Chapter 14
Begitu masuk, bendera negeri Yan diturunkan dan diganti dengan bendera "Cin Tiauw".
Raja Cin dengan aman memasuki kota dan tinggal di sana selama tiga hari.
Pada hari keempat, Cin Si Ong memerintahkan panglima perangnya menyerang kota Po-hek-koan yang letaknya seratus li dari kota Yan-ciu-shia.
Ketika itu, yang menjaga kota Po-hek-koan adalah adik Perdana Menteri Kut San yang bernama Kut In. Dia seorang yang pandai dan gagah berani. Dia juga merupakan salah satu andalan negeri Yan.
Suatu hari, Kut In sudah mendengar kabar tentang meninggalnya Sun Co dan kedua putranya, serta tentang jatuhnya kota Yan-ciu-shia ke tangan tentara Cin.
"Padahal kota Yan-ciu-shia dikelilingi tembok yang tinggi dan tebal," pikir Kut In. "Selain itu, Yan-ciu-shia juga dijaga kuat oleh Sun Co dan kedua putranya. Bagaimana jika pasukan negeri Cin itu menyerang kota Po-hek-koan yang hanya kujaga seorang diri? Selain lemah, tentaraku juga sedikit. Bagaimana aku bisa membendung serangan musuh? Lebih baik aku gunakan akal untuk mengosongkan kota."
Sesudah berpikir begitu, dia memanggil panglima-panglimanya. Lalu, dia menceritakan rencananya dengan teliti.
"Kita akan menggunakan siasat mengosongkan kota; dirikan benteng di luar kota dan minta rakyat pindah," kata Kut In.
Sesudah perintah dijalankan, Kut In membawa panglima dan angkatan perangnya pergi ke Ek-ciu-shia. Kemudian, dia memerintahkan panglimanya pergi sejauh dua li dari Ek-ciu-shia untuk bersembunyi dan menghadang kedatangan musuh. Di atas kota yang ditinggalkan telah dipasangi bendera dan orang-orangan untuk mengelabui musuh.
Pada suatu hari, angkatan perang Cin di bawah komando Ciang Ham telah sampai ke kota Pok-hek-koan. Sesudah tinggal sekitar satu atau dua li, mereka mendirikan benteng. Esok harinya, Ong Cian dan Ong Kwie maju menantang perang. Tapi dari dalam kota tetap sunyi dan tak terdengar apa pun.
Ong Cian kembali dan melapor pada Ciang Ham. "Tuanku, kota itu tampak sepi dan tak berpenghuni," lapor Ong Cian.
"Aneh sekali," kata Ciang Ham. Karena penasaran, dia mengajak Kim Chu Leng pergi ke tempat yang tinggi. Dari sana mereka mengawasi ke dalam kota. Ternyata kota telah kosong!
"Aku tak tahu apa maksud penjaga kota ini. Dia mengosongkan kota dalam keadaan pintu terkunci," kata Kim Chu Leng.
Ciang Ham lalu memerintahkan Ong Cian membawa 500 anak buahnya untuk memanjat kota dan memeriksa isi kota. Segera Ong Cian membawa pasukannya sambil membawa tangga, lalu memanjat tembok kota. Ternyata memang kota telah kosong. Ong Cian dan anak buahnya membuka pintu kota, lalu menurunkan bendera Yan dan menggantinya dengan bendera Cin.
Tak lama, angkatan perang Cin pun memasuki kota dengan aman tanpa berperang lagi. Sesudah mengadakan pemeriksaan dengan teliti, ternyata tak seorang pun tentara Yan ada di dalam kota itu.
"Sekalipun kita tak melihat ada musuh di dalam kota, semua tidak boleh melepas pakaian perang!" kata Kim Chu Leng.
"Baik, Kun-su!" kata Ong Cian.
"Kau harus membawa 1.000 anak buahmu meronda di sekitar kota. Jika melihat ada musuh, kau jangan mengejar mereka secara sembarangan! Kita harus bersikap hati-hati!" kata Kim Chu Leng.
"Baik," kata Ong Cian. Segera Ong Cian membawa 1.000 orang anak buahnya meronda di luar kota.
Sesudah memberi perintah, Kim Chu Leng lalu berpikir. "Aku harus memenangkan perang ini," pikirnya.
Sesudah itu, dia memerintahkan Tio Ko membawa 500 prajurit untuk bersembunyi di atas kota. Kemudian, dia juga memerintahkan agar bendera-bendera dipasangi lentera. Jika melihat tentara Yan datang, mereka harus melepaskan bola api dan batu untuk menahan musuh; mereka dilarang turun dari atas kota.
Sesudah mengatur anak buahnya, Kim Chu Leng berunding dengan panglimanya. "Aku duga tentara Yan bersembunyi sekitar 2-3 li dari sini," kata Kim Chu Leng. "Pasti malam ini mereka akan datang menyerang kita secara mendadak! Sekarang kita gunakan siasat 'Ciang-ke Cu-kee'."
Sesudah berkata begitu, dia memberi perintah. "Pek Kie, kau bawa 1.000 anak buahmu. Kau pergi ke Yan-ciu-shia dan bergerak melewati jalan kecil. Di tengah jalan, sembunyikan tentaramu. Jika kau melihat ada musuh, bunuh mereka jangan sampai ada yang bisa meloloskan diri. Jika kau melanggar perintahku, maka kau akan kuhukum mati!" kata Kim Chu Leng.
"Baik," kata Pek Kie yang segera berangkat.
"Perintahkan pasukan berkuda sebanyak 20 orang untuk meronda. Jika melihat musuh datang, mereka harus segera melapor!" kata Kim Chu Leng lagi.
"Baik," kata panglima pasukan berkuda. Mereka segera menjalankan perintah itu dengan cepat. Sesudah mengeluarkan semua perintah dan merasa sudah cukup baik, Kim Chu Leng pun merasa lega.
Ketika pasukan Yan yang dipimpin oleh Kut In bergerak mendekati kota Po-hek-koan pada tengah malam itu, tujuannya satu: mengepung dan menghancurkan tentara Cin. Kut In telah mengajak para panglima dan angkatan perangnya dibantu oleh rakyat bergerak ke kota Po-hek-koan.
Tapi ketika pasukan Kut In hampir dekat, mereka kaget melihat kota Po-hek-koan terang benderang. "Ah, kiranya musuh sudah tahu siasatku. Sulit bagi kita menggempur mereka," kata Kut In pada para panglimanya.
"Lalu harus bagaimana kita?" tanya panglimanya.
"Sekarang lebih baik diam-diam kita mengambil jalan kecil. Kita hadang rombongan pembawa ransum mereka! Lama-kelamaan bahan makanan mereka akan habis juga dan akhirnya mereka akan mati kehabisan makanan. Mana mungkin dia bisa terbang?" kata Kut In.
"Baik!" kata panglimanya.
Kut In membawa panglima dan angkatan perangnya mengambil jalan kecil lalu berjalan menuju sasaran. Baru berjalan sekitar dua li, tiba-tiba Kut In dikagetkan oleh suara ledakan dan munculnya pasukan Cin.
"Hai, panglima Yan, kau mau ke mana? Aku sudah lama menunggu kalian di sini!" kata Pek Kie.
Melihat Pek Kie, panglima Cin yang gagah itu, Kut In pun mencambuk kudanya untuk kabur. Pek Kie tak tinggal diam, dia mengejar Kut In. Karena tersusul, apa boleh buat, Kut In membalikkan kudanya lalu menghadapi Pek Kie. Tapi Kut In ternyata bukan tandingan Pek Kie. Baru bertarung beberapa puluh jurus, Kut In tertombak dan tewas seketika itu juga. Sisa pasukan dan panglima Kut In yang tidak mati dalam peperangan itu segera menyerah.
Sesudah memperoleh kemenangan, Pek Kie bersama pasukannya kembali lagi ke Po-hek-koan untuk melapor pada Ciang Ham.
Dikisahkan di negeri Yan, Raja negeri Yan, Ciauw Ong, sedang duduk di atas singgasananya. Dia mendapat laporan bahwa Sun Co bersama dua putranya telah meninggal dan kota-kota negeri Yan berjatuhan ke tangan Cin Si Ong.
Pelapor itu pun berkata, "Sekarang jenazah Sun Co dan dua putranya telah ada di luar istana."
Raja Ciauw Ong jatuh pingsan ketika mendengar berita itu. Buru-buru para thay-kam dan pembantu raja menolongnya. Ketika sadar, raja langsung berkata, "Tidak kusangka Sun Co dan kedua anaknya telah meninggal. Kalian adalah pembela negeri Yan yang setia! Kalau begitu, negeri ini sudah tidak bisa kita pertahankan lagi!"
Sesudah itu, Ciauw Ong menangis sedih, lalu dia memerintahkan agar disediakan tiga buah peti mati. Kemudian, dia memberi kabar pada Yan Tan Kiong-cu, istri Sun Co, bahwa suaminya telah meninggal di medan perang. Mendengar kabar itu, bukan main kagetnya Yan Tan Kiong-cu. Langsung dia pingsan tak sadarkan diri.
"Lo Hu-jin! Lo Hu-jin!" teriak pelayannya kaget.
Dua menantunya, yaitu Kho Hu-jin dan Li Hu-jin, yang mendengar teriakan pembantu rumah segera berdatangan. Melihat mertuanya pingsan, mereka kaget. Ketika mertuanya sadar dan memberitahu apa yang terjadi, kedua menantunya pun menangis sedih. Bahkan Yan Tan Kiong-cu jadi putus asa. Tapi kedua menantunya mencoba menghibur. Lalu mereka keluar menyambut peti mati Sun Co, Sun Liong, dan Sun Houw. Kemudian, mereka menyembahyangi jenazah Sun Co, Sun Liong, dan Sun Houw.
Saat orang sedang sibuk dan menangis sedih, muncul Sun Hian, putra Sun Liong yang baru berumur 16 tahun. Sun Hian ini cakap, sepasang matanya bagaikan mata burung Hong, alisnya seperti alis naga. Sepasang tangannya panjang melewati lutut. Ketika Sun Hian mengetahui kakek, ayah, dan pamannya meninggal, dia gusar sekali. Dia lalu merangkul ibunya dan neneknya.
"Nek, ajak aku menemui Raja," kata Sun Hian. "Aku akan keluar berperang untuk membalaskan sakit hati kakek, ayah, serta pamanku!"
"Anak kecil tak tahu diri! Apa kau tidak lihat kakek, ayah, dan pamanmu yang begitu gagah pun tewas di medan perang? Kau masih begini kecil mau berperang, apa kau juga mau mengantarkan jiwa?" kata Yan Tan Kiong-cu dengan marah.
"Nek, sungguhpun aku masih kecil, tapi aku sudah menyelesaikan pelajaran silat dan siap untuk berperang," kata Sun Hian.
"Diam kau!" bentak Yan Tan Kiong-cu. "Keturunan marga Sun tinggal kau seorang, sedangkan Raja Ciauw Ong tidak punya anak untuk menyambung takhta kerajaan. Dia cuma berharap kau yang akan menggantikannya!"
"Nek, Kakak Hian benar. Aku juga mau ikut dia berperang membunuh pembunuh ayahku!" kata seorang gadis.
Yan Tan Kiong-cu menoleh. Ternyata yang bicara adalah putri Sun Houw yang bernama Sai Hoa. Dia baru berumur 14 tahun. Bukan main marahnya Yan Tan Kiong-cu mendengar ucapan gadis itu.
"Hai, kau anak perempuan tahu apa? Kau juga masih kecil! Lekas masuk dan jangan ikut campur!" kata Yan Tan.
Mendengar omelan neneknya, gadis cilik itu membantah. "Nenek salah. Anak perempuan yang ikut berperang sudah banyak. Contohnya dulu Ciok Tay Cin dari negeri Cee mampu mengusir para penjahat, sehingga dia menjadi tiang negara Cee," kata Sai Hoa.
Yan Tan tetap tidak mengizinkan cucunya pergi ke medan perang. Namun karena mereka terus memaksa, akhirnya mereka diizinkan berperang. Tapi karena pasukan Cin Si Ong sangat kuat, sekalipun negara Yan berperang mati-matian, akhirnya mereka kalah juga. Sun Hian melarikan diri ke negeri Tio.
Sesudah mengalahkan negeri Yan, Cin Si Ong meneruskan serangannya ke negeri Couw, Han, dan Gwi, kemudian juga akan menyerang negeri Tio dan Cee.