Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 33

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 33

"Maafkan kalau sikapku mengganggumu, Pragola," suara Banyak Angga membuyarkan lamunan Pragola.

Pemuda ini menengok, belum paham apa yang dimaksud Banyak Angga.

"Mengapa harus mengganggu saya?" tanyanya.

"Sebab kalau kau menyimak tindak-tandukku yang tak menyukai wanita, seolah-olah keberadaan mereka itu amat buruk. Padahal tentu tak semua wanita buruk seperti itu. Atau?" kata Banyak Angga seperti tak mau melanjutkan kalimatnya.

"Atau tentu Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya tak buruk. Mengapa karena punya ambisi maka orang dianggap buruk? Punya ambisi adalah berupaya mengejar sesuatu yang lebih baik. Itu hal yang wajar. Mungkin aku tak suka padanya karena ambisi yang dia punyai merugikanku," tutur Banyak Angga.

Pragola tersenyum mendengar pendapat Banyak Angga. Semakin nyata kini bahwa pemuda bangsawan ini sebenarnya punya kelemahan. Banyak Angga punya penyakit susah menyalahkan orang lain. Kalau ada orang yang dirasa merugikannya, maka penyebabnya selalu dilihat dulu dari sudut dirinya sendiri.

Kata Banyak Angga, Nyi Mas Layang Kingkin meninggalkannya karena kedudukan dirinya lebih rendah ketimbang Raja. Untuk mengejar ambisi, tentu saja wanita itu harus memilih Raja ketimbang Banyak Angga.

"Jadi, tak ada sesuatu yang aneh di sini. Hanya saja pengaruh dari tindakan Layang Kingkin ini berpengaruh terhadapku sehingga pada akhirnya aku meragukan nilai cinta seorang wanita," kata Banyak Angga.

"Kalau Raden melihat bahwa sifat seperti itu tidak terdapat pada semua wanita, mengapa Raden tidak berusaha mendapatkan cinta wanita lain?"

"Wanita yang bagaimana?"

"Cobalah wanita dari kalangan biasa, barangkali ambisinya tidak terlalu besar," jawab Pragola.

"Mungkin juga benar, wanita dari kalangan kebanyakan akan taat dan menghormat bila dinikahi. Tapi belum tentu dasarnya karena cinta. Atau kalau pun cinta, dia hanya mencintai kebangsawananku, bukan terhadap diriku," kata Banyak Angga.

Pragola merenung. Sulit sekali kalau semuanya sudah dihadapkan pada persangkaan. Nyi Mas Layang Kingkin suatu kali seperti menawarkan cinta terhadapnya. Kalau Pragola harus berpikir seperti Banyak Angga, benarkah wanita itu mencintai dirinya? Dia ibu suri, sedangkan Pragola prajurit biasa, hanya anak dari seorang *cutak*, itu pun *cutak* pemberontak karena mencoba melawan pemerintahan Pajajaran.

Mungkinkah wanita kalangan istana jatuh cinta kepada dirinya? Dan kalau pun benar menampakkan gejala ini, tentu ada sesuatu di luar dirinya yang diharapkan. Pragola mengerutkan alis. Dia tidak sanggup berpikir rumit seperti Banyak Angga. Kalau wanita itu mau mengajaknya bercinta, dia akan melayaninya. Tapi bila belakangan ternyata berniat jahat, maka akan dia hadapi dengan cara lain pula. Tak perlu banyak pilihan seperti yang dipikirkan Banyak Angga.

***

Perjalanan kembali dilanjutkan. Tujuan utama wilayah Gunung Cakrabuana telah hampir tercapai. Tapi semakin dekat ke tempat tujuan, perasaan Pragola semakin tidak tenang. Dia ingat, perjalanan yang berat ini sebetulnya ditempuh untuk perkara bohong belaka. Ini adalah akal dari Pangeran Yudakara yang menginginkan Dayeuh Pakuan kosong dari orang-orang pandai.

Dengan memberitakan bahwa di Puncak Cakrabuana terkepung belasan perwira Pajajaran oleh pasukan Cirebon, Pangeran Yudakara—atasan Pragola—berharap banyak orang pandai dari Pakuan "keluar sarang" untuk menolong rekan-rekan mereka. Akal ini belum sepenuhnya berhasil. Buktinya, yang pergi ke Cakrabuana bukan perwira-perwira Pakuan, melainkan Banyak Angga.

Pangeran Yogascitra, penasihat Raja, sungguh pandai dan hati-hati. Dia tidak langsung mengirimkan belasan perwira untuk menjemput dan menyelamatkan "belasan perwira terkepung" itu, melainkan hanya mengirim penyelidik, yaitu Banyak Angga terlebih dahulu.

Yang jadi kekhawatiran Pragola, pada suatu saat Banyak Angga akan tahu bahwa terkepungnya belasan perwira hanya merupakan berita palsu belaka. Dan kalau Banyak Angga terlanjur tahu, maka Pragola harus membunuhnya, kemudian melaporkannya ke Pakuan sebagai serangan perampok. Dengan demikian, misi kedua dan seterusnya akan menyusul sampai sebagian besar orang pandai yang setia pada Pajajaran terkuras habis.

Mengingat bahwa ada kemungkinan dirinya harus membunuh Banyak Angga, terbit perasaan tidak enak pada hatinya. Banyak Angga memang musuh, tapi sudah hampir empat tahun ini dia bersamanya. Secara pribadi Pragola tidak bermusuhan dengan Banyak Angga. Anak bangsawan yang pemurung ini tidak menampakkan alasan untuk dibenci.

Banyak Angga ini orang baik. Kendati anak seorang bangsawan berpengaruh di Pakuan, Banyak Angga tidak sombong. Kepada siapa saja dia berlaku hormat, termasuk juga kepada bawahannya. Untuk melakukan kebijaksanaan, terkadang dia meminta pendapat bawahan-bawahannya. Banyak Angga misalnya, kerap kali mengajak Pragola ikut memutuskan perkara. Ini hanya menandakan bahwa Banyak Angga selalu menghargai dan mempercayainya. Mengingat akan masalah ini, Pragola menjadi semakin merasa bersalah.

Pragola sedih. Semakin lama dirinya semakin dilibatkan dalam urusan politik, dan semakin terasa bahwa kemanusiaannya terganggu. Pemuda ini mulai meraba bahwa politik ini jauh dari rasa kemanusiaan. Bayangkanlah, Pragola harus menulikan telinga, mengatupkan mata, dan mengubur cinta kasih di hatinya hanya karena apa yang disebutnya sebagai perjuangan. Banyak Angga yang sebetulnya pemuda baik dan pantas dijadikan sahabat sejati, harus dianggap musuh karena urusan politik. Pragola sedih mengingatnya.

Sekarang perjalanan sudah tiba di wilayah antara Sagaraherang dan Sumedanglarang. Ini adalah wilayah hutan jati yang kata orang sangat angker. Sebagian penduduk menganggap bahwa di hutan jati ini banyak dedemit dan genderuwo. Bila ada orang memasuki wilayah ini, konon susah untuk bisa kembali. Kebanyakan hilang tidak tentu rimbanya.

Tapi menurut pengamatan Pragola, hutan jati itu tidak aman karena banyak dihuni orang jahat. Ketika hendak menuju Pakuan seorang diri, Pragola pernah tersesat masuk ke hutan jati ini. Pemuda ini pernah berurusan dengan perampok. Mereka adalah pelarian dari Pajajaran, tapi juga tidak mau bergabung ke Sumedanglarang karena negeri ini, kendati telah melepaskan diri dari Pakuan, telah menjadi negeri pemeluk agama baru.

Perampok juga ada yang dulunya pernah menjadi penduduk Sumedanglarang. Pragola pernah mendengar kabar, setelah Sumedanglarang memeluk agama baru, ada sebagian warga yang tidak setuju mengikutinya. Mereka meninggalkan Sumedanglarang dan memilih hidup mengasingkan diri. Namun belakangan, tujuan mereka bergeser. Yang semula hanya mengasingkan diri, beberapa kelompok di antaranya berubah menjadi perampok dan kerjanya berbuat kekacauan.

Yang memusingkan, ada beberapa kelompok perampok yang suka mengadu domba. Contohnya, bila mereka menjarah ke wilayah Sumedanglarang, mereka mengaku sebagai pasukan Pajajaran. Sebaliknya, bila menjarah ke wilayah Pajajaran, mereka mengaku dari Sumedanglarang. Di wilayah utara, bila menjarah orang Cirebon, mereka pun mengaku sebagai orang Pajajaran.

Mereka adalah kelompok yang membenci Pajajaran, juga tidak suka terhadap penguasa agama baru sebab pada dasarnya mereka beranggapan bahwa yang membuat hidup mereka sengsara dan terlunta-lunta adalah karena pertikaian berkepanjangan antara Cirebon dan Pakuan. Cirebon selalu berupaya agar seluruh wilayah Jawa Kulon berada dalam pengaruhnya, sementara di lain pihak Pakuan ingin keberadaan Pajajaran tetap lestari. Karena pertikaian ini, rakyat menjadi terpecah-pecah. Begitu menurut pendapat mereka.

Namun tentu saja ini hanya akal-akalan kecil dan sederhana yang terlalu mudah untuk ditebak oleh kedua belah pihak. Buktinya, kendati Cirebon dan Pakuan tetap bermusuhan, keduanya tidak pernah terpengaruh oleh akal bulus ini. Permusuhan Cirebon dan Pakuan yang terus berlangsung sebetulnya bukan hasil adu domba mereka.

***

Ternyata dugaan Pragola benar. Mencari jalan memutar untuk menghindari perhatian khalayak berisiko bertemu perampok. Ketika sudah berada di tengah hutan jati, mereka justru dikepung kaum penjahat. Mereka bagai sekelompok kancil yang dikepung sekumpulan serigala.

Empat orang berdiri di tengah, dikelilingi oleh puluhan orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan penuh cambang bauk di wajah. Semuanya bersenjata berat, mulai dari kelewang hingga gada. Mereka bertampang garang dan tampak siap membunuh.

"Serahkan harta atau nyawa!" teriak pemimpinnya.

"Kalian salah memilih. Kami tidak punya harta, sedangkan nyawa pun tidak akan berarti," tutur Banyak Angga tenang.

Pemimpin perampok yang bermata juling itu mendengus marah. "Kalian melakukan perjalanan jauh tapi tetap segar dan tidak kelihatan kumal. Itu artinya kalian bukan orang kebanyakan. Coba serahkan buntalan kalian, barangkali di dalamnya berisi batangan emas, atau kepingan uang negeri Persia, Cina, atau Portugis," kata si juling.

"Atau bisa juga pakaian di buntalan itu adalah kain satin buatan negeri Campa," sambung yang lainnya sambil maju setindak, bersikap hendak merampas buntalan yang dibawa Paman Angsajaya.

Yang diancam segera mundur selangkah, kemudian posisinya digantikan oleh Paman Manggala yang melangkah ke depan.

"Harta kami hanya secuil kepandaian. Kalau kalian mau, akan aku beri," kata Paman Manggala sambil mengepalkan tinju kirinya.

Ini adalah tantangan terang-terangan. Pragola mengerutkan kening. Mengapa Paman Manggala memancing-mancing perkelahian? Pragola sudah bosan, setiap bertemu musuh selalu saja berkelahi. Sedangkan baik perkelahian pura-pura maupun yang sungguhan, selalu merepotkan dirinya.

Kelompok perampok itu belasan, mungkin puluhan jumlahnya. Yang namanya perampok, kendati berangasan, biasanya hanya mengandalkan tenaga kasar. Dengan taktik ilmu tinggi sebetulnya mereka mudah dikalahkan. Tapi sekali lagi, Pragola malas melakukannya. Dia takut salah tangan, sebab bila suatu saat terdesak, pembunuhan bisa terjadi lagi. Tapi Paman Manggala sepertinya tidak menyadarinya. Buktinya, orang tua itu justru melontarkan tantangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment