Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 37

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 37

Dia tak mau mencoba menoleh ke belakang, padahal dia merasakan betapa sedih hatinya. Ini adalah perpisahan, bukan sekadar perpisahan tubuh tapi juga perpisahan dalam persesuaian pendapat. Inilah yang membuat Pragola sedih. Perpisahan ini membuat hatinya sepi karena sesudah Paman Manggala pergi, tak ada lagi teman baginya.

Pragola terus berjalan ke arah selatan, mengikuti arah lelaki misterius itu lari membawa Banyak Angga. Pemuda ini menduga, tentu lelaki yang dia duga sebagai Ginggi itu tengah menuju Gunung Cakrabuana. Pragola mendengar kabar, Ki Darma adalah guru Ginggi dan bersembunyi di puncak gunung itu. Jadi pemuda ini merasa yakin, lelaki misterius itu pasti menuju ke selatan. Dan karena perkiraan inilah maka Pragola bergegas ke selatan.

Pragola bertekad ingin bertemu Ginggi. Inilah cita-citanya sejak awal. Dia ikut bergabung dengan Pangeran Yudakara karena punya harapan pada suatu saat bisa ikut membasmi orang Pajajaran yang telah membunuh Ki Sudireja, gurunya. Ginggi dielu-elukan orang Pakuan karena berhasil menggagalkan upaya pemberontakan yang dipimpin Ki Sunda Sembawa. Namun bagi Pragola, Ginggi adalah orang yang paling dibencinya karena orang itulah pasukan pemberontak gagal melumpuhkan Pakuan. Dan Ki Sudireja tewas oleh kepungan perwira Pakuan. Pragola menganggap, karena Ginggilah maka Ki Sudireja tewas. Tentu bukan Ginggi seorang yang harus dia kejar. Namun karena orang itu yang sudah dia tahu, maka orang itulah yang pertama kali harus dikejar.

Di sepanjang jalan Pragola harus bertanya, kalau-kalau penduduk kampung melihat orang yang pergi membawa seseorang yang luka. Sebagian mengatakan tak tahu, tetapi sebagian lainnya mengatakan pernah lihat. "Ya, tadi pagi saya lihat seorang lelaki kumal membawa seseorang yang lagi luka parah. Dibawanya dengan sebuah tandu sederhana yang diseret di belakangnya," tutur penduduk yang ditanya. Ini adalah hari kedua Pragola berusaha menguntit orang itu. Di dusun itu hari sudah demikian senja. Kalau memaksakan diri melakukan perjalanan, Pragola akan kemalaman di tengah hutan. Tapi kalau istirahat di dusun ini, berarti buruan semakin jauh. Bertemu dengan orang itu lebih penting lagi. Maka Pragola pun memaksakan diri melanjutkan perjalanan.

Hati kecilnya kagum kepada orang itu. Kendati sambil membawa Banyak Angga yang terluka, namun dia masih bisa berjalan dengan cepat. Sedangkan Pragola yang berjalan tanpa beban, ternyata tertinggal hampir satu hari. Barangkali orang itu sudah hapal benar dalam memilih jalan, sedangkan dia setiap saat mesti berhenti untuk bertanya sana-sini. Namun pada akhirnya orang yang dikuntit telah membawanya ke Gunung Cakrabuana.

Gunung ini penuh misteri karena sejak belasan bahkan puluhan tahun silam selalu menghadirkan peristiwa penting, namun kebenarannya selalu ada yang meragukannya. Orang-orang Pakuan percaya, Ki Darma, bekas perwira dari pasukan Balamati (pasukan pengawal raja), pergi bersembunyi di puncak Cakrabuana karena selalu dikejar-kejar pasukan pemerintah yang ketika itu dirajai oleh Prabu Ratu Sang Mangabatan (1543–1551 M).

"Laporan" Pragola kepada Yogascitra, penasihat Raja Nilakendra sebenarnya tak seluruhnya bohong. Ketika zamannya Prabu Ratu Sakti, belasan perwira kerajaan pernah dikirim untuk mengejar Ki Darma ke Puncak Cakrabuana. Prabu Ratu Sakti mengirimkan pasukan ke sana sebab mengira Ki Darma menguasai tombak pusaka Cuntangbarang. Cuntangbarang dulunya kepunyaan Karatuan Talaga. Ketika negeri itu jatuh ke tangan Cirebon (1530), ada beberapa perwiranya yang tak setuju Talaga menyerah ke negeri yang beraliran agama baru dan mereka melarikan tombak pusaka ke Gunung Cakrabuana. Dan hanya karena Ki Darma menyembunyikan diri di gunung itu, maka Prabu Ratu Sakti langsung menuduh Ki Darma pergi ke gunung itu untuk menguasai tombak pusaka. Itulah sebabnya belasan perwira dikirim ke sana. Pertama, untuk merebut tombak pusaka, dan keduanya untuk menangkap atau Namun belakangan, belasan perwira Pakuan tak terdengar kabarnya. Belasan tahun lamanya hingga pemerintahan beralih dari tangan Prabu Ratu Sakti ke tangan Raja Nilakendra.

Peristiwa inilah yang dijadikan Pangeran Yudakara untuk "membujuk" Pakuan agar mau mengirimkan kembali pasukan pencari. Pragola diatur agar mau melaporkan seolah-olah belasan perwira Pakuan tak bisa kembali karena jalan menuju lereng diblokade pasukan Cirebon. Belasan perwira harus kembali dikirim untuk menyelamatkan mereka yang terkepung. Ini adalah taktik untuk mengundang macan keluar. Orang-orang handal dari Pakuan harus keluar agar pada saatnya Pakuan diserbu Cirebon, di sana sudah tak ada kekuatan lagi.

Namun seperti sudah disebutkan tadi di atas, sebetulnya tak seluruh ucapan Pragola bohong. Belasan tahun silam, tepat di hari belasan perwira Pakuan tiba di lereng Cakrabuana, ada pasukan lain yang juga tiba di sana. Kabar menyebutkan, itu adalah pasukan yang dikirim Arya Damar, salah seorang Pangeran di Cirebon dan yang juga pernah menjadi mertua Pangeran Yudakara. Tujuan mereka sama, yaitu hendak memerangi Ki Darma dan sekalian merebut tombak pusaka Cuntangbarang. Namun, seperti juga nasib pasukan Pakuan, pasukan Cirebon pun sama tak terdengar lagi kabarnya. Orang hanya menduga-duga, kedua pasukan itu terlibat pertempuran di lereng dan saling bantai di antara mereka. Ada juga yang menduga, semua pasukan, baik dari Pakuan maupun dari Cirebon, sebetulnya habis dibantai Ki Darma. Hal ini mungkin terjadi karena Ki Darma adalah orang terjepit. Oleh Cirebon dia dimusuhi karena ketika terjadi perang dengan Pakuan ketika dirajai Prabu Surawisesa (1527–1543 M), Ki Darma adalah perwira handal yang banyak menewaskan prajurit Cirebon. Orang Cirebon benci terhadap Ki Darma. Sebaliknya, orang Pakuan pun memendam perasaan tak enak karena Ki Darma yang gemar mengkritik Raja dianggap pemberontak. Dan sungguh ironis, Ki Darma dituding pengkhianat karena menolak perang.

Pragola tidak mendapatkan keterangan yang rinci karena berita itu hanya datang secara simpang-siur. Kalau bukan datang dari mulut ke mulut, tentu hanya bisa didapatkan melalui kisah-kisah Ki Juru Pantun yang membawakan cerita itu melalui dendang dan lantunan lagu diiringi dawai-dawai kecapi. Hanya dari percakapan para anak buahnya yang mengabarkan bahwa Pangeran Yudakara menjadi satu-satunya saksi pertemuan pasukan Cirebon dan Pakuan di lereng Cakrabuana. Namun Pangeran Yudakara sendiri tak pernah bicara apa pun padanya.

Pragola tiba di lereng bukit pada dini hari. Bulan tersembul di langit sebelah barat dan cahayanya amat pucat. Namun, kendati begitu, cukup untuk menerangi lereng yang lebat ditumbuhi pohon pinus. Tak ada kehidupan di sana kecuali suara binatang malam. Namun ketika Pragola semakin naik ke lereng, sayup-sayup didengarnya suara lantunan orang. "Melantunkan apa dan di mana?" Pragola memicingkan mata melihat ke sebuah lembah. Remang-remang terlihat ada kerlip-kerlip cahaya pelita. "Ada rumahkah di sana?" Pragola mencoba menuruni lembah dengan hati-hati. Dia tak ingin mengejutkan penghuni rumah gubuk yang atapnya terbuat dari susunan ijuk itu.

Setelah agak dekat, pemuda itu baru tahu bahwa di sana ada orang tengah melantunkan ayat-ayat suci dari agama baru. Lantunan itu sungguh merdu dan terasa membelah kalbu, memberi ketenangan, padahal Pragola tak tahu maknanya. Pragola tergerak dan ingin sekali tahu, siapa yang melantunkan ayat-ayat itu pada dini hari yang dingin seperti ini. Dia semakin dekat ke pekarangan gubuk itu.

"Lantunan ayat-ayat sucimu enak didengar," terdengar satu suara di dalam sana. Si pelantun ayat berhenti sejenak. "Kalau engkau sudah mengerti isinya, maka bukan enak didengar, melainkan meresap ke dalam hati sanubari, menciptakan rasa damai dan mengenyahkan kerisauan," tutur suara lain. Pragola menduga, suara ini tentu yang tadi melantunkan ayat suci. "Aku tidak menyuruhmu, hanya ingin mengatakan saja bahwa aku betah dalam agamaku karena kedamaian," tutur si pelantun. Terdengar tawa kecil sebagai jawaban dari perkataan tadi. "Aku percaya omonganmu. Tapi tentu saja banyak kedamaian dari sejauh apa kita mendapatkannya." "Dari mana engkau mendapatkan kedamaian itu?" tanya si pelantun. Tak ada jawaban langsung, kecuali terdengar suara serak melantunkan tembang.

Syair lantunannya amat mengejutkan Pragola sebab dia pernah dengar sebelumnya. "Hidup banyak menawarkan sesuatu Namun bila salah memilihnya Maka kita adalah orang-orang yang kalah." Brak!!! Pragola mendorong pintu gubuk sehingga berantakan. Penghuninya, dua orang kakek-kakek yang diperkirakan usianya lebih delapan puluh tahun hanya sedikit menganga heran tanpa beranjak dari duduknya. Pragola melihat ke sana kemari seperti mencari sesuatu. "Hai, apa yang kau cari anak gendeng?" tanya salah satu dari kakek itu. "Mana Ginggi?" teriak Pragola. "Ginggi? Tak ada anak bengal itu di sini!" jawab si kakek berambut putih yang tergelung rapi di atas. "Barusan aku dengar lantunan tembangnya. Yang menembang seperti itu hanya Ginggi!" kata Pragola dengan nada tinggi tak mengenal sopan-santun. Pragola sendiri merasa aneh, mengapa dia bisa bertingkah kasar di hadapan orang-orang tua seperti ini. Namun yang lebih aneh lagi, kedua orang tua itu sedikit pun tak merasa tersinggung oleh sikapnya.

"Enak saja engkau bicara. Siapa bilang lantunan itu milik si Ginggi? Anak bawel itu hanya meniru-niru aku sebab tembang itu aku yang punya. Sejak zaman Surawisesa puluhan tahun silam aku sudah biasa melantunkan tembang itu," kata kakek berambut perak yang rapih. "Engkau siapa, kakek?" tanya Pragola. "Hehehe! Begitu entengnya bocah gendeng ini bertindak-tanduk. Tiba-tiba datang mendobrak pintu, lantas tanya ini tanya ini. Jayaratu, jawablah, barangkali bocah ini dulunya anak buahmu juga," kata kakek berambut rapih itu tanpa melirik ke arah Pragola. "Mendengar logat lidahmu, sepertinya engkau datang dari Cirebon, anak muda," kata kakek yang disebut sebagai Jayaratu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment