Chapter 34
Dan terbukti pula kelompok rampok itu marah besar karena kesembronoan Paman Manggala.
Dengan geraman keras si juling mengayunkan goloknya. Terdengar suara berciut karena tenaga ayunan yang demikian besar. Tapi tenaga besar adalah kesalahan dalam anggapan orang yang senang mengutak-atik taktik. Paman Manggala tampak mengulum senyum ketika menerima serangan ini. Ayunan golok yang berciut karena kekuatan tenaga besar itu dengan mudahnya dikelitinya. Tubuh si juling sedikit limbung dan kuda-kudanya terganggu karena tenaga yang dikeluarkannya malah membedol kedudukannya.
Inilah kesempatan terbaik bagi Paman Manggala untuk melumpuhkannya. Paman Manggala hanya perlu "menambah" tenaga tolakan yang dikerahkan si juling dengan sedikit dorongan ke punggung orang itu. Maka tak ayal, si juling jatuh terjerembab dan hidungnya mencium tanah.
Namun kekalahan si juling bagaikan komando bagi teman-temannya. Buktinya, begitu si juling berteriak kesakitan, yang lainnya segera menghambur menerjang. Maka dalam sekejap terjadi pertempuran tidak seimbang. Empat orang dikeroyok puluhan lawan yang kesemuanya bersenjata lengkap. Sekali lagi, ini bisa disebut sebagai pertempuran tidak seimbang.
Dari empat orang yang terkepung, sebetulnya hanya Paman Angsajaya yang bertempur mati-matian. Prajurit tua ini di samping berusaha menyelamatkan nyawanya, juga berusaha melumpuhkan lawan dan kalau mungkin membunuhnya. Namun ketiga orang lainnya bertempur tidak mati-matian, kalau pun tidak disebut sebagai main-main.
Perlawanan yang dilakukan Banyak Angga memang tidak terkesan main-main, namun Pragola tahu, pemuda usia tiga puluh tahun ini jiwanya tidak sanggup memendam dendam. Banyak Angga hanya berusaha mempertahankan keselamatan nyawanya dan secuil pun tidak bermaksud melukai apalagi membunuh lawan. Pragola sendiri berkelahi tidak sungguh-sungguh. Dia hanya berusaha dirinya tidak terluka dan tidak berniat membunuh lawan. Bukan karena belas kasihan seperti yang dimiliki hati Banyak Angga, tetapi karena merasa tidak punya kepentingan apa pun musti membunuh orang-orang tidak berarti itu.
Pragola melihat, kepandaian para perampok itu hanyalah kepandaian biasa saja, hanya mengandalkan tenaga kasar tanpa dibarengi teknik tinggi. Tapi yang membuat Pragola heran adalah tindak-tanduk Paman Manggala. Orang tua itu bertempur lebih terkesan sebagai asal-asalan saja, padahal penyulut kemarahan kaum perampok adalah bermula dari sikap dirinya yang menantang. Pragola menduga, Paman Manggala bersikap demikian karena seperti dirinya juga, yaitu tidak merasa berkepentingan untuk menghajar para perampok.
Namun belum habis Pragola berpikir soal dugaannya ini, hatinya terkejut karena punya dugaan lainnya. Paman Manggala barangkali sengaja berbuat demikian untuk memberikan kesempatan kepada kaum perampok agar bisa membunuh Banyak Angga. Membunuh Banyak Angga? Ya, mengapa tidak begitu?
Perjalanan rombongan ini hampir berakhir sebab hutan jati ini terletak di wilayah segitiga antara Sagaraherang, Sumedanglarang, dan Talaga. Tujuan utama rombongan Banyak Angga adalah Gunung Cakrabuana di wilayah Talaga. Pragola sendiri pernah berkhawatir, kalau rombongan sudah tiba di Cakrabuana dan Banyak Angga tidak mendapatkan apa yang sebelumnya diberitakan, maka bualan Pragola akan terbongkar. Ya, tidak ada belasan perwira Pajajaran yang terkepung di sana dan tidak perlu mengirim belasan perwira penyelamat ke Puncak Cakrabuana.
Jadi, kalau Banyak Angga sudah tahu dia dikibuli, maka Pragola dan Paman Manggala dicurigai, akan ditanyai dan akhirnya rahasia akan terbongkar pula. Pragola tidak merasa takut rahasianya terbongkar. Tapi ada satu perasaan yang melebihi rasa takut. Perasaan itu bernama malu. Ya, Pragola akan merasa malu kepada Banyak Angga. Pemuda itu seperti menyayangi dirinya, menghargainya, dan selalu penuh percaya. Betapa malunya Pragola kalau tiba-tiba Banyak Angga tahu bahwa dirinya pembual. Dan bualan dirinya tidaklah sepele sebab menyangkut keselamatan negeri Pajajaran, negeri yang amat dicintai Banyak Angga.
Sudah diperintahkan oleh Pangeran Yudakara, bahwa suatu saat Banyak Angga harus dibunuh. Barangkali inilah yang tengah diusahakan Paman Manggala, membunuh ksatria Pajajaran itu melalui perampok. Memang terbukti, Banyak Angga semakin sibuk menghindari serbuan dari kiri, kanan, depan, dan belakang. Oleh Paman Manggala yang posisinya berdekatan, Banyak Angga dibiarkan saja dan tidak dibantu sedikit pun. Padahal kalau mau, dengan amat mudahnya Paman Manggala menghalau pengeroyok Banyak Angga.
Orang tua itu pun sebetulnya tengah dikepung beberapa pengeroyok. Namun Pragola yakin, dalam satu gebrakan saja, sebetulnya Paman Manggala akan dengan mudah melumpuhkan lawan. Yang telah sanggup melumpuhkan perampok hanyalah Paman Angsajaya. Ada beberapa anggota perampok yang terjungkal karena babatan kelewangnya. Namun dirinya sendiri pun mengalami pendarahan karena banyak luka di sana-sini. Orang tua itu bahkan semakin lama semakin lemah tenaganya. Gerakannya pun tidak segesit pada babak-babak awal. Bahkan Pragola cenderung menilai bahwa gerakan Paman Angsajaya pada pertempuran paling akhir ini semakin lamban saja. Dia memang sudah tua. Lagi pula dalam perjalanan jauh ini, beberapa kali Paman Angsajaya harus mengalami pertempuran.
Pragola menjadi bimbang dibuatnya. Kalau harus bertempur mati-matian di samping dia tidak punya kepentingan pribadi, juga berarti bertolak belakang dengan keinginan Paman Manggala. Tapi bila membiarkan suasana ini berlangsung, berarti menyuruh para perampok membunuh Banyak Angga. Tegakah dia membiarkan pemuda itu mati dicecar golok para perampok? Pragola bimbang. Secara politis, Banyak Angga adalah musuhnya, namun secara pribadi, antara dia dan Banyak Angga tidak punya pertentangan apa pun. Malah Banyak Angga adalah lelaki yang budinya paling baik dan paling halus selama Pragola mengenal berbagai tipe orang. Secara manusiawi, Pragola tidak boleh membiarkan Banyak Angga celaka.
Namun untuk yang kesekian kalinya rasa bimbang menerpa hatinya. Antara naluri manusia dan perintah yang diembannya terasa saling berbenturan. Dan selama hatinya berkecamuk, adegan pertempuran terus berlangsung. Dia dengan mudah menghalau pengeroyoknya. Namun Banyak Angga yang punya kepandaian di bawah dirinya, mengalami kerepotan. Beberapa luka telah terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Luka itu tidak seberapa, tetapi banyak mengeluarkan aliran darah. Kalau dibiarkan terlalu lama, Banyak Angga bisa dipastikan bakal ambruk kehabisan darah.
Namun Pragola masih tidak memberikan bantuan. Dan di hatinya terjadi saling bedol antara dua pendapat. Pragola sedikit menundukkan wajah ketika dilihatnya Banyak Angga melirik padanya. Pragola tahu, tentu Banyak Angga meminta bantuan padanya yang kedudukannya sedikit agak jauh. Mungkin Banyak Angga sudah tidak memiliki harapan dapat bantuan Paman Manggala sebab orang tua itu selalu bertempur membelakangi Banyak Angga. Lagi pula Paman Manggala pun tampak sedang "sibuk" dikeroyok banyak orang.
Melihat betapa wajah Banyak Angga menampakkan permohonan, Pragola tergerak hatinya dan berniat hendak menolongnya. Namun gerakannya terhenti manakala di kejauhan terlihat sekumpulan orang. Pragola terkejut sebab kelompok itu adalah orang-orang Cirebon, semuanya anak buah Pangeran Yudakara. Pragola terkejut sebab di sana terlihat Perwira Goparana dan Jaya Sasana. Goparana adalah lelaki tinggi besar pendatang dari tanah Arab yang mengabdi pada Karatuan Cirebon. Sedangkan Jaya Sasana adalah orang dari Karatuan Talaga yang juga sama mengabdi ke Cirebon dan kini ditugaskan menyertai Pangeran Yudakara.
Pragola punya alasan untuk terkejut sebab dia bisa menduga, kedua perwira itu pasti diutus Pangeran Yudakara untuk melihat perkembangan. Perjalanan sudah hampir sampai ke tujuan namun Banyak Angga masih selamat. Ini mungkin akan menjadi tanggung jawab dirinya dan Paman Manggala, mengapa keadaan berlarut-larut. Padahal perintah Pangeran Yudakara sudah jelas. Kalau Banyak Angga luput dari serbuan dan hadangan di perjalanan, maka Paman Manggala dan Pragola harus tanggung jawab membereskannya. Dugaan inilah yang mengejutkan dirinya.
Dengan demikian, kedudukan Pragola kini terjepit. Di lain pihak ada rasa kemanusiaan yang ingin dipertahankan. Namun di pihak lain dia ditekan oleh urusan politik. Namun sebelum dia memilih tindakan apa yang mesti dilakukan, secara tiba-tiba ada bayangan berkelebat memasuki arena pertempuran. Bayangan itu berkelebat ke sana kemari dan serentak terdengar jerit-jerit kesakitan. Tubuh-tubuh perampok terlempar ke sana kemari dan jatuh berdebuk untuk tidak bangun lagi.
Kini yang terlihat di sana adalah dua tubuh bergeletak. Tubuh Paman Angsajaya yang berlumuran darah dan tubuh Banyak Angga yang juga tergeletak berlumuran darah. Sedangkan di antara dua tubuh tergeletak, berdiri seorang lelaki. Lelaki itu berpakaian kumal warna hitam. Celana sontog dari kain kasar dan ada tambalan di sana-sini tampak lebih kumal lagi. Pragola tidak sanggup menaksir berapa usia lelaki kumal itu, sebab wajahnya tertutup kumis dan cambang yang lebat. Rambutnya panjang terurai dan riap-riapan. Yang menentukan lelaki itu belum tua karena matanya bulat berbinar tidak cekung ke dalam. Begitu pun kulit wajahnya tidak berkerut. Namun siapakah dia, inilah yang ingin Pragola tahu.
Rupanya itu pula yang diinginkan oleh Goparana dan Jaya Sasana. Kedua orang perwira Cirebon itu tampak ternganga heran, betapa puluhan perampok bertumbangan hanya dalam satu dua gerakan saja. Ini hanya menandakan, betapa hebatnya orang ini. Goparana dan Jaya Sasana langsung meloncat-loncat beberapa kali dan dalam sekejap sudah tiba di hadapan lelaki berambut riap-riapan itu. Namun orang itu seperti tidak peduli. Dia malah menghampiri tubuh Banyak Angga yang tergeletak dan langsung memondongnya. Kemudian lelaki itu hendak berlalu.
"Berhenti!" teriak Goparana yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu.