Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 03

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 03

Lie Put Wie adalah seorang pedagang yang kaya. Dahulu ketika masih muda, Lie Put Wie pernah berguru pada Kui Kok Sin-seh yang termasyhur. Ia belajar tentang ilmu Siang Hoat, yakni ilmu untuk melihat peruntungan orang melalui wajahnya.

Karena itu, ia bisa mengetahui nasib dan peruntungan seseorang. Waktu Lie Put Wie sempat melihat wajah Kong-sun Ie Jin secara sekilas, ia langsung terkejut. Ia bertanya-tanya dalam hati siapa orang itu. Karena merasa sangat penasaran, ia segera menanyakan identitas orang yang bersama Kong-sun Kian kepada orang-orang yang berkerumun di jalan.

"Dia itu Kong-sun Ie Jin, cucu dari Raja Cin! Dia tertangkap ketika hendak melakukan penyerangan ke negeri kita!" sahut orang-orang itu.

Mendengar keterangan tersebut, Lie Put Wie lalu berpikir, "Ah, siapa tahu ini sebuah jalan bagiku! Jika ini benar, maka keuntungan lebih besar akan kuraih. Daripada keuntungan dari seorang pedagang, rencanaku ini pasti jauh lebih besar!"

Sesudah puas mendapat keterangan yang diperlukan, bergegaslah Lie Put Wie pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Lie Put Wie langsung menemui Lie Ong, ayahnya.

"Ayah, ada yang hendak aku tanyakan padamu," kata Lie Put Wie.

"Tentang masalah apa?" tanya sang ayah.

"Jika seseorang menjadi petani dan bekerja di sawah, berapakah keuntungan yang akan diperolehnya?" tanya Lie Put Wie.

Mendengar pertanyaan anaknya, Lie Ong tersenyum lalu menjawab, "Keuntungannya bisa mencapai satu sampai sepuluh persen dari modal yang dia keluarkan. Jumlah itu bisa dikatakan lebih dari cukup!"

Lie Put Wie mengangguk. "Bagaimana jika orang itu berdagang emas atau intan, berapa keuntungan yang akan diperolehnya?" tanya Lie Put Wie lagi.

Lie Ong kembali menyahut, "Sepuluh sampai seratus persen."

"Sekarang, jika ada orang yang bisa menolong orang lain sampai dia bisa menjadi raja, berapa keuntungannya?" kata Lie Put Wie memancing pendapat ayahnya.

"Jika kau bisa berbuat begitu, keuntungannya sudah tak terhitung lagi," kata ayahnya.

"Benarkah?"

"Ya, aku tidak bohong!" tutur sang ayah.

Ucapan Lie Ong ini seolah telah mendorong Lie Put Wie untuk memantapkan niatnya. "Sebagai pedagang kita terlalu sibuk dan lelah, banyak masalah yang akan dihadapi. Ada yang berutang, ada yang tidak bayar, dan sebagainya. Kalau aku mengolah sawah, itu tidak gampang dan juga sangat melelahkan," kata Lie Put Wie.

"Lalu kau mau jadi apa?" tanya ayahnya.

"Ayah, sekarang anakmu akan memberi tahu Ayah. Negeri kita tengah menawan cucu Raja Cin. Dia bernama Kong-sun Ie Jin. Aku telah melihat wajah Kong-sun Ie Jin itu dan aku yakin di kemudian hari dia pasti menjadi raja yang besar. Maka aku bertekad untuk menolongnya. Aku rela menjual semua harta bendaku demi menolong dia! Aku harap di kemudian hari kalau dia sudah menjadi raja, dia akan menghadiahi aku sebuah pangkat yang tinggi. Sekarang aku akan berusaha membebaskannya. Bagaimana menurut pendapat Ayah?" kata Lie Put Wie.

Mendengar niat anaknya itu, Lie Ong tidak mencegahnya. "Rencanamu itu sangat bagus. Tapi kau harus ingat bahwa tidak segampang itu untuk melepaskannya. Salah-salah malah harta benda kita habis semuanya, bahkan nyawamu pun bisa terancam. Jika kau memang mau menjalankan itu, aku harap kau berhati-hati!" kata Lie Ong memberi nasihat.

"Ayah tidak usah khawatir," kata Lie Put Wie. "Ilmu Siang Hoat milikku tidak pernah salah."

Untuk menjalankan semua rencananya, Lie Put Wie lantas mencari seseorang yang kenal baik dengan Kong-sun Kian. Setelah mencari-cari, akhirnya ia berkenalan dengan Lie Bek yang tinggal di dalam kota itu juga. Ternyata Lie Bek adalah besan Kong-sun Kian. Mengetahui hal itu, Lie Put Wie mencoba untuk mempererat persahabatannya dengan Lie Bek.

Lie Put Wie menyiapkan berbagai bingkisan untuk Lie Bek. Sesudah berbasa-basi, akhirnya Lie Put Wie minta dikenalkan pada Kong-sun Kian. Lie Bek pun tidak keberatan dengan keinginan Lie Put Wie. Pada suatu hari, Lie Put Wie diajak pergi ke rumah Kong-sun Kian sambil membawa berbagai bingkisan barang berharga. Sesudah bertemu dan memperkenalkan diri, Lie Put Wie lalu menyerahkan barang-barang itu untuk tuan rumah.

Kebetulan Lie Put Wie memang seorang yang pandai bicara, maka tak heran jika Kong-sun Kian menjadi suka padanya. Bahkan ia menyesalkan mengapa tidak dari dulu bersahabat dengan Lie Put Wie. Sejak hari itu, hubungan persahabatan antara Kong-sun Kian dan Lie Put Wie menjadi semakin erat. Hampir setiap hari Lie Put Wie berkunjung ke rumah Kong-sun Kian. Hubungan mereka sudah seperti saudara kandung.

Ketika Kong-sun Kian mengadakan sebuah perjamuan makan, ia mengundang Lie Put Wie. Waktu itu Kong-sun Kian mengajak Kong-sun Ie Jin untuk makan bersama-sama. Lie Put Wie yang cerdik berlagak tidak tahu tentang keberadaan Kong-sun Ie Jin. Sambil berlagak bodoh, ia bertanya pada Kong-sun Kian, "Siapakah beliau ini?"

"Oh, dia Kong-sun Ie Jin!" jawab Kong-sun Kian.

"Siapa dan dari mana dia berasal? Sepertinya aku belum pernah melihatnya!" kata Lie Put Wie lagi. Lalu Kong-sun Kian menceritakan satu per satu mengenai sejarah Kong-sun Ie Jin. Tak hanya itu, Kong-sun Kian pun memperkenalkan Lie Put Wie pada Kong-sun Ie Jin hingga akhirnya mereka menjadi sahabat baik.

Pada suatu hari ketika tidak ada orang lain di rumah Kong-sun Kian, Lie Put Wie datang berkunjung. Saat itu hanya ada Kong-sun Ie Jin yang sedang duduk-duduk. Lie Put Wie segera mendatangi dan memberitahukan maksudnya untuk menolong Ie Jin kembali ke negeri Cin.

"Aku pasti akan membantumu!" kata Lie Put Wie memberi harapan.

"Tapi..." Kong-sun Ie Jin terdiam. Tak lama kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Sekalipun aku ini cucu Raja Cin, saat ini aku sudah seperti orang buangan. Mengapa sekarang kau mau menggunakan uang yang tidak sedikit untuk menolongku?"

"Niatku untuk menolongmu ini tulus dari hatiku yang paling dalam. Sebenarnya aku cuma mau mencari kepuasan batin karena dapat menolong sahabatku. Aku tahu bagaimana cara untuk membebaskan Tuan Kong-sun dari sini," kata Lie Put Wie.

Mendengar Lie Put Wie berkata begitu, Kong-sun Ie Jin sangat terharu. "Jika saya bisa pulang ke negeri Cin dengan selamat dan mendapat kedudukan, biarlah kesenangan akan kita nikmati bersama. Aku tidak mungkin melupakan jasa-jasamu ini. Tapi bagaimana caraku supaya bisa menjadi Tay Cu?" kata Kong-sun Ie Jin.

"Saat ini An Kok Kun terlalu cinta pada Hoa Yang Hu-jin. Sekalipun Kong-sun punya banyak saudara, untungnya Hoa Yang Hu-jin tidak mempunyai seorang anak. Sekarang aku akan membagi harta untuk menolong Anda. Selain itu, aku juga akan pergi ke negeri Cin untuk menyampaikan pesan Kong-sun pada Hoa Yang Hu-jin bahwa selama berada di tawanan, Tuan selalu ingat pada mereka. Aku yakin An Kok Kun bersama Hoa Yang Hu-jin akan merasa senang. Dan aku yakin An Kok Kun dan Hoa Yang akan memungut Tuan Kong-sun sebagai anaknya," kata Lie Put Wie.

"Dengan demikian, gelar Tay Cu pasti bisa Tuan Kong-sun ambil. Sekarang Anda boleh menggunakan semua uang milikku untuk menyenangkan Hoa Yang Hu-jin. Jika kita berhasil menjerat hati Hoa Yang Hu-jin, masalah An Kok Kun akan sangat mudah. Dia sangat sayang pada Hoa Yang Hu-jin, dengan demikian apa yang dikatakan Hoa Yang Hu-jin pasti akan dituruti."

Mendengar ucapan Lie Put Wie, Kong-sun Ie Jin langsung mengucapkan banyak terima kasih. Sesudah itu, Lie Put Wie menyerahkan lima ratus tail uang perak untuk menyogok para penjaga dan Kong-sun Kian sendiri. Ketika Kong-sun Kian datang, pembicaraan rahasia itu sudah selesai.

Sesudah itu, Lie Put Wie berpamitan pada Kong-sun Kian dan mengatakan bahwa dalam waktu dekat ia akan pergi berdagang ke negeri lain. Lie Put Wie lantas pulang untuk membeli barang-barang berharga di negeri Tio. Esok harinya, ia segera berangkat menuju ke negeri Cin. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampailah Lie Put Wie di Ham Lang, ibu kota negeri Cin.

Karena Lie Put Wie memang seorang yang cerdik, dalam waktu singkat ia sudah mengetahui bahwa Hoa Yang Hu-jin memiliki seorang paman bernama Hong Ie yang tinggal di dalam kota Ham Lang. Gedungnya berhadapan dengan gedung milik Tay Cu An Kok Kun. Setelah mengetahui semua itu, Lie Put Wie segera mencari rumah yang berdekatan dengan gedung milik Hong Ie. Pada kesempatan lain, sambil membawa barang yang bagus, Lie Put Wie datang mengantar bingkisan pada Hong Ie.

Begitu sampai di depan rumah itu, seorang penjaga pintu mencegatnya. "Tuan mau cari siapa?" tanya si penjaga.

"Aku ingin bertemu dengan Tuan Hong Ie!" jawab Lie Put Wie.

"Apa keperluan Tuan mencari majikan kami?" kata si penjaga lagi.

"Aku mendapat perintah dari Kong-sun Ie Jin untuk membawa sebuah pesan rahasia," kata Lie Put Wie.

Mendengar bahwa Lie Put Wie membawa pesan rahasia dari cucu raja, si penjaga cepat-cepat masuk untuk menemui Hong Ie. Mendapat laporan itu, Hong Ie lantas keluar. Melihat tuan rumah muncul, buru-buru Lie Put Wie bersoja sambil menyerahkan barang-barang yang dikatakannya sebagai kiriman dari Kong-sun Ie Jin.

"Sekarang dia tinggal di rumah Kong-sun Kian dan tidak terlalu menderita. Barang-barang kiriman ini hanya sebagai tanda kecintaan darinya. Hanya sayang, dia tidak bisa pulang ke mari," kata Lie Put Wie.

Mendengar keterangan itu, Hong Ie sangat senang.

"Tuan Kong-sun Ie Jin sangat berbakti pada Hoa Yang Hu-jin. Siang dan malam dia selalu menangis karena teringat pada orang tuanya," kata Lie Put Wie mengarang cerita. "Karena Tuan Kong-sun Ie Jin tidak bisa pulang ke mari, maka dia mengirim hamba untuk meminta pertolongan pada Tuan Hong Ie!"

"Benarkah dia berkata begitu?" tanya Hong Ie tak percaya.

"Sungguh, Tuan! Bahkan dia meminta aku untuk memohon pada Anda supaya mau menyampaikan pesannya pada Hoa Yang Hu-jin!" ujar Lie Put Wie lagi.

"Apa pesannya itu?" tanya Hong Ie yang tidak menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh Lie Put Wie.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment