Chapter 38
Pragola sebentar menahan napasnya karena merasa tegang.
Nama Ki Jayaratu pernah dia dengar.
Dulu, puluhan tahun silam, pernah terdengar ada pengikut Kanjeng Sunan dari Cirebon yang hilang di Cakrabuana, bersamaan dengan bentrokan antara pasukan Cirebon dan pasukan Pakuan di lereng gunung ini.
"Andakah Ki Jayaratu yang disebut-sebut puluhan tahun silam?" tanya Pragola dengan suara bergetar.
"Hehehe! Tempat ini sudah terlalu mudah didatangi siapa pun. Harimau kumbang dan lodaya sudah tak sanggup mengusir pendatang. Engkau mesti pindah makin ke atas, Jayaratu," kata si kakek berambut acak-acakan.
"Aku tidak menjauhi keramaian sepertimu, Darma, sebab agamaku harus diamalkan kepada banyak orang," tutur Ki Jayaratu.
Semakin terkejut hati Pragola.
Jadi, kakek berambut acak-acakan ini adalah Ki Darma, tokoh tersohor yang banyak dibicarakan orang.
Pragola bingung, mana yang harus diperhatikan, sebab kedua orang di hadapannya ini adalah orang-orang penting yang perlu diperhatikan.
Ki Jayaratu banyak dibicarakan di Cirebon, sebagai seorang pandai yang lenyap begitu saja.
Sedangkan Ki Darma sudah jelas hampir semua orang mengenal namanya.
Kedua orang itu menjadi misterius sebab hilang bagaikan ditelan bumi.
Hanya Pragola seorang kini yang sanggup membuktikan bahwa orang-orang penting ini berkumpul di sini.
"Ki Jayaratu, saya adalah utusan Cirebon, datang hendak membuat perhitungan dengan Ki Darma atau siapa pun yang punya kaitan dengan Pakuan," kata Pragola.
Tapi kemudian Pragola bingung sendiri, mengapa mesti bicara begitu.
Padahal beberapa hari lalu dia sudah berkata undur diri dari urusan politik.
Barangkali dia berkata begitu karena tahu Ki Jayaratu dulunya perwira Cirebon dan selalu berperang untuk negeri dalam melawan Pajajaran.
Dan apabila tak salah dengar, Ki Darma adalah musuh besar Ki Jayaratu.
"Hehehe, kau hadapilah sendiri. Aku malas ketemu dengan orang-orang dungu macam ini," tutur Ki Darma masih tertawa-tawa.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja angin berdesir dan Ki Darma hilang dari pandangan.
"Ki Darma!" teriak Pragola.
Dia hanya melongok keluar, namun suasana dingin dan sepi.
"Ki Jayaratu, tolonglah, saya ingin membalas dendam," kata Pragola duduk bersila dan menyembah takzim.
Ki Jayaratu tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya yang menjuntai dan memutih.
"Kasihan sekali anak muda sudah demikian terlilit penderitaan," gumam Ki Jayaratu.
"Yang membuat saya menderita adalah Ginggi, murid Ki Darma. Gara-gara dia, maka guru saya Ki Sudireja tewas. Saya menderita karena hidup menjadi terlunta-lunta. Tolonglah, ajari saya berbagai ilmu kepandaian agar saya bisa melawan Ginggi dan kalau mungkin melawan Ki Darma sebagai musuh Cirebon," pinta Pragola.
Hanya dijawab oleh senyum tipis orang tua itu.
"Mengapa berkata begitu kepadaku seolah-olah kau menganggap aku terlibat urusan seperti itu?" kata Ki Jayaratu.
"Bukankah dulu Anda perwira Cirebon dan selalu melawan Pajajaran?"
"Kau katakan itu dulu. Sekarang tentu sudah tidak lagi," jawab Ki Jayaratu.
"Tapi segalanya belum berubah. Cirebon masih tetap akan memerangi Pakuan. Saya adalah anak buah Pangeran Yudakara yang selalu berjuang untuk Cirebon," jawab Pragola.
"Kasihan, semua orang menderita karena ambisi pribadi."
"Mengapa Anda katakan ini ambisi pribadi?" tanya Pragola.
"Engkau hanya berambisi ingin membalas dendam kematian gurumu dan Yudakara pun berambisi untuk kepentingan dirinya. Yudakara itu pengkhianat. Dia bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Cirebon. Cirebon kini tidak terlibat urusan politik. Tapi lebih menitikberatkan pada pengembangan agama. Bagaimana mungkin Cirebon punya keinginan menyerang Pakuan padahal tak punya kekuatan militer?" tanya Ki Jayaratu.
"Tapi Pangeran Yudakara punya pasukan prajurit. Itu semua prajurit Cirebon," kata Pragola.
"Bohong, tak ada prajurit Cirebon berkeliaran di wilayah Pajajaran. Kalau Yudakara punya kekuatan militer, itu tentu dihimpun sendiri olehnya. Yudakara ingin melanjutkan cita-cita kerabatnya yaitu Ki Sunda Sembawa yang dulu gagal melawan penguasa Pakuan. Seperti Sunda Sembawa, Yudakara pun punya ambisi merebut Pakuan dan dia ingin jadi raja di sana," tutur Ki Jayaratu.
Pragola tercengang mendengar keterangan ini.
"Tapi Anda tak pernah ke mana-mana, bagaimana mungkin bisa mengetahui peristiwa yang terjadi?" tanya Pragola.
"Tak ke mana-mana bukan berarti tak memiliki pengetahuan. Ki Darma punya murid bernama Ginggi yang kerjanya bertualang ke sana kemari. Aku pun banyak memiliki murid yang berpencar ke seantero Pajajaran untuk meluaskan agama baru. Mengapa aku tak bisa mendapatkan berita seperti itu?" Ki Jayaratu balik bertanya.
Pragola mengeluh dalam hatinya.
Kalau benar begitu, jelas selama ini hidupnya terombang-ambing oleh permainan yang tidak menguntungkan.
Dalam hal ini Ki Manggala benar, dia sudah mencurigai bahwa gerakan Pangeran Yudakara tidak utuh.
Pragola dan Paman Manggala hanya mengabdi kepada orang yang berjuang untuk ambisi pribadi.
"Pulanglah ke rumahmu dan jangan terlibat ke dalam urusan yang tak penting benar," kata Ki Jayaratu.
"Saya tak punya rumah. Kampung halaman saya di Caringin. Ayah saya seorang Cutak, tewas karena peperangan dengan orang Pajajaran kendati tak secara langsung. Namun hal ini tak mengurangi rasa benci saya terhadap Ginggi, atau siapa pun dari Pajajaran," keluh Pragola.
"Repot sekali kalau setiap orang diracuni perasaan dendam dan benci. Semua orang bisa saling bunuh. Harap kau tahu, dulu aku punya murid bernama Purbajaya. Dia diutus Cirebon untuk menyelundup ke Pakuan. Muridku tewas oleh Ginggi. Tapi mengapa aku harus benci? Purbajaya berjuang untuk Cirebon dan Ginggi membela negerinya. Keduanya sedang menjalankan kewajibannya mempertahankan negaranya masing-masing. Dan kalau pun harus berbicara urusan hukum-menghukum, tanpa aku membalas dendam, Ginggi sendiri pun sudah merasa terhukum. Itulah pembunuhan satu-satunya yang pernah dia lakukan seumur hidupnya. Dan peristiwa itu terus membekas di hatinya hingga kini," tutur Ki Jayaratu.
Pragola menghela napas.
Pahit rasanya hidup ini.
Tak ada orang yang mau mendengar keluh kesahnya.
Setiap bicara perihal kepahitan, setiap itu pula orang berkata perihal ketegaran dan kehebatan Ginggi.
Akhirnya Pragola menyembah kepada orang tua itu dan beranjak hendak keluar.
"Saya akan ke puncak mencari Ginggi?" kata Pragola pelan.
"Anak itu tak ada di sini," kata Ki Jayaratu.
"Saya menguntit dia dan saya yakin dia ke puncak."
"Benar, tadi malam dia ke puncak, tapi sesudah menitipkan sahabatnya yang terluka, dia segera turun gunung diperintah Ki Darma. Ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan mereka di Pakuan."
"Ginggi ke Pakuan?"
"Begitulah manusia dipermainkan nasib. Anak itu sudah ingin berhenti melibatkan diri di dunia ramai, namun nasib menghendaki lain. Hahaha! Ki Darma itu tua bangkotan yang berperangai licik. Dia sendiri sudah tak ingin ikut campur urusan dunia tapi masih tak rela kalau negerinya diancam bahaya. Ia menyuruh muridnya untuk melaksanakan keinginannya. Dasar tua bangkotan munafik. Hahaha!" kata Ki Jayaratu tertawa.
Hanya Pragola yang hatinya mengeluh.
Dengan tubuh lunglai dia berdiri.
Untuk kesekian kalinya dia menghormat ke arah Ki Jayaratu.
"Saya mohon diri, Aki?" kata Pragola.
"Katanya engkau ingin belajar di sini? Mari belajar di sini. Yang paling hebat di dunia ini bukan dendam tapi sinar keagamaan. Bila sinar agama memasuki jiwamu, maka dunia akan damai sebab benci dan dendam akan sirna," kata Ki Jayaratu.
"Saya hanya ingin berangkat ke Pakuan, Aki?" gumam Pragola sesudah terdiam agak lama. "Kalau sudah bertemu Ginggi, barangkali kelak baru saya bisa ikut Aki di sini," lanjutnya.
Ki Jayaratu hanya tersenyum tipis.
"Ya Allah, aku hanya sanggup berusaha. Tapi yang menentukan keputusan adalah Engkau jua," gumam Ki Jayaratu menengadahkan kedua belah tangannya.
Setelah itu dia menatap Pragola.
"Pada akhirnya hanya jalan pikiranmu yang membawamu. Hati-hatilah, jangan sampai engkau salah langkah," tuturnya.
Pragola menatap sebentar.
Kemudian dia membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.
Dia kembali menuruni lereng gunung padahal daerah itu didakinya dengan susah payah.
Ada suara ayam hutan berkokok.
Ketika Pragola berjalan di tempat agak terbuka, suasana sudah terang tanah.
Pragola terus berjalan menuruni lereng.
Pelan tak bersemangat.
Dia harus kembali melakukan perjalanan jauh, pulang ke arah tempat semula, Pakuan.
Entah apa yang dijalani kelak!
***
Berita Penyerbuan
Ketika sepasang matanya dibuka, maka yang pertama kali dilihatnya adalah wajah seorang kakek.
Sulit ditaksir berapa usianya.
Menilik rambutnya yang seluruhnya putih keperakan-perakan, kakek itu kira-kira berumur di atas delapan puluh tahunan.
Namun bila melihat kulitnya yang tanpa keriput, sepertinya dia baru berusia empat atau lima puluh tahun.
Namun yang pasti kakek itu benar-benar lelaki tua yang sehat.
Gerak-geriknya tidak loyo dan lamban walaupun tidak dikatakan lincah.
Pemuda itu hendak bangkit.
Tak sopan rasanya terbaring begitu saja ditunggui seorang tua.
"Engkau masih lemah, Angga. Tetaplah berbaring," kata kakek itu.
"Anda mengenal namaku, Ki?" tanya pemuda itu heran.
"Engkau Banyak Angga, putra Yogascitra, bukan?" tanya kakek itu.
Banyak Angga mengangguk mengiyakan.
Namun tentu saja belum menebus rasa herannya sebab dia sendiri tidak kenal siapa orang tua di hadapannya ini.
Pemuda itu mengerutkan dahinya, mengingat-ingat kembali peristiwa sebelum dia tiba-tiba terbaring di atas balai-balai bambu ini.
Seingatnya, ketika itu dia terlibat pertempuran.
Di tengah hutan jati di wilayah antara Sumedang Larang dan Karatuan Talaga.
Waktu itu empat orang kelompoknya terdiri dari Paman Angsajaya, Paman Manggala, Pragola, dan dia sendiri, dikepung puluhan perampok.
Kaum perampok menyerang membabi buta membuat dirinya terdesak.