Chapter 45
Dia ingin tahu setiap kapan petugas jaga akan lewat, sehingga pada akhirnya dia akan bisa mencuri kesempatan untuk menerobos masuk.
Namun sungguh mengherankan, interval gerakan petugas jaga sungguh amat ketat.
Keheranan ini sekaligus mengundang perasaan curiga. Mengapa penjagaan seketat ini? Semakin tebal rasa curiga Banyak Angga, seolah-olah benar bahwa Pangeran Yudakara akan melakukan gerakan yang membahayakan Pakuan.
Banyak Angga semakin tertarik untuk menyelidiki puri ini.
Kalau benar terdapat hal-hal yang mencurigakan, dia harus segera kembali ke *dayo* (ibu kota) untuk melapor.
Banyak Angga sudah mendekam di atas benteng.
Namun demikian, dia masih belum punya kesempatan untuk menyelinap masuk.
Meloncat turun begitu saja merupakan sebuah tindakan riskan sebab di dalam benteng merupakan lapangan rumput yang cukup terbuka.
Bisa saja dia berlari kencang menuju paseban (bangunan tempat melakukan pertemuan).
Namun bangunan terkecil di tengah hamparan rumput beratap sirap itu terbuka di keempat sudutnya.
Artinya, bangunan itu berdiri tak berdinding.
Banyak Angga akan bisa ketahuan petugas jaga bila sembunyi di sana.
Pemuda itu memperhatikan ke sekelilingnya.
Di depan paseban terdapat tiga bangunan berjejer.
Namun dari ketiganya, hanya satu yang besar dan indah.
Banyak Angga tahu, itulah bangunan di mana Pangeran Yudakara tinggal.
Bagaimana dia bisa ke sana tanpa diketahui penjaga? Banyak Angga tengadah ke atas.
Di sana terlihat dahan pohon kihujan.
Pohon jenis ini ada berjejer tiga buah dan yang paling ujung terletak di sisi bangunan samping.
Pohon-pohon itu seolah memberitahu bahwa dia harus bergerak lewat dahan untuk bisa mendekati bangunan inti.
Maka ketika rombongan petugas jaga pembawa obor sudah lewat, Banyak Angga segera meloncat ke atas dan sepasang tangannya bergayut ke ujung dahan pohon.
Ada sedikit suara gemerisik karena dahan pohon bergoyang.
Pemuda itu menahan napas dan hatinya berdoa agar suara gemerisik itu tidak didengar oleh kaum peronda.
Beruntung tidak ada petugas yang kembali.
Ini pertanda suara gemerisik tidak didengar oleh mereka.
Namun kendati begitu, Banyak Angga mengeluh.
Segala sesuatu yang menyelamatkannya selalu berbau keberuntungan dan bukan atas kebolehannya.
Bila ingat ini, pemuda itu selalu iri kepada Ginggi.
Ginggi hidupnya acuh tak acuh dan sedikit ugal-ugalan.
Pemuda itu terkadang tidak peduli terhadap keberadaan dirinya.
Ginggi pernah berkata bahwa Ki Darma sebagai gurunya suka memaksa agar dia selalu berlatih kedigjayaan.
Namun Ginggi kerap kali menolak dan bersikap ogah-ogahan.
Anehnya, kendati begitu dia tetap punya kepandaian hebat.
Dia amat digjaya dan amat disegani di mana-mana.
Seorang diri dia pernah melumpuhkan puluhan prajurit tangguh anak buah Sunda Sembawa tanpa membuat luka apalagi tewas.
Ini adalah kepandaian maha hebat sebab orang baru bisa meloloskan diri dari kepungan banyak orang kalau sudah melumpuhkan atau menewaskan mereka.
Banyak Angga mengeluh.
Bila dibandingkan dengan Ginggi, dia tidak ada apa-apanya.
Padahal kini dia tengah menangani pekerjaan berat, barangkali berbahaya.
Kalau saja kepandaiannya setingkat Ginggi, dia akan lebih leluasa dan lebih punya keyakinan.
Bukan karena takut.
Tetapi pekerjaan ini tidak boleh gagal.
Kematian baginya bukan suatu hal yang perlu dirisaukan.
Tetapi marabahaya untuk negara harus dihindarkan.
Itulah yang dirisaukannya.
Dia takut penyelidikannya gagal sehingga berakibat fatal bagi negerinya.
Tidak ada bantuan yang bisa dicari.
Penghuni puri ini barangkali semuanya adalah orang-orang Yudakara.
Artinya, malam ini dia bekerja sendirian.
Maka Banyak Angga segera merayap menuju dahan yang lebih besar.
Dia merangkak dengan hati-hati.
Meloncat ke dahan lain dan segera berhenti karena ada petugas lain yang lewat membawa obor dengan cahayanya yang berkobar terang.
Sesudah rombongan peronda lewat jauh, kembali Banyak Angga bergerak.
Kali ini menggapai dahan pohon di seberang.
Sayang, ujung dahan itu terlalu kecil sehingga ketika dia bergayut, dahan melenting karena tidak kuat menahan berat badannya.
Pemuda itu terpaksa menjatuhkan diri ke atas tanah berumput, sebab kalau tetap memaksakan diri terus bergayut akan menimbulkan perhatian penjaga jika dahan kecil itu patah dan mengeluarkan bunyi.
Begitu jatuh ke atas tanah, Banyak Angga segera meloncat dan berlindung di balik pohon itu.
Kini tinggal terhalang satu pohon lagi untuk sampai ke jajaran bangunan yang dia tuju itu.
Dan Banyak Angga kembali meloncat-loncat agar bisa tiba di sana sebelum kehadiran peronda baru.
Tadinya yang ingin dia tuju adalah bangunan besar di tengah.
Namun niat itu dia arahkan ke tempat lain.
Dari dalam bangunan pertama, sayup-sayup terdengar suara lecutan cambuk disusul oleh suara orang menahan rasa sakit.
Banyak Angga segera menduga bahwa di dalam bangunan itu ada orang yang tengah disiksa.
Siapa yang disiksa dan siapa pula yang menyiksa, itu pula yang jadi pusat perhatian Banyak Angga.
Pemuda itu ingin mengetahuinya.
Maka dengan sangat hati-hati pemuda itu berusaha menaiki dinding bangunan yang terbuat dari serpihan papan jati.
Hati-hati sekali sebab dia tidak ingin ada suara gemerisik biar sedikit pun.
Banyak Angga sadar, di puri ini banyak orang pandai.
Pangeran Yudakara dikenal punya kepandaian tinggi dan Banyak Angga tidak ingin bertindak gegabah.
Pemuda itu merayap ke atas dan menuju atap genting sirap.
Dengan amat hati-hati dia mencoba mencongkel serpihan daun sirap dengan harapan bisa membuat celah untuk mengintip ke bawah.
Setelah berhasil, sorot matanya bisa melihat ke bawah.
Pertama-tama yang dilihatnya adalah seorang prajurit bertubuh tinggi besar dengan muka penuh cambang baur.
Dia bertolak pinggang sambil tangannya memegangi cemeti (cambuk) yang terbuat dari kulit hitam yang dililit.
Banyak Angga menggerak-gerakkan kepalanya, mencoba mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
Dia ingin sekali tahu siapa yang tengah disiksa prajurit itu.
Ada sepasang tangan yang diikat tambang ijuk ke atas balok kayu dan sepertinya sepasang tangan itu sengaja dikerek ke atas.
Banyak Angga ingin sekali melihat wajah orang yang terikat itu.
Namun apa daya, tepat di hadapan orang yang terikat itu berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya cukup tinggi sehingga menghalangi pandangan.
Siapa orang bertubuh tinggi itu pun Banyak Angga tidak bisa memastikan, sebab orang itu berdiri berkacak pinggang sambil menghadap ke arah tawanan, artinya membelakangi Banyak Angga.
Namun ketika orang itu berbicara, Banyak Angga serasa mengenalnya.
"Pengkhianat harus dibunuh!" desis orang itu.
Kemudian dijawab oleh tawanan, "Aku bukan pengkhianat sebab tak pernah bersetia kepada siapa pun sebelumnya."
Banyak Angga terkejut.
Kedua orang yang bertanya jawab itu tak lain adalah Pangeran Yudakara dan Pragola.
Pragola kini menjadi tawanan Pangeran Yudakara.
"Dasar anak dungu! Bertahun-tahun kau berada di bawah pengawasanku, berarti kau anak buahku. Berarti pula kau harus setia kepadaku," desis Pangeran Yudakara.
"Saya datang dan bergabung denganmu karena punya tujuan yang sama, yaitu melawan musuh yang sama," jawab Pragola.
"Nah, kau bilang begitu. Tapi mengapa kau abaikan perintahku?"
"Soal apa?"
"Berminggu-minggu kau dekat dengan Banyak Angga dan banyak kesempatan untuk melenyapkan pemuda itu, nyatanya tidak kau lakukan," tutur Pangeran Yudakara.
Diam sejenak.
"Kau kini setia kepada Banyak Angga?"
"Sudah aku katakan, aku tak setia kepada siapa pun juga, kecuali kepada rasa benciku terhadap orang Pajajaran."
"Bukankah Banyak Angga orang Pajajaran?"
"Ya, tapi aku hanya mau mencari si Ginggi yang kuanggap telah menjadi gara-gara kematian Ki Guru Sudireja," kata Pragola lagi.
"Dungu. Kau hanya berkutat pada kepentingan pribadi belaka," dengus Pangeran Yudakara.
"Pada akhirnya semua orang bekerja untuk kepentingan pribadi, tidak terkecuali engkau, Pangeran!" sergah Pragola.
Pangeran Yudakara memungut cambuk yang tengah dipegang prajurit brewok itu.
Lantas cambuk itu dilecutkannya ke tubuh Pragola.
Melalui celah genting sirap, Banyak Angga menyaksikan ada darah mengucur dari dada kiri Pragola yang tersayat ujung cambuk.
"Bunuhlah kalau aku tak menguntungkanmu!" teriak Pragola.
"Sudah barang tentu engkau harus kubunuh sebab hanya akan mengacaukan gerakan kami belaka," cetus Pangeran Yudakara sambil berkerot giginya. "Engkau hanya berpikir tentang dendam pribadi belaka. Hai orang dungu, dengarkan! Membunuh mungkin saja bagian dari perjuangan, tapi itu bukan tujuan satu-satunya dan bukan karena dendam. Kau hanya ingin bunuh Ginggi dan menolak perintah bunuh Banyak Angga. Itulah yang mengacaukan. Tindak-tandukmu yang liar tak terpimpin itu hanya akan membahayakan gerakan kami saja," tutur Pangeran Yudakara lagi. "Bunuh bedebah ini!" teriaknya memerintahkan prajurit brewok.
Yang diperintah segera mencabut kelewang.
Banyak Angga yang mengintip dari atas wuwungan amat terkejut.
Dia akan segera mendobrak genting sirap untuk memberikan pertolongan.
Pragola boleh saja menjadi penyelundup yang membahayakan Pakuan, namun Banyak Angga berpikir bahwa Pragola adalah pemuda baik.
Apalagi dia tahu bahwa Pragola adalah adik kandung Ginggi.
Dia harus berusaha menyelamatkan pemuda itu.
Namun belum juga niatnya terlaksana, terdengar suara dentingan dari bawah.
Banyak Angga kembali mengintip, ternyata kelewang yang tadi diayunkan prajurit sudah menancap di tiang kayu jati dan bergoyang-goyang mantap.
Banyak Angga semakin terkejut.
Entah dengan cara apa, namun kelewang yang sedianya diayunkan ke tubuh Pragola itu ditepis oleh orang yang baru datang.
Inilah yang membuat dirinya terkejut sebab pendatang itu dia hafal betul siapa orangnya.
"Ki Banaspati?" bisiknya bergetar.
Dia sangat terkejut karena Ki Banaspati adalah tokoh yang dicari-cari pihak Pakuan selama ini.
Secara diam-diam, ayahandanya tengah menyelidiki tokoh ini yang secara misterius menghilang dari Pakuan belasan tahun silam.