Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 42

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 42

"Saudara Ginggi tidak pernah mengatakan berasal dari Caringin," tutur Banyak Angga.

"Anak itu tidak pernah menceritakan masa lalunya karena aku sengaja tidak banyak bicara soal itu. Belasan tahun lalu, sebelum dia turun gunung, aku memang mengatakan bahwa dia berasal dari Caringin, hanya saja aku tidak mau memberitahu siapa ayahnya," kata Ki Darma.

"Jika dua kakak beradik itu saling membantai, maka engkaulah yang berdosa, Darma!" kata Ki Jayaratu. "Mengapa kau rahasiakan asal-usulnya?" tanyanya kemudian.

"Aku takut si Ginggi kecewa. Dia merasa sebagai orang Pajajaran dan mencintai negeri itu. Jika dia tahu ayahnya adalah pemberontak yang ingin bergabung dengan Cirebon, hatinya tentu akan terluka," gumam Ki Darma.

"Hahaha!" "Heh, kenapa kau malah tertawa?" teriak Ki Darma, matanya melotot ke arah Ki Jayaratu.

"Dalam hal ini, si Pragola yang bertindak tepat. Dia selama ini berjuang untuk Cirebon sehingga tidak perlu sedih melihat ayahandanya," gumam Ki Jayaratu.

Ki Darma hanya mengatupkan mulut. Sedangkan Banyak Angga hanya terdiam mendengar kenyataan itu.

"Kita harus mencegah mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan," gumam Banyak Angga akhirnya.

"Jangan khawatir, si Ginggi tidak mudah dikalahkan lawannya," kata Ki Jayaratu.

"Sepertinya kau menginginkan mereka bertempur," kata Ki Darma.

"Hahaha! Hitung-hitung mengembalikan kenangan permusuhan antara kau dan aku. Hm, sayang si Pragola tidak kulatih dulu sehingga pertempuran bisa seru," kata Ki Jayaratu.

"Jangan main-main. Angga, kau harus mencari mereka, cegahlah!" kata Ki Darma menoleh ke arah Banyak Angga yang tidak banyak bicara.

"Ya, kau harus berusaha mencegah pertemuan mereka, Angga," kata Ki Jayaratu menganjurkan. Namun sambil begitu, Ki Jayaratu menatap Banyak Angga yang masih belum sanggup beranjak dari balai-balai.

"Begitu bencinya pemuda itu terhadap Ginggi?" tanya Banyak Angga.

"Sebetulnya kebencian Pragola tertuju kepada orang Pajajaran secara keseluruhan," kata Ki Jayaratu sambil kembali menerangkan bahwa Pragola ingin membalas dendam kepada orang Pajajaran karena kematian Ki Sudireja, gurunya, serta kematian ayahandanya yang juga erat kaitannya dengan bentrokan dengan Pajajaran.

"Ki Sudireja ikut terlibat dalam pemberontakan Sunda Sembawa. Jika Ginggi tidak menggagalkan pemberontakan, Ki Sudireja tidak akan menjadi buronan yang terus dikejar dan akhirnya tewas di bawah kepungan perwira Pakuan. Itulah sebabnya Pragola mengalihkan kebenciannya kepada Ginggi," tutur Ki Jayaratu.

"Anak dungu!" dengus Ki Darma pendek.

"Memang dungu sekali anak itu. Dan jika tidak bisa dicegah, kedunguannya itu akan membawanya ke arah kehancuran," kata Ki Jayaratu lagi.

Akhirnya kedua orang tua itu berjanji akan mengupayakan pengobatan sungguh-sungguh terhadap Banyak Angga. Diharapkan pemuda itu segera sembuh agar dapat mengejar kedua kakak beradik yang diperkirakan akan berseteru karena permasalahan masa lalu.

Ternyata Banyak Angga memerlukan waktu hampir lima hari untuk memulihkan kebugarannya. Kata Ki Jayaratu, pemuda itu lambat pulih karena hatinya mungkin tidak tenang. Dugaan orang tua itu benar. Banyak Angga merasakan betapa risau hatinya. Bagaimana tidak, Pragola sedang mengejar Ginggi. Bukan untuk pertemuan dua kakak beradik, melainkan sebagai seteru. Paling tidak, itulah yang ada dalam pikiran Banyak Angga. Banyak Angga risau, kedua orang itu dikenalnya dengan baik. Dia tidak boleh membiarkan keduanya berseteru.

Kata Ki Darma, baik Ginggi maupun Pragola adalah anak dari Caringin. Mereka dipisahkan oleh kemelut politik. Secara tidak sengaja, satu memilih Pajajaran, satunya lagi bergabung dengan Cirebon, sehingga otomatis menempatkan mereka sebagai musuh. Banyak Angga sedih. Keduanya adalah orang-orang yang dia kagumi. Ginggi jelas banyak berjasa kepada Pajajaran, dan Pragola, meskipun kini terbukti orang Cirebon, secara pribadi sangat baik dan hormat padanya. Atau, apakah perilaku hormat itu hanya polesan belaka karena anak muda itu menerima tugas sebagai penyelundup? Banyak Angga mengeluh. Jika benar begitu, maka untuk kesekian kalinya dia merasa ditinggalkan sahabat karena hal-hal yang melibatkan politik.

Dulu dia bersahabat dengan Purbajaya. Belakangan pemuda itu tewas karena terbukti orang Cirebon yang menyelundup ke Pakuan dengan tujuan membunuh Sang Prabu Ratu Sakti. Ginggi yang dia kagumi pun mendadak hilang karena pernah dituding sebagai pemberontak oleh Sang Prabu. Kini giliran Pragola yang meninggalkannya. Dia sudah sayang terhadap pemuda itu, sudah mempercayainya, bahkan menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Maka kini Banyak Angga harus kembali kecewa karena ternyata Pragola hadir hanya untuk mengelabuinya.

Banyak Angga mengeluh. Mengapa politik begitu kejam, telah memilah-milah dan mengkotak-kotakkan pendirian. Hanya karena politik, dua kakak beradik terpaksa berhadapan sebagai musuh. Banyak Angga ngeri membayangkannya. Kalau manusia lepas dari segala keterikatan, mungkin mereka akan memandang satu sama lain sebagai kesamaan dan tidak terlalu kaku mempertentangkan perbedaan. Demikian Banyak Angga berpikir. Dia ambil contoh kedua orang tua itu. Ki Darma dan Ki Jayaratu kabarnya dulu adalah seteru bebuyutan. Ki Darma adalah perwira handal dari Pajajaran, dan Ki Jayaratu sebagai perwira jagoan dari Cirebon. Setiap bertemu, tentu melakukan pertempuran habis-habisan dan satu sama lainnya tidak ada yang bisa mengalahkan. Kini keduanya telah melepaskan keterikatan mereka terhadap negaranya, sehingga tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk bermusuhan. Yang tersisa hanyalah persahabatan dua manusia di puncak gunung yang saling membutuhkan.

Banyak Angga berpikir, mengapa manusia tidak bisa bersatu seperti kedua orang tua itu, padahal pada hakikatnya semua orang saling memerlukan. Terjadinya perselisihan antara manusia barangkali terjadi karena adanya racun, dan racun itu adalah ambisi dalam mempertahankan keberadaannya. Maka kalau manusia sudah berjuang memenangkan ambisinya, di situlah terjadi pertentangan dan perpecahan, demikian pikir Banyak Angga.

Pemuda itu menerawang perjalanan negerinya. Hampir delapan ratus tahun lamanya, sejak negeri ini bernama Karatuan Sunda (Maharaja Tarusbawa, 669 M), banyak mengalami pasang surut. Kendati masa-masa itu tidak terlalu banyak kemelut yang menciptakan peperangan besar, para leluhurnya mengakui bahwa perdamaian tidak abadi dan selalu hadir karena adanya sifat keserakahan. Yogascitra, ayahandanya, pernah meriwayatkan, betapa dahulu kala pernah terjadi perebutan kekuasaan antara Rakeyan Tamperan dan Sang Manarah (739 M) dan pertumpahan darah terjadi. Sifat serakah yang dilakukan manusia juga sempat disaksikan pada zamannya kini. Banyak Angga tahu, betapa di masa pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M) banyak terjadi kemelut sebab Sang Prabu selalu memaksakan kehendaknya. Akibatnya, banyak terjadi pemberontakan kecil karena negeri bawahan ingin memisahkan diri.

Kehadiran agama baru yang terjadi jauh sebelum pemerintahan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja merupakan kemelut khusus yang menciptakan berbagai perbedaan kehendak. Kini kekuatan agama baru semakin merekah dan melebar, semakin menghimpit keberadaan Pajajaran. Suasana semakin meruncing karena diperkeruh oleh politik yang melibatkan ambisi pribadi. Betapa Banyak Angga menyaksikan, ada kelompok yang ingin memerangi agama baru dengan dalih mempertahankan keberadaan kepercayaan lama. Atau sebaliknya, Banyak Angga menyaksikan pula ada kelompok yang ingin menghancurkan sendi-sendi kehidupan negeri Pajajaran dengan dalih demi kepentingan agama baru. Oleh sekelompok manusia yang memanfaatkan situasi, agama dan kepercayaan digunakan sebagai alat untuk menghancurkan lawan politiknya. Ya, karena manusia terlanjur memiliki kepentingan yang terkotak-kotak, maka perpecahan dan pertentangan kerapkali terjadi.

Banyak Angga sedih dan berduka memikirkannya. Ini adalah sesuatu yang jauh berada di luar jangkauannya sehingga dia tidak berdaya untuk mencegahnya. Mengapa tidak berdaya mencegahnya? Paling sedikit untuk mencegah perpecahan antara Ginggi dan Pragola, apakah juga tidak bisa? Banyak Angga mengerutkan alisnya dalam-dalam.

"Aki, saya akan segera pamit dari sini," tutur Banyak Angga ketika makan siang berlangsung.

"Bagus. Pergilah segera. Kalau bisa, besok pagi kau sudah harus berangkat," kata Ki Darma seperti mengusir.

"Saya ingin berangkat siang ini juga, Aki," jawab Banyak Angga. Dan hal ini seperti mengejutkan orang tua itu.

"Ha, tidak secepat itu aku menyuruhmu," katanya.

"Saya ingin berangkat hari ini saja," Ki Darma melamun sebentar. Namun sesudah itu mengangguk tanda setuju.

"Berangkatlah. Namun hati-hati di jalan sebab rintangan selalu ada," gumam Ki Darma menerawang, tangannya mengelus-elus jenggot putihnya yang sebatas dada.

"Saya juga telah sadar bahwa dalam hidup ini banyak rintangan. Tentu saya akan selalu berhati-hati. Namun, apakah saya bisa menyingkirkan rintangan-rintangan itu, bukan saya yang memiliki kekuasaan," jawab Banyak Angga tenang.

"Baguslah. Begitulah sebaiknya manusia berpendirian. Banyak hal berada di luar kekuasaan kita, seperti majunya perjalanan waktu. Dia akan terus membawa perubahan dan tidak seorang manusia pun sanggup mencegahnya," kata Ki Darma sungguh-sungguh.

Banyak Angga mengangguk dan menghormat takzim. Kemudian sesudah berkemas seperlunya, dia segera mohon diri.

"Lewatlah ke lereng selatan, si tua bangka Jayaratu mungkin ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya," kata Ki Darma.

"Tentu, saya pun perlu berterima kasih padanya," jawab Banyak Angga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment