Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 41

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 41

"Ada yang benar, ada juga yang tak benar," gumam Ki Jayaratu seperti bicara pada dirinya sendiri.

Sesudah merenung sejenak, Ki Jayaratu menerangkan bahwa benar sekitar lima belas tahun silam di lereng Gunung Cakrabuana terjadi pertempuran kecil. Ketika itu, ada belasan perwira Pajajaran naik ke gunung dengan maksud mencari Ki Darma. Namun pada saat yang bersamaan, dari bagian lereng lain naik pula belasan prajurit dan perwira lain.

"Ngakunya dari Cirebon, ya!" tukas Ki Darma yang duduk bersila di balai-balai.

"Mengakunya begitu, padahal bukan," kata Ki Jayaratu.

Menurut orang tua ini, ketika itu di Cirebon pun terdapat beberapa gelintir pejabat yang punya ambisi pribadi. Melihat Karatuan Cirebon lebih menitikberatkan urusan pada bidang penyebaran agama, ada pejabat bernama Arya Damar yang ingin mendompleng. Dia punya cita-cita, selain agama baru harus semakin menyebar, Pajajaran juga harus dihancurkan agar kekuasaan Cirebon pun ikut menyebar ke wilayah barat.

Secara diam-diam, Arya Damar mencoba mengirimkan pasukan dan sedikit demi sedikit mengikis kekuatan Pajajaran. Adapun Ki Darma, tokoh ini masuk daftar orang Pajajaran yang harus dilenyapkan sebab kendati Ki Darma tak disukai penguasa Pajajaran, ia selalu siap membela negara. Bagi Arya Damar, Ki Darma dianggap sebagai duri penghalang. Jadi, Ki Darma harus dilenyapkan.

"Katanya menyerang Cakrabuana pun ada maksud tambahan, Jayaratu," potong Ki Darma yang merem-melek dan acuh tak acuh menyimak cerita yang disampaikan Ki Jayaratu.

"Ya, pasukan gelap yang diutus Arya Damar ingin merebut tombak pusaka Cuntangbarang yang katanya dikuasai olehmu," kata Ki Jayaratu menoleh.

Ki Darma hanya mendengus. "Jangan percaya celoteh tua bangka ini. Sejak dulu aku tak butuh senjata. Boleh tanya sama si Ginggi," kata Ki Darma dengan nada setengah mengejek.

Banyak Angga yang mendengarkan kisah ini harus percaya kepada Ki Darma sebab dia tahu sepak terjang Ginggi yang ke mana-mana tak pernah membawa senjata. Kebiasaan Ginggi mungkin turunan dari gurunya, Ki Darma.

"Benarkah terjadi pertempuran?" tanya Banyak Angga.

Nampak Ki Jayaratu menghela napas. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Sepertinya dia enggan membicarakannya. "Yah, memang terjadi pertempuran. Sebelum kedua pasukan itu berhasil menemui Ki Darma, mereka sudah saling serang."

"Dan semuanya mampus!" tukas Ki Darma.

"Ya, banyak yang mati dan luka parah. Namun yang selamat pun banyak. Beberapa anggota pasukan Pajajaran hingga hari ini masih segar bugar kendati sudah berusia lanjut," kata Ki Jayaratu. "Dan yang aneh, ternyata mereka datang ke sini bukan untuk mengejar atau membunuh Ki Darma, melainkan ingin bergabung karena sudah tak suka kepada Sang Prabu Ratu Sakti ketika itu," lanjut Ki Jayaratu menengok ke arah Banyak Angga.

"Hati-hati engkau bicara, anak muda itu putra pejabat penting di Pakuan. Dan kalau kau tak mau dimusuhi anak muda itu, engkau pun harus menerangkan kedudukanmu ketika itu. Mengapa kau tiba-tiba ada di sini, padahal engkau adalah musuh bebuyutanku," kata Ki Darma tertawa.

Giliran Ki Jayaratu yang tertawa. "Kalau orang Cirebon menganggapku pengkhianat, mungkin benar sebab mana ada musuh bebuyutan jadi sahabat. Tapi aku jemu menjadi prajurit. Sebab pada hakikatnya, prajurit hanyalah alat dari ambisi kaku dan kesetiaan kaku. Aku tak punya masalah pribadi dengan Ki Darma atau dengan siapa saja yang ada di Pajajaran. Tetapi karena keharusan membela negeri, aku harus memeranginya. Cirebon yang dulu ada di bawah Pajajaran, mulai berani membebaskan diri karena mendapat bantuan kekuatan dari Demak. Hanya karena bantuan Demak, Cirebon pernah menguasai wilayah Pajajaran seluruhnya. Sekarang, manakala Demak sudah lemah, Cirebon pun sudah tak punya kekuatan lagi. Celakanya, masih ada yang bermimpi menggunakan militer untuk harga diri dan ambisinya. Itu aku tak suka. Itulah sebabnya aku pergi dari Cirebon dan memilih sendirian saja menyebarkan agama baru," tutur Ki Jayaratu bicara panjang lebar.

"Aku hanya ingin menjadi manusia wajar dan bisa mencari sahabat seperti kehendakku. Contohnya hari ini aku bersahabat dengan orang yang sama-sama dianggap pengkhianat oleh masing-masing negaranya," kata Ki Jayaratu.

"Siapa bilang? Nasibku tak sama dengan nasibmu. Bukankah begitu, Angga?" Ki Darma tertawa sambil melirik ke arah Banyak Angga.

Pemuda itu mengangguk pelan dengan wajah murung. "Ki Darma sudah diampuni dan namanya dibersihkan oleh Sang Prabu Nilakendra, pengganti mendiang Prabu Ratu Sakti," tutur Banyak Angga dengan suara tak bersemangat.

Pemuda ini sungguh tak enak hati; mengapa Pragola begitu benci terhadap Ginggi dan Ki Darma, padahal semua orang Pajajaran hari-hari terakhir ini begitu mengagumi kedua murid dan guru itu. Rupanya isi hati Banyak Angga dirasakan pula oleh Ki Jayaratu. Buktinya, orang tua itu malah mempertanyakan sifat aneh Pragola.

"Aku tahu, si Ginggi kenalan baik Banyak Angga. Dan kalau engkau pun mengaku bersahabat baik dengan Pragola, mengapa anak muda itu malah membenci Ginggi?" tanyanya. "Harus dicari sebab-sebabnya. Ada permusuhan apakah di antara mereka ini?"

"O ya, kau ingat? Anak itu pernah mengaku sebagai utusan Cirebon!" teriak Ki Jayaratu menepuk jidatnya. "Masya Allah, bukankah tadi aku katakan bahwa anak itu pun mengaku anak buah Pangeran Yudakara? Engkau tahu bukan, Yudakara itu dulunya orang Cirebon juga?" kata Ki Jayaratu.

"Betul, tapi Pangeran Yudakara sudah kembali menjadi warga Pajajaran," sahut Banyak Angga.

"Salah besar, salah besar! Oh, mengapa aku jadi pelupa begini? Anak muda bernama Pragola itu berkata kalau tujuan Pangeran Yudakara adalah merebut Pajajaran!"

"Jangan sembarangan menduga, Aki!" tukas Banyak Angga dengan hati terkejut.

"Engkaulah yang jangan sembarangan menduga, anak muda!" tukas Ki Jayaratu. "Kau sangka Pangeran Yudakara itu orang baik-baik? Aku pun dulu, belasan tahun silam amat mempercayainya sehingga aku perintahkan muridku, Purbajaya, untuk menyusup ke Pakuan. Hasil didikan Yudakara membuat perjuangan muridku melenceng dan akhirnya tewas oleh murid si bangkotan ini. Sungguh malang nasib muridku. Di Cirebon, kekasihnya direbut Yudakara pula," kata Ki Jayaratu.

Banyak Angga menyimak cerita ini dengan perasaan tak keruan. Tanpa terasa air matanya meleleh turun. Mendengar nama Purbajaya disebut-sebut, dia terkenang masa belasan tahun silam. Purbajaya adalah pemuda baik dan tak pernah banyak bicara. Pemuda itu lama mengabdi di puri Yogascitra. Ayahanda Banyak Angga pun menyimpan harapan kepada Purbajaya. Pemuda itu dikenal sebagai puhawang (ahli kelautan) dan Yogascitra bercita-cita mengembalikan kejayaan Pajajaran sebagai negara maritim seperti ketika zaman Sang Prabu Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M) yang menguasai tujuh pelabuhan penting di Jawa Kulon.

Namun pada akhirnya, penghuni puri Yogascitra harus kecewa sebab pemuda yang sudah dipercayainya ini belakangan diketahui sebagai utusan Cirebon untuk mengikis kekuatan Pakuan. Sungguh amat menyedihkan, Purbajaya tewas di tangan Ginggi saat pemuda itu hendak membunuh Sang Prabu Ratu Sakti.

Perasaan Banyak Angga bergalau tak menentu. Di lain pihak, dia bersyukur bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting ini. Namun di lain pihak pula, dia merasa bingung dan sedih akan kenyataan yang tengah berlangsung. Dia bingung dan sedih; ternyata Pangeran Yudakara dan Pragola yang sudah dipercayai kini malah diragukan. Betulkah apa yang diucapkan Ki Jayaratu ini?

"Dari mana anak muda bernama Pragola itu punya hubungan dengan Pangeran Yudakara?" tanya Ki Darma yang sejak tadi diam saja.

Entah kepada siapa pertanyaan ini dilontarkan. Yang jelas, baik Banyak Angga maupun Ki Jayaratu terlihat saling pandang.

"Saya hanya tahu, dia itu orang kepercayaan Pangeran Yudakara. Ketika dia disodorkan untuk dipekerjakan di puri Yogascitra, saya langsung menyukainya, sebab melihat wajah Pragola, serasa diingatkan akan wajah Ginggi belasan tahun silam," tutur Banyak Angga.

Ki Darma menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap bergiliran kepada Banyak Angga dan Ki Jayaratu. "Benarkah Jayaratu, anak muda itu wajahnya seperti si Ginggi belasan tahun silam?" tanyanya.

"Mana aku tahu tampang si Ginggi belasan tahun silam? Kau yang harus jawab pertanyaan itu, bukankah kau pun pernah melihat wajah anak muda bernama Pragola itu?" Ki Jayaratu balik bertanya.

Ki Darma merenung lama dan nampak keningnya berkerut dalam. "Memang aku lihat selintas anak muda itu, tapi tak kubanding-bandingkan dengan muridku. Namun kalau melihat matanya yang bulat berbinar, sepertinya sama. Tapi apa urusannya dengan persamaan itu? Di dunia ini banyak orang yang memiliki kesamaan wajah," gumam Ki Darma.

"Saya pun tak memikirkan sejauh itu. Hanya saja saya pikir wajah mereka memang mirip," tutur Banyak Angga.

Percakapan tak dilanjutkan dan Ki Jayaratu berpamitan karena sudah selesai merawat Banyak Angga. Ki Darma mengantarkan orang tua itu hingga ke tepas (beranda).

"Si Pragola itu mengaku anak cutak dari wilayah Caringin," kata Ki Jayaratu tiba-tiba.

"Hei, berhenti dulu!" teriak Ki Darma.

Ki Jayaratu menoleh heran. "Ada apa?" tanyanya.

"Kau barusan bilang apa?"

Ki Jayaratu mengerutkan alis sepertinya ingin mengingat barusan bicara apa. "Aku katakan, anak itu mengaku dari wilayah Caringin dan mengaku anak seorang cutak," kata lagi Ki Jayaratu.

"Celaka!" teriak Ki Darma. "Banyak Angga, cepat kau pulang, susul mereka!" sambungnya berteriak ke arah Banyak Angga.

Sudah barang tentu, baik Ki Jayaratu maupun Banyak Angga heran dengan perilaku Ki Darma yang nampak tak tenang ini.

"Ada apa kau mencak-mencak tak keruan?" tanya Ki Jayaratu heran.

"Mereka! Mereka pasti kakak beradik!" teriak lagi Ki Darma.

Giliran Ki Jayaratu dan Banyak Angga yang terkejut. "Maksudmu, si Ginggi dan si Pragola itu bersaudara?" tanya Ki Jayaratu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment