Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 16

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 16

"Siapa Anda?" tanya orang itu.

"Nama hamba Louw Seng. Hamba diutus oleh Cin Si Ong, raja dari negeri Cin, untuk mencari obat panjang umur," kata Louw Seng.

"Mencari obat panjang umur... Ha... ha... ha..." Mendengar ucapan Louw Seng, orang itu tertawa terbahak-bahak. "Ternyata Cin Si Ong sangat bodoh! Di dunia ini, mana ada obat panjang umur." Melihat orang itu berwajah aneh, Louw Seng segera berlutut. "Hamba mohon agar Sian-seng mau memberi petunjuk, ke mana hamba harus mencari obat itu?" kata Louw Seng.

Dari balik batu, orang itu mengambil sebuah buku. Kemudian buku itu diserahkan kepada Louw Seng sambil berkata, "Kau boleh beritahu Cin Si Ong bahwa obat macam begitu tidak ada di dunia ini. Sekarang aku berikan buku ini agar dia membacanya. Di dalam buku ini tertulis beberapa rahasia, suruh dia memperhatikan betul isinya!" kata orang itu.

Ketika Louw Seng mau menanyakan sesuatu, orang itu sudah tidur kembali. Bahkan nafasnya sudah tidak terdengar. Maka turunlah Louw Seng dari gunung Tay Gak, kemudian berjalan pulang. Sesampai di istana Kerajaan Cin, dia serahkan kitab pemberian orang aneh di gunung Tay Gak tersebut pada Cin Si Ong. Louw Seng pun menceritakan satu persatu kejadian yang dia alami.

"Terus terang hamba tak bisa menemukan Cie Hok ataupun obat panjang umur seperti yang Tuanku inginkan. Hal ini karena hamba naik ke gunung Tay Gak. Namun di gunung itu hamba bertemu..." cerita Louw Seng. "Bertemu dengan siapa?" kejar Cin Si Ong penasaran. "Hamba bertemu dengan seorang aneh. Orang itu mengatakan bahwa obat yang Tuanku cari tidak ada di dunia ini. Tapi dia memberikan sebuah kitab kepada hamba," lanjut Louw Seng.

"Sebuah kitab... Kitab apa itu?" Cin Si Ong semakin penasaran. "Entahlah! Namun orang itu berpesan agar hamba menyerahkannya pada Tuanku. Tak cuma itu, dia juga berpesan agar Tuanku membaca kitab itu secara seksama. Karena menurutnya, ada beberapa rahasia yang perlu Tuanku ketahui melalui kitab itu!" jawab Louw Seng sambil menyerahkan kitab itu.

Begitu menerima kitab itu, Cin Si Ong lantas menyuruh Li Su untuk membuka kitab yang berisi berbagai rahasia yang akan terjadi di kemudian hari. Cin Si Ong lalu ikut membacanya. Cin Si Ong kaget melihat isi kitab tersebut. Karena di dalam kitab itu ada tulisan yang mengatakan bahwa kelak akan ada yang merebut kerajaan Cin. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa orang yang bakal merebut kerajaan Cin itu adalah bangsa Ouw.

"Bangsa Ouw berada di sebelah utara, kalau begitu aku harus menghadang supaya mereka jangan sampai bisa masuk ke negeri ini!" pikir Cin Si Ong. Kemudian Cin Si Ong yang ketakutan negerinya dirampas oleh bangsa asing langsung memerintahkan pada seorang jendral perang bernama Bong Koat untuk menghadap. "Jenderal Bong Koat, engkau harus mengerahkan orang untuk membangun benteng di sepanjang perbatasan. Kerahkan seluruh rakyat, tua dan muda agar bekerja keras membangun sebuah tembok besar," kata Cin Si Ong.

"Di sepanjang tembok harus didirikan pos-pos penjagaan. Jangan lupa, tembok itu harus tebal dan tinggi. Tembok itu akan kuberi nama 'Ban Li Tiang Shia'!" kata Cin Si Ong. "Baik, Tuanku!" jawab Jenderal Bong Koat. Tepat tahun 225 sebelum masehi, pembangunan Banshia dimulai. Perintah ini menimbulkan penderitaan hebat bagi rakyat negeri Cin. Karena setelah mendapat perintah dari Cin Si Ong, Jenderal Bong Koat langsung menangkap dan membawa rakyat negeri Cin ke suatu tempat. Kemudian mereka semua digiring dan dipaksa untuk bekerja dalam proyek pembangunan tembok besar tersebut.

Ribuan rakyat negeri Cin tewas dalam pembangunan tembok tersebut. Nyawa rakyat ketika itu seolah tidak berharga lagi. Kematian mereka setiap hari jumlahnya terus membesar karena mereka bekerja siang dan malam tanpa bayaran. Terkadang makan pun mereka jadi kekurangan. Rakyat dicekam rasa ketakutan yang hebat. Bukan saja orang yang sukarela datang bekerja membangun "Tembok Besar" itu, tapi bagi mereka yang menolak atau bersembunyi. Semula peraturannya, jika ada yang punya dua orang anak, hanya salah satu yang harus bekerja paksa. Dan jika anaknya tiga, dua harus kerja paksa. Tapi lama-lama, sekalipun orang itu hanya punya seorang anak, dia juga harus bekerja paksa!

Tak ada jalan untuk menghindari kerja paksa ini. Banyak rakyat yang merasa tidak kerasan dan berusaha meloloskan diri ke luar dari daratan Tiongkok. Tapi ternyata Cin Si Ong tidak puas dengan semua usahanya. Karena semua usahanya mendapat tentangan keras dari para cendikiawan dan seniman. Maka Cin Si Ong menganggap golongan ini sebagai kekuatan yang dapat membahayakan kedudukannya. Mereka yang sering menulis buku mengenai keburukan dinastinya segera ditangkap dan buku-bukunya dimusnahkan.

Maksud Cin Si Ong membuat "Ban Li Tiang Shia" itu adalah untuk menghadang atau membendung serangan musuh dari luar; tapi dia tidak mengira justru bahaya itu datang dari dalam negeri sendiri. Yang ada dalam benak Cin Si Ong ketika itu supaya dia menjadi raja abadi. Tidak tahunya perintahnya itu menimbulkan kisah sedih. Salah satu dari kisah sedih tersebut adalah kisah tragedi anak manusia yang bernama Beng Ciang Nie.

Kisahnya demikian: Ketika Cin Si Ong mengeluarkan perintah membangun "Ban Li Tiang Shia" untuk melindungi kerajaannya dari serangan musuh, orang-orang di daratan Tiongkok sangat menderita karena mereka dipaksa supaya bekerja rodi. Mereka diperintah mengangkut batu dan tanah. Membuat batu untuk tembok. Saat bekerja pun mereka tak luput dari dera dan cambukan para pengawal. Mereka memaksa agar rakyat bekerja keras untuk memenuhi ambisi Cin Si Ong.

Mereka bekerja di bagian utara di perbatasan Shan-hai-kuan. Penderitaan mereka bertambah karena bahan makanan sangat kurang, pakaian untuk menahan hawa dingin pun tak ada. Maka setiap hari tak terhitung banyaknya orang yang meninggal. Di antara orang-orang yang bekerja rodi itu ada seorang bernama Ban Si Liang. Dia sudah beristeri, seorang perempuan yang cantik molek dan baik budinya. Isteri pemuda itu bernama Beng Ciang Nie.

Ketika suaminya dipaksa dan diseret dari rumahnya untuk melakukan kerja paksa, dia sangat berduka. Saat sendirian di rumahnya tak putus-putusnya Beng Ciang Nie berharap agar suaminya selamat dan tak kurang suatu apa. Bukan main rindunya dia. Ketika Beng Ciang Nie sedang memikirkan nasib suaminya pada malam-malam yang sepi, air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih. Akhirnya dia jadi geram pada Cin Si Ong yang kejam itu.

Pada suatu musim semi ketika bunga-bunga bermekaran menyebar bau harum yang semerbak, dan tumbuh-tumbuhan pun bersemi daun-daunnya hijau. Rumput-rumput dipadang pun terhampar hijau bagaikan sebah permadani dari batu jamrut. Ketika itu Beng Ciang Nie berjalan-jalan di pematang sawah yang daun padinya mulai menghijau. Demi dilihatnya ada sepasang burung layang-layang melayang sambil berbunyi merdu; makin sedihlah hati Beng Ciang Nie, lalu dia bersenandung halus.

Siang mengejar malam, malam membuntuti siang, musim gugur telah tiba, tapi belum juga ada kabar tentang Wan Si Liang. Dari orang-orang yang bercerita pada Beng Ciang Nie, Tembok Besar itu dibangun di daerah Utara yang jauh letaknya dan sangat dingin. Sesudah mendengar kabar itu hati Beng Ciang Nie bertambah gelisah. Diam-diam dia membuat sebuah baju dingin untuk suaminya. Juga sepasang sepatu terbuat dari kapas.

Sesudah barang-barang itu jadi, Beng Ciang Nie kebingungan. Siapa yang akan mengantarkan barang-barang itu pada suaminya? Jarak dari kampung halamannya ke Tembok Besar itu amat jauh. Sesudah siang malam berpikir, akhirnya dia memutuskan akan mengantarkan barang-barang itu sendiri. Tatkala Beng Ciang Nie berangkat, hawa udara sudah mulai dingin. Daun-daun sudah berguguran ke tanah. Padang yang luas pun sudah mulai gundul.

Pemandangan ini justru menambah kesedihan Beng Ciang Nie. Di perjalanan yang sepi sesepi hatinya, membuat hati Beng Ciang Nie semakin pilu. Betapa tidak, seumur hidupnya Beng Ciang Nie belum pernah meninggalkan kampung halamannya. Sekarang, dia harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berbahaya. Karena itu hatinya sangat gelisah, karena tak tahu dia harus bertanya-tanya di sepanjang jalan.

Pada suatu saat hari sudah mulai gelap berganti dengan malam yang semakin dingin. Dia saat itu berada jauh dari desa apalagi kota. Terpaksa dia mencari-cari rumah untuk bermalam, kebetulan menemukan sebuah kuil kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon. Akibat perjalanan seharian suntuk, Beng Ciang Nie merasa penat. Lalu dia membaringkan dirinya di atas sebuah meja terbuat dari batu. Kemudian tanpa terasa tertidur lelap.

Dalam tidurnya dia bermimpi suaminya telah kembali. Alangkah girangnya Beng Ciang Nie. Ketika Beng Ciang Nie bertanya pada suaminya, sang suami mengaku telah meninggal dengan penuh penderitaan di perantauan tempat dia bekerja paksa! Beng Ciang Nie terbangun kaget dan menangis tersedu-sedu. Ketika itu fajar sudah menyingsing. Beng Ciang Nie tampak bimbang dan masgul.

Dalam hatinya dia mengutuk dan memaki-maki pada si raja lalim Cin Si Ong! Betapa banyak orang yang harus berpisah dengan ayah dan ibu, dengan isteri dan anak-anaknya yang masih kecil. Banyak keluarga yang harus hidup terlunta-lunta gara-gara si raja lalim itu. Jalan dan terus berjalan. Begitu Beng Ciang Nie melakukannya.

Pada suatu hari, ia singgah di sebuah rumah penginapan yang terletak di tepi jalan raya menuju ke pegunungan. Pemilik rumah penginapan itu ternyata seorang nenek. Ketika melihat pakaian Beng Ciang Nie yang berdebu dan basah oleh keringat, si nenek bertanya pada tamunya. "Kau mau ke mana, Nak?" kata si nenek. "Saya mau ke Tembok Besar mencari suami saya," jawab Ciang Nie. Mendengar jawaban itu si nenek kelihatan amat terharu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment