Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 15

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 15

Jenderal Ciang Ham bersama angkatan perang Cin bergerak ke negeri Couw. Tapi begitu Raja Couw mendengar angkatan perang Cin Si Ong datang, dia ketakutan. Lalu menyuap Ciang Ham dan minta berdamai. Dengan demikian negeri Couw pun jatuh ke tangan Cin Si Ong.

Dikisahkan Jenderal Ong Cian diperintahkan menyerbu ke negeri Han. Begitu sampai Raja Han memerintahkan panglimanya bernama Ngo Cia berperang melawan Ong Cian. Tapi panglima Han berhasil dibunuh oleh Ong Cian dengan senjata rahasianya yang ampuh. Raja Han menjadi ketakutan dan menutup kota tak mau meladeni berperang.

Kim Chu Leng, penasihat perang negeri Cin dengan cerdik menyebarkan surat lewat panah-panah ke dalam kota. Panah-panah itu dipungut oleh rakyat dan tentara Han. Maka karena ketakutan oleh ancaman serangan tentara Cin, rakyat membuka pintu kota, hingga Ong Cian berhasil menduduki kota itu.

Ketika Raja Han mendengar tentara Cin Si Ong sudah menduduki kota Ong-shia, karena ketakutan dia gantung diri. Paramenteri negara Han lalu menyambut Ong Cian. Maka jatuhlah Kerajaan Han.

Sekarang angkatan perang Cin Si Ong sudah bisa menaklukkan semua negeri. Maka ambisi Cin Si Ong untuk bisa menjadi Maha Raja atau Kaisar segera terwujud.

Sejak Cin Si Ong menjadi raja, rakyat sangat menderita dan hidup mereka jadi sangat sengsara. Hal ini karena Cin Si Ong menerapkan aturan yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Rakyat yang memang sudah miskin dipaksa supaya membongkar gunung atau menimbun laut. Membangun istana megah atau bangunan-bangunan lain. Rakyat diperintahkan untuk bekerja paksa tanpa mendapat upah sepeser pun.

Banyak rakyat yang geram dengan perilaku Cin Si Ong. Bahkan menteri-menteri yang ada di istana pun merasa muak dengan segala aturan yang diciptakan Cin Si Ong. Tapi sekalipun marah, orang-orang itu hanya bisa menyimpannya dalam hati. Tidak ada yang berani melawan atau membantah. Jika kedengaran ada orang yang membantah perintahnya, maka orang itu pasti dihukum mati.

Tak terasa waktu pun terus berjalan dengan cepat. Cin Si Ong sudah menjadi Kaisar selama dua puluh tujuh tahun. Suatu hari Cin Si Ong pergi melancong ke gunung Kee Tauw San. Dia melihat panorama yang indah di sekitar gunung itu. Udara tempat itu pun sangat sejuk dan nyaman. Mega di sekitar tempat itu bercahaya gemilang. Melihat semua itu Cin Si Ong girang bukan main.

Karena kagum, Cin Si Ong lalu bertanya pada menterinya yang bernama Song Bu Ki. "Song Bu Ki, apakah kau tahu arti pemandangan yang kita lihat saat ini?" tanya Cin Si Ong. "Gejala alam bisa berarti banyak," kata Song Bu Ki. "Namun pemandangan yang kita lihat sekarang menandakan bahwa di kemudian hari akan muncul orang luar biasa dan bakal menjadi seorang raja yang agung. Karena pemandangan itu berasal dari barat daya, maka raja besar akan datang dari arah tersebut!" Mendengar keterangan itu, Cin Si Ong jadi sangat ketakutan.

"Kalau begitu bahaya itu sedang mengancamku," kata Cin Si Ong. "Lalu bagaimana caranya agar hawa itu lenyap?" "Tay Ong harus pergi ke sebelah Timur! Disana Tuanku harus menanam sebuah Po-kiam?" jawab Song Bu Ki. Mendengar penjelasan itu, Cin Si Ong mengangguk dan merasa agak lega. Kemudian Cin Si Ong pergi ke gunung Tay Gak untuk menanam sebuah po-kiam di atas gunung itu.

Sejak peristiwa itu hati Cin Si Ong selalu merasa tidak tenteram. Dia selalu ingat masalah itu dan merasa sangat kesal. Karena dia takut di kemudian hari orang akan merebut kerajaannya.

Pada suatu malam, Cin Si Ong bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat matahari jatuh ke tanah seorang anak berpakaian serba hijau, yang mendatanginya dari arah utara. Anak berpakaian serba hijau itu, mau mengangkat matahari itu. Tapi sebelum anak itu bisa mengangkat matahari itu, dari arah selatan sudah datang lagi seorang anak berpakaian serba merah; dia berkata pada anak berpakaian hijau, "Hai! Engkau tidak boleh mengambil matahari itu, karena akulah yang mendapat perintah dari Tuhan untuk mengambil matahari itu!" Anak berbaju hijau tidak mau mengalah. Maka terjadilah perkelahian, si baju merah berhasil memukul si baju hijau hingga mati. Sesudah itu si baju merah mengambil matahari dan membawanya ke arah selatan.

Dalam mimpinya Cin Si Ong segera menghadang anak berbaju merah itu, lalu bertanya, "Hai! Engkau anak siapa?" "Aku turunan Raja Giauw Sun, aku tinggal di kota Hong-pay. Karena menerima anugerah Tuhan, aku akan bertahta empat ratus tahun lamanya," jawab anak itu. Tak lama anak berbaju merah itu lari dan menghilang. Ketika Cin Si Ong akan mengejarnya, tiba-tiba dia terbangun. Cin Si Ong sadar bahwa kejadian itu cuma mimpi.

Sejak bermimpi itu, Cin Si Ong terus memikirkan impian itu. "Apakah di kemudian hari kerajaanku akan dirampas orang! Ini tak boleh dibiarkan! Selama aku masih hidup, kerajaanku tak mungkin bisa direbut!" ujar Cin Si Ong dalam hati.

Esok harinya, Cin Si Ong mengumpulkan menteri-menterinya untuk diajak berunding. Dalam persidangan, Cin Si Ong mengemukakan impiannya dan dia tidak mau kerajaannya jatuh ke tangan orang lain. "Agar kerajaanku tak bisa dirampas orang aku harus berumur panjang!" pikir Cin Si Ong. Cin Si Ong berpikir dengan berumur panjang dia bisa mempertahankan kerajaannya agar tidak dirampas orang. "Bagaimana caranya supaya aku berumur panjang?" tanya Cin Si Ong kepada para menterinya.

"Tuanku harus tetap hidup sehat, kalau perlu Tuanku harus mencari obat panjang umur," jawab seorang menterinya. "Aku memang akan menyuruh kalian mencari obat ajaib itu, sehingga kelak aku menjadi Tiang Seng Put Lo (Berumur panjang, selamanya tidak bisa tua). Aku ingin memerintah kerajaanku untuk selama-lamanya. Apakah kalian bisa mendapatkannya?" "Di tengah lautan timur, ada sebuah pulau yang diberi nama Hong Lay To. Kabarnya di sana banyak tersedia Sian-sian. Di pulau itu ada semacam rumput obat yang bisa membuat orang panjang umur." kata Song Bu Ki.

Barangkali karena Song Bu Ki takut dihukum dan dia tak mau mengecewakan Rajanya yang kejam itu, maka dia mengajukan tamunya Cie Hok untuk mencari obat "panjang umur" tersebut. "Apa kau sudah pernah kesana?" tanya Cin Si Ong. "Terus terang, hamba sendiri belum pernah kesana," kata Song Bu Ki. "Tapi saya kedatangan seorang tamu bernama Cie Hok. Katanya dia sudah pernah pergi ke pulau itu dan melihat Sian-sian yang sedang menaiki burung bangau." Cin Si Ong girang mendengar keterangan itu. Dia lalu menyuruh orang memanggil Cie Hok.

"Pengawal, cepat panggil Cie Hok ke mari! Aku ingin mendengar keterangannya secara langsung!" perintah Cin Si Ong. Kemudian beberapa orang suruhan Cin Si Ong bergegas memanggil Cie Hok. Begitu Cie Hok sampai di hadapannya, Cin Si Ong langsung mengutarakan niatnya untuk berumur panjang. "Aku ingin mengutusmu mencari obat itu" Apakah kau bersedia?" tanya Cin Si Ong.

Mendapat perintah itu, Cie Hok diam sejenak. Tak lama dia sudah bicara lagi. "Jika tuanku memang hendak mengutus hamba mencari obat itu, hamba bersedia. Tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi!" tutur Cie Hok. "Apa syarat yang kau minta?" tanya Cin Si Ong. "Pertama, tuanku harus menyiapkan biaya perjalanan yang tak sedikit. Karena biaya perjalanan ke pulau itu sangat mahal. Kedua, tuanku harus membuatkan hamba sebuah perahu besar yang sudah diisi dengan berbagai macam keperluan anak buah kapal..." jawab Cie Hok.

"Hanya itu?" tanya Cin Si Ong lagi. "Itu semua masih belum cukup. Tuanku juga harus menyiapkan pakaian, makanan, air minum dan berbagai keperluan selama perjalanan itu berlangsung. Selain itu hamba juga minta agar tuanku membekali hamba dengan uang agar perjalanan ini bisa berhasil," kata Cie Hok.

Cin Si Ong yang sudah lupa daratan sangat menginginkan obat "panjang umur" itu. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyetujui semua persyaratan yang diajukan Cie Hok. Barangkali jika waktu itu Cie Hok meminta separuh dari kerajaannnya pun pasti akan diberikannya! Cin Si Ong lantas memerintahkan orang membuat sebuah kapal besar yang lalu diisi segala barang, makanan dan uang. Selang beberapa waktu kapal yang dibuat sudah selesai. Cin Si Ong lalu memerintahkan Cie Hok naik perahu tersebut untuk memulai pelayaran. Cin Si Ong senang bukan main karena tak lama lagi umurnya akan bertambah panjang.

Lewat beberapa bulan, Cie Hok tak juga pulang. Bahkan kabarnya pun tidak terdengar. Jangankan pulang, secarik suratnya pun tak pernah datang! Cin Si Ong yang sudah tak sabar segera memanggil menteri yang bernama Louw Seng. "Louw Seng, sudah beberapa bulan aku mengutus Cie Hok mencari obat panjang umur. Anehnya, sampai sekarang aku belum juga mendapat kabar darinya. Sekarang aku perintahkan kau mencari Cie Hok sampai ketemu! Cari dia hidup atau mati!" perintah Cin Si Ong.

Mendengar perintah itu Louw Seng jadi kebingungan. Dia tidak tahu ke mana harus mencari Cie Hok. Louw Seng merasakan seluruh tubuhnya gemetar mendengar perintah itu. Tapi dia tidak berani menolak perintah Cin Si Ong. Louw Seng akhirnya menerima tugas itu. "Ba... baik, Tuanku" ujar Louw Seng gemetar. "Bagus!" kata Cin Si Ong. "Besok kau boleh berangkat dengan menggunakan kapal yang besar!" Sebelum berangkat, hati Louw Seng sangat bimbang. Dia tak tahu harus mencari Cie Hok ke mana. Sebenarnya Louw Seng yakin tidak mungkin menemukan Cie Hok. Tapi dia tak berani menolak karena takut dihukum mati oleh Cin Si Ong yang kejam.

Untuk tidak mengecewakan Cin Si Ong, maka pergilah Louw Seng melaksanakan tugas tersebut. Tapi dia bukan berlayar ke tengah lautan, melainkan menuju ke suatu tempat. Dia lalu naik ke atas gunung Tay Gak. Begitu sampai di puncak gunung itu, dia melihat ada seseorang sedang tidur di atas batu. "Aneh, tempat ini terletak jauh dari mana-mana sehingga tak mungkin ada manusia yang mau datang ke sini. Ah, pasti orang itu seorang petapa atau malah seorang dewa," pikir Louw Seng. Lalu Louw Seng membangunkan orang itu, buru-buru dia memberi hormat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment