Chapter 01
Sebelum Tiongkok disatukan di bawah kekuasaan Dinasti Han, negeri Tiongkok terpecah-pecah menjadi tujuh negara besar. Di samping itu, masih ada negara-negara kecil yang tidak termasuk dalam hitungan.
Masing-masing negara besar itu diperintah oleh seorang raja. Ketujuh negara tersebut adalah negeri Cin (Cin Kok), Tio (Tio Kok), Gui Kok, Han Kok, Cee Kok, Yan Kok, dan terakhir adalah Couw Kok. Zaman ini disebut juga sebagai zaman negara-negara berperang (476-221 sebelum Masehi).
Dari ketujuh negara tersebut, negeri Cin diakui sebagai negara yang paling kuat. Negara-negara lain, apalagi negara kecil, sangat takut pada kekuatan angkatan perang dari negeri Cin ini. Ketika itu negeri Cin diperintah oleh seorang raja yang bernama Cin Ciauw Ong.
Raja yang satu ini sangat berambisi menaklukkan negara-negara yang ada di daratan Tiongkok. Cin Ciauw Ong berniat mempersatukan Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti Cin. Setelah tekadnya bulat, Cin Ciauw Ong segera memanggil menteri dan para panglima untuk diajak berunding soal rencananya menaklukkan daratan Tiongkok.
Akhir dari perundingan itu memutuskan bahwa negara Cin akan segera menyerang negara Tio sebagai sasaran pertamanya.
"Baik, sekarang kita serang negeri Tio dulu. Setelah itu baru kita serang negeri-negeri yang lain!" sabda Cin Ciauw Ong. "Segera siapkan pasukan dan segala keperluan untuk berperang. Setelah semuanya siap, kita akan segera menyerang negeri Tio!"
Sejak hari itu, negeri Cin mulai sibuk menyusun rencana dan menyiapkan segala keperluan untuk berperang. Dari perbekalan, senjata, hingga serdadu, semuanya disiapkan dengan matang. Selang beberapa bulan, semua persiapan untuk berperang selesai. Melihat semua itu, Raja Cin sangat gembira.
"Bagus, kalau begitu sekarang kita siap menggempur negeri Tio!" ujar Cin Ciauw Ong.
Kemudian Raja Cin Ciauw Ong memerintahkan orang untuk memanggil cucunya yang bernama Kong-sun Ie Jin serta dua panglima perang kepercayaannya, yakni Ong Cian dan Ong Hut. Ketika ketiga orang itu tiba di istananya, Raja Cin segera mengeluarkan perintah.
"Cucuku, kau kuperintahkan untuk menaklukkan negeri Tio," kata Raja Cin kepada cucunya Kong-sun Ie Jin. "Sedangkan Ong Cian dan Ong Hut! Kalian berdua aku perintahkan untuk mendampingi cucuku Kong-sun Ie Jin menyerang negeri Tio. Untuk keperluan itu, kalian kuizinkan membawa seratus ribu orang prajurit!"
"Baik, Baginda!" jawab ketiga orang itu.
Kemudian ketiga orang itu pamit dari hadapan Raja Cin. Tak lama, mereka sudah siap dengan pasukannya yang tampak angker. Dengan gagah berani, ketiga orang itu memimpin pasukan menuju perbatasan negeri Tio.
Setelah berjalan tanpa henti selama beberapa hari, tibalah pasukan besar ini di kota Ciang-ho yang merupakan tapal batas negeri Cin dan negeri Tio. Kota ini dijaga oleh seorang panglima perang bernama Li Kee Siok. Dalam menjalankan tugasnya, Li Kee Siok dibantu oleh beberapa puluh ribu serdadu negeri Tio.
Ketika Li Kee Siok mendengar laporan bahwa pasukan negeri Cin akan datang menyerang negerinya, dia segera memperkuat penjagaan di kota Ciang-ho tersebut. Kemudian dia segera memberitahukan hal itu kepada Raja Tio. Selain itu, dia juga meminta Raja Tio segera mengirimkan bala bantuan untuk menahan serangan musuh.
Di pihak pasukan Cin, Jenderal Ong Cian memang seorang jenderal perang yang bijaksana. Dia sangat gagah dan pandai memimpin anak buahnya. Karena kehebatannya itu, namanya sangat terkenal. Raja-raja dan panglima-panglima negeri lain sangat takut ketika mendengar namanya.
Begitu sampai di Ciang-ho, Jenderal Ong Cian kaget karena melihat musuh sudah siap dan terlihat berjaga-jaga. Melihat hal itu, Ong Cian segera memerintahkan anak buahnya untuk membuat perkemahan bagi angkatan perangnya. Ong Cian sengaja berbuat begitu agar anak buahnya bisa istirahat melepaskan lelah sehabis melakukan perjalanan jauh.
Ong Cian tidak berani untuk segera menyerang kota Ciang-ho, sebab dia memang terkenal sebagai seorang yang sangat hati-hati. Ditambah lagi, dia juga ingin mencari informasi tentang kekuatan musuhnya. Sesudah tahu keadaan musuhnya, baru dia akan maju menyerang. Dengan demikian, serangannya tidak akan menemui kegagalan.
Dikisahkan Raja Tio sangat kaget ketika menerima laporan bahwa pasukan negeri Cin telah tiba di depan kota Ciang-ho. Kemudian Raja Tio segera mengumpulkan semua menterinya untuk diajak berunding mengenai kedatangan pasukan negeri Cin.
"Apa yang harus kita lakukan menghadapi serbuan dari negeri Cin?" tanya Tio Ong pada menteri dan panglimanya. "Bagaimana menurut pendapat Keng sekalian? Apakah Keng punya akal yang dapat memaksa musuh supaya mundur?"
Semua menteri yang hadir tampak kebingungan. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan sepatah kata.
"Bagaimana? Apakah kalian memiliki cara untuk membendung laju serangan musuh?" tanya Raja Tio lagi.
Mendengar pertanyaan susulan, para menterinya masih tetap terdiam. Tapi tiba-tiba ada seorang menteri berpangkat Siang-Thay-Hu bernama Lan Siang Jie segera maju ke depan.
"Tuanku jangan khawatir dengan masalah ini! Sekalipun Ong Cian pandai berperang dan jago strategi, tetapi dia belum mengetahui jalan-jalan di negeri kita. Yang kedua, dia bersama angkatan perangnya datang dari tempat yang jauh, maka pasti serdadunya masih sangat kelelahan. Ini keuntungan untuk pihak kita!" ujar Lan Siang Jie coba menghibur.
"Lalu apa rencana Keng selanjutnya?" tanya Raja Tio.
"Pertama, Tuanku perintahkan dua orang panglima membawa tentara dan tambur raksasa untuk mencegat jalan pulang Ong Cian. Mereka harus menunggu saat yang tepat untuk menyerang pasukan musuh. Langkah kedua, perintahkan Jenderal Liam Pho agar membawa pasukan langsung berperang dengan Ong Cian. Panglima lain boleh dikerahkan untuk membantu Jenderal Liam Pho. Saat Ong Cian dan anak buahnya mundur, kedua panglima yang tadi membawa tambur itu boleh segera membunyikan tambur dan bantu memukul pasukan Ong Cian dari bagian belakang. Dengan demikian, hamba yakin Ong Cian bersama tentaranya akan mendapat kerusakan berat, bahkan mungkin Ong Cian dapat kita tangkap," kata Lan Siang Jie.
Jenderal Liam Pho ini adalah seorang jenderal perang yang gagah berani dan ditakuti karena dia pernah mengalahkan negeri Cee, sehingga namanya sangat termasyhur.
Mendengar penjelasan dari Lan Siang Jie tersebut, tentu saja Raja Tio jadi senang bukan main. Kemudian dia langsung menyetujui semua pendapat dan rencana Lan Siang Jie. Raja Tio segera memerintahkan dua panglima perangnya, yakni Kong-sun Kian dan Ie Ho, untuk bergerak sesuai rencana Lan Siang Jie.
Mereka diperintahkan supaya membawa dua buah tambur raksasa dan kepada mereka disarankan supaya mengambil jalan kecil dengan tujuan untuk menyerang musuh dari bagian belakang. Setelah pasukan yang dipimpin dua panglimanya itu berangkat, Raja Tio memerintahkan Jenderal Liam Pho membawa 50.000 tentara untuk menghadapi Ong Cian dan pasukan negeri Cin.
Begitu Jenderal Liam Pho menerima perintah itu, dia langsung membawa tentaranya dan berangkat menuju kota Ciang-ho. Tak berapa lama, pasukan yang dipimpin Jenderal Liam Pho pun sudah sampai di suatu tempat yang sangat strategis di belakang garis pertahanan musuh.
Esok harinya, Jenderal Liam Pho memerintahkan Li Kee Siok agar membuka pintu kota dan maju menyerang musuh. Ketika Ong Cian mendengar bahwa Jenderal Liam Pho yang membawa bala tentara telah keluar dari dalam kota Ciang-ho, Jenderal Ong Cian segera mengatur pasukannya.
Tak lama, pasukan Jenderal Liam Pho sudah sampai. Ong Cian lantas keluar dari dalam barisannya untuk segera menghadapi Jenderal Liam Pho bersama angkatan perangnya. Sesudah keduanya berhadapan, Jenderal Liam Pho segera menunjuk ke arah Jenderal Ong Cian sambil berkata dengan suara nyaring, "Raja Cin Ciauw Ong dari negeri Cin dengan tanpa sebab sering mencari gara-gara dan mau menyerang ke negeri kami. Apa kalian kira karena kami negara kecil dan lemah, bisa seenaknya kalian injak-injak? Kali ini rajamu itu mencari penyakit sendiri."
"Bagi kami tak ada raja besar atau raja kecil, raja kuat atau raja lemah. Karena rajamu termasuk raja kecil, maka sudah sepantasnya rajamu tunduk pada negeri kami! Tapi mengapa hari ini, saat tentara kami datang, malah kau berani melawan? Aku sarankan, lebih baik kau beritahu rajamu supaya menyerah! Aku peringatkan jangan sampai negerimu kami serang hingga hancur lebur!" kata Ong Cian dengan garang.
Mendengar ucapan Ong Cian yang demikian menghina, maka marahlah Jenderal Liam Pho. Dengan tidak menyahut lagi, dia segera mengangkat tombaknya dan menerjang dengan garang. Melihat serangan yang sangat tiba-tiba itu, Ong Cian segera menyambut serangan itu dengan goloknya.
Tak terasa tiga puluh jurus telah berlalu. Mereka bertempur mati-matian, tetapi selama itu belum tampak salah seorang dari mereka akan kalah. Tiba-tiba saja Jenderal Liam Pho membalikkan kudanya dan menarik mundur anak buahnya, seolah-olah dia sudah tidak sanggup menghadapi Ong Cian.
Jenderal Ong Cian sudah menduga mundurnya Jenderal Liam Pho bersama anak buahnya bukan karena kalah olehnya, melainkan cuma suatu taktik belaka.