Chapter 13
Sesudah membangun benteng, Ong Kwie menantang perang. Ketika Sun Co diberi tahu bahwa musuh telah datang dan menantang perang, Sun Liong, putra Sun Co, keluar untuk menghadapinya.
Sun Liong keluar kota dengan mengenakan pakaian perang berwarna putih serta menunggangi kuda berbulu putih yang diberi nama "Pe Keng Chio". Saat itu, Sun Liong sudah berumur 60 tahun. Melihat panglima perang Yan berpakaian putih muncul, Ong Kwie dari pihak Cin langsung menghadapinya.
"Lauw-ciang, siapa namamu dan apa pangkatmu?" bentak Ong Kwie.
"Aku Wi-tin Yan-cio, namaku Sun Liong. Apa maksudmu membawa angkatan perang menyerang negeri kami?" kata Sun Liong.
Mendengar ucapan itu, Ong Kwie tertawa. "Aku sudah lama mendengar kemasyhuran namamu, tapi ternyata kau cuma begini saja! Aku sarankan lebih baik kau menyerah saja untuk menikmati hari tuamu daripada kau celaka di tanganku. Jika kau tak mau, kelak jika kau menyesal pun sudah terlambat!"
Mendengar ucapan Ong Kwie yang sombong itu, Sun Liong menjadi sangat gusar. "Hai anak tikus! Kau berani buka suara di depanku, apa kau mau mati?" teriak Sun Liong.
Dengan cepat Sun Liong menikam leher Ong Kwie dengan tombaknya. Melihat serangan datang, Ong Kwie cepat-cepat menangkis. Pertarungan pun berlangsung dengan sengit. Mereka bertarung sampai lebih dari 70 jurus, tetapi Ong Kwie yang muda belum mampu mengalahkan jago tua ini.
"Ah, dia sangat gagah, aku kewalahan juga," pikir Ong Kwie. "Harus kugunakan akal untuk membunuhnya."
Saat itu Ong Kwie mendadak menyerang, namun Sun Liong berhasil berkelit. Kesempatan ini digunakan oleh Ong Kwie untuk melarikan diri. Melihat musuhnya kabur, Sun Liong mengejar sambil menyiapkan panah "Pek-pouw Coan-yang-chi". Dia pun memanah Ong Kwie.
Ong Kwie tidak mengira kalau Sun Liong ahli memanah. Saat itu Ong Cian melihat Ong Kwie akan dipanah. "Anakku, awas musuh melepas panah!" teriak Ong Cian.
Ong Kwie kaget dan mendadak membalikkan badannya, tetapi anak panah Sun Liong sudah tiba hingga Ong Kwie tidak sempat berkelit lagi. Anak panah itu mengenai Ong Kwie tanpa ampun. Ong Kwie menjerit dan jatuh dari kudanya. Melihat Ong Kwie jatuh, Sun Liong mengejar untuk memotong kepalanya, tetapi Ong Cian segera menghalangi.
"Hai bangsat tua, jangan bunuh anakku!" teriak Ong Cian.
"Panglima, siapa namamu?" bentak Sun Liong.
"Aku panglima Cin Si Ong, namaku Ong Cian!" jawabnya.
Sesudah itu, Ong Cian menyerang Sun Liong dengan tombaknya, dan Sun Liong segera menangkis serangan itu. Maka bertarunglah keduanya; mereka saling menyerang sampai 140 jurus. Makin lama serangan-serangan Sun Liong semakin hebat. Hal ini dirasakan oleh Ong Cian yang mulai terdesak. Dengan sekuat tenaga dan penuh kehati-hatian, Ong Cian terus menghadapinya, tetapi lama-kelamaan dia tidak tahan lagi. Ketika ada kesempatan, dia membalikkan kudanya lalu kabur.
Sun Liong tidak mau membiarkan musuhnya lolos dan terus mengejar. "Jangan lari, ke mana pun kau lari akan kutangkap kau!" teriak Sun Liong.
Ong Cian yang dikejar segera meraba pinggang untuk mengambil "Tie-sian Kiam". Pedang pusaka itu dilemparkannya ke arah Sun Liong. Melihat musuh melempar senjata pusaka, Sun Liong mengambil busur dan anak panahnya. Namun, Sun Liong kalah cepat. Pedang wasiat itu telah memenggal lehernya hingga Sun Liong tewas dan jatuh dari atas kudanya.
Ketika Ong Cian memburu untuk mengambil mayat Sun Liong, dia kalah cepat oleh anak buah Sun Liong. Mereka merebut tubuh Sun Liong dan membawanya kabur ke kota Yan-ciu-shia. Sesudah berhasil membunuh Sun Liong dan menyimpan pedang pusakanya, Ong Cian kembali ke benteng.
Ketika anak buah Sun Liong membawa jenazah Sun Liong ke hadapan Sun Co, Sun Co sangat terkejut. Dia langsung pingsan melihat mayat putranya itu. Sun Houw, putra Sun Co yang lain, segera menolongnya sampai Sun Co sadar kembali. Ketika Sun Houw menyaksikan ayahnya menangis sedih karena kematian kakaknya, dia segera menghibur ayahnya.
"Ayah jangan menangis, putra keduamu siap berperang untuk membalaskan sakit hati Kakanda," kata Sun Houw.
Mendengar Sun Houw akan maju perang, Sun Co menasihatinya, "Jika kau mau maju perang, aku harap kau berhati-hati, Nak."
"Baik, Ayah!" kata Sun Houw.
Segera dia bersiap dan menunggangi kuda. Sampai di depan pintu, dia meminta jembatan gantung diturunkan. Keluarlah angkatan perang Yan yang dipimpin oleh Sun Houw. Begitu keluar, dia langsung menantang perang. Dari pihak Cin, segera muncul Ong Cian yang menghadapi Sun Houw.
"Hai bangsat Cin, kau telah membunuh kakakku dengan licik! Sekarang aku datang untuk membalaskan sakit hatinya!" kata Sun Houw.
Dia langsung menyerang Ong Cian dengan goloknya. Ong Cian buru-buru menangkis serangan itu dengan tombaknya. Serangan-serangan golok Sun Houw sangat cepat dan berbahaya. Hal ini disadari oleh Ong Cian. Sesudah bertarung sekitar 40 jurus, Ong Cian segera mengeluarkan ilmu tombaknya yang paling hebat. Serangan Ong Cian makin lama makin hebat. Saat Sun Houw agak lengah, Ong Cian berhasil menikamnya. Setelah menjerit, tubuh Sun Houw pun jatuh ke tanah dan langsung tewas.
Ong Cian menyambar dan memotong kepala Sun Houw. Saat anak buah Sun Houw berusaha merebutnya, anak buah Ong Cian menghadang mereka hingga banyak tentara Yan yang tewas dan terluka. Sisa tentara Yan yang masih hidup segera kabur dan masuk ke dalam kota Yan-ciu-shia. Karena hari telah sore, Ong Cian pun menarik mundur pasukannya ke benteng.
Anak buah Sun Houw segera melapor kepada Sun Co tentang kematian Sun Houw di medan perang. Mendengar laporan tersebut, Sun Co sangat sedih. Malamnya, Sun Co tidak bisa tidur dan terus menangis. Esok harinya, Sun Co membawa semua panglima dan anak buahnya keluar untuk menantang perang.
Ciang Ham dari pihak Cin segera memerintahkan Ong Cian maju. Ong Cian pun bersiap menghadapi Sun Co. Ketika sudah berhadapan, Ong Cian mengamati panglima tua itu. Kumis dan rambutnya sudah putih semua. Dia menaiki kuda Pek-liong-kie dan memegang sebuah tombak. Matanya mendelik geram ke arah Ong Cian. Saat itu Ong Cian menyadari bahwa orang tua ini pastilah Sun Co.
Buru-buru Ong Cian memberi hormat. "Lo-ciang-kun, maafkan aku karena tidak turun dari kuda untuk memberi hormat! Nama besar Lo-ciang-kun sangat termasyhur dan sudah aku dengar. Anda sudah berumur hampir 80 tahun dan sudah terlalu tua. Apa tidak lebih baik Lo-ciang-kun memerintahkan panglima lain untuk melawanku?" kata Ong Cian.
"Hai bangsat, tutup mulutmu! Kemarin dua anakku sudah kalian bunuh. Sekarang kau berani menghinaku. Apa kau belum tahu bahwa harimau tua lebih gagah? Sekarang aku mau membunuhmu untuk membalaskan kematian kedua anakku!" kata Sun Co.
Ketika Sun Co sudah siap menikam Ong Cian dengan tombaknya, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendekat.
"Lo-ciang-kun, tunggu! Lo-ciang-kun, kau mau memotong seekor anak ayam, mengapa harus menggunakan golok pemotong kerbau? Biar aku, Yan Eng, yang menghadapinya!" kata panglima muda itu.
Yan Eng yang baru datang langsung membacok ke arah Ong Cian. Maka bertarunglah mereka dengan hebat. Sesudah bertarung lebih dari 10 jurus, muncul panglima Yan yang lain, yaitu Souw Goan. Karena melihat Yan Eng belum berhasil mengalahkan Ong Cian, dia datang membantu. Namun, Ong Cian memang gagah; dia memainkan tombaknya dengan sangat cepat. Saat Souw Goan agak lengah, tombak Ong Cian berhasil menikam perutnya hingga tewas.
Yan Eng kaget dan membalikkan kudanya untuk kabur, tetapi Ong Cian sempat menombak bagian belakang Yan Eng hingga tewas. Sun Co yang menyaksikan dua panglimanya dengan mudah dibunuh oleh Ong Cian menjadi sangat marah. Sun Co maju menyerang Ong Cian.
Mereka bertempur dengan hebat. Sesudah bertempur sekitar 100 jurus, kekuatan Sun Co menurun drastis. Ditambah lagi, semalam ia kurang tidur karena menangisi kematian kedua putranya. Ong Cian menyadari Sun Co sudah kehabisan tenaga, maka dia mengendurkan serangannya. Sun Co mengangkat golok hendak menebas leher Ong Cian, tetapi dengan cepat Ong Cian menangkis serangan itu dengan gagang tombaknya.
Tiba-tiba Sun Co bergerak hendak merampas tombak Ong Cian. Namun, Ong Cian lebih cekatan. Saat itu tombaknya mengarah tepat ke dada Sun Co. Terdengar suara jeritan Sun Co, "Celaka aku!"
Ong Cian sekali lagi menikam Sun Co hingga jatuh dari atas kudanya dan tewas. Buru-buru anak buah Sun Co mengambil jenazah atasannya lalu dibawa masuk ke dalam kota Yan-ciu-shia. Setibanya di dalam kota, para panglima Yan-ciu-shia menjadi gentar karena semua atasan mereka telah tewas. Mereka berunding lalu sepakat untuk meninggalkan kota. Mereka melarikan diri langsung ke ibu kota negara Yan di Ek-ciu-shia. Kota Yan-ciu-shia mereka kosongkan.
Esok harinya, saat Ciang Ham dan anak buahnya kembali hendak menyerang Yan-ciu-shia, mereka kaget karena kota telah kosong. Ternyata semalam angkatan perang Yan telah mundur ke ibu kota. Rakyat berdatangan menemui angkatan perang Cin dan berlutut di depan kuda Ciang Ham untuk meminta perlindungan.
"Kami rakyat biasa, mohon jangan bunuh kami!" kata mereka.
"Jangan takut," kata Ciang Ham. "Aku tidak akan mencelakakan kalian asal kalian mau takluk pada Kerajaan Cin. Silakan kalian hidup seperti biasa."
Sesudah itu, Ciang Ham memerintahkan Ong Cian agar membawa 500 tentara masuk ke dalam kota Yan-ciu-shia untuk melakukan penyelidikan. Ciang Ham khawatir musuh menyembunyikan tentara untuk menyergap mereka secara mendadak. Tak lama kemudian, Ong Cian melapor kembali.
"Kota telah mereka kosongkan! Kami tidak menemukan mereka, keadaan kota sepi saja!" kata Ong Cian.
"Baik," kata Ciang Ham. Sesudah itu Ciang Ham memerintahkan Yan Ek untuk mengundang Cin Si Ong memasuki kota Yan-ciu-shia yang telah mereka rebut.