Chapter 07
"Baru saja saya mau menyuruh orang mengundang Anda, Sobat! Kebetulan Anda sampai lebih dulu. Hari ini saya sedang bersantai. Iseng-iseng saya mau mengajak Anda bermain Tio-kie. Aku tidak tahu apakah Anda mau atau tidak. Kau mengerti permainan Tio-kie?" (Tio-kie adalah catur Tiongkok).
"Kebetulan aku sedikit mengerti," kata Lie Put Wie. "Tapi saya punya usul."
"Usul apa?" tanya Kong-sun Kian.
"Aku rasa jika hanya bermain Tio-kie tanpa taruhan, rasanya tidak menarik. Jadi saya usulkan bagaimana kalau kita bertaruh?" kata Put Wie.
"Apa taruhannya?" tanya tuan rumah sambil tersenyum.
"Jika salah seorang sampai kalah sebanyak tiga kali, dia harus menyediakan satu meja makan lengkap dengan arak untuk kita nikmati bersama," kata Lie Put Wie.
Mendengar usul Lie Put Wie tersebut, Kong-sun Kian tersenyum. "Baik!" kata tuan rumah.
Segera biji-biji caturnya ditata dan mereka berdua mulai bermain dengan asyik. Lie Put Wie yang memiliki rencana busuk sengaja mengalah dalam permainan itu. Terus-menerus ia dikalahkan oleh tuan rumah hingga tiga kali berturut-turut.
Lie Put Wie tertawa sambil berkata, "Saya mengaku kalah dan akan menyiapkan meja makan serta arak terbaik untuk Tuan!"
Saat itu, Kong-sun Ie Jin ikut menyaksikan permainan mereka. Ia duduk di samping Lie Put Wie. Iseng-iseng Lie Put Wie bertanya kepada Kong-sun Ie Jin. "Apakah Anda mengerti juga permainan Tio-kie, Saudara Ie Jin?"
"Orang di negeri Cin sangat menyukai permainan ini. Aku sendiri sejak kecil sudah belajar bermain Tio-kie dan mengerti aturan mainnya. Bukan bermaksud sombong, jika bermain, aku siap memberi keuntungan empat sampai lima biji catur kepada lawan. Karena aku sudah menguasai taktiknya, aku selalu bisa memenangkan permainan," jawab Kong-sun Ie Jin.
"Kalau begitu, kau boleh coba bermain dengan Kong-sun Ie Jin. Aku ingin tahu siapa yang menang," kata Kong-sun Kian kepada Lie Put Wie.
"Baik. Mari kita main, tapi aku minta diberi keuntungan empat biji catur!" kata Lie Put Wie.
Namun, ucapan Kong-sun Ie Jin memang bukan sekadar omong kosong. Kembali tiga kali berturut-turut, Lie Put Wie kalah.
Lie Put Wie tertawa dan berkata, "Sudah, aku mengaku kalah! Aku akan menyiapkan dua meja makan dengan senang hati. Sebenarnya beberapa hari yang lalu pun, aku ingin mentraktir kalian berdua. Saya ingin mengajak makan dan minum di kebun bunga Lee Cun Koan karena di sana tersedia makanan yang sangat lezat. Tadinya memang aku akan mengundang kalian berdua ke rumah, tapi kupikir kurang nyaman makan di rumahku. Maka kuputuskan mengundang kalian ke Lee Cun Koan. Kuharap tanpa diundang lagi, kalian bisa langsung datang ke sana! Aku akan menunggu kalian."
Sesudah itu, Lie Put Wie pamit dan pulang dengan hati gembira. Kebun bunga Lee Cun Koan letaknya berada di luar pintu kota, jauhnya sekitar empat li dari gerbang.
Esok harinya, pagi-pagi sekali Lie Put Wie bersama para pengikutnya membawa berbagai makanan lezat ke Lee Cun Koan. Bersama mereka ikut pula satu grup pemain wayang perempuan. Mereka sengaja disediakan untuk menghibur saat acara makan dan minum.
Kong-sun Kian bersama Ie Jin menunggang kuda pergi menuju ke kebun Lee Cun Koan. Setelah sampai, mereka melihat Lie Put Wie sudah tiba lebih dulu. Tak hanya itu, semua makanan sudah tersedia di meja. Saat itu, Kong-sun Kian merasa sangat senang.
Melihat tamu-tamu itu sudah datang, para pelayan tampak sibuk menyambut dan melayani mereka. Lie Put Wie dengan ramah menyambut kedua tamu agungnya sambil tertawa riang.
Kong-sun Kian segera meminum arak sebanyak-banyaknya. Tak lama kemudian, ia pun mulai mabuk. Kehadiran para penari yang cantik dipadu dengan minuman keras terbaik membuat Kong-sun Kian semakin tidak sadarkan diri.
Melihat Kong-sun Kian sudah mabuk dan tertidur, Lie Put Wie tersenyum penuh arti. Lalu ia memerintahkan anak buahnya untuk menggotong dan menidurkannya di sebuah ranjang. Melihat apa yang terjadi, Kong-sun Ie Jin tahu bahwa semua itu telah diatur oleh Lie Put Wie untuk menolong dirinya.
Sekitar pukul dua belas tengah malam, Kong-sun Kian dan orang-orangnya sudah benar-benar mabuk. Melihat kondisi tersebut, Lie Put Wie segera mengajak Ie Jin dan pengikutnya naik kuda, lalu memacunya dengan cepat menuju ke negeri Cin. Kuda milik Kong-sun Kian pun dibawa kabur oleh Lie Put Wie; tidak seekor kuda pun yang mereka sisakan.
Pukul dua tengah malam, barulah Kong-sun Kian terjaga dari tidurnya. Ia masih merasakan kepalanya pening. Namun, saat ia melihat ke sekeliling, keadaan sangat sunyi. Tak ada seorang pun di tempat itu. Buru-buru ia bangun untuk memeriksa lebih teliti. Ternyata Lie Put Wie maupun Kong-sun Ie Jin sudah tidak ada di sana.
Kong-sun Kian kaget setengah mati. Ia langsung menduga bahwa mereka telah melarikan diri. Ketika ia memeriksa anak buahnya, semua masih tertidur lelap. Segera Kong-sun Kian membangunkan mereka untuk mencari Lie Put Wie dan Kong-sun Ie Jin. Selang beberapa lama, anak buahnya kembali dan melapor bahwa kedua orang yang dicari sudah menghilang. Kuda milik Kong-sun Kian pun ikut hilang bersama kedua buronan itu.
Kong-sun Kian memukuli dadanya sendiri karena kesal. Sekarang Kong-sun Ie Jin telah lenyap dan ia jelas berdosa besar kepada Raja Tio. Dengan perasaan mendongkol, ia pulang dengan berjalan kaki. Ia berpikir masalah ini harus segera dilaporkan kepada Raja Tio. Sekaligus ia akan meminta izin agar diperbolehkan membawa angkatan perang untuk menyusul Kong-sun Ie Jin.
Lie Put Wie memang sudah memperhitungkan lebih dulu apa yang akan dilakukan oleh Kong-sun Kian jika mereka kabur. Itulah sebabnya ia mencuri kuda Kong-sun Kian supaya jenderal itu tidak bisa segera menyusul mereka.
Malam itu juga, Kong-sun Kian berjalan setengah berlari pulang ke dalam kota. Setelah sampai di pintu kota, waktu menunjukkan pukul tiga lewat. Pintu kota masih tertutup, jadi apa boleh buat, ia harus menunggu sampai pagi baru bisa masuk ke dalam kota. Itu sudah menjadi peraturan di negeri Tio; jika bukan perintah dari raja, pintu kota tidak boleh dibuka pada waktu malam.
Sementara itu, dikisahkan Lie Put Wie yang melarikan diri semalaman sudah berada ratusan li jauhnya.
Begitu pintu kota terbuka, Kong-sun Kian langsung masuk. Pertama-tama ia mengepung rumah Lie Put Wie. Kong-sun Kian lalu memanggil tetangga rumah Lie Put Wie dan menanyakan ke mana perginya Lie Put Wie.
"Kami tidak tahu! Sejak kemarin rumah itu sudah mereka kunci. Beberapa hari yang lalu mereka juga kelihatan sangat sibuk seperti mau pergi jauh!" kata tetangga Lie Put Wie.
Mendengar laporan itu, Kong-sun Kian merasa sangat mendongkol. Hatinya geram dan pedih. "Sial! Ternyata aku telah ditipu mentah-mentah oleh mereka! Tak kusangka Lie Put Wie yang selama ini begitu baik ternyata seekor ular yang licik!" kata Kong-sun Kian kesal.
Kemudian Kong-sun Kian segera pergi ke istana untuk menemui Tio Ong. Namun, begitu sampai di depan pintu istana, Kong-sun Kian kaget melihat ada papan tergantung di sana. Papan itu bertuliskan "Hwe Pi", yang artinya tidak mau menerima tamu.
Melihat papan pengumuman itu, Kong-sun Kian menjadi bingung dan terkejut. Buru-buru ia pergi ke rumah Perdana Menteri Lan Siang Ji untuk meminta pertolongan. Kecerdasan Perdana Menteri negeri Tio ini memang tidak diragukan lagi.
Sesudah bertemu dengan Lan Siang Ji, Kong-sun Kian berlutut memberi hormat.
"Saudara Kong-sun Kian, ada masalah apa kau datang menemuiku?" kata Siang Ji.
Kong-sun Kian lalu mengisahkan pengalamannya menjaga Kong-sun Ie Jin sampai ia berkenalan dengan Lie Put Wie. Kemudian ia menceritakan bagaimana ia telah ditipu oleh Lie Put Wie.
Sesudah mendengar keterangan dari Kong-sun Kian, Lan Siang Ji terkejut. Ia berkata, "Dalam satu dua tahun ini, tentara negeri Cin tidak berani menyerang negeri kita karena Kong-sun Ie Jin ada di tangan kita. Sekarang ia sudah dibawa kabur oleh Lie Put Wie yang cerdik. Maka aku yakin tidak lama lagi tentara Cin akan datang menyerang negeri kita! Mengapa Jenderal begitu teledor!"
Kong-sun Kian tetap berlutut tidak mau bangun. Ia memohon pertolongan dari Lan Siang Ji.
"Sudah, jangan berduka. Sekarang beri tahu Tio Ong dan minta pasukan tentara. Jenderal harus mengejar mereka siang dan malam dengan cepat. Barangkali mereka masih bisa terkejar. Segera, jangan sampai terlambat!" kata Lan Siang Ji.
Buru-buru Lan Siang Ji bersama Kong-sun Kian pergi menghadap Tio Ong. Begitu sampai di hadapan Tio Ong, Lan Siang Ji menceritakan perkara yang telah terjadi. Mendengar laporan itu, Tio Ong sangat marah. Tio Ong diam terpaku untuk beberapa lama.
Tak lama kemudian, sambil menunjuk ke arah Kong-sun Kian, ia berkata, "Mengapa kau begitu teledor? Kami sudah menyerahkan pengawasan Kong-sun Ie Jin agar kau jaga baik-baik. Sekarang karena engkau kurang hati-hati, ia bisa kabur begitu saja. Aku yakin, pasti kau telah menerima uang suap darinya! Dosamu sungguh besar!"
Kong-sun Kian bersujud dan tidak berani mengangkat mukanya. Lan Siang Ji lantas berkata, "Memang benar Kong-sun Kian berdosa besar, tapi sebaiknya Tuanku segera memerintahkannya membawa pasukan untuk menyusul Kong-sun Ie Jin. Barangkali masih bisa dikejar!"
"Sekarang engkau boleh membawa tentara untuk menangkap Kong-sun Ie Jin! Jika kau tidak bisa menangkap mereka, kau tidak usah kembali lagi ke mari!" kata Raja Tio dengan marah.
Dengan membawa anak buahnya, Kong-sun Kian segera melakukan pengejaran.
Lan Siang Ji berkata lagi kepada Tio Ong, "Sekarang, Baginda Raja, perintahkan seorang panglima dengan menunggang kuda tercepat untuk memberi tahu Li Kee Siok agar ia menjaga kotanya baik-baik serta memeriksa setiap orang yang mau keluar kota. Jangan sampai Kong-sun Ie Jin dan kawan-kawannya bisa lewat."
"Tapi tadi sudah kita perintahkan Kong-sun Kian mengejar mereka!" kata Tio Ong.
"Hamba khawatir karena Kong-sun Kian membawa tentara dalam jumlah banyak, ia tidak bisa buru-buru mengejar Kong-sun Ie Jin!" kata Lan Siang Ji.