Chapter 04
"Dia memohon Hoa Yang Hu-jin membantunya supaya bisa pulang ke negeri Cin. Tuan Kong-sun sangat rindu pada Hoa Yang Hu-jin. Sebagai bukti kerinduannya, dia tak lupa membawakan bingkisan untuk beliau! Maka jika diperbolehkan, aku ingin menghadap dan bicara sendiri pada Hoa Yang Hu-jin," kata Lie Put Wie.
"Baik, akan kuusahakan! Tuan Lie silakan menunggu beberapa hari lagi!" kata Hong Ie.
"Baiklah! Sekarang hamba pamit, beberapa hari lagi hamba akan kembali untuk mengharapkan kabar baik dari Tuan!" kata Lie Put Wie.
Pada hari itu juga, Hong Ie segera menemui Hoa Yang Hu-jin. Dia menceritakan bagaimana Lie Put Wie menyampaikan kabar tentang Kong-sun Ie Jin yang sekarang menjadi tawanan Raja Tio. Hong Ie juga memuji-muji bakti Kong-sun Ie Jin di hadapan Hoa Yang Hu-jin.
Ketika Hoa Yang Hu-jin mendengar semua itu, dia sangat senang. Maka dia lantas menyuruh orang untuk memanggil Lie Put Wie datang ke rumahnya.
Mendengar dia diminta datang, bukan main senangnya Lie Put Wie. Dia lalu ikut dengan orang suruhan Hoa Yang Hu-jin. Begitu sampai, dia langsung dipersilakan masuk ke dalam.
Sesampai di hadapan Hoa Yang Hu-jin, Lie Put Wie lantas bersujud dan menyerahkan barang-barang serta surat dari Kong-sun Ie Jin.
Ketika Hoa Yang Hu-jin membaca surat dari Kong-sun Ie Jin, dia jadi gembira.
Dalam sekejap Lie Put Wie yang memang pandai bicara, diterima dengan baik. Mereka lalu berbincang dengan gembira. Sampai ketika ada suatu kesempatan baik, Lie Put Wie tak menyia-nyiakannya.
"Mohon maaf Hu-jin, saya ingin memberitahukan sesuatu. Tapi jika Hu-jin tidak keberatan," kata Lie Put Wie.
"Mengenai masalah apa?" tanya Hoa Yang Hu-jin.
"Harap Hu-jin jangan gusar. Saat ini Hu-jin berkedudukan sangat tinggi, tapi sayang..." Lie Put Wie tak meneruskan.
"Sayang kenapa?" tanya Hoa Yang Hu-jin penasaran.
"Ah hamba tak berani meneruskan..." kata Lie Put Wie.
"Katakan saja, jangan takut-takut!" kata Hoa Yang Hu-jin.
"Sayang, Hu-jin tidak punya anak lelaki. Kalau Hu-jin mempunyai seorang anak laki-laki, tentu hidup Hu-jin akan senang selama-lamanya. Kesenangan Hu-jin akan tetap abadi. Tapi karena Hu-jin tak punya anak laki-laki, kebahagiaan Hu-jin pasti akan direbut orang lain," Lie Put Wie mulai memanas-manasi.
"Maksudmu?"
"Cepat atau lambat, suami Hu-jin pasti akan naik takhta. Tapi di kemudian hari harus ada orang yang akan menggantikan kedudukannya sebagai raja," jelas Put Wie lagi.
"Lalu?" Hoa Yang Hu-jin penasaran.
"Karena Hu-jin tak punya anak laki-laki, otomatis kedudukan itu akan jatuh pada anak orang lain. Jelas kesenangan Hu-jin akan semakin berkurang karena orang yang akan menjadi raja itu pun pasti akan menyenangkan hati ibu kandungnya sendiri. Ini sungguh sayang!" nasihat Lie Put Wie.
"Ah, kata-katamu benar juga! Tapi sampai saat ini aku memang belum punya anak! Jadi aku harus bagaimana?" tanya Hoa Yang Hu-jin.
"Jika Hu-jin mau, sebenarnya Hu-jin bisa mengangkat seorang anak," bujuk Put Wie dengan yakin.
"Hm itu ide cemerlang, tapi siapa yang harus kuangkat sebagai anak?"
"Hamba rasa Kong-sun Ie Jin cukup pantas. Dia cukup berbakti pada Hu-jin. Bukankah usaha Hu-jin untuk tetap meraih kekuasaan tetap terbuka. Sekarang tugas kita tinggallah mendudukkan Kong-sun Ie Jin menjadi Tay-cu (Pangeran). Kelak saya yakin dia bakal menjadi raja dan semua jasa Hu-jin tidak akan dilupakan," rayu Lie lagi.
"Satu lagi yang harus Hu-jin ingat, anak-anak An Kok Kun masing-masing sudah mempunyai ibu. Hanya Kong-sun Ie Jin yang sudah tidak punya ibu, ditambah lagi dia begitu berbakti pada Hu-jin. Bahkan baktinya melebihi bakti kepada ibu kandungnya sendiri. Coba Hu-jin pertimbangkan masalah ini baik-baik."
Mendengar ucapan Lie Put Wie, Hoa Yang Hu-jin mulai berpikir-pikir. "Kurasa kata-kata orang ini ada benarnya juga," pikir Hoa Yang Hu-jin.
Cukup lama Hoa Yang Hu-jin terdiam. Tak lama dia sudah berkata lagi, "Baiklah, sekarang kau boleh pulang dulu. Aku akan memikirkan semua nasihatmu itu. Lagi pula hari ini An Kok Kun tidak ada di rumah, tunggu sampai dia sudah pulang nanti. Aku pasti akan membicarakan masalah ini kepadanya," ujar Hoa Yang Hu-jin.
Mendengar ucapan itu, Lie Put Wie sangat senang. Namun dia coba menyembunyikan perasaannya. Kemudian dia lantas pamit untuk pulang ke tempatnya.
Esoknya ketika An Kok Kun pulang, Hoa Yang Hu-jin lalu menunjukkan surat dari Kong-sun Ie Jin. Dalam suratnya Kong-sun Ie Jin menceritakan bahwa dia dikurung di negeri Tio dan sangat menderita. Siang dan malam dia tidak bisa melupakan ibu dan ayahnya.
Sesudah An Kok Kun membaca surat Kong-sun Ie Jin, dia jadi merasa kasihan. Tanpa terasa dia mengeluarkan air mata. Melihat An Kok Kun mengeluarkan air mata, buru-buru Hoa Yang Hu-jin berlutut.
"Suamiku, jika kau merasa sayang padaku, aku mohon bebaskan Kong-sun Ie Jin. Setelah Kong-sun Ie Jin bebas, biar aku mengangkatnya sebagai anak. Aku ingin di kemudian hari, dia bisa menjadi tumpuan harapanku," ujar Hoa Yang Hu-jin.
Sesudah mendengar permintaan Hoa Yang Hu-jin, An Kok Kun langsung berkata, "Hu-jin jangan bersedih. Jika Hu-jin mau, kita bisa mengambilnya sebagai anakmu. Hanya sekarang dia ditawan di negeri Tio, tak gampang untuk membebaskan dia dari sana! Lagi pula hal ini harus diberitahukan dulu kepada Hu Ong (ayah) dan para menteri yang lain."
"Sekarang di sini ada utusan Kong-sun Ie Jin yang datang dari negeri Tio. Dialah yang membawa surat Ie Jin ke mari. Dia sudah punya rencana bagus untuk menolong Kong-sun Ie Jin," kata Hoa Yang Hu-jin. "Orang itu pandai bicara dan kelihatannya sangat cerdas. Namanya Lie Put Wie."
Mendengar keterangan itu, An Kok Kun lalu menyuruh orang memanggil Lie Put Wie. Tak berapa lama Lie Put Wie pun sudah sampai di hadapan An Kok Kun.
"Lie Put Wie, apa benar seperti yang dikatakan istriku bahwa kau sudah punya rencana untuk membebaskan Kong-sun Ie Jin?" tanya An Kok Kun.
Lalu Lie Put Wie segera menceritakan bagaimana dia telah menggunakan begitu banyak uang untuk mengambil hati orang-orang yang menjaga Kong-sun Ie Jin. Lie Put Wie pun menceritakan tentang rencananya membebaskan Kong-sun Ie Jin.
"Hamba yakin bisa membebaskan Kong-sun Ie Jin dari tahanan negeri Tio," ujar Lie Put Wie mengakhiri kisahnya.
Mendengar seluruh cerita Lie Put Wie, bukan main senangnya hati An Kok Kun. Tak lama dia sudah berkata, "Kalau benar Kong-sun Ie Jin bisa pulang ke negeri Cin, jasamu jelas sangat besar. Kami semua pasti tidak akan melupakan jasa Anda."
Kemudian An Kok Kun menghadiahkan uang lima ratus tail pada Lie Put Wie. An Kok Kun pun berjanji jika Lie Put Wie bisa membebaskan Ie Jin, dia pasti mendapatkan penghargaan yang setimpal.
"Ah hamba rasa itu tidak perlu. Jika Tuanku mengangkat Kong-sun Ie Jin sebagai anak, hamba rela kehilangan kepala. Hamba rela membela dan menyelamatkan Kong-sun Ie Jin sampai ke mana pun," ujar Lie Put Wie sungguh-sungguh.
"Jangan khawatir, jika aku sudah mengeluarkan janji kepada seorang pahlawan seperti Anda, maka janji itu tidak akan bisa ditarik lagi. Hanya kapan kau bisa membawa pulang Kong-sun Ie Jin kemari?" kata An Kok Kun.
"Masalah ini tidak bisa ditentukan harinya. Nanti jika sudah tiba waktunya, akan hamba beri kabar," kata Lie Put Wie bersungguh-sungguh. "Hamba akan mengirim surat untuk memberitahukan hal itu kepada Tuanku! Jika Tuanku sudah menerima surat hamba, harap Tuanku mengirim seorang jenderal perang lengkap dengan pasukannya ke tapal batas. Karena hamba khawatir pelarian Tuan Kong-sun akan mendapat kejaran dari tentara-tentara Tio."
"Soal itu kau tak perlu khawatir. Kami harap kau segera memberi kabar. Kami sangat menantikan kabar baik itu darimu," kata An Kok Kun.
"Baiklah," kata Lie Put Wie. Lalu Lie Put Wie pamit pulang ke negeri Tio.
***
Tak berapa lama Lie Put Wie telah tiba kembali di kota Ham-tan. Lebih dulu Lie Put Wie pulang ke rumahnya. Lalu dia menceritakan seluruh pengalamannya pada ayahnya. Dari soal pertemuannya dengan An Kok Kun, sampai janji-janji pangeran negeri Cin itu padanya. Mendengar cerita anaknya, Lie Ong girang sekali.
Malam harinya, Lie Put Wie mulai memikirkan harta dan kekuasaan yang akan didapatnya. Dia tak peduli harus melakukan perbuatan keji apa pun asalkan maksudnya tercapai. Dalam benaknya hanya ada kata yakni harta dan kekuasaan.
Malam itu dia masuk ke kamar gundiknya yang bernama Chu Sie. Sudah sejak lama Lie Put Wie memelihara istri mudanya itu. Chu Sie dijadikan gundiknya sejak masih kecil. Lie Put Wie sudah melihat nasib istri mudanya itu dan mengetahui kelak istri mudanya ini punya keberuntungan yang sangat luar biasa.
Sejak dua bulan terakhir, baru malam itu Lie Put Wie datang ke rumah gundiknya itu. Dia sengaja datang untuk membaik-baiki gundiknya itu. Ternyata istri mudanya itu malah sudah hamil dua bulan. Setiap hari sang istri muda ini sudah merasakan seluruh badannya lesu sekali. Malam itu kebetulan Lie Put Wie datang, maka dia langsung memberitahukan keadaannya pada Lie Put Wie.
Mendengar keterangan istri mudanya itu, Lie Put Wie jadi girang sekali. Lalu dia mulai merencanakan sesuatu dengan kehamilan istri mudanya itu.
"Kali ini turunanku akan menjadi orang besar! Secara turun-temurun, anakku kelak akan menjadi raja di negeri Cin," pikirnya dalam hati.
Karena berpikiran begitu, Lie Put Wie langsung bertanya pada istri mudanya. "Istriku, apakah kau senang kalau menjadi istri seorang raja?" kata Lie Put Wie.
Ucapan itu diajukannya karena dalam otak Lie Put Wie telah terbayang sebuah rencana bagus. Dia ingin menikahkan Chu Sie dengan Kong-sun Ie Jin. Dengan demikian, anaknya yang kini sedang dikandung oleh Chu Sie kelak akan menjadi raja.
Mendengar pertanyaan Lie Put Wie, tentu saja Chu Sie agak bingung. Dia tidak tahu apa maksud pertanyaan suaminya itu. "Suamiku, apa maksud pertanyaan itu?" kata Chu Sie.
Lie Put Wie segera menceritakan satu per satu rencananya. Dengan berterus terang, dia berniat memberikan istri mudanya itu kepada Kong-sun Ie Jin untuk dijadikan istrinya.
"Chu Sie, kau sekarang hanya menjadi istri muda seorang pedagang. Tadi kau bilang sedang hamil dua bulan. Dalam otakku aku punya rencana bagus. Aku ingin bibit yang kau kandung dari benihku akan jadi orang besar!" kata Lie Put Wie.