Chapter 09
Mereka diberi tugas untuk membuat kitab-kitab peraturan dan agama, seperti kitab *Liok Lun*, *Pat Lam*, *Sip Ji Ki*, dan *Ji Sip I Ban Gan*.
Hal ini karena Lie Put Wie berambisi namanya termasyhur seperti para nabi.
Kemudian, ia menyiarkan kitab itu agar dibaca oleh semua orang di dunia.
Diketahui bahwa sejak kecil, Cin Si Ong sangat pandai.
Ia melihat bagaimana Lie Put Wie berani keluar masuk istana secara sembarangan.
Sekalipun belum mengetahui bahwa Lie Put Wie berbuat serong dengan ibunya, Cin Si Ong sudah sangat tidak senang dengan tingkah laku Lie Put Wie.
Namun, Cin Sie Ong tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu pun berjalan cepat.
Cin Si Ong yang mulai besar menjadi semakin cerdik.
Sementara itu, Lie Put Wie yang harus terus melayani nafsu birahi Chu Sie semakin menua.
Jadi, ia mulai kewalahan sendiri.
Ditambah lagi, sekarang Cin Si Ong sudah makin dewasa.
Tentu saja, Lie Put Wie mulai agak gentar melihat perkembangan Cin Si Ong itu, meskipun sebenarnya Cin Si Ong adalah anak kandungnya sendiri.
Lie Put Wie pun tidak punya keberanian untuk mengungkap "misteri" yang ada dalam kehidupan mereka.
Sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, Lie Put Wie mulai tidak berani keluar masuk seenaknya lagi.
Namun, Ong Tay Houw Chu Sie yang nafsu birahinya sangat menggebu menjadi keheranan saat ia tidak bisa bertemu dengan Lie Put Wie.
Karena Lie Put Wie tidak pernah datang, Chu Sie sering menyuruh orang memanggil Put Wie agar masuk ke istana.
Lie Put Wie berpikir, jika ia menuruti kehendak bekas gundiknya itu, sungguh sangat berbahaya, apalagi jika kepergok oleh Cin Sie Ong.
Karena ia memang seorang yang cerdik, ia segera mencarikan seorang pengganti dirinya.
Orang itu diharuskan menyamar sehingga tidak dicurigai siapa pun.
Orang yang disusupkan itu bernama Lo Ai.
Ia lalu disuruh menyamar menjadi seorang *thay-kam* (eunuk).
Kemudian, Lo Ai diselundupkan ke dalam istana dengan tugas khusus.
Sepanjang hari, tugasnya hanya memuaskan nafsu Ong Tay Houw.
Sejak mendapatkan Lo Ai yang gagah perkasa itu, Ong Tay Houw tidak pernah memanggil Lie Put Wie lagi.
Ong Tay Houw terlalu sayang pada Lo Ai.
Siang dan malam mereka bercinta sambil sembunyi-sembunyi dari pengawasan Cin Si Ong saja.
Selain Cin Si Ong, tidak ada yang mereka takuti.
Bahkan, seluruh penghuni istana sudah tahu perbuatan mereka, tetapi tidak seorang pun yang berani buka mulut.
Tak terasa, hubungan gelap itu sudah berjalan empat tahun lamanya.
Hubungan mereka membuahkan dua orang anak laki-laki.
Kedua anak mereka disembunyikan di dalam istana agar Cin Si Ong tidak mengetahuinya.
Pada suatu hari, saat bulan *gogouw*, yaitu pada tanggal lima bulan lima saat sembahyang *Peh-cun* (Lomba Perahu)—di Indonesia dirayakan dengan makan bacang—Ong Tay Houw sedang minum arak bersama Lo Ai.
Mereka menyuruh seorang pelayan perempuan tua bernama Kui Sie untuk melayani mereka.
Sebenarnya, Kui Sie pernah menjadi selir almarhum Cin Ciauw Ong.
Saat ia sedang melayani dua orang yang tengah mabuk asmara tersebut, dengan tak sengaja perempuan tua ini telah menumpahkan sedikit arak di depan Lo Ai.
Melihat hal itu, Lo Ai lalu memaki-maki Kui Sie tanpa henti.
Kui Sie menjadi kesal mendapat perlakuan itu.
"Aku sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di istana ini, bahkan aku telah merawat almarhum raja terdahulu. Tetapi, belum pernah sekalipun aku dimaki seperti itu. Engkau cuma seorang *thay-kam* busuk, tetapi hari ini kau berani memakiku demikian rupa!" bentak Kui Sie.
Mendengar ucapan Kui Sie, bukan main marahnya Lo Ai.
Ia segera menyuruh orang untuk menyeret Kui Sie ke luar dari istana.
Perlakuan itu membuat Kui Sie sangat dendam dan sakit hati.
Kemudian, Kui Sie pergi ke rumah seorang menteri berpangkat *Tay-hu* yang bernama Tio Ko.
Kepada Tio Ko, Kui Sie mengadukan Lo Ai dan mengatakan bahwa Lo Ai bukan *thay-kam* dan telah main serong dengan Ong Tay Houw hingga mendapat dua orang anak yang disembunyikan di dalam istana.
Mendengar laporan itu, Tio Ko terkejut.
Ia tidak berani menutup lagi rahasia itu, buru-buru hal itu ia laporkan pada Cin Si Ong.
"Demikian informasi yang hamba dengar dari Kui Sie, Tuanku!" kata Tio Ko mengakhiri laporannya.
Mendengar pengaduan itu, bukan main marahnya Cin Si Ong.
Ia segera memerintahkan pengawal untuk menangkap Lo Ai.
Kemudian, *thay-kam* palsu itu langsung digiring ke pengadilan.
Karena takut disiksa, Lo Ai mengaku terus terang.
"Hamba memang bersalah telah menyamar menjadi *thay-kam* dan berhubungan dengan Ibu Suri. Tetapi jangan hukum hamba, Tuanku! Hamba hanya orang suruhan Lie Put Wie!" ujar Lo Ai.
Pengakuan itu malah membuat Lo Ai mendapat hukuman mati.
Cin Si Ong segera menghukum mati Lo Ai beserta seluruh sanak saudaranya, serta membuang dua anak haram dari hasil hubungan Lo Ai dan Ong Tay Houw ke tengah laut.
Kemarahan Cin Si Ong belum reda.
Cin Si Ong juga memerintahkan untuk menghukum buang Ong Tay Houw ke Ki-long dan menangkap Lie Put Wie yang dianggap sebagai dalang dari perselingkuhan itu.
Melihat tindakan Cin Si Ong yang keras dan kejam, para menteri di dalam istana raja menjadi kaget bukan main.
Mereka masing-masing memberi peringatan pada Cin Si Ong.
"Sekalipun benar Ong Tay Houw berbuat salah, tetapi tidak seharusnya seorang anak menghukum ibunya begitu kejam," kata seorang menteri.
Mendengar nasihat itu, kemarahan Cin Si Ong bukannya mereda, malah semakin hebat.
Ia lalu membunuh semua orang yang memberi nasihat agar tidak membuang ibu suri.
Karena itu, sebanyak dua puluh tujuh orang menteri terpaksa dihukum mati karena masih berani memberi nasihat kepada Cin Si Ong.
Bahkan, Cin Si Ong mengeluarkan peringatan dan ancaman: barang siapa yang berani menasihatinya lagi, orang itu akan direbus di dalam minyak panas.
Ancaman ini membuat semua orang ngeri, dan sejak saat itu, tidak ada lagi orang yang berani memberi peringatan pada Cin Si Ong.
Selang beberapa tahun, pada suatu hari telah datang seorang dari negeri Cee.
Orang itu bernama Mauw Ciao.
Begitu sampai di negeri Cin, ia datang ke istana dan mohon bertemu dengan Cin Si Ong.
"Apa maksud kedatangan Tuan ingin bertemu dengan Raja kami?" tanya pengawal istana.
"Aku ingin bertemu dengan Rajamu karena aku mau memberi peringatan padanya!" kata Mauw Ciao.
"Tetapi, tahukah Tuan ancaman dari Raja Cin Si Ong bagi siapa saja yang coba menasihatinya? Jika Tuan berani menasihatinya, maka Tuan akan direbus dalam minyak panas!" kata penjaga istana.
"Aku tahu dan aku sudah mendapat keterangan dari beberapa orang tentang hal ini. Tetapi, aku tidak takut mati! Sekarang cepat katakan bahwa aku ingin menghadap beliau!" kata Mauw Ciao.
Ketika Cin Si Ong mendengar ada orang bernama Mauw Ciao mau bertemu dan akan menasihatinya, Cin Si Ong jadi tertarik, apalagi ia dengar orang itu berasal dari negeri Cee.
Lalu, ia perintahkan agar pengawal memasak minyak panas di dalam kuali besar di depan *Kim Loan Tian* (tempat duduk raja).
Setelah minyak di dalam kuali besar itu mendidih, Cin Si Ong menyuruh orang memanggil Mauw Ciao untuk menghadap.
Tidak lama, Mauw Ciao sudah ada di hadapan Cin Si Ong dan berlutut memberi hormat.
"Siapa namamu, dari mana asal, dan mau apa kau datang ke mari?" kata Cin Si Ong dengan suara keras.
"Nama hamba Mauw Ciao dari negeri Cee. Hamba datang untuk memberi nasihat kepada Tuanku!" jawab Mauw Ciao.
"Apakah kau tidak takut mati?" tanya Cin Si Ong.
"Jika hamba berani datang ke mari, itu suatu bukti bahwa hamba tidak takut mati! Hamba dengar di langit ada dua puluh delapan bintang yang dinamakan *Ji-cap Pat-siu*. Tuan sudah membunuh menteri Tuanku sebanyak dua puluh tujuh orang. Jika Tuan membunuh hamba, maka lengkaplah jumlahnya menjadi dua puluh delapan orang. Hamba seorang yang tidak berguna, kendatipun mati, tidak perlu disayangkan. Cuma...." Mauw Ciao tak melanjutkan.
"Cuma apa?" Cin Si Ong mulai tertarik.
"Cuma sayang, hari ini ada bahaya besar yang sudah ada di depan mata. Sungguh sayang, Tuanku belum menyadari hal itu," kata Mauw Ciao.
Mendengar ucapan Mauw Ciao begitu, Cin Si Ong penasaran.
"Apa maksud perkataanmu itu?" kata Cin Si Ong.
"Bahaya besar? Apa itu? Jika *Tay Ong* (raja besar) mau mendengar cerita hamba, dengan senang hati hamba akan memberitahu *Tay Ong*. Kalau tidak, buat apa hamba cerita! Karena semua itu cuma akan membuat *Tay Ong* marah saja," kata Mauw Ciao.
"Coba kau katakan, kalau pantas, aku akan menuruti nasihatmu itu," kata Cin Si Ong.
"*Tay Ong* sudah membunuh 27 orang menteri yang setia hanya karena mereka memperingatkan *Tay Ong*. Tak hanya itu, Tuanku juga telah membuang Ong Tay Houw, ibu kandung *Tay Ong*, ke tanah Ki-long. Hamba ingatkan, sejak zaman dulu sampai sekarang belum pernah ada seorang anak menghukum ibu kandungnya. Meskipun Raja Tiu Ong terkenal begitu kejam, dia juga tidak pernah berbuat begitu. Jika sekarang *Tay Ong* tidak membawa pulang Ong Tay Houw, seluruh dunia akan menganggap Tuanku seorang raja yang kejam. Jika dunia sampai mendengar masalah ini, siapa yang mau takluk pada *Tay Ong*? Jika semua orang tidak takut dan takluk, maka tak lama lagi bahaya akan datang menyerang *Tay Ong*," kata Mauw Ciao.
Setelah Mauw Ciao berkata begitu, ia lalu membuka bajunya.
"Hai, mau apa kau membuka bajumu?" tanya Cin Si Ong kaget.
"Hamba mau melompat ke dalam kuali minyak mendidih itu. Bukankah Tuanku sudah berkata barang siapa berani menasihati Tuanku, maka dia akan dihukum di dalam minyak mendidih itu! Sekarang hamba akan melaksanakan hukuman itu," kata Mauw Ciauw yang sedikit pun tidak takut mati.
Menyaksikan hal itu, Cin Si Ong bertambah kaget.
Buru-buru ia turun dari tempat duduknya dan langsung memegang tangan Mauw Ciao.
"Sian-seng tunggu dulu! Jangan terburu nafsu! Sekarang aku mau menuruti nasihat Sian-seng," kata Cin Si Ong tanpa ragu.
Begitu selesai bicara, Cin Si Ong lalu mengangkat Mauw Ciao menjadi *Siang Tay-hu*.
Esok harinya...