Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 10

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 10

Cin Si Ong menaiki kereta bersama pengikutnya menuju tanah Ki-long untuk menjemput kembali ibunya. Sejak saat itu, hubungan antara ibu dan anak tersebut membaik kembali. Lie Put Wie pun dibebaskan dari penjara oleh Cin Si Ong.

Lie Put Wie adalah sosok yang sangat terkenal dan dicintai oleh banyak orang yang pernah tinggal di kediamannya. Ketika mereka mendengar bahwa Lie Put Wie telah dibebaskan, mereka berdatangan untuk mengucapkan selamat. Orang-orang berbondong-bondong mengantre demi menemui Lie Put Wie.

Cin Si Ong menerima laporan dari anak buahnya mengenai kejadian ini. Setelah mendengar laporan tersebut, Cin Si Ong menjadi sangat curiga. Ia khawatir di kemudian hari Lie Put Wie akan menjadi ancaman besar bagi kedudukannya. Oleh karena itu, Cin Si Ong berpikir untuk mengusir Lie Put Wie ke tanah Su-coan selamanya dan melarangnya kembali ke kota Ham-yang.

Pada suatu hari, Cin Si Ong mengumpulkan para menterinya untuk bersidang. Ia ingin merundingkan masalah Lie Put Wie. Cin Si Ong merasa curiga dan heran mengapa Lie Put Wie bisa mendapatkan pangkat serta kedudukan yang begitu tinggi di negeri Cin. Para menteri kemudian mengisahkan bagaimana Lie Put Wie telah berhasil membebaskan ayahanda Cin Si Ong ketika ditawan di negeri Tio.

Namun, karena penjelasan tersebut masih kurang memuaskan hatinya, Cin Si Ong menulis sepucuk surat untuk Lie Put Wie. Surat tersebut berbunyi demikian:

"Tuan Lie Put Wie yang terhormat, pertama-tama aku ingin menanyakan bagaimana kau bisa mendapat kedudukan begitu mulia di negeri Cin. Kau mendapatkan pangkat dan gaji yang begitu besar. Kedua, apakah kau masih memiliki hubungan keluarga dengan raja negeri ini sehingga engkau begitu berkuasa di sini, bahkan boleh menyandang gelar Tiong Hu? Hal ini membuatku heran dan tidak mengerti. Sekarang aku memutuskan bahwa engkau selamanya tidak boleh menginjakkan kaki lagi di kota Ham-yang. Ini adalah hukuman yang kuberikan karena aku tidak tega memotong kepalamu. Tertanda, Cin Si Ong."

Surat itu segera dikirimkan kepada Lie Put Wie. Ketika menerimanya, Lie Put Wie sangat terkejut. "Aku sekarang sudah tua, bagaimana aku bisa pergi ke tempat yang begitu jauh?" kata Lie Put Wie sambil menangis. "Tapi jika aku tidak mau pergi, jelas nyawaku akan terancam. Bahkan bukan tidak mungkin Cin Si Ong akan membunuhku. Daripada aku dibunuh oleh anakku sendiri, lebih baik aku bunuh diri saja."

Lie Put Wie sudah kehabisan akal karena sangat berduka dan terdesak oleh darah dagingnya sendiri. Semula ia berharap anak dari benih yang ia tanam dalam kandungan Chu Sie akan menjadi penguasa besar di negeri Cin dan ia bisa hidup bahagia menikmati jerih payahnya. Namun ternyata nasib berkata lain; anaknya justru mencelakakan dirinya. Tanpa bicara lagi kepada keluarganya, ia nekat mencari racun dan meminumnya hingga tewas.

Mendapat laporan bahwa Lie Put Wie bunuh diri, Cin Si Ong merasa puas karena ia tidak perlu lagi turun tangan untuk membunuhnya.

Pada suatu hari, Cin Si Ong kembali mengumpulkan seluruh menteri dan panglima perangnya. Ia ingin mendirikan Kekaisaran Cin yang agung. Setelah para menteri berkumpul, Cin Si Ong mengemukakan keinginannya untuk menyatukan seluruh Tiongkok di bawah kekuasaannya.

"Aku ingin menyatukan negeri ini di bawah perintahku!" kata Cin Si Ong. "Oleh sebab itu, aku ingin bertanya kepada Anda sekalian, apakah kalian memiliki ide atau saran untuk mewujudkan cita-citaku itu?"

Dari sebelah kanan tempat duduk Cin Si Ong, majulah seorang panglima perang bernama Ong Cian. Ong Cian berasal dari Hoo-lam, Tong-in-koan, putra dari Ong Sian Jin. Gurunya bernama Giam Po. Ia datang mengabdi kepada Cin Si Ong bersama muridnya yang bernama Kim Chu Leng. Setelah memberi hormat, Ong Cian mulai bicara.

"Sebelum hamba mengabdi kepada Tuanku, hamba pernah mengembara ke berbagai negeri. Dengan demikian, hamba mengenal adat istiadat serta sifat penduduknya. Selain itu, hamba juga mengenal setiap daerah lengkap dengan keadaannya, baik jalan, gunung, maupun sungainya. Pokoknya hamba tahu benar keadaan negeri mereka," kata Ong Cian.

"Kau tahu tentang negeri Cee?" tanya Cin Si Ong.

"Tahu, Tuanku," jawab Ong Cian. "Setelah dihantam oleh Gak Gee, negeri Cee mengalami kerusakan besar. Sekarang rakyatnya miskin dan rajanya baru saja berganti, sehingga Kerajaan Cee saat ini sangat lemah."

"Bagaimana dengan negeri Yan?" tanya Cin Si Ong.

"Semula negeri Yan sangat hebat. Para menterinya pandai dan panglima perangnya gagah berani. Tapi setelah diserang oleh Gak Gee, negeri Yan kalah karena banyak menteri dan panglimanya yang gugur."

"Bagaimana dengan negeri Couw?" tanya Cin Si Ong lagi.

"Ketika raja terdahulu memerintah, negeri ini sungguh hebat dan menjagoi seluruh Tiongkok. Tapi sekarang rajanya sudah terlalu tua dan kurang bijaksana. Tidak heran jika menteri dan panglimanya membenci dia," kata Ong Cian.

"Kalau begitu, menurutmu negeri apa yang berbahaya bagi negeri kita?" tanya Cin Si Ong.

"Hamba kira hanya negeri Tio!" jawab Ong Cian.

"Mengapa begitu?"

"Ibarat manusia, negeri Tio adalah tenggorokan kita," jawab Ong Cian. "Di negeri Tio ada sebuah kota bernama Kai-pai-koan. Kota inilah yang menjadi andalan mereka. Ke mana pun angkatan perang Tuanku bergerak, kita harus melalui kota itu. Mereka sengaja memperketat penjagaan agar angkatan perang Tuanku tidak bisa bergerak bebas."

Mendengar penjelasan itu, Cin Si Ong mengangguk-angguk.

"Almarhum kakek dan ayahanda Tuanku sudah sering menyerang kota Kai-pai-koan tersebut, tetapi mereka selalu gagal dan angkatan perangnya mengalami kerusakan berat," tambah Ong Cian.

"Kalau begitu, sulit bagi kita untuk mengalahkan mereka?" tanya Cin Si Ong.

"Sekarang tidak lagi!" jawab Ong Cian. "Jenderal perang negeri Tio yang gagah berani sudah tua dan sekarang malas melatih pasukannya. Jadi, saat ini negeri Tio bukan lagi penghalang bagi kita."

"Lalu bagaimana rencanamu?"

"Bagi kita, negeri Tio merupakan tenggorokan. Jika tenggorokan tersumbat, jangankan berkuasa di seluruh Tiongkok, untuk tetap aman di negeri sendiri pun kelak akan terancam. Maka menurut hamba, sebaiknya negeri Tio, terutama kota Kai-pai-koan, harus kita rebut!" ujar Ong Cian.

Cin Si Ong merasa sangat gembira karena saran itu sejalan dengan pikirannya. "Sudah lama aku berkeinginan menaklukkan keenam Raja Muda dan menyatukannya. Kendalanya memang seperti yang kau katakan, kita selalu terhalang di kota Kai-pai-koan milik negeri Tio."

Cin Si Ong kemudian menyepakati pendapat Ong Cian. "Aku setuju, tapi siapa yang akan menjadi panglima perangnya?"

Menteri Kam Lo yang sejak tadi diam kemudian maju menghadap. "Tuanku, hamba usulkan Ciang Ham sebagai Hu-kok-houw (Panglima Perang). Sekalipun sudah tua, ia adalah ahli strategi negeri ini. Sebagai Tay-sian-hong (Panglima Pasukan Pelopor), angkatlah Ong Cian. Panglima lain seperti Tio Ko bisa menjadi Co-kam-kun, Sun Beng menjadi Yu-kam-kun, Gan Cin menjadi Co-kun Tong-leng, Yan Ek menjadi Yu-kun Tong-leng, dan Pek Kie menjadi Bun Han Kun."

"Baik, aku setuju," kata Cin Si Ong. "Dan untuk urusan dalam negeri, kuangkat kau sebagai penguasanya!"

Kam Lo mengucapkan terima kasih. Kemudian Cin Si Ong pergi ke tanah lapang untuk memeriksa angkatan perangnya. Melihat pasukannya berbaris teratur, ia merasa sangat bangga. Setelah upacara persembahyangan bendera selesai, Cin Si Ong kembali ke istana.

Esok harinya, Cin Si Ong mengadakan jamuan makan. Setelah itu, ia memerintahkan Ong Cian membawa 3.000 tentara untuk berangkat lebih dahulu menuju Kai-pai-koan. Kepada Ciang Ham selaku panglima tertinggi, Cin Si Ong memerintahkan untuk memilih 15.000 pasukan terbaik.

"Besok kau sudah boleh langsung berangkat untuk merebut Kai-pai-koan!" perintah Cin Si Ong.

"Baik, Tuanku," jawab Ciang Ham dengan gagah.

Keesokan harinya, setelah bunyi dentuman meriam terdengar, angkatan perang Kerajaan Cin yang dipimpin oleh Ciang Ham dan diikuti oleh Raja Cin Si Ong mulai bergerak. Mereka dielu-elukan oleh rakyat. Beberapa hari kemudian, pasukan yang dipimpin Ong Cian sudah mendekati kota Kai-pai-koan.

Ong Cian melapor, "Kita sudah sampai di dekat kota Kai-pai-koan. Jarak kita sekitar 5-8 li lagi. Apa yang harus hamba lakukan?"

"Cari tempat yang bagus dan dirikan benteng di sana!" perintah Cin Si Ong. Sambil beristirahat, tentara Cin mulai memasak, mengasah senjata, dan berjaga-jaga di sekitar benteng.

Sementara itu, di dalam kota Kai-pai-koan, pertahanan sangat kuat karena dijaga oleh Giam Kiat, putra dari Giam Pho. Kota itu dijaga ketat siang dan malam dengan disiplin tinggi. Saat Giam Kiat berada di kantornya, seorang anak buah datang melapor.

"Tuanku, sekitar 8 li di luar kota, angkatan perang Kerajaan Cin datang menyerang. Hamba rasa mereka akan mulai menggempur besok. Saat ini mereka sedang mendirikan perkemahan karena mungkin masih lelah," lapor prajurit tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa pasukan Cin dipimpin oleh Ciang Ham dan Ong Cian, bahkan Raja Cin Si Ong sendiri ikut serta dalam peperangan tersebut.

"Keluarkan perintah agar rakyat yang masih berada di luar kota segera masuk ke dalam kota!" perintah Giam Kiat tegas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment