Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 35

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 35

Lelaki berambut riap-riapan itu segera menghentikan langkahnya.

"Turunkan Banyak Angga!" kata Goparana bernada perintah.

Tapi lelaki itu tak menurut. Dia hanya berdiri saja sambil sepasang tangannya memondong tubuh Banyak Angga.

"Kuperintahkan, turunkan Banyak Angga!" jawab lelaki itu dengan nada datar.

"Hm, dengan kepandaianmu seperti itu, engkau sudah bersikap sombong," dengus Goparana sambil bertolak pinggang.

"Memang benar, terkadang tersembul pikiran ganjil pada diri kita. Ragu-ragu berbuat kebenaran karena takut disalahkan," gumam lelaki itu, masih tetap memondong tubuh Banyak Angga.

"Sialan! Engkau tak jawab pertanyaanku. Barangkali pertanyaan seperti ini akan engkau jawab!" teriak Goparana.

Dan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, Goparana menerjang. Serangannya cukup ganas dan membahayakan sebab Goparana mencoba menyerang ubun-ubun. Ini serangan yang mengincar nyawa dan dilakukan ke arah bagian yang tak terlindung.

Lelaki itu tengah memondong tubuh Banyak Angga yang pingsan karena mengeluarkan banyak darah. Artinya, sepasang tangan lelaki itu tengah tak berfungsi dan tak mungkin melakukan tangkisan. Suara angin pukulan terdengar berciutan, tanda pukulan itu dibarengi tenaga dalam yang amat kuat.

Pragola ngeri membayangkannya. Kalau serangan itu mengenai sasaran, batok kepala lelaki itu akan pecah berhamburan. Namun kenyataannya sungguh di luar dugaan. Lelaki bercambang bauk itu bukan saja bisa menghindar, tapi juga sanggup melakukan serangan balasan. Caranya amat luar biasa, ganjil tapi menakjubkan.

Ketika tubuh Goparana menerjang dan menyodok ke atas, lelaki itu, sambil tetap memondong tubuh Banyak Angga, mundur tiga tindak dengan cepat. Akibatnya, sodokan tangan kanan Goparana tak mencapai sasaran kecuali angin pukulan yang menerpa rambut yang semakin riap-riapan.

Sebelum Goparana melanjutkan serangan susulan dengan sodokan tangan kiri, secara kilat lelaki misterius itu bersalto ke belakang sambil kedua ujung kakinya melakukan serangan silang. Gerakan sepasang kaki ini sungguh ganjil. Kaki kiri melakukan sabetan menyilang dari kanan ke samping kiri dan ujung kaki kanan diayun dari bawah ke atas.

Dengan demikian, dalam satu gerakan balasan, Goparana menerima dua serangan sekaligus. Satu serangan mengarah ke pinggang kanannya dan satu serangan lainnya menendang tangan kiri Goparana yang tengah melakukan sodokan.

Yang diserang tampak terkejut. Untuk menghindar dari sapuan ke arah pinggang, Goparana harus sedikit membungkuk agar tubuh bagian perut tertarik ke belakang. Namun akibat dari gerakannya ini, tubuh bagian atas seolah "menyodorkan" diri untuk menerima tendangan kaki kanan musuh.

Goparana tampak serba salah menentukan mana yang harus diselamatkan, apakah pinggangnya atau tangannya. Kalau dua-duanya jelas tak mungkin. Namun memilih pinggang yang selamat pun bukan tanpa risiko. Dan ini barangkali yang menjadi kekeliruan pilihannya.

Serangan tendangan kaki kanan lawan dari bawah ke atas adalah untuk menyerang sodokan tangan kirinya yang terlanjur masuk. Kalau tangan itu ditarik, selain sudah tidak mungkin, jika pun bisa maka akan ada bagian tubuh lainnya yang akan terkena getahnya. Bagian tubuh Goparana yang akan menerima serangan adalah dagunya; bila tangannya bisa ditarik, maka dagunya akan hancur terkena tendangan lawan.

Tangan kiri Goparana tetap menyodok ke depan dan menyerang angin. Sebelum tangan itu bergerak, secara kilat dihantam tendangan kaki kanan lawan dari bawah ke atas. Gerakan itu sungguh amat cepat sebab dilakukan sambil bersalto ke belakang.

Terdengar jerit kesakitan dari mulut Goparana karena pergelangan tangannya terkena hantaman ujung kaki lawan. Dan ketika sepasang kaki itu menjejak bumi dengan ringannya, Goparana yang tinggi besar jatuh bertekuk lutut sambil tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kiri yang terkulai patah.

"Sudahlah, jangan ada lagi perkelahian," gumam lelaki itu menatap Jaya Sasana yang berdiri terpana.

Namun keterpanaan ini hanya sejenak. Selanjutnya Jaya Sasana segera menghambur ke depan melakukan serangan dahsyat. Serangan Jaya Sasana ini dihadapi dengan tangkisan-tangkisan sepasang kaki lelaki itu. Dan sepasang kaki itu bisa melakukan serangan balik secara beruntun.

Serangan itu amat dahsyat, bergantian kiri dan kanan secara cepat dan beruntun. Jaya Sasana kerepotan menghadapi serangan ini. Kini bahkan giliran dia yang sibuk menangkis kiri dan kanan. Sampai pada suatu saat dia pun menjerit dan tubuhnya terlempar ke udara karena tendangan ke arah ulu hatinya. Jaya Sasana tak bergerak lagi ketika tubuhnya jatuh berdebum.

Kini yang berdiri di arena tinggal tiga orang: lelaki misterius yang memondong Banyak Angga, serta Pragola dan Paman Manggala. Lelaki berambut riap-riapan itu berdiri dengan sepasang kaki terpentang lebar. Matanya silih berganti menatap ke arah Pragola dan Paman Manggala.

"Aneh sekali, kita gemar melakukan ketololan," gumamnya tanpa Pragola tahu apa maksudnya. Kemudian lelaki itu berbalik dan hendak berlalu.

"Hei, mau dibawa ke mana Banyak Angga?" tanya Pragola.

Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak.

"Tahukah engkau arti sahabat?" jawab lelaki itu. "Sahabat adalah melakukan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan. Dia hadir di saat kita kesepian. Tidak selalu memuji namun berani mengoreksi di saat kita salah. Kalau engkau melarangku membawa Banyak Angga, ada di manakah kedudukanmu sebenarnya?"

Pragola tertunduk malu. Kemudian dia merasakan betapa lelaki itu menertawakan dirinya. Ketika Pragola mengangkat wajah, Banyak Angga sudah dibawa pergi. Sayup-sayup terdengar lelaki misterius itu bersenandung, lirih dan sedih:

*Hidup banyak menawarkan sesuatu*

*Namun bila salah memilihnya*

*Kita adalah orang-orang yang kalah*

"Siapakah orang itu?" tanya Perwira Goparana.

Itulah yang juga menjadi pertanyaan di benak Pragola. Namun tidak seorang pun yang sanggup menjawabnya. Paman Manggala hanya termenung lesu, padahal Pragola tahu orang tua ini tak terlalu banyak menghabiskan tenaga dalam perkelahian tadi. Dia bahkan tidak terluka sedikit pun.

Pragola hanya menduga kelesuan ini karena Paman Manggala tak menyelesaikan tugas dengan baik. Banyak Angga lepas. Kendati terluka parah, belum tentu mati. Dan kalau Banyak Angga tak mati, artinya rahasia akan terbongkar.

Dengan perasaan sebal, Pragola pun terpaksa harus mengeluhkan hal ini. Betapa tidak, dia jadi terlibat semakin dalam. Perwira Goparana juga terduduk lesu sambil memegangi tangannya yang menderita patah tulang. Sedangkan beberapa prajurit yang menyertainya tengah sibuk mengurusi Perwira Jaya Sasana yang masih pingsan. Adapun prajurit tua Angsajaya, anak buah Banyak Angga, diketahui telah tewas karena terlalu banyak menderita luka.

Dari hampir tiga puluh perampok, ternyata hanya empat orang yang tewas. Itu pun kesemuanya tewas oleh tangan Paman Angsajaya. Ini artinya dua puluh enam perampok sisanya dilumpuhkan tanpa dibunuh. Hanya orang yang punya kemampuan hebat saja yang sanggup mengatur perkelahian massal seperti itu tanpa membuat kesalahan tangan yang berujung maut.

Pragola hanya menatap saja ketika para perampok yang mulai bangun satu per satu meninggalkan tempat itu tanpa menengok atau bicara apa pun. Seperti Pragola, yang lain pun membiarkan para perampok pergi. Ini benar-benar menandakan bahwa mereka tak berkepentingan dengan perampok. Kalaupun tadi pencetus pertempuran adalah Paman Manggala, jelas tujuannya adalah menyulut kemarahan perampok agar bisa membunuh Banyak Angga dan Paman Angsajaya.

"Hebat sekali, orang itu melumpuhkan siapa pun tanpa membunuh?" kata Goparana sambil masih meringis menahan sakit.

Serasa tersentak jantung Pragola ketika mendengarnya. Ucapan seperti ini pernah terlontar dari mulut beberapa orang, baik di wilayah Tanjungpura maupun di Sagaraherang. Dan semua orang sepakat menduga bahwa orang hebat yang mampu mengalahkan tanpa membunuh adalah Ksatria Ginggi!

Ginggi. Benarkah orang kumal tadi adalah Ginggi? Pragola tak mau mengemukakan pendapat ini pada siapa pun. Mungkin karena ketegangan di hatinya, atau mungkin juga karena perasaan waswas antara percaya dan tidak. Kalau dia harus mempercayainya, maka dia telah berhasil menemukan musuh besarnya.

Merasa dia sudah menemukan apa yang dicari, Pragola berjingkat hendak meninggalkan tempat itu.

"Hai, mau ke mana kau?" Goparana menegur. Namun Pragola masih tetap hendak melanjutkan langkahnya.

"Berhenti!" teriak Goparana. "Manggala, cegah anak itu!"

Sungguh mengejutkan, ternyata Paman Manggala menaati perintah ini. Dia meloncat menghalangi perjalanan Pragola.

"Pragola, engkau tak bisa bertindak sekehendak hatimu. Perwira Goparana adalah wakil Pangeran Yudakara," kata Paman Manggala.

"Mengapa saya tak boleh meninggalkan tempat ini?" tanya Pragola.

"Karena engkau ada di bawah kepemimpinan pangeran."

"Sungguh bijaksana, seorang pemimpin hendak membantai anak buahnya sendiri," gumam Pragola.

"Jangan bicara lancang!" potong Paman Manggala tersinggung.

"Saya tak asal bunyi. Tapi ini bukti, ada ancaman pembunuhan terhadap saya."

"Ngawur!"

"Paman sudah sering menyembunyikan sesuatu. Sudah dua kali saya akan dibunuh, padahal saya tahu para penghadang itu adalah pasukan terselubung yang bertugas membunuh Banyak Angga. Mengapa saya pun dimasukkan ke kelompok yang harus dibunuh?" tanya Pragola sengit.

"Kau sendiri tahu, kelompok penghadang kedua adalah utusan Nyi Mas Layang Kingkin!" jawab Paman Manggala.

"Memang begitu pengakuannya. Tapi aku tak percaya Nyi Mas mau membunuhku!" sergah Pragola.

Baik Paman Manggala, Perwira Goparana, maupun Jaya Sasana yang sudah tertatih-tatih bangun terlihat heran mendengar percakapan ini.

"Kalian menyebut-nyebut Nyi Mas Layang Kingkin, ada apakah ini sebenarnya?" tanya Perwira Goparana.

Pragola dan Paman Manggala saling pandang. Mungkin tengah saling tunggu siapa yang harus memberi keterangan.

"Ada pasukan lain selain yang dikirim Pangeran Yudakara," tutur Paman Manggala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment