Chapter 17
Oh, betapa jauhnya tempat itu, Nak. Kau harus mendaki gunung dan menyeberangi sungai-sungai. Bagaimana seorang perempuan muda sepertimu bisa menempuhnya? katanya.
Saya sanggup, Nek, karena saya harus menyampaikan baju dan sepatu hangat ini pada suami saya, jawab Beng Ciang Nie.
Si nenek terharu sekali juga merasa khawatir akan keselamatan Beng Ciang Nie.
Esok harinya saat Beng Ciang Nie melanjutkan perjalanannya, si nenek mengantarkannya sampai sejauh beberapa li. Tak henti-hentinya Beng Ciang Nie berjalan dan berjalan.
Pada suatu hari dia sampai di sebuah lembah yang curam dan dalam sekali di daerah pegunungan. Awan kelabu menutupi langit, angin bertiup kencang suaranya menderu-deru amat mengerikan; hawa udara pun makin lama semakin dingin saja.
Lama dia berjalan tak sebuah rumah pun ditemuinya. Di mana-mana yang tampak hanya batu-batu dan tebing serta belukar yang rimbun dan berduri, alang-alang yang tinggi.
Ketika hari mulai gelap jalan pun mulai tak kelihatan. Di kaki gunung itu mengalir sebuah sungai. Airnya tampak bening. Di malam yang gelap itu ke mana dia akan mencari penginapan. Terpaksa malam itu Beng Ciang Nie tidur di atas rumput yang dingin.
Seharian itu belum sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya. Malam itu seluruh tubunya menggigil kedinginan. Ketika ia ingat pada suaminya yang sedang bekerja berat di daerah yang amat dingin, dia jadi bertambah sedih.
Fajar di ufuk Timur mulai merekah. Dia bangun dengan sangat terkejut karena tubuhnya telah diselimuti oleh salju. Hati Beng Ciang Nie bertambah duka. Bagaimana dia akan meneruskan perjalanan dalam badai salju yang dingin itu?
Tiba-tiba seekor gagak terbang di atas kepalanya sambil berbunyi. "Koak! Kak! Kak!" begitu suara gagak itu. Burung itu lalu terbang dan berhenti di suatu tempat yang tak jauh dari tempat Beng Ciang Nie.
Ah, barangkali gagak ini ingin menunjukkan jalan bagiku? pikir Beng Ciang Nie. Maka bangkitlah Beng Ciang Nie, lalu berjalan mengikuti sang gagak yang terbang di depan dia. Karena dadanya agak lega dia mulai bernyanyi: "Musim dingin alam pun berselimut salju, Kuantar baju dingin untuk suamiku, Gagak terbang jadi penunjuk jalan, Ke Tembok Besar bergandeng tangan."
Jalan dan jalan terus. Mendaki gunung, menuruni lembah, menyeberangi sungai dan bersusah payah di tengah belukar penuh duri. Begitu yang dilakukan Beng Ciang Nie dengan penunjuk jalan seekor gagak.
Entah sudah berapa lama dia berjalan akhirnya Tembok Besar itu sudah nampak di depannya. Betapa girang hati Beng Ciang Nie saat itu. Tembok Besar tampak melingkar, mendaki, terus berbelok-belok, tampaknya bagaikan seekor ular sedang tengkurup di atas gunung.
Angin menderu-deru dinginnya terasa sampai ke tulang sumsum. Gunung-gunung telah diselimuti salju, tak tampak sebatang pohon pun ada disana. Yang tampak oleh Beng Ciang Nie hanya kerumunan orang bagaikan anai-anai sedang bekerja membangun sarangnya.
Beng Ciang Nie berjalan menyusuri Tembok Besar mencari-cari suaminya. Di tengah puluhan ribu bahkan ratusan ribu lautan manusia yang sedang bekerja paksa, apa mungkin dia bisa menemukan suaminya? Kepada setiap orang yang ditemuinya dia bertanya menanyakan suaminya. Tapi tak seorang pun bisa memberitahu di mana suaminya berada.
Beng Ciang Nie menyaksikan para pekerja yang kurus kering, tulang-tulang rusuknya tampak menonjol keluar. Betapa penderitaan mereka itu. Tapi Beng Ciang Nie tak bisa berbuat apa-apa, selain melihatnya dengan sangat terharu. Wajahnya pucat tak ubahnya mereka itu seolah-olah mayat hidup saja.
Disana-sini Beng Ciang Nie menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan dan tidak dikubur. Menggeletak bagai bangkai binatang saja. Beng Ciang Nie terus berjalan sambil bertanya-tanya. Akhirnya Beng Ciang Nie mendapat kepastian dari seorang buruh, bahwa seperti mimpinya, suaminya telah lama meninggal.
Mendengar kabar itu maka pingsanlah dia! Para buruh segera menolongnya. Lama sekali baru Beng Ciang Nie sadar kembali. Dia menangis dengan sangat sedih berturut-turut beberapa hari lamanya. Para pekerja pun banyak yang ikut menangis sedih.
Konon menurut legenda, tangis Beng Ciang Nie ini telah merobohkan Tembok Besar sepanjang delapan ratus kilometer. Batu-batu dan pasir bergemuruh saat Tembok Besar itu roboh ke tanah! "Tangis Beng Ciang Nie merobohkan Tembok Besar!" teriak para pekerja dengan nyaring. Semua terkejut dan kagum.
Robohnya Tembok Besar ini dilaporkan pada Kaisar Cin Si Ong. Dia kaget dan ingin tahu siapa Beng Ciang Nie itu. Maka buru-buru Cin Si Ong berangkat menuju ke Tembok Besar yang roboh itu.
Begitu Cin Si Ong sudah bertemu dengan Beng Ciang Nie yang berpakaian seadanya, tapi wajahnya secantik bidadari, Cin Si Ong terpesona! Sesudah tahu sejarah Beng Ciang Nie dia sangat kagum. Beng Ciang Nie yang sudah ada di kemahnya, lalu dibujuk agar dia mau menjadi selir Cin Si Ong.
Di dalam hati Beng Ciang Nie ada kebencian maha besar. Cin Si Ong-lah penyebab kematian suaminya. Sudah pasti dia tak mau menjadi selir raja durjana itu. Tapi sebagai wanita yang cerdas dan bijaksana dia tahu; jika dia menolak keinginan raja jahat itu, pasti dia akan mati dengan sia-sia.
Maka dia lalu menjawab dengan bijaksana. "Hamba tidak keberatan Tuanku jadikan hamba Selir Tuanku. Tapi ada tiga syarat yang harus Tuanku penuhi." kata Beng Ciang Nie. "Apa itu?" kata Cin Si Ong.
"Yang pertama, jenazah suami hamba supaya dimasukkan ke dalam sebuah peti mati berlapis emas; yang ke-dua, semua menteri dan hulubalang Tuanku harus berkabung dan ikut serta dalam upacara pemakaman suami hamba. Yang ke-tiga, Tuanku juga harus ikut berkabung dan mengantar jenazah sampai ke pekuburan suami hamba." kata Beng Ciang Nie.
Sesudah berpikir sejenak dan karena Cin Si Ong amat ingin mendapatkan Beng Ciang Nie yang cantik molek itu, akhirnya dia berkata. "Baiklah, aku setuju!" katanya. Semua permintaan Beng Ciang Nie dipenuhi. Serta penguburan dilaksanakan, para hulubalang, menteri dan Raja Cin Si Ong sendiri ikut berkabung.
Mereka mengantarkan jenazah suami Beng Ciang Nie ke pekuburan. Cin Si Ong berjalan di belakang kereta yang mengangkut peti mati suami Beng Ciang Nie. Para menteri berjalan di belakang Cin Si Ong. Di sepanjang jalan Beng Ciang Nie menangis sedih.
Ketika penguburan sudah selesai Beng Ciang Nie berjalan ke tepi sungai melintas di depan kuburan suaminya. Tiba-tiba saja Beng Ciang Nie melompat ke dalam sungai. Bukan main kagetnya Cin Si Ong. Paras Cin Si Ong berubah pucat, lalu memerintahkan anak buahnya segera menyelamatkan Beng Ciang Nie.
Tapi .....sudah terlambat. Karena konon Beng Ciang Nie sudah berubah menjadi seekor ikan yang cantik. Ikan itu berenang di dalam air yang kebiru-biruan.
Pada masa pemerintahan Cin Si Ong terjadi tragedi yang mengenaskan. Yaitu pemusnahan kitab-kitab ilmu pengetahuan, agama, filsafat dan sebagainya. Pengetahuan manusia yang ada dalam buku-buku itu menurut jalan pikiran Cin Si Ong sangat berbahaya.
Itu sebabnya harus dimusnahkan. Bukan itu saja, bahkan para sastrawan, seniman, cendekiawan yang bisa menulis buku pun dibunuhnya. Pembunuhan masal ini membuat orang amat ketakutan.
Para pelajar dicekam ketakutan yang amat sangat, karena mereka dikejar, dibunuh, bahkan sebelum dibunuh mereka disiksa dahulu. Ini semua dilakukan oleh Cin Si Ong, supaya kelak jangan timbul pemberontakan, masalah dan perebutan atas kekuasaannya sebagai Maha Raja.
Pemusnahan berbagai tulisan berlangsung lama. Tragedi nasional Tiongkok yang diciptakan oleh Cin Si Ong ini membuat putra sulungnya yang bernama Hu Souw ikut perihatin. Lalu Hu Souw yang amat peduli itu menemui ayahnya dan mencoba memperingatkan dan menasihatinya.
Tapi bukan senang Cin Si Ong murka bukan main. Kemudian memerintahkan membuang Hu Souw ke tanah Sian-kun, tidak diizinkan pulang lagi ke kota Ham-yang, yaitu tempat pembuatan "Ban Li Tiang Shia".
Karena Cin Si Ong masih dicekam oleh ketakutan kehilangan kerajaannya, maka tidak berhentinya dia memerintahkan anak buahnya meronda perbatasan negaranya. Bahkan dia sendiri sering melakukan perjalanan meronda batas negaranya!
Cin Si Ong pun lalu mengeluarkan perintah kepada barang siapa yang berani menceritakan keburukannya maka orang itu akan dihukum mati, karena itu orang tidak berani bicara apa-apa.
Harian Ceng-beng hari orang beramai-ramai ke kuburan untuk membersihkan kuburan leluhurnya. Sebenarnya perayaan Ceng-beng ini mulai dikenal luas saat Chu Goan Ciang, Raja negeri Beng berkuasa.
Dari hari ke hari kekuasaan Cin Si Ong semakin besar. Negeri Han pun akhirnya jatuh di bawah kekuasaan negeri Cin. Sejak kejatuhan kerajaan Han, rakyat negeri itu jadi semakin menderita.
Namun mereka tak berani berbuat apa-apa dan hanya bisa membicarakan kekejaman Cin Si Ong secara diam-diam. Pembicaraan mengenai kekejaman Cin Si Ong berlangsung di mana-mana. Dari desa sampai kota. Dari restoran besar sampai warung arak biasa.
Di kedai arak itu sering berkumpul puluhan orang yang asyik membicarakan kekejaman Cin Si Ong. Mereka yang berkumpul tak memandang usia. Tua muda semua bercampur jadi satu.
Di antara orang-orang itu, ada seorang yang sudah tua bernama Tio Sam Kong. Dia tampak paling bersemangat dalam memperbincangkan keadaan negara dengan para sahabat dan kenalannya.
"Aku dengar pada zaman dahulu, negeri ini diperintah oleh seorang raja yang sangat adil dan bijaksana.