Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 46

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 46

Seperti sudah diterangkan di bagian awal, belasan tahun silam, semasa Pakuan dirajai Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M), terjadi pemberontakan dari wilayah Sagaraherang yang ketika itu dipimpin Kandagalante Sunda Sembawa.

Sunda Sembawa dapat dibunuh waktu itu juga oleh pasukan Pakuan, begitu pula pengikut-pengikutnya bisa dilumpuhkan.

Namun, dari hasil penyelidikan pemerintah, ternyata gerakan Sunda Sembawa tak berdiri sendiri.

Para pejabat di Pakuan yang bersetia kepada raja bahkan mencurigai bahwa Sunda Sembawa sebetulnya hanya dipakai sebagai anak panah belaka.

Artinya, ada kekuatan lain yang bertindak sebagai penarik busur.

Namun, siapakah gerangan, pihak Pakuan belum bisa membuktikannya.

Selentingan mengatakan, Ki Bagus Seta berambisi menguasai Pakuan.

Untuk itu, serta-merta ia memberikan putrinya, Nyi Mas Layang Kingkin, sebagai selir Raja, dengan maksud agar bisa lebih leluasa masuk ke istana.

Ki Banaspati malah dianggap lebih berbahaya lagi sebab tindak-tanduknya tak kentara dan amat misterius.

Sewaktu Prabu Ratu Sakti berkuasa, Ki Banaspati menjabat sebagai Muhara (petugas penarik pajak).

Dia banyak memengaruhi Raja agar menaikkan seba (pajak) sebab kejayaan negara harus dikembalikan ke masa silam seperti masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M).

Musuh-musuh harus dihancurkan dan angkatan perang harus diperkuat.

Sang Prabu Ratu Sakti terpengaruh sehingga rakyat menjerit karena beban pajak yang tinggi.

Akibatnya, banyak wilayah yang mencoba memberontak dan memilih memisahkan diri atau ikut bergabung dengan negara agama baru, yaitu Carbon (Cirebon).

Ki Banaspati disetujui Raja untuk membiayai angkatan perang yang dibentuk di wilayah timur, yaitu Sagaraherang, dengan dalih untuk membendung kekuatan musuh dari timur, yaitu Cirebon.

Namun belakangan diketahui, angkatan perang yang susah payah dimodali dari pajak rakyat akhirnya bergerak ke Pakuan dan berupaya melakukan pemberontakan.

Terlibatkah Ki Banaspati? Itulah yang misterius.

Sebab seusai kegagalan pemberontakan, Ki Banaspati menghilang tak tentu rimbanya (baca episode Senja Jatuh di Pajajaran).

Jadi tak aneh kalau kini Banyak Angga terkejut dengan kehadiran Ki Banaspati di Sagaraherang ini.

Dari mana saja orang ini dan apa keperluannya di tempat ini? "Ki Banaspati?" gumam Pangeran Yudakara dengan bibir terlihat bergetar.

"Lepaskan anak itu," kata lelaki yang berusia hampir enam puluh namun bertubuh tinggi besar dan berdada bidang ini.

"Dia anak buah saya." "Anak buahmu berarti anak buahku juga."

"Maka, lepaskanlah anak itu," nada Ki Banaspati seperti perintah.

"Anak ini membahayakan, cara kerjanya serabutan."

"Yang dia pikirkan hanya dendam pribadi semata," kata Pangeran Yudakara.

"Hahaha! Dendam adalah kekuatan untuk memenangkan perjuangan."

"Kudengar barusan, anak muda ini benci si Ginggi dan ingin balas dendam."

"Itu bagus."

"Si Ginggi akan jadi duri dalam daging, sebab apabila kita mulai bergerak ke Pakuan, anak bengal itu pasti menghalangi jalan kita."

"Jadi, mengapa tidak kau hargai usaha anak muda ini?" kata Ki Banaspati.

"Dia saya tugaskan membereskan orang-orang Pakuan satu per satu."

"Namun sekadar Banyak Angga pun dia tidak mampu membunuhnya," kata Pangeran Yudakara.

"Apalah pentingnya Banyak Angga," potong Ki Banaspati. "Anak muda itu jiwanya lemah, kepandaiannya pun tak seberapa."

"Jadi tak perlu kau hiraukan sebab Banyak Angga bukan tokoh membahayakan."

"Yang harus kita perhatikan malah ayahandanya."

"Yogascitralah yang justru memiliki peranan dalam upaya mempertahankan Pakuan."

"Belasan tahun silam, gerakan Sunda Sembawa yang dari dalam dibantu Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta bahkan gagal karena Yogascitra sanggup menggalang persatuan."

"Jadi, kalau kau hendak bergerak, maka enyahkanlah terlebih dahulu orang tua bangkotan itu," kata Ki Banaspati membuat hati Banyak Angga bergetar mendengarnya.

Sesudah itu, Pragola dilepaskan dan Ki Banaspati berkata bahwa Pragola akan dibawanya.

"Engkau harus bersiap-siap di pintu gerbang barat sebab kekuatan dari barat akan segera tiba," kata Ki Banaspati.

Pangeran Yudakara menganggukkan kepala tapi terlihat lesu.

Sementara itu, Ki Banaspati segera bergerak meninggalkan ruangan itu sambil diikuti Pragola.

Di depan pintu mereka berpapasan dengan dua orang yang hendak masuk.

Banyak Angga hafal, mereka adalah Goparana dan Jayasasana, pembantu dekat Pangeran Yudakara.

Sejenak mereka saling pandang dengan Ki Banaspati.

Namun Ki Banaspati mendengus dan berlalu dengan langkah congkak.

"Pangeran?" bisik Goparana dan Jayasasana hampir berbarengan.

Dijawab oleh Pangeran Yudakara dengan keluhan.

"Mengapa Pangeran membiarkan orang itu keluar masuk wilayah kita?" tanya Goparana heran.

"Dia memiliki kekuatan dan aku tak kuasa membendungnya," gumam Pangeran Yudakara.

"Dengan kata lain, perjuangan kita akan tuntas sampai di sini, Pangeran?" tanya Goparana lagi.

Pangeran Yudakara yang tadi menunduk segera mendongak dan menatap tajam pembantunya.

"Cita-citaku tak akan padam begitu saja, Pakuan tetap harus jadi milikku," gumam pangeran itu sedikit geram.

"Lantas orang tadi?" "Biarkan kekuatan dari barat memasuki Pakuan dan kita ikut di belakang."

"Mungkin orang-orang kita hanya membukakan pintu gerbang barat."

"Namun biarkan mereka saling bertempur dan kita tinggal menonton untuk kemudian segera menggebuk pemenangnya," tutur Pangeran Yudakara.

"Tapi, Pangeran?" gumam Jayasasana.

"Ada apa?" "Kami ingin meminta penjelasan dari Pangeran, sejauh mana hubungan Anda dengan Nyi Mas Layang Kingkin?" tanya Jayasasana.

Terlihat Pangeran Yudakara tersenyum tipis.

"Kau sangka aku benar-benar cinta terhadap perempuan tolol itu?" tanyanya masih tersenyum tipis dan sifatnya mengejek sekali.

"Aku hanya membuka jalan agar bisa keluar masuk istana, dan kunci pintu ada di tangan si bodoh itu."

"Perempuan tak laku itu gila laki-laki."

"Dia mudah jatuh ke pangkuan lelaki mana pun."

"Mengapa aku tak memanfaatkannya?" Pangeran Yudakara mengerling ke arah kedua pembantunya.

"Tapi, Pangeran, tidakkah sebaliknya, perempuan itu yang memanfaatkan kita untuk kepentingannya?" tanya Goparana.

"Apa maksudmu, Goparana?" "Nyi Mas Layang Kingkin sudah kami selidiki dan dia mencurigakan karena memiliki pasukan tersembunyi," jawab Jayasasana.

Pangeran Yudakara menoleh ke arah Goparana dan yang ditatap menganggukkan kepalanya.

"Ini sesuai dengan perkataan Pragola bahwa Nyi Mas Layang Kingkin pun mengirimkan pasukan pembunuh menyusul rombongan Banyak Angga." "Apa yang mereka perbuat?" tanya Pangeran Yudakara heran dan penuh minat.

"Kata Pragola, dia hendak dibunuhnya kendati tampak juga bahwa Banyak Angga pun jadi sasaran pembunuhan," jawab Jayasasana.

"Membingungkan."

"Kalau benar utusan itu diutus oleh Nyi Mas Layang Kingkin, apa maksudnya?" gumam Pangeran Yudakara mengerutkan dahi.

"Itulah yang harus kita selidiki." Tampak Pangeran Yudakara mengatupkan mulut dan mengepalkan tangan kanannya.

Bergerak melangkah ke sana kemari sambil memukulkan tinju kanan ke telapak tangan kirinya.

Banyak Angga yang sejak tadi mengintip dari atas, sudah merasa waktunya untuk berlalu dan diharapkan tidak akan menarik perhatian sebab ketiga orang yang ada di bawahnya tengah tersita oleh masalah yang meruwetkannya.

Yang harus dia lakukan kemudian adalah mencoba mengejar ke mana Ki Banaspati membawa Pragola.

Dia merayap dengan penuh hati-hati.

Sesudah berada di atas tanah, Banyak Angga berendap-endap menuju batang pohon.

Dia keluar dari lingkungan benteng mengikuti jalan ke mana tadi dia masuk.

Banyak Angga berlari cepat di kegelapan malam.

Dia berpikir, tentu Ki Banaspati membawa Pragola meninggalkan wilayah Sagaraherang.

Dan ke mana lagi mereka menuju kalau bukan ke barat, ke wilayah Pakuan? Mengingat ini, hatinya berdebar kencang.

Ki Banaspati pasti mempunyai kekuatan tersembunyi.

Kalau tak begitu, tak mungkin Pangeran Yudakara begitu takut menghadapinya.

Kini Banyak Angga bertambah bingung sebab keruwetan makin melebar.

Ketika berada di Puncak Gunung Cakrabuana, dia mendapatkan berita marabahaya akan datang dari Pangeran Yudakara.

Namun malam ini bisa dia saksikan, betapa sebetulnya ada bahaya kekuatan lain selain Pangeran Yudakara.

Siapakah kekuatan itu? Sambil berlari kencang di kegelapan malam, Banyak Angga berpikir keras.

Di tahun-tahun terakhir ini, Pakuan memiliki kekhawatiran akan adanya serangan dari musuh.

Karena pernah terjadi Cirebon menyisipkan orang-orangnya ke Pakuan, maka yang dianggap akan mengganggu keamanan dan keutuhan Pajajaran tentu dari timur.

Belakangan diketahui bahwa sebenarnya Negeri Cirebon sudah tak memiliki ambisi untuk melanjutkan peperangan dengan Pajajaran dan cenderung lebih menitikberatkan menyebarkan agama baru secara damai.

Kalaupun Pangeran Yudakara terbukti ingin merusak keberadaan Pakuan, itu tergerak oleh ambisi pribadi.

Dia ingin menyerang Pakuan, pertama sebagai balas dendam akan kekalahan dan kehancuran kerabatnya, Sunda Sembawa, pada belasan tahun silam, dan yang kedua karena ambisinya untuk memiliki kekuasaan.

Melihat kenyataan ini, tadinya Banyak Angga sudah mengambil kesimpulan bahwa Pangeran Yudakara adalah orang yang paling berbahaya.

Belakangan Ki Banaspati muncul dan menampilkan marabahaya yang dirasa lebih besar lagi.

Kalau Pangeran Yudakara yang sudah merasa memiliki kekuatan untuk menyerang Pakuan sudah merasa takut menghadapi Ki Banaspati, bisa dipastikan betapa kuatnya dia.

Dan kekuatan apa yang mendorongnya untuk melakukan penyerangan ke Pakuan? Banten? Terhenyak hati Banyak Angga.

Betulkah Ki Banaspati akan datang ke Pakuan dengan diusung kekuatan dari Banten? Ayahandanya kerap berpikir bahwa Banten memang akan selalu merupakan ancaman bagi Pakuan.

Sudah terbukti pada puluhan tahun silam, betapa sebuah pasukan tanpa identitas pernah menyerbu pusat kota pada masa pemerintahan Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 M).

Di alun-alun benteng luar pertempuran terjadi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment