Chapter 36
"Pasukan lain?" Goparana mengerutkan alisnya.
"Mereka tewas semua. Tapi ada yang sempat mengaku bahwa mereka diutus Nyi Mas Layang Kingkin," kata Jaya Sasana. Baik Goparana maupun Jaya Sasana mengerutkan kening.
"Apakah pasukan itu pun sama datang untuk membunuh Banyak Angga?" tanya Goparana.
Pragola merenung. Jawabannya tak perlu orang tahu. Bukankah ini rahasia bila Nyi Mas Layang Kingkin pernah berkata cinta padanya? "Sebab saya anak buahnya Pangeran Yudakara. Dan saya tahu, hubungan Nyi Mas dengan Pangeran amat baik," tutur Pragola.
"Hm?" dengus Goparana pelan.
"Kita musti lapor kepada Pangeran sebab kalau benar demikian, tindakan Layang Kingkin sungguh mencurigakan. Untuk apa dia punya pasukan sendiri padahal dia sedang menggalang kerja-sama dengan Pangeran Yudakara?" kata Jaya Sasana yang nampak masih merasakan sakit di ulu hatinya.
"Pangeran Yudakara hanya mengutus satu pasukan untuk memburu Banyak Angga. Sedangkan gangguan yang lainnya kami tak bertanggungjawab," kata Goparana menatap ke arah Pragola.
"Juga tak bertanggung jawab dalam upaya membunuh saya?" tanya Pragola sinis.
"Pangeran Yudakara yang bertanggung jawab semuanya, termasuk rencana membunuhmu!" jawab Goparana tegas dan hal ini sangat mengejutkan Pragola.
"Terima kasih, kau beritahu saya," gumam Pragola tersenyum masam. "Saya juga sudah curiga demikian. Yang perlu saya tahu, apa penyebabnya, bukankah saya ini anak buahnya?" tanya Pragola.
"Engkau adalah anak buah yang kesetiaannya diragukan," tutur Goparana. "Kau berjiwa lemah dan selalu ragu-ragu dalam melakukan tindakan. Sebagai contoh, tugasmu kau kerjakan berlarut-larut dan tak selesai. Ada kesan kau keberatan melenyapkan nyawa Banyak Angga. Orang yang ragu-ragu tak pantas menjadi orang-orang Yudakara," kata Goparana panjang lebar.
Pragola tersenyum pahit mendengarnya. "Saya pun sudah tak kerasan jadi anggota kelompok kalian. Saya akan undur diri," tuturnya sambil beranjak hendak meninggalkan tempat itu.
"Pangeran memerintahkan kami agar membunuhmu!" cetus Goparana.
Pragola membalikkan tubuhnya menatap Perwira Goparana. "Kalian tak akan ada yang sanggup. Engkau dan juga Jaya Sasana sedang terluka parah," kata Pragola.
"Manggala, bunuh anak itu!" teriak Goparana.
Pragola terkejut mendengarnya. Kalau begitu, dengan amat sedih dia harus melawan orang tua itu. Ini memang menyedihkan. Sudah bertahun-tahun dia bersamanya. Paman Manggala sudah dianggap orang tuanya sendiri. Tapi Pragola tahu, Paman Manggala selama ini banyak menyembunyikan sesuatu karena dia sudah menjadi pengikut Pangeran Yudakara.
Kini Pragola menghadap ke arah Paman Manggala. Sepasang tangannya menyilang di depan dada dan kedua kakinya terpentang lebar, siap untuk bertarung. Pragola tahu, sungguh berat melawan Paman Manggala. Kepandaiannya mungkin satu tingkat di atasnya. Namun apa boleh buat, lebih baik melawan dulu dari pada mandah dibunuh begitu saja.
"Saya tak bisa membunuh anak itu, Gusti?" gumam Paman Manggala pelan.
"Manggala, apakah engkau pun sudah tak setia lagi kepada perjuangan Pangeran Yudakara," tanya Goparana tersinggung oleh sikap ini.
"Maafkan saya Gusti, sampai saat ini saya sebenarnya tak pernah mengerti perjuangan Pangeran Yudakara," tutur Paman Manggala dan hal ini amat mengagetkan Pragola.
"Aku tak paham maksudmu, Manggala," kata Goparana.
"Saya ragu terhadap perjuangan ini. Pangeran Yudakara mengaku orang Cirebon tapi begitu akrab dengan Nyi Mas Layang Kingkin. Padahal, kita semua tahu, Nyi Mas Layang Kingkin adalah tulen orang Pajajaran dan tak secuil pun berpikir untuk menyebrang ke Cirebon," kata Paman Manggala.
"Ini adalah urusan orang-orang besar. Tentu saja olehmu tak bisa dicerna. Tapi boleh aku katakan, Pangeran Yudakara mendekati Nyi Mas Layang Kingkin hanyalah taktik belaka agar bisa lebih mudah keluar-masuk istana," kata Goparana.
"Tapi ada satu pengetahuan yang membuat saya bingung. Semenjak Demak tak lagi punya kekuatan, Cirebon pun sebetulnya sudah lemah. Kecuali lebih mendekatkan diri ke dalam kegiatan keagamaan, Cirebon tak punya kekuatan militer untuk melakukan penyerbuan ke Pakuan. Saya pernah menyelidik, sebetulnya puncak pimpinan di Cirebon tak berniat untuk melakukan penyerbuan Pakuan. Kalau pengetahuan saya ini benar, berinduk ke manakah sebenarnya rencana-rencana yang dilakukan Pangeran Yudakara ini?" tanya Paman Manggala.
Pertanyaan ini seperti amat mengejutkan baik kepada Perwira Goparana maupun kepada Jaya Sasana yang masih tetap terduduk sambil memegangi ulu hatinya.
"Engkau terlalu banyak tahu, Manggala!" desis Perwira Goparana menahan kemarahan.
Perwira yang dulunya datang dari tanah arab ini mendelikkan matanya yang lebar. Dia berdiri dan sepertinya hendak menerjang Paman Manggala. Namun tak pernah terjadi, betapa tangan kirinya menderita kesakitan hebat karena tulangnya patah.
Goparana hanya saling pandang dengan Jaya Sasana yang juga tengah menderita luka dalam.
"Hari ini kalian selamat. Tapi Pangeran Yudakara tidak akan membiarkan penkhianat bebas. Hati-hatilah kalian," gumam Goparana.
Pragola lega. Dia mencoba menutupi mayat Paman Angsajaya yang ternyata tewas dalam pertempuran dengan perampok tadi. Ditutupinya mayat itu dengan berbagai ranting dan daun-daunan.
Dengan perasaan sedih dia hanya bisa merawat mayat Paman Angsajaya seperti itu. Orang tua itu selama dalam perjalanan tak banyak tingkah, sedikit bicara tapi sanggup menampilkan kesetian kepada majikannya sampai akhir hayatnya.
Pragola sedih sebab sebetulnya dia perlu hormat kepadanya.
"Mari Paman, kita pergi dari tempat ini," ajaknya pada Paman Manggala.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun, kedua orang itu pergi meninggalkan tempat itu.
Sekali lagi ada perasaan lega di hati Pragola. Ternyata paman Manggala masih punya waktu untuk menyadari dan melepaskan diri dari urusan yang menurutnya tiada arti dan tak melibatkan kepentingannya.
Kalau saja tak begitu, sudah bisa dipastikan dia akan bentrok dengan orang tua itu.
Pragola ingin berjalan cepat, namun sebaliknya Paman Manggala seperti tak bersemangat. Dia malah berjalan tertatih-tatih seperti orang luka.
"Mari Paman, kita harus bergerak cepat," seru Pragola tak sabar.
"Mau ke manakah berjalan cepat-cepat?" tanya Paman Manggala dengan nada datar.
"Mau ke mana? Kita harus mengejar orang asing yang pergi memondong Banyak Angga itu," jawab Pragola.
Mendengar ini, Paman Manggala malah menghentikan langkah.
"Ada apa, Paman?" Pragola heran.
"Mengapa kita harus mengejarnya?" tanya Paman Manggala sambil duduk di tonjolan batu.
"Saya mencurigai orang misterius itu?" gumam Pragola.
"Ya, aku bisa menduga apa yang akan kau katakan. Kau pasti mencurigai orang itu adalah Ginggi," kata Paman Manggala.
"Tepat dugaanmu, Paman. Tindak-tanduknya aneh. Dan yang lebih khas, dia selalu mengalahkan lawan tanpa membunuh. Siapa lagi kalau bukan Ginggi?" kata Pragola yakin.
"Kalau benar dia Ginggi, mau apa?" tanya Paman Manggala.
Pragola memandang heran kepada orang tua itu.
"Apakah Paman sudah lupa bahwa orang itu punya kaitan erat dengan terbunuhnya Ki Guru pada belasan tahun silam?" tanya Pragola.
"Aku tak pernah lupa," jawab Paman Manggala.
"Kalau begitu mari kita kejar dia!" Tapi Paman Manggala malah terlihat menghela napas.
"Mengapa, Paman?"
"Bukankah kau pernah bilang bahwa secuil pun tak punya kepentingan ikut terlibat kepada kegiatan Pangeran Yudakara?" orang tua itu menjawab dengan cara balik bertanya.
"Ya, perjuangan Pangeran Yudakara terlalu besar dan tak saya mengerti. Lebih dari itu saya merasa tak punya kepentingan untuk ikut terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, sudah sejak lama saya ingin pergi dan melepskan diri dari urusan mereka," jawab Pragola.
"Nah, itu juga yang kau pikirkan sekarang ini," tukas Paman Manggala membuat Pragola melenggak heran.
"Mengapa Paman tak ingin mengejar dan membalas dendam kepada Ginggi?" tanyanya.
"Aku tak punya kepentingan tentang itu. Engkau merasa berkepentingan karena Ki Sudireja adalah gurumu," kata Paman Manggala.
"Tapi Ki Guru adalah teman seperjuanganmu ketika di Karatuan Talaga," potong Pragola.
"Banyak yang menjadi teman seperjuangan ketika melawan Sang Prabu Ratu Sakti belasan tahun silam. Yang tewas pun banyak. Kalau aku harus membalas dendam kepada perseorangan, betapa banyaknya orang Pajajaran yang harus aku kejar. Kebanyakan bahkan aku tak tahu siapa mereka," tutur Paman Manggala.
"Dengan kata lain, Paman tak mau membalaskan sakit hati teman-teman seperjuanganmu?" tanya Pragola.
Untuk kedua kalinya Paman Manggala terlihat menghela napas.
"Kami dulu berjuang bukan untuk kepentingan pribadi. Demikian pun kami bukan melakukan perlawanan kepada orang-perorang. Kendati yang bertanggung jawab atas kemerosotan wibawa Kerajaan Pajajaran adalah Sang Prabu Ratu Sakti, tapi terjadinya berbagai kemerosotan itu tidak semata-mata kesalahan raja itu sendiri. Itulah sebabnya, kebencian pribadi tak berlaku di sini, tidak pula kepada orang yang bernama Ginggi. Apalagi kita tahu, Ki Sudireja gurumu tidak tewas oleh tangan Ginggi. Kalau pun kita menyalahkan dia, hanya karena bantuannya maka pasukan Pajajaran semakin kuat dan berhasil memukul mundur pasukan kami," tutur Paman Manggala panjang lebar.
Hal ini amat tak menyenangkan perasaan Pragola. Dia kecewa terhadap kenyataan ini. Padahal sudah bertahun-tahun dia ikut Paman Manggala, bahkan mau bergabung dengan Pangeran Yudakara, tadinya hanya karena punya harapan bisa "membonceng" agar bisa balas dendam.
Sekarang kenyataannya menjadi lain.
"Kalau begitu, mungkin kita bersilang jalan?" gumam Pragola kecewa.
"Barangkali begitu?" jawab Paman Manggala pendek.
Pragola membalikkan badan dan melangkah beberapa tindak.
"Jangan sesali sikapku sebab sebenarnya kita punya persamaan sikap yaitu tak kerasan mengikuti pendapat orang lain yang tak bisa kita mengerti," kata Paman Manggala.
Pragola mengangguk. Sesudah itu dia kembali melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan orang tua itu.