Chapter 06
"Setelah aku pikir-pikir, lebih baik aku serahkan engkau kepadanya! Namun, aku berharap di kemudian hari jika engkau sudah hidup senang dan Ie Jin sudah menjadi raja, jangan lupakan aku!" Mendengar ucapan Lie Put Wie, Kong-sun Ie Jin maupun Chu Sie segera berlutut di hadapannya. Mereka mengucapkan terima kasih atas kerelaan, pengorbanan, serta kebaikan Lie Put Wie tersebut.
"Kebaikan Tay-jin terhadapku sungguh luar biasa. Budi Tay-jin ini sungguh besar. Jika benar aku bisa lolos dari sini dan menjadi raja, maka Tay-jin boleh menikmatinya bersama kami. Mana berani kami melupakan budi baikmu ini!" kata Kong-sun Ie Jin dengan terharu.
Ketika itu, Kong-sun Kian sudah sadar dari mabuknya. Dia menemui tuan rumah yang sedang berkumpul. Melihat Kong-sun Ie Jin berpelukan dengan Chu Sie, Kong-sun Kian tampak keheranan. "Eh, ada apa ini?" tanyanya.
Lie Put Wie memberi tahu Kong-sun Kian tentang apa yang sedang mereka rundingkan. "Aku merelakan calon istri mudaku dan menyerahkannya kepada Kong-sun Ie Jin untuk dijadikan istrinya," tutur Lie Put Wie.
Kong-sun Kian terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu. "Sahabatku, kau benar-benar seorang sahabat sejati! Tidak ada orang yang begitu murah hati sepertimu di dunia ini!" kata Kong-sun Kian sambil melepaskan *Gik-toa angkin* milik Ie Jin. Kemudian *angkin* itu dia serahkan kepada Lie Put Wie sebagai tanda jadi pertunangan Ie Jin dan Chu Sie.
Sambil menerima *angkin* itu, Lie Put Wie berkata, "Sekarang hanya tinggal menunggu hari baik, kemudian akan saya antarkan Chu Sie kepada Tuan Kong-sun!"
"Terima kasih," kata Kong-sun Ie Jin sambil berlutut di hadapan Put Wie. "Karena hari pun telah larut malam, kami mohon diri!"
"Baiklah," kata tuan rumah.
Lie Put Wie mengantarkan tamunya sampai ke luar. Kong-sun Kian dan Kong-sun Ie Jin pun berjalan pulang ke kediaman mereka. Sesudah itu, Lie Put Wie kembali dengan muka cemberut. Mungkin ia cemburu karena melihat Chu Sie bercumbu begitu mesra di depan matanya sendiri. Namun, karena umpannya sudah mengena dan ikan yang terpancing pun ikan raksasa, Lie Put Wie mencoba melupakan adegan sandiwara yang disutradarainya itu.
"Chu Sie," kata Lie Put Wie. "Sekarang waktu pernikahanmu dengan Ie Jin sudah pasti terjadi. Kau harus bersabar dan tinggal menunggunya. Tapi ingat baik-baik, di kemudian hari jika kau sudah mendapat kesenangan, jangan lupakan aku!"
"Kanda jangan khawatir, aku tidak akan melupakan semua janjiku!" ujar Chu Sie.
Sepulang dari rumah Lie Put Wie, hati Kong-sun Ie Jin selalu teringat pada Chu Sie. Sejak hari itu, Ie Jin tidak enak makan dan tidur. Dia selalu gelisah dan khawatir jika sampai Lie Put Wie ingkar janji. Maka, ia sering meminta Kong-sun Kian untuk menemui Lie Put Wie dan menanyakan perihal pernikahannya dengan Chu Sie. Sebenarnya bukan hanya Kong-sun Ie Jin saja yang berharap pernikahan itu segera terlaksana, Lie Put Wie pun sudah tidak sabar lagi.
Ketika Kong-sun Kian datang mewakili Kong-sun Ie Jin untuk menanyakan perihal pernikahan, Lie Put Wie girang bukan main. Lalu mereka merundingkan pelaksanaan hari bahagia itu.
"Kapan hari yang baik untuk menikahkan mereka?" desak Kong-sun Kian.
"Kurasa tanggal 25 bulan sembilan Imlek (*Kauw-gwee Ji-gouw*) adalah hari yang terbaik untuk melangsungkan pernikahan mereka. Pada hari itu, aku akan mengantarkan Chu Sie kepada Kong-sun Ie Jin," usul Lie Put Wie.
"Ya, kurasa hari itu cukup bagus!" jawab Kong-sun Kian. Setelah itu, Kong-sun Kian segera kembali ke gedungnya untuk memberitahukan hal tersebut kepada Ie Jin.
Bukan main girangnya Kong-sun Ie Jin mendengar kabar itu. Hari demi hari ia menantikan tanggal pernikahannya dengan Chu Sie. Tak terasa waktu pun berjalan dengan cepat. Tepat pada hari yang ditentukan, Lie Put Wie datang membawa Chu Sie kepada Kong-sun Kian.
"Sesuai janjiku, hari ini aku datang membawa Chu Sie ke tempatmu!" kata Lie Put Wie.
"Terima kasih, Tuan Lie! Aku tidak akan melupakan budi baikmu ini!" kata Kong-sun Ie Jin gembira.
Hari itu juga Kong-sun Ie Jin dan Chu Sie dinikahkan. Dengan mengadakan pesta makan dan mengundang beberapa sahabat dekat, pesta pernikahan pun diadakan dengan meriah. Tentu saja baik Kong-sun Ie Jin maupun Chu Sie amat bahagia.
Pada tahun Cin Ciauw Ong ke-55 bulan empat (*Sie-gwee*), tiba saatnya Chu Sie melahirkan. Secara logika, usia kandungannya belum genap sembilan bulan sejak dia menikah dengan Kong-sun Ie Jin. Menurut hitungan, seharusnya usia bayi dalam kandungan Chu Sie baru delapan bulan. Namun, karena sebelum mereka menikah Chu Sie sebenarnya sudah hamil dua bulan, berarti usia kandungan Chu Sie sudah mencapai sepuluh bulan.
Ketika Chu Sie merasakan perutnya mulas, dia merasa khawatir jika hari itu dia melahirkan, sebab Ie Jin pasti akan curiga. Maka, Chu Sie memohon kepada Tuhan supaya kelahiran anaknya bisa mundur dua bulan lagi, agar orang tidak mengetahui bahwa benih dalam kandungannya itu bukan milik Kong-sun Kian.
Chu Sie bersujud di depan altar sambil berkata, "Jika betul di kemudian hari anak saya memiliki peruntungan sebagai seorang raja negeri Cin, kuharap Tuhan bisa menambah lagi usia kehamilanku selama dua bulan."
Sesudah itu, Chu Sie bangun. Ajaibnya, rasa mulas itu hilang dengan sendirinya. Pada bulan berikutnya pun tidak terasa apa-apa, baru setelah genap dua belas bulan, ia melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi itu sangat tampan dan berkulit putih, hidungnya mancung, matanya jeli, dan di punggungnya terdapat tanda seperti sisik ikan. Begitu lahir, semua gigi bayi itu sudah lengkap.
Mendengar istrinya melahirkan bayi laki-laki, bukan main girangnya Kong-sun Ie Jin. Dia yakin anak itu bukan anak sembarangan, lalu memberinya nama Cu Ceng. Kabar menggembirakan itu segera diberitahukan kepada Lie Put Wie. Mendengar kabar tersebut, Lie Put Wie menjadi girang sekali. Ia buru-buru pergi ke rumah Kong-sun Kian untuk mengucapkan selamat kepada Kong-sun Ie Jin dan Chu Sie. Sejak saat itu, Lie Put Wie setiap hari datang ke rumah Kong-sun Kian untuk mengintai gerak-gerik mereka.
Sesudah lewat beberapa hari, Lie Put Wie mengetahui bahwa Kong-sun Kian akan melatih tentara. Kabar ini tidak disia-siakannya. Dia datang ke rumah Kong-sun Kian dengan alasan menjenguk bayi, padahal ia ingin menyampaikan niatnya untuk meloloskan Kong-sun Ie Jin dari pengawasan Kong-sun Kian.
Begitu bertemu dengan Kong-sun Ie Jin, Lie Put Wie berbisik sambil tersenyum, "Aku rasa sekarang sudah tiba saatnya kau kabur dari sini. Nanti akan aku beri tahu Kong-sun Kian bahwa ibu Chu Sie ingin bertemu dengan anak dan cucunya. Jika Chu Sie sudah berada di rumahku bersama anakmu, aku akan meminta bantuan ayahku dan keluarganya untuk segera berangkat ke negeri Cin. Bagaimana?"
"Oh, terima kasih! Aku setuju saja. Terserah Tuan bagaimana baiknya," kata Kong-sun Ie Jin girang bukan main. Sesudah itu, Lie Put Wie segera pamit pulang. Sepulangnya, Kong-sun Ie Jin memberitahu Chu Sie mengenai rencana tersebut.
"Tak lama lagi akan datang utusan yang memintamu pulang. Setelah itu, kau akan ikut ke rumah Lie Put Wie. Selanjutnya bersama ayah Lie Put Wie, kau bisa kabur ke negeri Cin," jelas Kong-sun Ie Jin. Mendengar kabar itu, bukan main senangnya Chu Sie.
Beberapa hari kemudian, Lie Put Wie memberitahukan rencananya kepada ayahnya, Lie Ong. "Sudah tiba saatnya untuk menjalankan rencana besar kita," kata Lie Put Wie. "Aku akan segera membawa Kong-sun Ie Jin pergi ke negeri Cin. Ayah boleh segera menyuruh seorang perempuan tua memanggil Chu Sie kemari. Katakan dia diminta menginap di sini beberapa malam karena ibunya sangat rindu. Jika sudah berhasil, tolong Ayah segera bawa Chu Sie pergi ke negeri Cin."
Mendengar anaknya akan melaksanakan rencana besar tersebut, Lie Ong girang. Dia mengangguk dan siap membantu. Kemudian dia menyuruh seorang perempuan tua pergi ke rumah Kong-sun Kian untuk menjemput Chu Sie dan anaknya. Begitu sampai di sana, perempuan tua itu segera menjalankan sandiwara sesuai skenario Lie Put Wie.
Kong-sun Ie Jin tidak langsung mengabulkan permintaan itu, melainkan memberitahukannya kepada Kong-sun Kian terlebih dahulu. "Tuan, di luar ada seorang perempuan tua utusan ibu Chu Sie. Dia bilang ibu Chu Sie sangat rindu pada anak dan cucunya, maka dia minta agar Chu Sie diizinkan bermalam di sana. Bagaimana menurut pendapat Tuan?"
"Jika betul begitu, mengapa kita harus keberatan?" kata Kong-sun Kian. "Biarkan Chu Sie menemui ibunya, apa salahnya?" Mendengar hal itu, Kong-sun Ie Jin mengucapkan terima kasih dan mengizinkan istrinya pergi ke rumah Lie Put Wie.
Hari itu rumah Lie Put Wie sangat sibuk. Ia mengatur ayahnya agar bersiap mengemasi semua barang berharga. Put Wie juga memerintahkan pegawainya menyediakan kereta dengan kuda-kuda yang kuat karena mereka akan segera berangkat ke negeri Cin.
Esok paginya, kira-kira pukul lima pagi saat pintu kota baru dibuka, Lie Put Wie meminta ayahnya membawa Chu Sie beserta anaknya berangkat ke negeri Cin.
Pagi-pagi sekali pada hari berikutnya, Kong-sun Kian pergi melatih angkatan perang di alun-alun negara sebagaimana rutinitasnya. Pada hari ketiga, ketika Kong-sun Kian telah menyelesaikan tugasnya mengajar tentara, Lie Put Wie sengaja datang berkunjung. Melihat kedatangan sahabat baiknya, Kong-sun Kian tertawa menyambutnya.