Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 08

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 08

"Baiklah!" kata Tio Ong.

Segera ia memerintahkan seorang panglima pergi memberitahukan Li Kee Siok sesuai nasihat Lan Siang Ji.

Kisah perjalanan Lie Put Wie dan rombongannya melesat seperti anak panah. Tidak sampai sehari, mereka telah sampai di Kota Ciang-ho. Lie Put Wie menyuruh Kong-sun Ie Jin bertukar pakaian, dengan demikian mereka mungkin bisa keluar dari pintu kota.

Penjaga kota itu adalah Li Kee Siok. Kebetulan ia memang sangat baik kepada Lie Put Wie; Kee Siok sering menerima barang antaran darinya. Waktu itu, ketika ia melihat Lie Put Wie bersama pengikutnya lewat pintu kota, ia langsung menyapanya. "Tuan Put Wie, Anda mau ke mana?" "Aku mau pergi berdagang ke negeri lain!" kata Lie Put Wie.

"Singgahlah sebentar untuk minum-minum!" ajak Kee Siok. "Terima kasih, Tuan! Sekarang aku mau pergi berdagang, nanti sekembalinya aku dari bepergian, aku pasti akan memenuhi undanganmu!" ujar Put Wie menolak. Karena Put Wie memang sering bepergian ke negeri lain, Li Kee Siok jadi tidak curiga. Ia membiarkan Lie Put Wie lewat dengan aman, padahal di antara orang-orangnya terselip Kong-sun Ie Jin, sang buronan yang tengah dikejar negara.

Ketika Lie Put Wie sudah melewati pintu kota yang dijaga oleh Li Kee Siok selama setengah hari, barulah Li Kee Siok menerima kedatangan utusan dari Tio Ong yang meminta agar ia memeriksa setiap orang yang hendak keluar kota. Pasalnya, Kong-sun Ie Jin telah dibawa lari oleh Lie Put Wie. Dengan pemeriksaan dan penjagaan ketat, diharapkan para buronan itu tidak bisa meloloskan diri. Bahkan dalam surat Raja Tio diperintahkan agar Li Kee Siok segera menangkap para buronan itu untuk dikirim kembali ke kota raja.

Begitu selesai membaca surat dari Tio Ong, Li Kee Siok merasa kesal. Ia membanting-banting kakinya dan berkata, "Tadi pagi Lie Put Wie bersama anak buahnya sudah lewat di tempat ini, pasti Kong-sun Ie Jin ada bersamanya dalam rombongan itu!" Li Kee Siok bersama Ie Ho segera membawa tiga ratus serdadu berkuda siap menyusul para pelarian itu.

Dikisahkan Lie Put Wie bersama Kong-sun Ie Jin telah berhasil melewati Kota Ciang-ho dengan selamat. Siang dan malam mereka berjalan dengan cepat sampai keesokan harinya. Akhirnya, mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho. Sayang, sungai tersebut sangat luas dan dalam. Lie Put Wie tidak menemukan sebuah perahu pun di sana.

Ketika mereka sedang kebingungan mencari perahu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kaki kuda para pengejar. Jika mereka tidak buru-buru menyeberang, mereka akan tertangkap. Lie Put Wie dan Kong-sun Ie Jin kaget setengah mati dan panik bukan main. Dari kejauhan sudah tampak debu yang mengepul ke atas begitu tebal, menandakan para pengejar berjumlah sangat banyak. Melihat hal itu, Ie Jin menjadi sangat ketakutan karena menduga tentara negeri Tio pasti telah menyusul mereka. Kong-sun Ie Jin menarik napas dan berkata, "Celaka, pasti kita akan tertangkap kembali."

Tiba-tiba dari arah timur datang pasukan berkuda. "Celaka, sekarang kita malah dikepung dari dua arah!" kata Ie Jin makin cemas. Kecemasan Ie Jin tidak diikuti Lie Put Wie. Ia malah mengawasi dengan teliti arah datangnya angkatan perang dari arah timur itu. Ternyata itu bukan pasukan musuh, melainkan angkatan perang negeri Cin. Maka Lie Put Wie langsung berkata, "Thian He (anak raja) tidak usah takut, ternyata kita mendapat pertolongan dari tentara Cin." Mendengar hal itu, Kong-sun Ie Jin menjadi tenang.

Tidak berapa lama, pasukan Cin itu sudah sampai. Seorang jenderal perang memberi hormat pada Ie Jin. "Hamba Jenderal Ciang Ham datang menghadap. Hamba mendapat perintah dari An Kok Kun untuk menyambut Thian He di sini. Tetapi sekarang hamba akan menyambut musuh yang datang mengejar Tian He," kata Ciang Ham. Ciang Ham segera mengatur angkatan perangnya. Tak berapa lama, Li Kee Siok dan Ie Ho bersama angkatan perangnya tiba. Tanpa banyak bertanya, Ciang Ham langsung menyerang.

Ciang Ham segera memerintahkan anak buahnya maju untuk bertempur dengan sekuat tenaga. "Hai orang negeri Tio, sebaiknya kalian kembali kalau masih ingin menikmati hidup!" teriak Ciang Ham. Mendengar kata-kata itu, Jenderal Ie Ho merasa panas. Kemudian ia segera menyerang Jenderal Ciang Ham. "Bangsat! Kau jangan besar mulut di depanku! Kalau kau memang jago, sekarang terimalah seranganku!" Ie Ho segera menyerang Ciang Ham dengan ganasnya. Melihat lawannya seperti kesetanan, Jenderal Ciang Ham segera meladeni musuhnya itu. Pertempuran itu berlangsung seru, tetapi ternyata Ie Ho bukan tandingan Jenderal Ciang Ham. Baru saja bertempur tiga puluh jurus, Ciang Ham sudah berhasil menombak perut Ie Ho hingga tewas.

Melihat Ie Ho tewas oleh musuh, Li Kee Siok dan anak buahnya kaget. Ia yakin tidak akan mampu melawan musuhnya. Maka Li Kee Siok bersama anak buahnya memutuskan untuk kabur. Ketika Ciang Ham hendak memburu Li Kee Siok beserta anak buahnya, ia kaget karena dari jauh ia melihat kedatangan tentara Tio yang baru. Ketika diamati, ternyata pasukan Tio itu dipimpin oleh Kong-sun Kian.

"Hai panglima, segera serahkan Kong-sun Ie Jin pada kami, jika kau mau selamat!" kata Kong-sun Kian dengan suara nyaring. "Dia akan kami bawa pulang ke negeri Tio. Kalian jangan mendengarkan kata-kata Lie Put Wie yang berakal licik. Dia sengaja ingin membuat negeri kita saling bermusuhan!"

Mendengar kata-kata itu, Ciang Ham tertawa. "Kau begitu bodoh, negeri Cin tidak mau berdamai dengan negeri Tio. Dulu kami tidak mau menyerang negerimu karena Kong-sun Ie Jin ada di tangan rajamu. Sekarang Kong-sun Ie Jin sudah pulang, maka kau boleh bersiap-siap untuk mati. Tidak lama lagi negeri Cin bersama tentara-tentaranya akan datang menyerang negerimu!"

Mendengar ejekan Ciang Ham, Kong-sun Kian menjadi sangat marah. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung mengangkat goloknya dan menerjang ke arah Ciang Ham. Ciang Ham langsung menyambut serangan itu dengan gagah berani. Baru berperang sekitar tiga puluh jurus, ternyata Kong-sun Kian pun bukan lawan jenderal Cin yang gagah itu. Karena merasa sudah tidak tahan, buru-buru Kong-sun Kian melarikan diri.

Ciang Ham mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengejar musuh. Pasukan negeri Tio dibuat kocar-kacir. Hampir separuh tentara negeri Tio terbunuh dalam perangan itu. Untung Kong-sun Kian sempat kabur jauh, kalau tidak nyawanya pasti melayang di tangan musuh.

Melihat tentara musuh kabur, Ciang Ham tidak bernafsu lagi untuk mengejar mereka karena ia masih punya tugas yang lebih penting, yaitu mengawal Kong-sun Ie Jin kembali ke negeri Cin. Tidak berapa lama, mereka sudah menyeberangi Sungai Huang-ho. Dan dalam waktu setengah hari, mereka telah sampai di Kota Ham-yang.

Begitu sampai, Kong-sun Ie Jin langsung masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan An Kok Kun dan Hoa Yang Hu-jin. Buru-buru Kong-sun Ie Jin berlutut memberi hormat sambil menangis. Kemudian Kong-sun Ie Jin menceritakan bagaimana menderitanya ia ditawan di negeri orang. Ie Jin mengatakan bahwa ia sangat rindu pada An Kok Kun maupun Hoa Yang Hu-jin yang dianggap sebagai orang tua sendiri.

Betapa girangnya An Kok Kun dan Hoa Yang Hu-jin mendengar ucapan itu. Hoa Yang Hu-jin langsung berkata kepada suaminya, "Thian He telah memberi izin untuk mengambil Ie Jin sebagai anakku," kata Hoa Yang. "Maka sekarang saya ingin mengganti namanya. Karena saya orang dari negeri Couw, maka nama Ie Jin kuganti menjadi Chu Couw," kata Hoa Yang. "Baiklah, semua itu terserah padamu saja," kata An Kok Kun. "Suruh Chu Couw tinggal di Istana Tang Kiong Ya!"

Pada suatu hari, An Kok Kun memberitahu ayahnya, Cin Ciauw Ong, bahwa Lie Put Wie telah berjasa besar menyelamatkan Kong-sun Ie Jin yang sekarang bernama Chu Couw. An Kok Kun meminta supaya Cin Ciauw Ong mau memberi pangkat pada Lie Put Wie. "Atas semua jasa-jasanya itu, hamba mohon Ayahanda mau menganugerahkan pangkat yang tinggi baginya!" kata An Kok Kun.

Setelah mendengar laporan An Kok Kun, Cin Ciauw Ong segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Lie Put Wie. Setelah berada di hadapannya, Raja Cin segera bersabda, "Lie Put Wie, kau telah berjasa besar menyelamatkan cucuku! Sekarang kuangkat kau menjadi Tay-cu Siauw Hu (Guru Raja Muda)!" Mendengar pengangkatan itu, Lie Put Wie buru-buru berlutut untuk menghaturkan terima kasih.

Lie Put Wie yang sangat berambisi sering menemui Hong Ie dan sering meminta Hong Ie untuk menolong Chu Couw agar segera diangkat menjadi Tay-cu (Pangeran). Berbagai barang mewah dikirim Lie Put Wie untuk memuluskan rencananya. Karena sering mendapat kiriman barang berharga, akhirnya Hong Ie merasa tidak enak.

Suatu hari Hong Ie datang menghadap Hoa Yang Hu-jin. Ia pun segera membujuk Hoa Yang agar mendesak suaminya untuk segera menetapkan Chu Couw menjadi Tay-cu. "Dengan menjadikan Chu Couw sebagai Tay-cu, maka kau akan mendapat keuntungan besar dan kedudukan terhormat suatu hari nanti," bujuk Hong Ie.

Pada suatu hari, Hoa Yang Hu-jin yang sangat dicintai oleh An Kok Kun berkata kepada suaminya, "Thian He, benarkah kau telah memberi izin aku mengangkat Chu Couw jadi anakku?" "Isteriku, bukankah sudah berkali-kali kukatakan bahwa Chu Couw telah kuangkat menjadi anak kita! Mengapa sekarang kau bertanya lagi?" tanya An Kok Kun kebingungan. "Bukan begitu, Kanda! Kanda memang telah mengangkatnya menjadi anak, tapi mengapa hingga kini Kanda belum mengumumkan hal ini pada menteri-menteri yang ada di istana bahwa dia adalah Tay-cu. Bahkan nama Chu Couw belum tercatat dalam lembaran negara," kata Ho Yang Hu-jin mulai merajuk suaminya. "Aku harap supaya namanya diumumkan menjadi Tay-cu, jangan sampai di kemudian hari anak-anak yang lain jadi berebut kedudukan," kata Hoa Yang. "Baiklah, kalau itu memang keinginanmu," jawab An Kok Kun tanpa pikir lagi.

Lie Put Wie sengaja mengumpulkan orang-orang pandai dan para cendekiawan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment