Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 43

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 43

Dan pemuda itu turun gunung melalui lereng selatan, di mana dia tinggal bersama para santrinya.

Ki Jayaratu, seperti yang sudah tahu bahwa dirinya akan menerima kedatangan seseorang, buktinya dia berdiri di lawang kori (pintu gerbang perkampungan) sambil berpangku tangan.

Orang tua gagah itu mendahului menyapa dengan mengucapkan selamat jalan.

"Tujuanmu mulia, anak muda, yaitu ingin berjuang membela keselamatan negerimu.

Namun engkau pun harus arif menilai tanda-tanda zaman.

Perubahan-perubahan zaman yang pasti akan berlangsung belum tentu mengganggu dan merusak.

Bahkan aku sendiri berpendapat, inilah perubahan yang akan membawa jalan keselamatan bagi yang mengikuti kehendak-Nya," tutur Ki Jayaratu. "Agama baru yang tengah kami sebarkan adalah pembawa keselamatan umat manusia," lanjutnya.

Banyak Angga hanya menundukkan kepalanya.

"Siapa yang bilang bahwa agama baru akan menghancurkan negerimu?" Tidak.

Bahkan Pajajaran yang berdiri sejak ratusan tahun silam adalah sebuah negara besar yang memiliki tatanan kehidupan besar.

Maka akan semakin sempurna bila tatanan bernegara di Pajajaran juga diayomi oleh tatanan agama paling sempurna ini," ungkap Ki Jayaratu.

Banyak Angga masih menundukkan kepalanya.

"Engkau jangan melihat Arya Damar ataupun Yudakara.

Mereka datang ke sana kemari bukan untuk mengusung kepentingan agama baru.

Mungkin mereka hanya berlindung di baliknya, memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadinya semata.

Aku katakan sekali lagi, sejak dulu Cirebon tak berniat menyerang Pajajaran, kecuali menginginkan agama baru tersebar luas ke penjuru dunia.

Agama kami ini untuk kepentingan hidup manusia.

Maka alangkah muskilnya bila dalam menyebarkannya kami lakukan dengan penghancuran," Ki Jayaratu berpanjang-lebar bicara.

Banyak Angga mengangguk dan menyembah takzim.

"Saya mengerti perihal ini dan akan saya laporkan kepada penguasa negeri.

Namun seperti yang Ki Jayaratu katakan tadi, seorang abdi negara wajib mempertahankan negerinya.

Aku telah sadar bahwa Pajajaran tengah diancam oleh kelompok manusia seperti yang digambarkan tadi.

Maka itulah perjuangan kami, ingin menepis orang-orang seperti itu sehingga tak mengganggu dan merusak ketenteraman hidup," jawab pemuda itu.

Ki Jayaratu mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum tipis.

"Pergilah, anak muda.

Memang nilai terbaikmu ada di sana, yaitu membela nama baik negeri," tutur Ki Jayaratu.

Banyak Angga mengangguk.

Dan untuk kesekian kalinya dia menyembah takzim.

Banyak Angga berjalan menuruni bukit.

Tidak terburu-buru, namun juga tidak berlaku santai.

Dia sadar, berita yang akan disampaikannya ke pusat pemerintahan sungguh penting, dan bila terlambat menyampaikannya akan membahayakan negeri.

Namun pemuda ini pun sadar, untuk tiba di Dayeuh Pakuan tak bisa secepat itu.

Perjalanan dari puncak Gunung Cakrabuana yang ada di wilayah Karatuan Talaga ke ibu negeri Pajajaran yang begitu jauh, paling cepat akan menghabiskan waktu satu minggu, itu pun bila tidak ada rintangan.

Padahal Banyak Angga sadar, perjalanan menuju wilayah barat bukan merupakan perjalanan yang nyaman.

Sudah dia buktikan sendiri, betapa susah-payahnya dia manakala ingin melakukan perjalanan dari Pakuan ke Cakrabuana.

Di samping medan perjalanan yang berat, juga ditambah oleh gangguan keamanan.

Beberapa kali rombongannya dicegat pasukan misterius yang tujuannya nyata-nyata hendak membunuhnya.

Siapa calon-calon pembunuh itu, membuat alis pemuda itu berkerut.

Mungkin di antara pencegat itu ada di antaranya yang datang dari Cirebon.

Atau mungkin juga hanya sekadar perampok biasa.

Namun Banyak Angga pun berpikir, di antara para pembunuh itu ada yang datang dari Pakuan sendiri.

Mengapa tak begitu, sebab semuanya serba misterius.

Semuanya serba tertutup.

Di antara kaum penyerang ketika itu ada beberapa yang bisa ditangkap.

Namun pada akhirnya mereka tewas misterius sebelum diperiksa.

Kendati samar-samar, belakangan Banyak Angga berani meraba-raba, barangkali penyerang yang mati misterius sebelum ditanyai adalah pembunuh yang muncul dari dalam sendiri.

"Utusan Pangeran Yudakara!" Banyak Angga bergidik memikirkannya.

Bisa saja dia hendak dibunuh oleh Pangeran Yudakara.

Dan kalau benar jalan pikirannya ini, maka bulu kuduknya semakin bergidik juga sebab dia harus lebih jauh lagi meraba-raba kemungkinannya.

Kemungkinan paling buruk, Pragola pun ikut terlibat.

Paling tidak, anak muda itu tahu bahwa dirinya jadi sasaran pembunuhan Pangeran Yudakara, bekas majikan pemuda itu.

"Bekas majikan?" Oh, barangkali selama ini yang jadi majikan Pragola bukan keluarga Yogascitra, melainkan Pangeran Yudakara.

Ya, Pragola pasti sengaja diselundupkan oleh pangeran itu untuk memata-matai dan juga membantu melenyapkannya.

Banyak Angga bergidik menduganya.

Betapa tidak menduga begitu.

Kendati Pragola tidak berani langsung membunuhnya, tapi paling tidak pemuda itu mencoba membiarkan orang lain membunuhnya.

Banyak Angga teringat pada pertempuran terakhir di hutan jati di tengah perjalanan antara Karatuan Sumedanglarang dan Karatuan Talaga.

Waktu itu rombongannya dikepung pasukan misterius.

Banyak Angga sudah kepayahan dikepung banyak orang.

Karena melihat kedudukan Pragola agak longgar, Banyak Angga memohon bantuan.

Namun pemuda itu seperti mengulur-ulur waktu untuk membantunya, kalaupun tak disebut sebagai membiarkannya.

Sambil sempoyongan karena kepala pusing banyak mengeluarkan darah, Banyak Angga ketika itu sempat mengetahui betapa Pragola memilih diam tak bergerak manakala beberapa golok musuh hendak mencecarnya.

Padahal kalau mau, waktu itu Pragola masih sempat mengulurkan bantuan.

Karena Pragola masih tetap diam, akhirnya Banyak Angga memejamkan mata dan pasrah akan nasibnya manakala belasan golok hendak mencecarnya.

Banyak Angga sudah tak tahu apa-apa lagi karena pingsan, untuk selanjutnya kembali sadar setelah berada di Puncak Cakrabuana.

Banyak Angga duduk di atas batang pohon yang tumbang di tengah hutan.

Banyak pikiran menggayutinya.

Dia pun ingat kepada teman-temannya yang lain.

Di manakah Paman Angsajaya kini berada? Di mana pula Paman Manggala? Pertemuan terakhir kali adalah di tengah kepungan pasukan misterius itu.

Semuanya terkepung dan semuanya kepayahan.

Setelah itu, semuanya tak diketahui.

Ketika Banyak Angga sudah selamat berada di puncak, dia pun teringat mereka dan ingin sekali bertanya perihal teman-temannya yang lain.

Tapi kelihatannya, baik Ki Darma maupun Ki Jayaratu tidak mengetahuinya.

Buktinya, mereka tak pernah menyebut-nyebut pertempuran di hutan jati secara rinci.

Barangkali Ginggi yang menolongnya, tak mengabarkan kejadian pertempuran secara lengkap karena terlalu tergesa-gesa untuk segera pergi ke Pakuan.

Atau bisa juga sebetulnya kedua orang tua itu sudah dilapori Ginggi perihal pertempuran di sana, hanya saja mereka tak mau mengabarkannya kepada Banyak Angga.

Maka Banyak Angga pun kembali melanjutkan perjalanannya.

Perlu dua hari untuk sampai ke wilayah Karatuan Sumedanglarang itu.

Itu terjadi karena Banyak Angga harus melakukan perjalanan dengan hati-hati.

Dia tahu, Sumedanglarang sudah merupakan negeri yang memihak Cirebon.

Dan barangkali mereka tak menyukai melihat orang Pakuan keluyuran di wilayahnya.

Itulah sebabnya, perjalanan berjalan lambat.

Namun ketika tiba di hutan jati bekas pertempuran, Banyak Angga hanya menemukan kesunyian.

Di sana tak ada kehidupan apa pun kecuali gundukan-gundukan tanah.

Banyak Angga menduga, gundukan tanah itu tentu kuburan.

Pemuda ini percaya bahwa seusai pertempuran banyak orang menjadi korban.

Namun, kuburan siapakah itu, jumlahnya cukup banyak.

Hanya saja, dari sekian gundukan tanah, ada dua kuburan terpisah.

Banyak Angga berpikir sejenak.

Dia mencoba menduga-duga jalan pikiran penguburnya.

Mungkin dia tahu, yang tewas ada dua belah pihak, maka dari itu mayat mereka dikuburkan secara terpisah.

Beberapa kuburan di sebelah sana dan hanya dua kuburan di tempat lainnya.

Banyak Angga terkejut mengikuti jalan pikirannya ini.

Kalau dua kuburan terpisah itu ternyata anak buahnya, siapa lagi kalau bukan Paman Angsajaya dan Paman Manggala? Ya, bukankah dia tahu Pragola selamat? Siapa lagi yang tak bisa tiba ke Puncak Cakrabuana kalau bukan Paman Angsajaya dan Paman Manggala?

Banyak Angga terduduk lesu. Ada burung gagak beterbangan di angkasa, seolah-olah memberi tahu bahwa kuburan yang dia renungi adalah benar kuburan dua anak buahnya.

Satu kuburan Paman Angsajaya dan satunya lagi kuburan Paman Manggala.

Sungguh bingung memikirkannya.

Kalau mau bercuriga, sebenarnya Paman Manggala tak perlu mati.

Bukankah dia tadinya anak buah Pangeran Yudakara juga? Kalau benar begitu, Paman Manggala pun berkomplot sama dengan Pragola.

Namun herannya, Paman Manggala pun ketika itu dikepung ramai-ramai dengan darah bersimbah di sana-sini.

Banyak Angga pun mengerutkan dahi, kendati waktu itu Pragola terbebas dari luka-luka, namun Banyak Angga melihat bahwa serangan musuh terhadap pemuda itu sungguh-sungguh dan berniat hendak mengambil nyawanya.

Hanya karena Pragola lebih fokus saja maka tak ada musuh yang sanggup melukainya.

Banyak Angga semakin bingung memikirkan hal ini.

Siapakah pasukan penyerang di hutan jati itu? Mereka memang memperlihatkan ciri sebagai perampok, begitu menghadang meminta harta.

Namun mengaku perampok dan meminta harta, belum tentu perampok benar-benar.

Bisa saja mereka utusan tertentu untuk melakukan pembunuhan.

Utusan siapa mereka? Inilah yang membingungkan sebab semuanya serba gelap.

Namun, terbukti atau tidak mereka bertindak sebagai utusan, yang jelas di Pakuan kini bersarang tokoh yang membahayakan.

Betapa tidak, Pangeran Yudakara begitu dipercaya oleh Sang Prabu Nilakendra.

Dia adalah kerabat dekat Sumba Sembawa, tokoh pemberontak dari Sagaraherang di masa pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti.

Barangkali agar hubungan dengan wilayah Sagaraherang membaik kembali, maka tampuk pemerintahan di kandagalante itu diserahkan kepada Pangeran Yudakara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment