Chapter 18
Maka ketika itu keadaan negeri sangat aman dan rakyatnya juga sejahtera. Misalnya, saat Raja Giauw Sun atau Bun Ong memerintah negeri ini, seluruh rakyat negeri hidupnya senang. Rakyat hidup makmur dan para penjahat pun tidak ada. Konon, sekalipun barang atau uang kita jatuh di jalanan, tidak ada orang yang berani memungutnya. Semua orang menjalankan adat istiadat dengan baik. Satu sama lain menaruh hormat," kata Tio Sam Kong.
"Wah, hebat sekali. Bagaimana jika dibandingkan dengan zaman sekarang?" tanya seorang tamu.
"Zaman sekarang? Kau sudah tahu sendiri, tak perlu kuceritakan lagi!" kata Tio Sam Kong.
"Tuan benar!" kata beberapa orang yang ada di situ. "Saya pun amat takut."
Ketika itu, seorang anak muda yang tampan tampak asyik mendengarkan percakapan itu. Tiba-tiba dia berkata dengan suara keras, "Sahabatku sekalian," kata anak muda itu. "Ternyata kalian tidak berani membicarakan kebiadaban Cin Si Ong. Baiklah, sekarang saya akan bercerita tentang kebiadaban raja tersebut supaya kalian semua mengetahuinya."
Semua orang kaget dan saling berpandangan. Di antara mereka ada yang merasa ngeri dan amat ketakutan. Beberapa orang bahkan berusaha menjauh dari si pemuda. Tapi pemuda itu tetap meneruskan bicaranya.
"Dengar baik-baik," kata si anak muda. "Kejahatan Cin Si Ong ini sudah di luar batas perikemanusiaan. Apa yang dia kerjakan tidak ada gunanya dan hanya menyengsarakan rakyat!"
Semua yang mendengar melotot kaget. Sebagian lagi tertunduk cemas dan bingung. Namun si anak muda tetap meneruskan bicaranya. "Dia memaksa rakyat bekerja keras tanpa upah. Sejak zaman dahulu, rasanya baru sekarang ada raja yang sangat kejam seperti dia! Tidak heran jika seluruh rakyat negeri ini ingin memakan daging atau menghirup darahnya! Semua orang berharap supaya segera keluar dari penderitaan ini dan menemukan seorang raja yang adil untuk menggantikan Cin Si Ong!" kata anak muda itu dengan lantang.
Mendengar ucapan anak muda itu, bukan main terkejutnya orang-orang di tempat itu. Mereka semua buru-buru bubar. Rupanya mereka takut menerima akibat pembicaraan anak muda itu.
Selidik punya selidik, ternyata anak muda yang bicara keras itu orang dari negeri Han. Namanya Thio Liang alias Chu Pong. Thio Liang ini masih turunan seorang Tay-siang dari negeri Han. Ketika Cin Si Ong menaklukkan negeri Han dan membunuh rajanya, ternyata ayah Thio Liang serta sanak-saudaranya ikut terbunuh. Maka tak heran jika dia menaruh dendam kepada Cin Si Ong.
Ketika semua orang kabur karena ucapannya itu, Thio Liang malah tertawa geli. Tapi tiba-tiba dia merasa kaget karena ada seorang pemuda yang berbadan tinggi besar malah datang menemuinya.
"Siapa namamu?" tanya orang itu.
"Namaku Thio Liang! Anda sendiri?" kata Thio Liang.
"Nama saya Lee Cong Hai. Aku tinggal di tepi laut. Karena tak sanggup menerima perlakuan Cin Si Ong terhadap sanak dan keluargaku, aku kabur sampai ke tempat ini. Tadi ketika aku mendengar ucapan Heng-tiang (Anda), saya pikir ucapan itu sangat masuk akal. Cuma sayang, tidak ada jalan untuk membunuhnya?" kata Cong Hai.
Mendengar ucapan Lee Cong Hai tersebut, Thio Liang jadi girang. Dia mengawasi Cong Hai yang tampak gagah dan kuat, lalu Thio Liang menceritakan asal-usul dirinya. "Aku putra Tay-siang dari negeri Han. Jika benar Heng-tiang berniat membunuh Cin Si Ong, sebenarnya tak terlalu susah. Cuma kita harus punya kekuatan dan keberanian," kata Thio Liang.
"Aku berani! Kurasa kekuatanku sudah cukup untuk itu! Senjata toya besi yang beratnya seratus dua puluh kati ini pasti sanggup memecahkan kepala raja jahanam itu," kata Lee Cong Hai geram.
"Cuma...." Lee Cong Hai tak meneruskan kata-katanya.
"Cuma apa sobat?" tanya Thio Liang.
"Cuma aku tak tahu bagaimana caranya untuk mendekati raja busuk itu?"
Mendengar ucapan Lee Cong Hai, bukan main girangnya Thio Liang. "Jika kau memang sudah siap membunuhnya, sekarang kau ikut aku dan diam di rumahku. Kita cari waktu yang tepat untuk menjalankan rencana ini. Aku dengar tak lama lagi Cin Si Ong akan lewat di tempat ini. Nanti jika saatnya tiba, kau boleh menghajar kepalanya hingga tewas!" kata Thio Liang.
Mendengar keterangan itu, Lee Cong Hai menjadi girang sekali. Thio Liang lantas mengajak Cong Hai ke rumahnya.
***
Pada suatu hari....
Thio Liang sudah mendengar kabar bahwa Cin Si Ong akan melewati di kota Bu-yang-koan. Buru-buru Thio Liang memberi tahu Lee Cong Hai agar segera bersiap dengan senjatanya. Tak berapa lama sesudah Lee Cong Hai bersembunyi, para pengiring Cin Si Ong sudah sampai. Dari kejauhan Lee Cong Hai sudah melihat ada sebuah kereta yang diiring dan dipayungi. Kereta itu dijaga dengan sangat ketat. Lee Cong Hai yakin kereta itulah yang dinaiki oleh Cin Si Ong. Begitu melihat kereta itu, Lee Cong Hai bersiap-siap. Saat kereta sudah dekat, Lee Cong Hai keluar dari persembunyiannya dan langsung menyerang!
"Bangsat! Mampuslah kau!" teriak Cong Hai sambil mengayunkan toyanya. Toyanya yang berat itu menimpa kereta dengan hebat. Dan kereta itu pun hancur berantakan. Tapi betapa kagetnya, Cong Hai karena kereta itu kosong. Dia tidak menyangka bahwa kereta itu adalah kereta tiruan untuk menghindarkan Cin Si Ong dari bahaya.
Cin Si Ong yang terkenal jahat rupanya sudah mengira bahwa akan banyak orang yang mau mencelakakan dirinya. Karena itu dengan sengaja dia memerintahkan anak buahnya membuat kereta tiruan sebanyak tiga buah. Dugaan Cin Si Ong ternyata benar, kereta palsunya terhajar hancur oleh Lee Cong Hai.
Tak lama Lee Cong Hai segera ditangkap oleh anak buah Cin Si Ong. Begitu Lee Cong Hai tertangkap, dia langsung dibunuh. Sesudah itu Cin Si Ong mengeluarkan perintah supaya menangkap orang yang menyuruh Cong Hai.
Mendengar bahwa Cong Hai telah gagal dalam usahanya, Thio Liang sadar bahaya mengancam dirinya. Thio Liang buru-buru kabur ke kota Hee-pi, lalu bersembunyi di rumah sahabatnya, Hang Pek.
Sesudah Thio Liang bersembunyi di rumah Hang Pek beberapa hari lamanya, pada suatu hari dia pergi ke luar kota. Ketika dia duduk di atas jembatan, tiba-tiba ada seorang tua lewat dan salah sebuah kasutnya terlepas dan jatuh ke dalam lumpur. Orang tua itu menoleh ke arah Thio Liang sambil berkata, "Nak! Tolong kau ambilkan kasutku!" Dengan tak ragu-ragu Thio Liang mengambilkan kasut itu dan menyerahkannya dengan dua belah tangannya. Orang tua itu tidak mengucapkan terima kasih tapi langsung melanjutkan perjalanannya.
Sesudah berjalan beberapa langkah jauhnya, sebelah sandal orang tua itu tertinggal lagi. "Hai, anak muda lekas tolong ambilkan sandalku itu!" katanya. Thio Liang segera mengambilkan kasut itu dan memberikannya dengan senang hati. Kali ini pun orang tua itu tidak mengatakan terima kasih dan lantas berjalan. Ini berlangsung beberapa kali, tapi Thio Liang tetap melayaninya.
Akhirnya orang tua itu mengawasi wajah Thio Liang dan dia tidak melihat Thio Liang marah atau jengkel sedikit pun. Orang tua itu lalu menunjuk ke arah sebatang pohon besar lalu berkata, "Nak! Lima hari lagi, pagi-pagi sekali kau tunggu aku di bawah pohon itu! Aku akan memberimu sesuatu!" kata si kakek penuh misteri. Sesudah itu dia buru-buru pergi.
***
Lima hari kemudian, pagi-pagi sekali Thio Liang sudah datang ke tempat itu. Dia lihat orang tua itu sedang duduk di bawah pohon. Begitu Thio Liang sampai, orang tua itu lantas berkata, "Dasar anak muda, jika janji tidak pernah betul! Karena kau salah janji, sekarang engkau boleh pulang dan tunggu lima hari lagi. Pagi-pagi sekali engkau datang ke tempat ini, baru kuberikan barang itu padamu," kata orang tua itu. Sesudahnya berkata begitu, orang tua itu lantas pergi.
Lima hari kemudian....
Pagi-pagi sekitar pukul empat, Thio Liang sudah berangkat. Sampai di tempat yang dijanjikan, Thio Liang melihat orang tua itu sudah ada. Dia sedang duduk di bawah pohon. Ketika dia melihat Thio Liang, dia lantas marah-marah sambil berkata, "Dasar anak muda, malasnya bukan main. Jam segini baru sampai. Kalau begitu kau boleh pulang dan tunggu lima hari lagi. Awas kau jangan datang terlambat!"
Selang empat hari.....
Pada malam itu, Thio Liang tidak tidur. Sejak sore dia sudah duduk di bawah pohon itu. Thio Liang takut kalau dia terlambat dan keduluan oleh orang tua itu. Kira-kira pukul satu malam orang tua itu pun datang. Waktu itu rembulan bercahaya terang seperti pada siang hari. Thio Liang lalu bersujud di hadapan orang tua itu.
Orang tua itu kemudian menyerahkan tiga buah buku kepada Thio Liang. "Peruntunganmu di kemudian hari sangat baik. Kau akan menjadi orang besar. Sekarang aku akan memberimu tiga buah kitab ilmu perang, kau boleh membacanya. Ilmu perang itu akan sangat berguna untuk membela raja baru yang akan segera muncul. Raja itu akan merebut tahta kerajaan Cin," kata orang tua itu.
Setelah menerima ketiga buku itu, Thio Liang kembali memberi hormat. "Sian-seng siapa nama Anda?" tanya Thio Liang dengan hormat.
"Kau tidak perlu tahu siapa namaku. Tapi ingat tiga belas tahun lagi, di kota Tat-kok-seng, di atas sebuah kuburan raja ada satu batu kuning, itulah aku!" kata orang tua itu. Sesudah berkata begitu, orang tua itu menghilang. Maka sadarlah Thio Liang bahwa orang tua itu pasti seorang dewa!
Thio Liang membawa pulang buku itu dan setiap hari dia baca supaya dia dapat memahami isinya.
***
Dikisahkan di daerah Pay-koan, ada seorang anak muda yang sangat gagah bernama Hang I alias Hang Cek. Sejak kecil Hang I menunjukkan kemauan dan cita-citanya yang sangat besar. Dia anak seorang pembesar berpangkat Tay-ciang 1) bernama Hang Yan dari negeri Couw.
1) TayCiang = Jenderal Besar.
Sudah lama pemuda ini merasa muak dengan tingkah laku Cin Si Ong yang kejam terhadap rakyat. Hang bertekad untuk membunuh Cin Si Ong. Suatu hari Cin Si Ong akan melintas di kota Pay-koan. Mendapat kabar itu, Hang I sangat senang. Apalagi sudah sejak lama dia ingin segera membunuh Cin Si Ong.