Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 11

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 11

"Baik, Tuanku!"

"Jangan lupa siagakan pasukan penjaga benteng kota, sediakan juga anak panah dan batu-batu sebanyak mungkin. Jika musuh datang, serang mereka segera!" kata Giam Kiat.

"Baik, Jenderal!" kata prajurit itu.

Rumah-rumah yang ada di luar tembok kota diperintahkan untuk dibakar oleh Giam Kiat. Hari itu, di luar kota tampak api berkobar-kobar hingga keadaan menjadi terang benderang. Giam Kiat langsung mengumpulkan semua panglima dan mengeluarkan perintah agar mereka siaga penuh menghadapi serangan musuh.

Ketika Giam Kiat naik ke atas menara untuk memeriksa keadaan musuh, dia melihat debu dan asap masih tampak mengepul tinggi. Itu pasti angkatan perang Cin yang baru sampai. Persiapan penjagaan sudah dilakukan dengan sangat rapi. Sekarang rakyat dan tentara negeri Tio di Ki-pai-koan sedang bersiap menanti serangan musuh. Namun, sampai tiga hari tiga malam lamanya, serangan tak kunjung datang.

Dikisahkan di benteng Raja Cin Si Ong, selama tiga hari tiga malam, panglima, prajurit, dan juga kuda-kuda diistirahatkan. Tentara sibuk memberi makan kuda-kuda mereka. Prajurit hanya tampak sedang berlatih. Ada juga yang masih mengasah pedang, golok, tombak, dan sebagainya.

Pada hari keempat, Cin Si Ong mengumpulkan semua panglima perangnya untuk diajak berunding. Sesudah mengatur siasat, Cin Si Ong langsung memberikan perintah kepada Ong Cian.

"Hari ini kau bawa pasukanmu ke depan kota, kau tantang mereka berperang!" kata Cin Si Ong.

"Baik, Tuanku!" kata Ong Cian.

Dengan membawa 3.000 tentaranya, Ong Cian maju ke depan kota Ki-pai-koan. "Hai panglima Tio, keluar! Aku dari Kerajaan Cin Besar telah datang untuk menantang berperang!" teriak Ong Cian.

Mendengar teriakan Ong Cian, penjaga kota melongok ke bawah dan berteriak, "Hai! Kau yang ada di bawah kota, siapa namamu? Beraninya kau datang ke mari menyerang Ki-pai-koan. Jika kau tahu diri, lekas tarik mundur angkatan perangmu sebelum aku lumatkan tubuhmu!" kata panglima penjaga kota.

"Aku panglima besar negeri Cin! Namaku Ong Cian, lekas buka pintu dan menyerah!" kata Ong Cian.

Buru-buru panglima itu menemui Giam Kiat. "Jenderal, di luar Ong Cian dari negeri Cin menantang perang! Kami menunggu perintahmu, Jenderal!" kata panglima itu.

"Aku bertanya pada kalian," kata Giam Kiat pada semua panglimanya. "Siapa di antara kalian yang berani melawan Ong Cian?"

"Hamba siap menghadapinya!" kata Ho Kai Kie.

"Kau bawa 1.000 tentara dan lawan dia! Tapi kau harus berhati-hati!" kata Giam Kiat.

"Baik, Jenderal!" kata Ho Kai Kie.

"Hamba ikut bersamanya!" kata seorang panglima sebelum Ho Kai Kie berangkat.

"Siapa namamu?" tanya Giam Kiat.

"Hamba Ong Kwie!" jawab panglima itu.

Giam Kiat memperhatikan Ong Kwie. Pemuda itu baru berumur 22 tahun, gagah, berani, berbadan tegap, dan tingginya enam kaki. "Jika kau mau ikut, baiklah. Tapi ingat, hati-hati!" kata Giam Kiat.

Mereka berdua segera bersiap dengan membawa pasukan berkuda sebanyak 1.000 orang. Kemudian mereka meminta dibukakan pintu kota. Begitu pintu kota terbuka, mereka langsung keluar dan maju menghadapi musuh, sedangkan pintu kota segera ditutup kembali.

Sampai di luar, Ho Kai Kie dan Ong Kwie memandang ke arah barisan musuh. Dia kagum pasukan Cin berbaris dengan rapi. Begitu berhadapan, Hoa Kai Kie memperhatikan Ong Cian yang mengenakan baju *Cian-ka* dan membawa tombak bernama *Thiobouw-cio*.

"Tampaknya panglima ini gagah sekali, aku harus berhati-hati," pikir Ho Kai Kie. Dia memajukan kudanya ke hadapan Ong Cian.

"Hai panglima Cin, siapa namamu? Karena golokku tak pernah membunuh panglima tanpa nama!" kata Ho Kai Kie.

"Hai bangsat negeri Tio!" teriak Ong Cian marah sekali. "Dengar baik-baik, aku ini panglima Cin bernama Ong Cian! Jika kau sudah tahu siapa nama dan kegagahanku, lekas kau turun dari kudamu dan menyerah!"

Mendengar hinaan itu, tanpa banyak bicara lagi, Ho Kai Kie mencambuk kudanya supaya maju. Lalu dia angkat golok panjangnya dan langsung menyerang ke arah kepala Ong Cian. Melihat serangan yang begitu mendadak, Ong Cian segera menangkis dengan tombaknya. Tak lama kemudian, pertarungan hebat pun berlangsung. Serang-menyerang dan saling mengintai kelemahan masing-masing pun terjadi.

Baru beberapa puluh jurus, tampak Ho Kai Kie mulai terdesak. Ong Cian kiranya bukan lawan yang seimbang. Mengetahui lawannya terdesak, Ong Cian makin bernafsu. Dia menyerang Ho Kai Kie dengan hebat. Saat Ho Kai Kie agak lengah, tombak Ong Cian berhasil menikam perut Ho Kai Kie. Tak lama kemudian, tubuh Ho Kai Kie terjungkal dari kudanya dan tewas.

Ketika Ong Cian mendatangi tubuh Ho Kai Kie dan hendak memotong kepala lawannya, tiba-tiba terdengar teriakan orang di sebelahnya. "Tunggu!" teriak orang itu.

Ong Cian menoleh. Dia melihat dari barisan musuh muncul seorang anak muda yang tampak gagah. Dia membawa golok *Kim-pwe-to*. Dia duduk di atas kudanya dengan gagah dan siap menyerang.

"Hai panglima Cin! Segera kau turun dari kudamu! Jika tidak, golokku akan memotong tubuhmu jadi dua!" kata panglima itu.

"Anak muda! Siapa namamu? Jika kau tak mau seperti temanmu, lekas turun dan menyerah!" kata Ong Cian.

"Dengar baik-baik, namaku Ong Kwie. Aku datang untuk membalaskan kematian Ho Ciang-kun!" kata Ong Kwie.

Sesudah itu, Ong Kwie mengangkat goloknya dan langsung menyerang Ong Cian. Tak lama kemudian, pertarungan hebat segera berlangsung; mereka saling serang. Dengan gagah Ong Kwie maju terus dan tak kenal takut. Sesekali dia tampak menyabetkan goloknya ke arah bagian-bagian vital tubuh Ong Cian.

Sesudah berperang selama 50 jurus, Ong Cian mulai terkagum-kagum oleh kegagahan Ong Kwie ini. "Ah, jika saja panglima muda ini bisa ditarik ke pihak Cin, sungguh beruntung negeri Cin. Aku yakin kami bisa menyatukan dan menaklukkan seluruh raja muda di negeri ini!" pikir Ong Cian.

Saat Ong Cian sedang berpikir dan agak lengah, Ong Kwie mendesak dengan goloknya. Hampir saja Ong Cian celaka. Kembali mereka bertarung, tanpa terasa mereka telah bertarung sebanyak 100 jurus. Tapi tampaknya Ong Kwie malah bertambah kuat saja. Ini membuat Ong Cian jadi kelelahan.

"Ah, sebaiknya aku tak melawan dia dengan kekuatan tenaga, tapi harus pakai akal," pikir Ong Cian.

Sesudah bertarung lagi beberapa saat, dia menyerang Ong Kwie. Saat Ong Kwie mengelak dari serangannya, Ong Cian mencambuk kudanya lalu kabur. Melihat musuh kabur, Ong Kwie tak senang. Dia juga mencambuk kudanya lalu mengejar.

"Hai bangsat Cin jangan lari! Ke mana pun kau lari pasti akan kukejar. Sekalipun kau bisa terbang, akan terus kukejar!" teriak Ong Kwie.

Sambil kabur, Ong Cian berpikir keras. "Jika kupanah dia sampai mati, sungguh sayang! Lebih baik aku bujuk dia supaya mau menyerah pada negeri Cin. Jika tak mau takluk, apa boleh buat!" pikir Ong Cian.

Tiba-tiba Ong Cian menahan lari kudanya. Tak lama kemudian Ong Kwie pun sampai. Begitu tiba, Ong Kwie langsung mengayunkan goloknya menyerang kepala Ong Cian. Untung Ong Cian sudah siap dengan tombaknya. Dia menangkis serangan Ong Kwie itu.

"Hai, anak muda! Bukan aku takut padamu makanya aku lari, tapi karena aku kagum oleh kegagahanmu, Nak!" kata Ong Cian. "Aku tak ingin mencelakakan kau, maka dari itu aku ingin menyarankan agar kau takluk pada raja kami. Dengan demikian, nama baik dan kegagahanku akan tetap termasyhur dan dikenang sepanjang masa."

"Tutup mulutmu! Jangan membujukku jadi pengkhianat! Aku datang untuk mengambil kepalamu!" teriak Ong Kwie dengan garang.

Kembali Ong Kwie menyerang dengan goloknya, lagi-lagi serangan itu ditujukan ke arah kepala lawannya. Ong Cian kembali hanya menangkis serangan itu dengan tombaknya. Sesudah bertarung lagi selama 20 jurus, Ong Cian kembali kewalahan. Buru-buru Ong Cian mencambuk kudanya lalu kabur, tapi Ong Kwie tetap memburunya dari belakang.

Saat sudah dekat, Ong Cian mau menghabisi nyawa Ong Kwie dengan senjata rahasia; tapi sungguh sial, kuda Ong Kwie tersandung hingga Ong Kwie terpelanting jatuh dari atas kudanya. Saat Ong Cian melihat musuhnya jatuh, dia girang. Buru-buru dia larikan kudanya ke arah Ong Kwie yang tak berdaya. Tombak Ong Cian sekarang sudah menempel di lehernya.

"Siauw-ciang-kun, bangunlah. Kau lawan lagi aku!" tantang Ong Cian.

Ong Kwie merasa malu sekaligus kagum pada Ong Cian yang menyilakan dia bangun untuk kembali bertarung. "Ciang-kun, aku menyerah saja!" kata Ong Kwie tiba-tiba.

Bukan main senangnya Ong Cian mendengar ucapan Ong Kwie yang tulus itu. Lalu Ong Cian mengajak Ong Kwie kembali ke markas Cin. Sesudah sampai di markas Cin, mereka segera menghadap pada Ciang Ham.

"Hamba telah memenangkan peperangan ini dan berhasil membunuh Ho Kai Kie. Tak hanya itu, hamba juga membawa seorang panglima muda yang gagah berani," kata Ong Cian.

Ciang Ham girang. Lalu dia meminta agar Ong Kwie mau bekerja di bawah perintah Raja Cin.

"Hamba bersedia!" kata Ong Kwie.

Mereka lalu bersama-sama menghadap pada Cin Si Ong. Sesudah Ong Cian melapor, dia memperkenalkan Ong Kwie pada Cin Si Ong.

"Bagus! Sekarang kekuatan kita jadi bertambah," kata Cin Si Ong. Kemudian Cin Si Ong memberikan pangkat kepada Ong Kwie dan memperkenankan panglima muda itu untuk bekerja sama dengan Ong Cian.

Dalam suatu pesta kemenangan, Ong Kwie diperkenalkan pada panglima-panglima lain. Ong Kwie yang merasa beruntung bertemu Ong Cian, lalu mengaku terus terang. "Kebetulan kedua orang tua saya sudah meninggal, dan saya bertemu dengan Jenderal Ong Cian. Maka jika Jenderal tidak keberatan, saya ingin mengangkat Jenderal sebagai ayah angkat saya."

Mendengar ucapan itu, Ong Cian girang sekali. "Baiklah, mulai hari ini aku mengangkat Ong Kwie sebagai anakku!" kata Ong Cian sambil bersulang.

Sementara itu, dikisahkan anak buah Ho Kai Kie dan Ong Kwie banyak yang mati dan terluka. Sedangkan sisanya yang masih hidup sudah kabur dan kembali ke dalam kota. Para prajurit yang kabur itu segera menemui Giam Kiat untuk melaporkan hasil pertempuran hari itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment