Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 02

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 02

Oleh karena itu, dia menahan serdadunya agar tidak melakukan pengejaran. Ong Cian khawatir anak buahnya akan terjebak oleh siasat musuh. Selain kekhawatiran itu, Ong Cian pun sudah mendengar siapa Jenderal Liam Pho. Dia adalah jenderal yang sangat terkenal gagah berani. Bisa dikatakan Jenderal Liam Pho merupakan jenderal nomor satu di negeri Tio.

Ketika itu, Jenderal Ong Hut berada di dekat Jenderal Ong Cian. Dia jadi heran melihat rekannya tak mau memburu musuhnya. Maka dia segera memerintahkan pasukannya untuk memburu Jenderal Liam Pho bersama anak buahnya.

Melihat Ong Hut hendak mengejar musuh yang sengaja tidak dikejarnya, Ong Cian segera menghalangi. "Tahan! Saudara Ong Hut, saya lihat Jenderal Liam Pho sebenarnya tidak kalah dalam perang ini, tapi dia cuma pura-pura kalah! Lebih baik jangan diburu, ini sangat berbahaya. Ingat, jalan-jalan di negeri ini masih asing bagi kita! Aku khawatir dia menggunakan tipu muslihat untuk menjebak kita!" kata Ong Cian mencegah rekannya.

"Jika kali ini kita tidak mau memburu dan menangkapnya, sampai kapan tentara kita bisa sampai di kota Ham-tan?" kata Ong Hut. Jenderal Ong Hut seorang yang sangat angkuh. Maka itu, dia tidak mau mendengarkan nasehat dari Jenderal Ong Cian. Dengan sangat bernafsu, dia lantas memajukan tentaranya untuk memburu Jenderal Liam Pho dan anak buahnya.

Ketika Ong Hut dan pasukannya baru berjalan belum berapa jauh, dia dikagetkan oleh mata-matanya yang datang menyusulnya. Mata-mata itu segera melapor, "Celaka, Tuan! Di belakang kita datang pasukan dari negeri Tio! Mereka bergerak cepat untuk merampas perkemahan kita. Bahkan Kong-sun Ie Jin sekarang sudah tertangkap dan ditawan oleh pasukan itu!" Begitu Jenderal Ong Cian dan Ong Hut mendengar kabar itu, bukan main terkejutnya mereka. Mereka segera membalikkan kuda dan memerintahkan bala tentaranya untuk memberi pertolongan pada pasukan Kong-sun Ie Jin yang saat itu ada dalam bahaya.

Ketika Jenderal Liam Pho melihat Jenderal Ong Cian bersama tentaranya sudah balik kembali, maka Jenderal Liam Pho tahu kalau Kong-sun Hian sudah berhasil merampas perkemahan musuh. Maka Liam Pho pun lantas mengibar-ngibarkan benderanya untuk mengerahkan 50.000 tentaranya menyerbu dan bertarung dengan tentara Ong Cian dan Ong Hut secara besar-besaran.

Dalam pertempuran mati-matian dan karena tak menyangka diserang dari dua jurusan, maka Jenderal Ong Cian dan Jenderal Ong Hut jadi kelabakan. Tentaranya bisa diobrak-abrik oleh musuh dengan mudah. Pasukan mereka jadi cerai-berai.

Akhirnya, hancurlah pasukan negeri Cin. Celakanya, pasukan negeri Tio juga telah berhasil menangkap cucu Raja Cin.

Dengan keberhasilan itu, mereka segera pulang ke kota Ham-tan. Dalam iring-iringan tentara Tio yang baru memperoleh kemenangan itu terdapat Kong-sun Ie Jin yang terkurung dalam kereta kerangkeng. Rakyat negeri Tio menyambut kemenangan tentaranya ini dengan sangat suka cita.

Tak berapa lama, iring-iringan angkatan perang negeri Tio telah tiba di kota Ham-tan, ibukota kerajaan Tio. Tentu saja, tentara yang baru menang ini disambut dengan sorak-sorai kemenangan yang gegap gempita. Tawanan lalu dibawa ke hadapan Raja Tio.

Ketika mendengar dan melihat angkatan perangnya telah sukses, Raja Tio sangat gembira. Kemudian Raja Tio menghadiahkan uang dan permata pada Jenderal Liam Pho.

Ketika tawanan dari negeri Cin dihadapkan padanya, Tio Ong berkata, "Engkongmu, Cin Ciauw Ong, selalu berbuat kejahatan. Tanpa sebab yang jelas, dia sering menyerang negeri kami. Sekarang kami sudah berhasil menangkapmu. Sekarang apa yang hendak engkau katakan?"

Mendengar kata-kata itu, Kong-sun Ie Jin tidak bisa menyahut.

Tio Ong lalu memerintahkan seorang algojo untuk membunuh cucu Cin Ciauw Ong tersebut.

Mendengar putusan rajanya itu, Lan Siang Jie segera mencegahnya. "Tuanku, tunggu! Jangan bunuh dia, Tuanku!" cegah Lan Siang Jie.

"Hai, mengapa kau cegah aku? Bukankah dia cucu dari raja negeri musuh?" tanya Raja Tio kebingungan.

"Justru itu, Tuanku! Saat ini negeri Cin sangat kuat, jika Tuanku bunuh anak ini, niscaya negeri Tio setiap saat akan terus diserang pasukan negeri Cin. Menurut hamba, lebih baik Tuanku penjarakan saja Kong-sun Ie Jin ini. Dengan demikian, hamba yakin Cin Ciauw Ong tidak akan berani datang menyerang negeri kita lagi karena khawatir jiwa Kong-sun Ie Jin, cucunya, akan terancam. Dengan demikian, negeri kita akan aman dari serangan musuh!" kata Lan Siang Jie menjelaskan.

Ketika tentara negeri Cin sudah kembali ke negerinya, mereka segera melaporkan kekalahan mereka kepada Raja Cin. Mendengar hal itu, Raja Cin menjadi gusar bukan main. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa cucu kesayangannya, Kong-sun Ie Jin, tertawan oleh musuh. Tentu saja hal ini membuat Raja Cin jadi bingung.

Dia jadi serba salah dan tak tahu harus berbuat apa. "Celaka! Selain pasukanku hancur dalam kancah peperangan, kini cucuku pun ikut ditawan oleh kerajaan Tio. Ini memang sungguh memalukan!" bentak sang raja berang.

Melihat kegusaran Cin Ciauw Ong, tak seorang menteri dan panglimanya yang berani buka mulut. Tiba-tiba muncul seorang menterinya yang berani buka mulut.

"Tuanku! Tuan tidak perlu begitu cemas. Sekarang alangkah baiknya jika Baginda segera mengirim utusan ke negeri Tio!" ujar sang menteri memberi nasihat.

"Apa yang harus kuperintahkan pada utusanku itu?" tanya Raja Cin.

"Tuan perintahkan agar utusan itu meminta agar raja negeri Tio mau membebaskan Kong-sun Ie Jin. Jika usulan itu diterima oleh negeri Tio, katakan negeri Cin berjanji tidak akan memerangi negeri Tio lagi! Hamba yakin Raja Tio akan setuju! Namun yang harus Tuanku ingat adalah Tuanku harus mengirim seorang utusan yang tepat!" kata sang menteri lagi.

"Baiklah, kalau begitu siapa harus kita utus kesana?" tanya Raja Tio.

"Kirim saja Ngiu See!" usul menteri itu.

"Baik, kalau begitu!" kata Raja Cin setuju.

Setelah segala persiapan selesai, maka berangkatlah Ngiu See menjadi utusan negeri Cin. Karena perjalanan dilakukan siang dan malam, dalam waktu tak terlalu lama, utusan itu sudah sampai di Ibukota negeri Tio.

Begitu sampai, Ngiu See langsung memohon untuk menghadap Raja Tio. Seorang pegawai istana segera melapor kedatangan utusan negeri Cin itu kepada Raja Tio.

"Tuanku, di luar telah datang seorang utusan dari negeri Cin. Dia mohon menghadap pada Tuanku. Apakah Tuanku bersedia untuk menerimanya?" tanya si petugas istana.

Mendengar laporan ada utusan negeri Cin yang ingin bertemu, Raja Tio segera memerintahkan utusan itu masuk.

Dengan sikap hormat, Ngiu See langsung menyerahkan surat dari Raja Cin kepada Raja Tio.

Begitu diterima, surat itu langsung dibaca oleh Raja Tio.

Dalam surat itu, Cin Ciauw Ong menyatakan penyesalannya karena telah menyerang negeri Tio. Karena itu, kini Raja Cin ingin berdamai dan tidak akan melakukan peperangan lagi dengan negeri Tio. Oleh sebab itu, dia meminta Raja Tio mau membebaskan Kong-sun Ie Jin sebagai imbalan dari janjinya ingin berdamai itu.

Sesudah Tio Ong melihat surat dari Cin Ong itu, lantas saja dia berkata, "Kami memang telah menawan Kong-sun Ie Jin, tapi kami tidak tega membunuh dia. Sekarang Cin Ong mau berdamai dengan kami. Apa benar begitu?"

"Hamba rasa apa yang dikatakan Cin Ong itu sungguh-sungguh!" ujar Ngiu See meyakinkan.

"Tapi itu semua masih perlu dibuktikan dahulu kebenarannya. Sesudah ada bukti yang nyata bahwa Raja Cin memang betul-betul ingin berdamai, baru kami akan membebaskan Kong-sun Ie Jin." lanjut Raja Tio.

"Maka katakan pada rajamu bahwa saat ini kami belum bisa melepaskan cucunya itu. Kami takut kalau janji Cin Ong tidak ditepati seperti yang sudah-sudah. Tapi aku menjamin keselamatan Kong-sun Ie Jin!"

"Jika Thay Ong sungguh-sungguh akan berbuat begitu, hamba berterima kasih sekali. Dan lagi, jika di kemudian hari Kong-sun Ie Jin bisa kembali ke negeri Cin dan duduk sebagai raja disana, tentu dia akan selalu mengingat budi baik Thay Ong itu. Dengan demikian, negeri Cin dan negeri Tio akan berbaikan selama-lamanya." kata Ngiu See.

Mendengar ucapan Ngiu See tersebut, Tio Ong jadi senang.

Kemudian dia segera menuliskan surat balasan kepada Cin Ong.

Kemudian surat itu diserahkan pada Ngiu See.

Setelah Ngiu See kembali ke negeri Cin, Tio Ong segera menyerahkan pengawasan atas Kong-sun Ie Jin kepada Kong-sun Kian.

"Sekarang kuserahkan Kong-sun Ie Jin dalam pengawasanmu! Jaga dia baik-baik. Ingat, jangan sampai lolos! Tapi jangan pula memperlakukan dia dengan kasar sebab aku takut dia mati!" kata Tio Ong pada Kong-sun Kian.

"Baik, Tuanku! Semua titah Tuanku akan hamba laksanakan!" jawab Kong-sun Kian.

Kemudian Kong-sun Kian membawa Kong-sun Ie Jin pulang ke rumahnya. Sampai di tengah jalan, secara kebetulan mereka bertemu dengan Lie Put Wie.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment