Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 05

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 05

"Bisakah itu terjadi?" tanya istri mudanya.

"Bisa, jika kau menikah dengan Kongsun Ie Jin, seorang calon raja dari Dinasti Cin. Dengan demikian, kelak anak kita itu akan bisa merampok kerajaan suami barumu itu. Hehehe. Ingat, jika Kongsun Ie Jin sudah menjadi raja, maka engkau pun akan menjadi permaisurinya. Anak kita pun akan menjadi Tay Cu. Kelak di kemudian hari, dia akan menjadi raja juga. Dengan demikian, yang menjadi raja di negeri Cin adalah turunan kita! Ha ha ha," kata Lie Put Wie gembira.

Mula-mula Chu Sie menolak usul suaminya yang dianggapnya gila. "Kanda, sebagai seorang wanita baik-baik mana berani aku berbuat begitu! Dengan menerima dan melaksanakan rencanamu itu, aku berarti telah mengkhianatimu. Aku belum pernah mendengar ada seorang suami yang rela menjebloskan istrinya berselingkuh dengan orang lain di depan matanya!" kata Chu Sie.

Lie Put Wie berusaha menghibur istri mudanya. "Jika kita memang masih berjodoh, tali percintaan kita akan tetap kekal abadi. Cinta kita harus terputus hanya karena untuk mendapatkan pengaruh yang mahabesar. Nanti jika waktunya sudah memungkinkan, hubungan kita bisa disambung kembali," bujuk Lie Put Wie.

"Jika ini memang sudah menjadi kemauanmu, aku menurut saja! Mana berani aku membantahmu!" kata Chu Sie setelah mendengar penjelasan suaminya. Sebenarnya Chu Sie seorang perempuan muda yang penuh birahi. Tapi dia dilahirkan sebagai anak seorang miskin. Maka dia terpaksa harus jatuh di bawah pengaruh Lie Put Wie yang kaya raya. Ketika dia mendengar niat suaminya untuk menyerahkan dia pada Kongsun Ie Jin yang masih muda, tentu saja hatinya gembira sekali. Tapi sebisa mungkin dia mencoba menyembunyikan kegembiraannya itu.

Mendengar Chu Sie berkata begitu, Lie Put Wie menjadi senang. "Kalau begitu suatu hari kita akan mengadakan pesta makan. Saat itu akan kuundang Kongsun Ie Jin datang ke sini. Engkau boleh menuangkan arak. Jika kau lihat aku pura-pura mabuk dan tertidur, saat itu kau boleh menggoda dia. Usahakan agar bisa terjadi hubungan badan. Nanti aku akan pura-pura memergoki kalian dan marah-marah. Maka kau boleh menggunakan akal begini..." bisik Lie Put Wie. "Tapi ingat, kau harus berjanji, jika di kemudian hari kau sudah hidup senang, jangan lupa padaku!" "Baiklah, Kanda! Aku akan ingat janji malam ini. Aku pun menjaga rahasia ini serapat-rapatnya," janji Chu Sie sambil memeluk dan mencium suaminya dengan mesra.

Esok harinya. Lie Put Wie sudah memanggil tukang masak yang pandai untuk menyediakan makanan yang lezat. Sesudah itu, dengan membawa dua tiga macam barang berharga, dia mengantarkannya ke rumah Kongsun Kian.

Ketika Kongsun Kian mendengar bahwa Lie Put Wie datang berkunjung, dia segera keluar menyambut. Lie Put Wie segera menyerahkan barang antarannya itu. "Aku baru saja pulang dari negeri orang untuk berdagang. Karena aku mendapat sedikit keuntungan, aku ingin memberikan sedikit hadiah kepada Tuan!" kata Lie Put Wie. "Oh, terima kasih banyak! Tuan memang seorang sahabat yang baik!" kata Kongsun Kian. Kemudian Kongsun Kian memerintahkan orangnya mengeluarkan makanan dan menjamu Lie Put Wie. Kongsun Ie Jin pun diundang menemui Lie Put Wie.

"Jika tak ada aral melintang, besok saya akan mengadakan pesta makan. Jika Tuanku tidak keberatan, saya mohon Anda bersama Kongsun Ie Jin bisa datang ke rumah kami," kata Lie Put Wie. Kongsun Kian ternyata tidak bisa menampik undangan itu. Sedikit pun dia tidak curiga di balik undangan itu ada sebuah perangkap jahat! "Baiklah," kata Kongsun Kian tanpa ragu-ragu.

Ketika Kongsun Kian masuk ke dalam, Lie Put Wie yang hanya tinggal berduaan dengan Kongsun Ie Jin membisik. "Aku baru saja pulang dari negeri Cin. Aku bertemu dengan An Kok Kun dan Hoa Yang Hu-jin. Aku sudah sampaikan maksud kita pada mereka dan mereka sangat setuju," bisik Lie Put Wie. Mendengar keterangan Lie Put Wie, bukan main senangnya hati Kongsun Ie Jin. Ketika Kongsun Kian sudah menemui mereka lagi, Lie Put Wie lalu pamitan akan pulang. Tuan rumah mengantarkannya sampai di depan rumahnya. Sepulang dari rumah Kongsun Kian, Lie Put Wie segera melakukan persiapan untuk esok hari.

Esok harinya. Kongsun Kian bersama Kongsun Ie Jin datang bersama-sama ke rumah Lie Put Wie yang memang sudah lama menunggu. Lie Put Wie segera menyambut mereka dengan sukacita. "Ayo masuk, berbagai makanan lezat sudah menunggu kita!" kata Lie Put Wie. Sambil berbincang, mereka bersama-sama makan minum dengan dilayani oleh dua pelayannya yang cantik. Hari berjalan dengan cepat. Tanpa terasa hari pun sudah menjadi sore. Lie Put Wie yang otaknya sudah penuh dengan rencana jahat lalu mengajak kedua tamunya itu pindah pesta ke taman. Ketika itu kedua tamunya pun kebetulan sudah setengah mabuk. Lie Put Wie yang mau menjalankan tipu muslihatnya amat senang. Dia segera menyuruh kedua pelayannya untuk meninggalkan mereka. Begitu pun semua pengawal tamunya. Lie Put Wie lalu memanggil Chu Sie dan disuruh untuk menuangkan arak ke cawan tamu-tamunya.

Lie Put Wie memperkenalkan Chu Sie pada kedua tamunya itu. "Dia bernama Chu Sie," kata Lie Put Wie. "Sejak masih kecil aku memeliharanya. Selain cantik dia juga seorang gadis yang berbudi halus. Kelak dia akan kujadikan istri muda. Karena Tuan-tuan adalah tamu terhormat, maka saya perkenalkan dia pada kalian!" Saat itu Chu Sie sudah berdandan rapi. Dengan pakaian yang sangat indah, tampak Chu Sie cantik sekali. Sepasang kakinya yang kecil memakai kasut yang indah pula. Menyaksikan kecantikan Chu Sie, kedua tamu itu merasa senang. Semangat Kongsun Ie Jin yang sudah lama ditahan di negeri Tio seolah-olah terbang begitu melihat kecantikan Chu Sie. Kalau saja saat itu tuan rumah tak ada di situ, mau rasanya dia menubruk dan memeluk si cantik.

Lie Put Wie melirik ke arah kedua tamunya. Dia sadar bahwa perangkapnya itu akan dimangsa oleh Kongsun Ie Jin. Maka dengan sengaja dia cekoki Kongsun Kian sampai tamunya ini mabuk. Sesudah Kongsun Kian mabuk, Lie Put Wie menyuruh orangnya untuk menggotong Kongsun Kian ke kamar tulisnya. Melihat Kongsun Kian sudah tidur, Lie Put Wie pun pura-pura mabuk. Dia meninggalkan taman dan langsung tidur. Sekarang tinggal Kongsun Ie Jin bersama Chu Sie berduaan saja. Keduanya minum arak dan duduk berhadap-hadapan.

Kongsun Ie Jin baru meningkat dewasa. Ketika itu dia terus-menerus memandang ke arah Chu Sie, sedangkan Chu Sie terus-menerus melempar senyum maut kepadanya. Karena terus-menerus mendapat godaan dari sang bidadari yang ada di hadapannya, jiwa muda Kongsun Ie Jin bergejolak. Dia sudah tidak bisa menahan birahinya, saat itu juga dia merangkul Chu Sie. Kongsun Ie Jin sudah tak sabar lagi ingin memadu cinta dengan Chu Sie. Tak lama, dia pun segera merangkul Chu Sie. Ternyata Chu Sie pun membalas rangkulan itu dengan hangat. Kongsun Ie Jin mencium Chu Sie. Bibirnya yang merah merekah dilumatnya. Kemudian tangan Kongsun Ie Jin mengembara ke bagian-bagian tubuh Chu Sie yang sensitif. Satu per satu pakaian mereka pun mulai dilepas. Kini mereka pun sudah polos tanpa sehelai benang. Sesudah itu, keduanya lalu melakukan hubungan badan tanpa malu-malu lagi. Ie Jin bagaikan kumbang sedang menghisap madu. Tubuhnya bersimbah keringat karena gelora asmara yang menggebu. Kongsun Ie Jin waktu itu seperti ikan mendapat air. Dia sudah lupa daratan. Padahal sebenarnya saat itulah dia telah "menjual mahkota" yang akan diterima dari pamannya. Sementara Chu Sie pun menikmati perselingkuhan itu, sehingga hubungan badan mereka menjadi terasa wajar dan tidak dibuat-buat.

Tanpa diketahui Kongsun Ie Jin, Lie Put Wie yang tadi pura-pura mabuk sedang mengintai perbuatan "serong" tamunya dengan sang istri muda. Dalam hati, Lie Put Wie pun merasa cemburu dan iri melihat istrinya begitu mesra saat bercinta dengan Kongsun Ie Jin. Tiba-tiba Lie Put Wie muncul mendadak. Bagaikan tersengat kalajengking, Ie Jin melepaskan pelukannya dari tubuh Chu Sie yang telanjang. Buru-buru Ie Jin meraih pakaian menutupi tubuhnya.

Lie Put Wie berdiri di hadapan mereka. Sementara Chu Sie pun sudah segera mengenakan bajunya. Dengan wajah merah padam, Lie Put Wie marah sambil membanting-banting kakinya. "Kurang ajar! Tuan Kongsun, aku tidak mengira kau begitu berani merusak "kehormatan" calon gundikku. Aku telah memeliharanya sejak masih kecil. Setelah menjadi gadis manis seperti sekarang, kau malah berbuat tidak senonoh terhadapnya. Padahal aku mengundangmu sebagai seorang tamu agung. Sungguh kau seorang yang tidak berbudi!" kata Lie Put Wie dengan sengit. Mendengar Lie Put Wie berkata begitu, bukan main takut dan malunya Kongsun Ie Jin. Dia tidak berani mengangkat mukanya untuk menatap Put Wie. Ie Jin bungkam seribu bahasa. Tubuhnya gemetar. Kalau saja dia punya keberanian, mau rasanya dia bunuh diri ketika itu juga.

Chu Sie segera berlutut di hadapan Lie Put Wie. Kemudian dengan suara lantang dia bicara. "Dengan kerelaan Tay-jin telah menghambur-hamburkan harta untuk menyelamatkan Kongsun Ie Jin dari penderitaannya saat ini," kata Chu Sie. "Kata Tay-jin, semua itu supaya di kemudian hari dia bisa membalas dan membayar harta benda Tay-jin yang telah habis untuk menyelamatkannya! Tolong Tay-jin ampuni dia. Semua ini kesalahan hamba yang telah merayu dan menggodanya. Jika dosa ini tak bisa Tay-jin ampuni, hamba rela mati untuk menebus dosa ini!" Sandiwara itu pun sesuai dengan rencana Lie Put Wie. Sesudah Chu Sie berkata begitu, dia segera mengambil sebilah pedang yang tergantung di ruang itu. Langsung pedang itu dia hunuskan dan akan ditebaskan ke batang lehernya. Melihat Chu Sie hendak bunuh diri, Lie Put Wie segera merampas pedang itu dari tangan istri mudanya dan berkata, "Tunggu dulu!" Sesudah menghela napas panjang, Lie Put Wie berkata lagi. "Ternyata aku memang tidak berjodoh denganmu. Kini tubuhmu telah "dikotori" oleh Kongsun Ie Jin! Aku lihat Kongsun Ie Jin pun sangat mencintaimu," kata Lie Put Wie mulai menebar racun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment