Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 12

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 12

Jenderal Ho Kai Kie telah tewas dalam pertempuran, sedangkan Jenderal Ong Kwie telah menyerah kepada Ong Cian, kata prajurit itu. Mendengar laporan itu, Giam Kiat sangat marah. "Dasar manusia pengecut! Bukan melawan, malah menyerah kepada musuh!" teriak Giam Kiat dengan marah. "Aku bersumpah, jika aku bisa menangkapnya, akan kucincang tubuhnya!" Dengan amat gusar, Giam Kiat meminta disediakan kuda perangnya.

Begitu sampai di depan pintu, dia meminta dibukakan pintu. "Sabar, Jenderal!" kata panglima penjaga pintu. "Kebetulan hari pun sudah sore, jika Jenderal memaksa sangat berbahaya. Bagaimana dalam cuaca gelap kita bisa bertarung secara maksimal?" Giam Kiat mengangguk, dia setuju dengan pendapat anak buahnya. Lalu membatalkan niatnya berperang dan kembali ke gedungnya.

Esok harinya, Giam Kiat membawa anak buahnya keluar dari pintu kota Kai-pai-koan. Sampai di depan benteng tentara Cin, Giam Kiat menantang perang. "Hai prajurit, beritahukan pada atasanmu, aku Giam Kiat menantang perang!" kata Giam Kiat. Prajurit itu langsung melapor pada Ciang Ham. Lalu Ciang Ham menghadap pada Cin Si Ong dan melaporkan bahwa Giam Kiat menantang perang.

"Kau boleh menghadapinya, tapi hati-hati!" kata Cin Si Ong. "Baik, Tuanku!" kata Ciang Ham. Tak lama, Ciang Ham bersama sepuluh panglimanya maju ke medan perang. Begitu panglima tua itu muncul, maka tanpa banyak tanya lagi Giam Kiat langsung menyerangnya. Maka terjadilah pertarungan hebat.

Saat itu Cin Si Ong bertanya pada Ong Kwie, siapa sebenarnya Giam Kiat yang gagah berani itu. "Giam Kiat putera Giam Pho. Dia panglima yang sangat setia kepada raja seperti ayahnya," kata Ong Kwie. "Pantas dia gagah!" kata Cin Si Ong. "Mari kita lihat dia berperang melawan Ciang Ham dan kawan-kawannya." Cin Si Ong dengan diikuti oleh para pangawalnya lalu naik ke kuda. Mereka langsung ke medan perang untuk menyaksikan peperangan itu dari dekat.

Begitu sampai di medan perang, mereka menyaksikan Ciang Ham sedang berperang mati-matian melawan Giam Kiat. Sementara itu Yan Ek dan Sun Beng dari pihak Cin bertarung melawan Pit Eng Hu dan Lan In dari pihak Tio. Tak lama, tampak Yan Ek berhasil membunuh Pit Eng Hu yang jatuh dari atas kudanya dan langsung mati. Kemudian kepala Pit Eng Hu langsung dipotong oleh Yan Ek.

Kemudian Yan Ek membantu Sun Beng berperang melawan Lan In. Karena kurang waspada, Lan In pun akhirnya tewas. Maka itu Yan Ek dan Sun Beng segera memburu ke arah Giam Kiat. Keduanya langsung terjun ke dalam medan perang untuk membantu Ciang Ham menaklukkan Giam Kiat. Saat mereka berdua datang, Giam Kiat kaget karena dia langsung dikepung tiga orang.

Karena yakin tak akan sanggup melawan tiga panglima sekaligus, Giam Kiat lalu membalikkan kudanya. Dia kabur ke arah kota. Sesudah masuk, dia segera memerintahkan pintu kota ditutup kembali. Pasukan Ciang Ham yang coba mengejar malah dihujani anak panah dan batu. Terpaksa Ciang Ham menarik mundur pasukannya. Giam Kiat yang kalah perang langsung memerintahkan para panglimanya agar menjaga ketat benteng dan kota.

Malam harinya Giam Kiat membuat surat untuk Raja Tio dan meminta segera dikirim bantuan. Sesudah surat selesai, dia menyuruh anak buahnya menaiki kuda Cian-li-ma yang cepat larinya. Ketika Raja Tio sudah membaca surat dari Giam Kiat, malam itu juga Raja Tio memerintahkan membunyikan genderang untuk memanggil semua menteri dan panglimanya agar bersidang.

Dalam pertemuan Raja Tio mengemukakan bahwa Cin Si Ong bersama angkatan perangnya saat itu sedang memukul kota Kai-pai-koan. "Bagaimana menurut pendapat Anda sekalian?" tanya Raja Tio. "Sebaiknya Tuanku minta bantuan pada raja-raja muda yang lain," kata seorang menteri. Usul itu pun akhirnya disepakati bersama.

Kemudian Raja Tio menulis surat kepada lima raja muda lain untuk meminta bantuan. Malam itu juga kurir berangkat ke berbagai tempat untuk membawa surat meminta bala bantuan. Sungguh malang bagi Raja Tio. Ketika utusannya kembali, mereka melaporkan bahwa kelima raja muda tak bisa membantu. Mereka pun sedang dalam kesulitan.

Dikisahkan Giam Kiat sedang menunggu bala bantuan di Kai-pai-koan. Tapi sesudah selang lima hari, bala bantuan itu belum juga datang. Giam Kiat jadi cemas dan khawatir bukan main. Sedang tentara Cin tiap hari datang menyerang; padahal persediaan batu-batu dan anak panah makin hari makin menipis.

Giam Kiat dan anak buahnya siang dan malam terus berjaga sehingga mereka jadi lesu dan ngantuk sekali. Pada suatu malam, pintu bagian selatan yang dinamakan Shee-khia berhasil dijebol oleh tentara Cin. Balatentara Cin pun masuk ke dalam kota. Pasukan Giam Kiat coba membendung mereka hingga banyak anak buah Giam Kiat yang tewas dan terluka.

Selain masuk lewat pintu yang rusak, tentara Cin mereka pun memasang tangga dan naik ke tembok kota. Ketika hal itu dilaporkan pada Giam Kiat, dia sangat kaget. Dia lalu naik ke atas kudanya sambil mengajak para panglima dan anak buahnya. Mereka membuka pintu timur dan kabur ke luar kota.

Tapi malang, di tengah jalan pasukan Giam Kiat ini bertemu dengan Ong Cian. Mereka lalu bertempur dengan hebat. Tak lama, pasukan Ciang Ham pun datang dan mereka langsung mengepung pasukan Giam Kiat. Sedikit pun Giam Kiat tidak takut, dia bertarung mati-matian. Tapi karena dikepung oleh banyak musuh, pada saat ada kesempatan dia menerobos dan kabur.

Ong Cian bersama anak buahnya mencoba mengejarnya. Sesudah Kai-pai-koan jatuh, Giam Kiat jadi bingung dan ketakutan. Maka dia bertarung sehebat-hebatnya. Menyaksikan Giam Kiat makin gagah saja, Kun-su Kim Chu Leng dari pihak Cin jadi kaget. Anak buah negeri Cin sudah mengepung Giam Kiat, tapi Giam Kiat belum berhasil mereka tangkap.

Kim Chu Leng ikut mengejar Giam Kiat. Melihat Kim Chu Leng ikut mengejar, Giam Kiat buru-buru melarikan kudanya. Kim Chu Leng melempar senjata rahasianya. Giam Kiat tak sempat menghindar dan terkena senjata rahasia lawan. Kim Chu Leng buru-buru menghampirinya dan memotong kepalanya. Maka tewaslah Giam Kiat.

Sesudah Giam Kiat tewas, Cin Si Ong sudah berada di kota Kai-pai-koan. Dia mengeluarkan perintah agar angkatan perangnya tidak membunuh tentara negeri Tio sembarangan. Malam harinya Cin Si Ong dan seluruh pasukannya mengadakan pesta.

Sesudah Kai-pai-koan jatuh terbuka bagi angkatan perang Cin jalan menuju ke berbagai negeri. "Sekarang Kai-pai-koan sudah jatuh ke tangan kita, bagaimana pendapat Kun-su?" kata Cin Si Ong. "Maju sekitar 20 li dari Kai-pai-koan, maka kita akan bertemu dengan pertigaan. Yang satu langsung menuju ke negeri Yan, yang satunya ke negeri Cee. Sedang satu lagi ke negeri Tio.

Di negeri Cee keadaannya sudah parah. Rajanya pun raja baru. Di negeri Tio angkatan perangnya sudah tidak seberapa banyak lagi. Hanya negeri Yan yang perlu mendapat perhatian kita," kata Kim Chu Leng. "Kenapa begitu?" tanya Cin Si Ong. "Angkatan perang negeri Yan, sepengetahuan hamba berjumlah 50.000 jiwa. Jenderal mereka pun masih turunan Sun Bu Chu, panglima itu mengerti ilmu bintang dan ahli strategi. Namanya pun sangat terkenal, jika kita bisa membunuh orang she Sun itu, maka dengan mudah negeri Yan akan jatuh ke tangan kita!" kata Kim Chu Leng.

"Baik, sekarang kalian serang negeri Yan. Sisakan tentara untuk menjaga Kai-pai-koan!" kata Cin Si Ong. Raja negeri Yan bernama Ciauw Ong. Walaupun sudah tua, tapi dia cerdik dan cekatan. Angkatan perang negeri Yan berjumlah 50.000 jiwa dan dipimpin oleh seorang Tay-touw Hwikun, Sun Co yang usianya sudah hampir 80 tahun.

Dia memiliki tiga orang putera. Anaknya yang pertama bernama Sun Liong, dia menjadi jenderal dan menjaga kota Pian-koan, usia Sun Liong sudah 60 tahun; selain gagah juga pandai. Putera Sun Co yang kedua bernama Sun Houw. Sedangkan puteranya yang bungsu bernama Sun Pin. Tokoh inilah yang akhirnya dikenal dengan nama Sun Tzu.

Ketika Ciauw Ong menerima surat dari Raja Tio yang meminta bala bantuan pada negaranya, Ciauw Ong langsung mengumpulkan menteri dan panglimanya. Dalam suatu pertemuan diputuskan negeri Yan akan membantu negeri Tio. Raja Yan lalu memerintahkan panglimanya berpangkat "Thai-touw-hui" yaitu Sun Co agar membawa 10.000 tentara.

Mereka diperintahkan segera berangkat menuju ke Kai-pai-koan untuk membantu Giam Kiat. "Jika Kai-pai-koan belum jatuh, kau bantu Giam Kiat menghadapi tentara Cin. Sebaliknya jika kota itu telah jatuh, kau perketat penjagaan negeri kita!" kata Raja Ciauw Ong pada Sun Co. "Baik, Tuanku," jawab Sun Co.

Maka berangkatlah Sun Co bersama angkatan perangnya menuju ke Kai-pai-koan. Tapi di tengah perjalanan Sun Co sudah mendengar kabar bahwa Kai-pai-koan sudah jatuh ke tangan tentara Cin. Bahkan Giam Kiat pun telah meninggal. Bahkan sekarang tentara Cin sedang bergerak menuju ke negeri Yan.

Mendengar kabar itu, Sun Co buru-buru membawa angkatan perangnya kembali ke kota Yan-ciu-shia (kota Pian-koan). Kota ini dijaga oleh Sun Liong, putera Sun Co. Begitu sampai, Sun Co segera memerintahkan putranya agar segera berangkat ke Ibukota untuk melapor pada raja, bahwa pasukan Cin akan menyerang negerinya.

Maka berangkatlah Sun Liong, putra Sun Co ke Ibukota; sesudah melapor dia akan kembali ke Yan-ciu-shia untuk membantu ayahnya berperang dengan tentara Cin. Dikisahkan angkatan perang Cin yang bergerak memasuki negeri Yan, sekarang sudah mendekati kota Yan-ciu-shia.

Begitu sampai, Cin Si Ong memerintahkan pada panglimanya agar segera mendirikan benteng. Jenderal Ciang Ham langsung mengumpulkan panglimanya, lalu berunding. Selesai berunding dia bertanya. "Siapa di antara kalian yang siap maju?" "Saya siap!" kata Ong Cian. "Saya juga!" kata Ong Kwie.

"Baik, kalian berdua boleh maju. Kalian bawa 1000 tentara!" kata Ciang Ham. Maka berangkatlah Ong Cian dan anak angkatnya Ong Kwie menuju ke kota Yan-ciu-shia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment