Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 39

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 39

Banyak Angga menduga, barangkali hari itu adalah akhir hayatnya, karena banyak luka di sana-sini disertai limbahan darah. Tubuhnya limbung, pandangannya berkunang-kunang, sampai akhirnya terjerembab dan tak ingat apa-apa.

Maka, sungguh merasa aneh ketika tiba-tiba dia terbaring di gubuk yang berdinding gedek, berlantai palupuh, dan beratap ijuk. Di mana tempat ini dan siapa pula yang membawanya sampai di sini? Dia merasakan betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan ngilu-ngilu. Ada beberapa bagian badan yang dibebat lembaran dedaunan. Di bagian itu terasa perih, namun ada juga rasa sejuk, mungkin karena daun-daun menempel itu.

"Aki mengenal saya, namun maafkan kebodohan saya yang tak tahu siapa Aki," gumam Banyak Angga. "Tentu saja engkau tak kenal aku, sebab waktu itu engkau belum lahir ke dunia. Bahkan aku pun tak mengenalmu, kalau saja si Ginggi tak membawamu dan memperkenalkanmu padaku," tersentak hati Banyak Angga ketika orang tua itu menyebut nama Ginggi. Jadi, orang yang selama ini dicarinya bahkan pernah menolongnya.

"Ini tempat apa, Aki?" tanyanya. "Tempat yang terpencil, jauh dari keramaian dunia, terletak hampir di Puncak Gunung Cakrabuana," tutur sang kakek. Banyak Angga akan mencoba bangun, namun rasa sakit mengganggunya. Maka, yang dia lakukan hanyalah menatap orang tua itu dengan penuh rasa hormat dan kagum.

"Anda tentu Ki Darma?" gumamnya dengan suara setengah bergetar. Terasa ada dorongan hawa memenuhi dadanya. Namun, dorongan itu hanya tersalurkan melalui sudut-sudut matanya yang terasa panas. "Mengapa engkau menangis, anak muda?" tanya Ki Darma heran, namun sambil tersenyum-senyum.

Banyak Angga menyeka sudut-sudut matanya sambil memalingkan wajahnya. Dia pun heran, mengapa tiba-tiba dia ingin menangis ketika tahu bahwa orang tua di hadapannya itu adalah Ki Darma. Mungkin hatinya terharu sebab Ki Darma adalah guru Ginggi. Mungkin juga dia bahagia sebab baik Ki Darma maupun Ginggi adalah sebagian dari orang-orang yang tengah dibutuhkan di Pakuan.

Bersusah-susah dia melakukan perjalanan jauh ke wilayah timur, sambil beberapa kali dihadang mara-bahaya, kesemuanya hanya untuk mencari Ki Darma dan Ginggi. Dan sekarang sudah kesampaian! Barangkali juga Banyak Angga menangis karena suatu hal yang lain. Ki Darma ini orang terkenal. Setiap pertemuan di Pakuan dan wilayah Pajajaran selalu mengisahkan dirinya.

Bahwa Ki Darma ini adalah pahlawan yang berani berkorban membela negrinya tanpa pamrih. Kendati dia dimusuhi Raja Surawisesa karena berani melontarkan kritik dan bahkan dikejar-kejar untuk dibunuh di masa pemerintahan San Prabu Ratu Sakti, namun kecintaannya Ki Darma terhadap negara tak pernah pudar.

Sekarang Pajajaran semakin lemah di bawah kepemimpinan Sang Prabu Nilakendra. Maka, para patriot seperti Ki Darma dan Ginggi ini amat dibutuhkan kehadirannya. Jadi, bagaimana tak terharu bila kini Banyak Angga telah berhasil menemukan mereka.

"Saya rindu ingin bertemu Ginggi," tutur Banyak Angga menoleh kesana-kemari. "Hampir dua hari dua malam anak itu tekun merawat tubuhmu yang luka," jawab Ki Darma. "Dua hari... Kalau begitu, selama itu pula saya tak sadarkan diri," Banyak Angga heran.

"Barangkali lebih dari itu kau tak ingat apa-apa. Si Ginggi memanggulmu dari wilayah Sumedanglarang sana hingga Puncak Cakrabuana ini," Banyak Angga semakin melengak mendengar keterangan ini. "Saya rindu bertemu dengannya. Belasan tahun tak bersua dengannya. Di mana dia sekarang? Sedang apa dia sekarang?" Kembali Banyak Angga melirik kesana-kemari.

Sedangkan yang ditanya hanya ketawa saja, seperti melihat anak kecil yang kehilangan mainannya. "Anak bengal itu sudah pergi turun gunung," jawab Ki Darma masih tertawa-tawa. Namun, Banyak Angga menjadi sedih mendengarnya. "Sepertinya dia tak ingin bertemu denganku?" keluh Banyak Angga.

"Lho, anak itu barangkali sudah bosan berhari-hari menatap wajahmu," jawab Ki Darma seenaknya. "Tapi saya tak sempat melihatnya," gumam Banyak Angga. "Salahmu sendiri, mengapa kau beri dia surat," kata lagi Ki Darma sambil lalu.

Banyak Angga serasa diingatkan. Maka, serta-merta dia meraba-raba pakaiaannya, seperti ada sesuatu yang tengah dicari. "Mencari surat lembaran daun nipah itu, ya?" tanya Ki Darma. Banyak Angga mengangguk. "Karena tahu surat daun nipah itu untuknya, maka dia beranikan diri untuk membukanya. Tak salah, kan?" Banyak Angga menggelengkan kepala.

"Makanya dia begitu bersemangat ketika aku perintahkan agar dia segera kembali ke dayo Pakuan," tutur Ki Darma sambil mengambil beberapa lembar daun sirih. Diberinya beberapa ramuan rempah. Sirih itu dikunyahnya kuat-kuat. "Tapi benarkah Nyi Mas Banyak Inten, adikmu itu mencintai si Ginggi?" tanya Ki Darma sambil mulutnya dipenuhi daun sirih.

Dijawab secara tak langsung oleh Banyak Angga bahwa ayahandanya memerintahkan Nyi Mas Banyak Inten untuk mengundang Ginggi datang ke puri Yogascitra untuk suatu keperluan yang mendesak. "Kami tahu, sebenarnya Ginggi beberapa kali pernah datang ke Pakuan, tapi sekedar menengok adikku di mandala. Kami inginkan kehadiran Ginggi secara resmi. Itulah sebabnya dianjurkan adikku yang meminta, sebab kami yakin saudara Ginggi akan mau mengabulkan keinginan Nyi Mas Banyak Inten," kata Banyak Angga.

Mendengar penjelasan ini, Ki Darma hanya tertawa masam sambil tetap menguyah sirih. "Sudah sejak dulu, sebenarnya tak lazim orang kebanyakan menyandingkan anak bangsawan. Jadi, kalau anak bengal itu memaksakan diri, artinya melanggar kebiasaan," tutur Ki Darma.

"Kami tak pernah memperbincangkan hal ini. Lagi pula, dulu pun Ginggi sudah kami angkat sebagai ksatria di puri Yogascitra. Ginggi adalah orang berjasa bagi keluarga kami, sebab dia telah berhasil menyelamatkan kehormatan dan harga diri Nyi Mas Banyak Inten dari kebejatan moral Suji Angkara," tutur Banyak Angga kembali teringat peristiwa masa lalu.

"Hehehe! Tapi kalian tak merasa kasihan kepada Nyi Mas Banyak Inten. Masa seorang wiku harus menikah?" tanya Ki Darma. "Adikku masuk mandala bukan keinginannya, melainkan karena perintah Raja. Mengapa sekarang tak boleh keluar dengan perintah jua?" tanya Banyak Angga.

"Untuk kepentingan politik, agama bahkan bisa diatur," gumam Ki Darma. Banyak Angga serasa terpukul mendengarnya. "Kami tak bermaksud mempermainkan agama, namun kami tahu, adikku masuk mandala tidak atas keyakinan sendiri, melainkan karena dihukum Raja. Agama tak boleh dilalui dengan jalan keterpaksaan, apalagi merasa karena dihukum. Oleh sebab itu, kami mengusulkan kepada Sang Prabu agar meninjau kembali keputusan Raja terdahulu," tutur Banyak Angga lagi.

Hanya dibalas oleh Ki Darma dengan senyum. "Terserah apa pendapat kalian. Aku hanya berharap, mudah-mudahan si Ginggi bisa berpikir dewasa, sebab seperti apa katamu tadi, agama bukan keterpaksaan. Begitu pun cinta, tidaklah hadir karena keterpaksaan," kata Ki Darma sesudah berdiam diri sejenak.

Banyak Angga hanya mengatupkan sepasang matanya sejenak. "Tapi anak itu bergegas pergi bukan lantaran surat daun nipah itu saja. Aku memang telah menyuruhnya agar dia pergi ke Pakuan. Aku rasa, memang di dayo akan terjadi sesuatu?" gumam Ki Darma datar.

Banyak Angga kembali membuka kelopak matanya. Dia melirik ke arah orang tua itu. "Apakah Aki tahu situasi terakhir di Pakuan?" tanya pemuda itu. "Tahu sekali sih tidak. Tapi anak murid Ki Jayaratu yang kerapkali mengembara ke wilayah barat banyak mengabarkan perihal situasi Pakuan," kata Ki Darma.

"Ki Jayaratu... Serasa pernah saya dengar nama itu!" gumam Banyak Angga. "Hm, dulu dia musuh besarku. Dia kan perwira negri Carbon. Sudah barang tentu kami sering bertemu dalam pertempuran. Ya, ketika negri kita dipimpin Sang Prabu Surawisesa dulu," kata Ki Darma.

"Apakah Ki Jayaratu kini ada di sini?" "Sudah belasan tahun dia tinggal di lereng selatan bersama beberapa orang sesama bekas perwira Carbon lainnya. Mereka sepertinya membuka perguruan agama baru," jawab Ki Darma, "kerapkali kami bertemu." "Maksud Aki, selalu bertempur juga hingga kini?" tanya Banyak Angga.

"Anak kecil saja kalau bermusuhan selalu selesai dalam waktu singkat, mengapa orang-orang yang sebentar lagi mau masuk kubur terus main cakaran? Lagi pula, apa urusan antara si Darma dan si Jayaratu sehingga perlu menciptakan permusuhan berkepanjangan?" Hah, orang tolol yang hidupnya terjerembab ke perangkap politik. Dulu kami bertempur karena diperkuda kepentingan politik. Meski bertempur belasan tahun untuk membela negara, padahal apa, rakyat dan negara bahkan menderita akibat peperangan. Dan itu yang kami katakan sebagai pembelaan," tutur Ki Darma menggebu.

Banyak Angga menghela napas. Yang pernah dia dengar, baru kali inilah dapat dibuktikan. Dan memang benar, Ki Darma ini kala bicara selalu ceplas-ceplos, termasuk dalam menilai ketatanegaraan. Dia selalu berkata apa yang ada dalam hatinya.

Ketika Sang Prabu Surawisesa senang berperang melawan negri-negri kecil bawahan Pajajaran yang membangkang, atau bahkan ketika berperang melawan Carbon, Ki Darma mengkritiknya sebab dianggapnya peperangan hanya menghabiskan dana dan menyengsarakan rakyat. Kritik di masa itu memang sudah dikenal dan orang menamakannya Panca Parisuda. Namun, tak semua orang senang menerima obat yang pahit rasanya, apalagi bagi seorang raja.

Itulah sebabnya Sang Prabu tersinggung sebab kritik Ki Darma, artinya mengorek kelemahan orang lain, kelemahan seorang raja! Kini, pendapat Ki Darma tak pernah berubah, dia mencela kehidupan akal-akalan yang dianggapnya menghancurkan kehidupan rakyat. Ini yang membuat Banyak Angga menghela napas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment