Chapter 47
Pasukan balapati, yaitu perwira pengawal Raja, berhasil membendung serangan musuh, namun dua perwira handalnya, yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet, tewas dalam mempertahankan negerinya.
Itu adalah pasukan misterius dan tidak bisa dibuktikan dari mana datangnya.
Meskipun demikian, Pakuan mencurigai bahwa serangan gelap itu datang dari Banten.
Banyak Angga merasa khawatir kalau ancaman paling besar justru datang dari barat, yaitu Banten.
Hal itu terjadi karena di tahun-tahun terakhir ini, dari tiga negara yang berhaluan agama baru, yaitu Demak, Cirebon, dan Banten, hanya Bantenlah yang menjadi negara berhaluan agama baru yang terbesar.
Semakin hari kekuatannya semakin besar. Dulu, sebagaimana halnya Cirebon, Banten merupakan bagian dari Pajajaran.
Ketika Cirebon menjadi kuat karena dibantu Demak, Banten yang pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M) merupakan salah satu pelabuhan internasional milik Pajajaran, direbut Cirebon.
Karena Banten semakin hari semakin berkembang, maka oleh Cirebon diberi peranan lebih besar lagi menjadi wilayah kesultanan.
Belakangan, keberadaan Cirebon menjadi lemah karena Demak sebagai pendukungnya, dalam tahun-tahun terakhir ini, disibukkan oleh perang saudara.
Setahun yang lalu (1566 M), Banyak Angga pun mendengar berita bahwa akhirnya Banten melepaskan diri dari Demak dan Cirebon dan memilih berdiri sebagai kesultanan yang merdeka.
Berita besar ini oleh sementara penguasa Pakuan sengaja tidak dibesar-besarkan.
Sang Prabu Nilakendra yang tidak menyukai kekerasan tetap berpendapat bahwa tidak mungkin ada bahaya dari luar selama Pajajaran tidak melakukan hal-hal yang merugikan pihak luar.
Oleh sebab itu, Raja berkata bahwa bangkitnya Banten tidak perlu dikhawatirkan.
Namun, apa yang disaksikan malam ini membuktikan lain.
Ada Ki Banaspati yang membawa kabar mengejutkan.
"Benarkah dalam waktu dekat ini kekuatan dari barat akan menerpa Pakuan?" Dan Ki Banaspati sepertinya berada di pihak sana.
Banyak Angga tak habis mengerti, bagaimana mungkin orang itu tiba-tiba bisa menyeberang ke sana? Dia berpikir, seingatnya Ki Banaspati tidak punya pertalian erat dengan Banten ataupun Cirebon.
Bahkan, ketika tokoh ini masih berpengaruh di Pakuan, dia paling membenci keberadaan negara-negara yang berhaluan agama baru.
Itulah sebabnya dia mendorong Sang Prabu Ratu Sakti untuk memperkuat militer dengan maksud menghalau pengaruh negara agama baru.
Sekarang, belasan tahun kemudian, setelah ambisinya pupus, secara tiba-tiba Ki Banaspati sudah bisa menyeberang dan berpihak kepada kekuatan yang dulu dibencinya.
Banyak Angga bingung memikirkannya.
"Kekacauan selalu diciptakan oleh para petualang politik," gumamnya sendirian.
Pemuda ini menilai, barangkali benar Ki Banaspati yang misterius ini gemar melakukan petualangan politik yang mungkin semuanya dia lakukan demi kepentingan pribadi semata.
Banyak Angga kekurangan bukti sejauh mana Ki Banaspati melakukan petualangan.
Namun, barangkali gerakan orang ini pun tidak jauh berbeda dengan petualangan Pangeran Yudakara.
Seperti yang diterangkan oleh Ki Jayaratu beberapa waktu lalu, demi mengejar ambisi pribadi, Pangeran Yudakara nekat mengatasnamakan diri sebagai kekuatan Cirebon dalam upaya menggempur Pakuan.
Padahal, seperti yang disebutkan Ki Jayaratu, Cirebon kini lebih menitikberatkan usahanya dalam menyebarkan agama baru dengan cara-cara damai.
Dengan licinnya, Pangeran Yudakara pun bisa memasuki Pakuan dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Sang Prabu Nilakendra.
Banyak Angga berhenti dan menyeka peluh yang deras mengalir di wajahnya.
Dia bahkan menjatuhkan diri, duduk di atas tonjolan batu.
Suasana sunyi sepi di sekeliling.
Hawa malam terasa dingin karena langit bersih tidak berawan.
Banyak hal-hal rumit yang dia pikirkan, termasuk pula urusan Nyi Mas Layang Kingkin.
Benarkah wanita yang pernah dicintainya itu pun bertualang dalam berpolitik?