Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 40

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 40

Bila begini jadinya, Ki Darma barangkali tak bisa dibujuk untuk ikut bergabung memperkuat Pakuan.

"Aki, kalau Aki sering mendengar perihal situasi akhir Pakuan, barangkali Aki sudah memikirkan cara penanggulangannya," kata Banyak Angga tiba-tiba.

"Menanggulangi apa?" "Bukankah tadi Aki bilang di Pakuan akan terjadi sesuatu?" kata Banyak Angga lagi.

"Ya, begitu kira-kira?" "Kalau begitu, Aki harus mau menanggulangi agar sesuatu yang akan terjadi tidak terlalu buruk," kata Banyak Angga.

"Mengapa harus aku?" Ki Darma celingukan seperti merasa aneh mendengar omongan pemuda itu.

"Karena Aki amat dibutuhkan. Hanya Aki orang Pajajaran yang berjuang untuk negeri tanpa pamrih pribadi." "Hahaha! Ayahmu bagaimana?" "Ayahanda bukan orang yang berpikir untuk kepentingan pribadi. Tapi Ayahanda bukan ahli jurit (peperangan) sehingga bila terjadi sesuatu terhadap Pakuan, dia tak bisa mempertahankan negeri dengan baik," kata Banyak Angga.

"Hahaha! Jangan meremehkan Pakuan. Kota ini dikawal oleh seribu orang pasukan bala mati (siap mati), menguasai tiga belas teknik pertempuran dan siap mengamankan Raja," kata Ki Darma tertawa.

"Tapi itu dulu, ketika zamannya Aki malang melintang di pasukan bala mati. Sekarang banyak perwira seangkatan Aki yang berhenti karena mengundurkan diri atau meninggal. Sedangkan penggantinya tak setangguh para pendahulunya. Mereka tak sanggup menuruni bakat dan kemampuan para perwira tua," jawab Banyak Angga.

"Mustahil!" "Lebih dari itu, Sang Prabu seperti tak mendukung upaya meningkatkan kembali kemampuan ahli jurit." "Mengapa?" "Sang Prabu lebih memilih memperkuat kehidupan agama ketimbang militer, padahal bahaya sudah mengancam dari sana-sini." "Sang Prabu mungkin benar," gumam Ki Darma.

"Mengapa benar?" "Sebab barangkali dia sudah waspada akan sesuatu yang tengah berjalan," ujar Ki Darma.

"Apakah itu?" "Sesuatu kekuatan yang tak bisa dilawan." "Ya, apakah itu?" tanya Banyak Angga tak sabar.

"Sebuah perubahan!" jawab Ki Darma tandas.

"Perubahan?" gumam Banyak Angga.

"Maksud Aki, perubahan itu datang dibawa oleh kekuatan agama baru? Apakah Aki bermaksud mengatakan bahwa Pajajaran akan kalah oleh kekuatan agama baru?" lanjutnya.

"Jangan kau anggap suatu perubahan itu adalah kekalahan. Kalahkah siang terang benderang yang kemudian mulai redup karena malam hendak datang? Atau, kalahkah sang malam ketika mentari mulai muncul di ufuk timur?" tanya Ki Darma.

Hening untuk beberapa lama. Ada suara burung walik berceloteh di dahan-dahan pohon pinus di sekitar gubuk. Namun, celoteh burung itu membuat suasana semakin sepi yang dirasakan Banyak Angga.

"Jangan kau risaukan perubahan itu sebab ini merupakan hal alami yang terjadi di dunia. Yang engkau harus hadapi dengan baik adalah penyakit keserakahan karena kepentingan ambisi manusia. Dan bahaya seperti itu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam tubuh kita sendiri," kata Ki Darma.

Banyak Angga masih merenung.

"Engkau keliru bila takut menghadapi kekuatan agama baru. Sudah sejak zaman Sri Baduga Maharaja, bahkan jauh sebelum itu, kehidupan agama baru sudah ada di Pajajaran. Bukankah Pesantren Syekh Quro sudah hadir di wilayah Tanjungpura (Karawang) ratusan tahun silam? Agama itu tak berbahaya bagi Pajajaran. Dan sekali lagi aku katakan, yang membahayakan justru orang-orang yang punya ambisi pribadi," kata Ki Darma lagi. "Kalau agama dibawa dengan benar, lihatlah, betapa damainya Ki Jayaratu. Dia datang dari Cirebon. Bukan untuk memerangiku sebagai bekas musuhnya, melainkan untuk menyebarkan agama. Dia tak melakukan pemaksaan, hanya ditampilkannya agama baru itu dengan tindak tanduk yang mengundang simpati. Kenyataannya, lihatlah, agama baru semakin merebak ke mana-mana. Dia menjadi besar tanpa melalui kekerasan. Inilah yang aku sebut perubahan. Sesuatu yang baru akan datang menggantikan yang lama." Banyak Angga mengangguk-angguk pelan namun sebetulnya tanpa begitu mengerti apa yang baru saja disimaknya.

Sampai pada akhirnya Ki Darma menyuruhnya untuk kembali tidur agar kesehatannya cepat pulih. Entah berapa lama dia tidur, sampai tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang yang datang.

"Assalamualaikum!" kata suara dari luar. "Rampai." Jawaban dari dalam.

Banyak Angga tahu, yang menjawab adalah Ki Darma. Sedangkan suara sang tamu, Banyak Angga tak kenal.

"Masuklah, Jayaratu. Ada apa tergesa-gesa begitu?" tanya Ki Darma.

Baru pemuda itu tahu, bahwa yang datang adalah Ki Jayaratu. Ia mencoba bangun sebab ingin sekali mengenal orang tua yang terkenal karena menjadi musuh besarnya Ki Darma dulu.

"Aku ingin lihat pemuda itu, apa sudah agak baikan?" kata Ki Jayaratu sambil mendekati balai-balai bambu tempat Banyak Angga terbaring.

Banyak Angga walau pun hati-hati namun sudah bisa duduk sambil bersandar. Dia melihat ada seorang kakek yang usianya hampir sebanding dengan Ki Darma. Bedanya, penampilan kakek ini sedikit rapi. Dia memakai baju kurung warna nila dan rambutnya yang panjang memutih diikat kain kasar warna hitam. Orang tua itu membawa bungkusan kain yang diselendangkan di bahunya. Ketika duduk di balai-balai, ia segera menurunkan buntalan tersebut dan membukanya. Isinya ternyata tumpukan berbagai dedaunan. Ia memilih-milih beberapa lembar.

"Mari, aku buka bebatmu yang lama, mungkin daun itu sudah kering," tuturnya kepada Banyak Angga.

"Hahaha! Engkau beruntung didatangi juru obat sakti," kata Ki Darma.

"Ki Darma dan Ginggi bahkan lebih hebat dalam menguasai pengetahuan obat-obatan, hanya saja mereka orang-orang malas dan seenaknya merawat pasien," tutur Ki Jayaratu.

Ki Darma hanya heheh-heheh saja.

"Itu daun-daun apa, Aki?" tanya Banyak Angga memperhatikan Ki Jayaratu membuka bebat di tangannya dengan pelan.

"Hahaha! Ini hanya daun babadotan saja, sejenis tumbuhan liar yang hidup di semak-semak. Tapi jangan menyepelekan. Daun tak berharga bagi orang yang tak mengenalnya, sebenarnya merupakan obat mujarab untuk menghentikan pendarahan dan bagus untuk mengeringkan luka," kata Ki Jayaratu sambil meremas-remas lembaran daun itu hingga lusuh.

Sedikit kapur sirih yang sudah diberi air dioleskan ke setiap lembaran daun itu. Sesudah jumlah lembaran daun dianggap cukup, Ki Jayaratu melepaskan tempelan-tempelan lembaran daun yang lama dan menggantinya dengan daun yang baru.

Banyak Angga meringis sambil sedikit mengatupkan mata. Ada beberapa luka yang cukup parah di beberapa bagian tubuhnya. Beberapa di antaranya sedikit membengkak dan memar kebiruan. Kata Ki Jayaratu, luka yang membengkak karena terlambat menerima pengobatan.

Ki Darma menerangkan, barangkali Ginggi terlalu tergesa-gesa membawa Banyak Angga sehingga tak sempat merawatnya dengan baik dan telaten.

"Bisa jadi begitu, si Ginggi tergesa-gesa karena diikuti orang. Bukankah tak selang sehari ada orang yang mencari-carinya?" tanya Ki Jayaratu sambil tangannya tak henti-hentinya merawat beberapa bagian tubuh Banyak Angga.

"Oh, ya! Aku ingat anak itu. Ke mana dia sekarang?" tanya Ki Darma mengambil tempat air minum terbuat dari kulit buah kukuk yang sudah kering.

Ki Darma minum sambil menentengkan tempat air itu begitu saja ke mulutnya.

"Anak itu seperti gila. Mula-mula datang mencak-mencak mencari si Ginggi. Namun sesudah itu merengek-rengek minta diajari ilmu kedigdayaan. Karena aku tolak, dia pergi dan akan tetap mencari si Ginggi!" "Begitu bencinya anak dungu itu kepada si Ginggi. Siapakah dia?" tanya Ki Darma acuh tak acuh.

"Bahkan engkau akan diperangi juga," gumam Ki Jayaratu.

"Oh, ya, aku dengar itu," Ki Darma masih acuh tak acuh.

"Aku tak tahu namanya sebab bocah edan itu tak memperkenalkan diri, kecuali...?" kata Ki Jayaratu tersendat.

"Kecuali apa, Jayaratu?" tanya Ki Darma menoleh.

"Kecuali dia katakan bahwa dia murid Ki Sudireja," tutur Ki Jayaratu.

"Hm. Kalau tak salah, Ki Sudireja itu perwira Kerajaan Karatuan Talaga yang membenci Pajajaran," gumam Ki Darma.

"Dia mengaku anak buah Pangeran Yudakara," kata Ki Jayaratu lagi.

"Apakah yang Aki maksud adalah Pragola?" tanya Banyak Angga dengan dada berdegup.

"Pragola, siapa Pragola?" tanya Ki Jayaratu menatap Banyak Angga.

"Pragola adalah pemuda usia sembilan belas tahun. Dia sahabatku. Mulanya memang anak buah Pangeran Yudakara, calon penguasa Sagaraherang. Pangeran itu mengusulkan Pragola bekerja di puri kami sebab dia tahu betul perihal keberadaan belasan perwira Pakuan yang ada di Puncak Cakrabuana," kata Banyak Angga.

Giliran kedua orang tua itu yang mengerutkan alis karena heran.

"Apa kata anak itu?" tanya Ki Jayaratu.

Banyak Angga menerangkan kalau kehadirannya di sini karena hasil laporan Pragola. Dan untuk memperjelas keterangannya ini, Banyak Angga terpaksa memaparkan tujuannya. Pemuda itu menerangkan, betapa sebetulnya dia tengah mengusung tugas penting. Ayahandanya yang khawatir melihat pusat pemerintahan Pakuan semakin lemah, menginginkan agar para orang pandai yang punya kesetiaan terhadap Pajajaran dikumpulkan kembali, termasuk mencoba kembali mencari belasan perwira yang diutus pemerintah pergi ke Puncak Cakrabuana mencari Ki Darma.

"Belasan perwira Pakuan tak pernah kembali. Ada selentingan mereka gugur sebab di puncak bertemu dengan pasukan Cirebon. Namun Pragola malah mengabarkan, sebetulnya belasan perwira Pakuan masih berada di puncak tapi tak bisa pulang karena dikepung pasukan Cirebon. Pangeran Yudakara mengusulkan agar Pakuan segera mengirimkan kembali belasan perwira tangguh untuk menyelamatkan teman-temannya yang tertahan di sini. Namun, Ayahanda sebelum mengabulkan usul ini, terlebih dahulu mengutus misi penyelidik, yaitu saya beserta tiga orang pembantu dan beberapa orang prajurit. Tapi di tengah perjalanan kami beberapa kali dihadang musuh, baik hadangan dari Cirebon, kaum perampok, sampai pasukan misterius yang kami tak tahu siapa gerangan," kata Banyak Angga panjang lebar.

Mendengar penjelasan ini, baik Ki Darma maupun Ki Jayaratu hanya mengangguk-angguk kecil.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment