesepian," tutur Banyak Angga.
Banyak Angga bercerita, dulu hubungan mereka amat baik. Satu sama lain berjanji akan sehidup semati. Namun kenyataan membuktikan lain. Mendiang Sang Prabu Ratu Sakti, raja Pajajaran ketika itu (1543-1551 M), di samping menaksir Nyi Mas Banyak Inten, adik Banyak Angga, juga memperhatikan Nyi Mas Layang Kingkin. Gadis itu bahkan tergoda dan memilih menjadi selir raja ketimbang bersuamikan anak bangsawan biasa.
Nyi Mas Layang Kingkin bahkan menginginkan lebih dari itu. Untuk menempatkan dirinya sebagai satu-satunya selir terkasih, ia mencoba menyingkirkan Nyi Mas Banyak Inten dari kedudukannya sebagai pesaing. Kakak tirinya, Suji Angkara yang dikenal sebagai pemuda hidung belang, dibantunya untuk menggoda Nyi Mas Banyak Inten, yang menyebabkan gadis itu dihukum masuk mandala karena dianggap menghina raja.
"Menjadi selir terkasih mungkin bisa terlaksana. Namun tentu saja sifatnya sementara. Sesudah Sang Prabu wafat, tidak ada cinta dan tidak ada kekuasaan. Hanya karena segan terhadap mendiang raja terdahulu saja, Sang Prabu Nilakendra tidak mendepaknya. Nyi Mas Layang Kingkin diasingkan dari semua kegiatan istana, kendati diberinya berbagai kesenangan duniawi," tutur Banyak Angga.
Pragola mengangguk-angguk. Namun begitu, dalam hatinya menyimpan pertanyaan. Tahukah Banyak Angga bahwa kendati Nyi Mas Layang Kingkin seperti terasing di dalam tembok istana, sebetulnya ia tengah memiliki gerakan tertentu?
Pragola kembali teringat betapa ada pasukan yang dikendalikan Ibu Suri yang bertugas membuntuti dan membunuh Banyak Angga. Mungkin pemuda itu tidak pernah tahu. Ia hanya menyangka pasukannya tiga kali diserang oleh musuh yang sama, yaitu kalau bukan oleh pasukan Cirebon, tentu oleh komplotan perampok.
Pragola tidak mau tahu apakah Banyak Angga waspada atau tidak. Namun yang jelas, melihat gerakan Nyi Mas Layang Kingkin, ia merasa bingung mengenai apa yang dikehendaki wanita anggun tapi misterius itu. Ya, Nyi Mas Layang Kingkin benar-benar misterius. Dalam pertemuan rahasia dengannya di istana tempo hari, Nyi Mas Layang Kingkin menjanjikan kesenangan padanya kalau mau membantu. Namun belakangan, ternyata Pragola pun jadi sasaran pembunuhan pula.
"Suatu saat, teka-teki ini harus aku singkap," tuturnya dalam hati.