Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 19

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 19

Kemudian dia segera bersiap-siap untuk pergi menghadang Cin Si Ong. Namun, sebelum niatnya terwujud, paman Hang I yang bernama Hang Liang sudah mencegahnya.

"Hang I, jangan lakukan itu. Jika kau mau membunuh Cin Si Ong saat ini, sama saja kau ingin mengantar nyawa padanya!" cegah Hang Liang.

"Tetapi Paman, orang inilah yang membuat rakyat jadi menderita!" ujar Hang I bersikeras.

"Benar, tetapi dia dikawal oleh pasukan yang tangguh, sementara kau hanya seorang diri. Apa kau akan sanggup mengatasi para pengawalnya?" tutur Hang Liang menasihati. "Sekarang waktunya belum tepat, lebih baik kita kembali ke negeri kita."

Akhirnya Hang I mengikuti nasihat pamannya untuk kembali ke negeri Couw meskipun di tanah airnya sendiri dia tidak akan memiliki pangkat apa-apa.

Dikisahkan Cin Si Ong sudah sampai di kota Pay-koan. Dia memandang ke kiri dan kanan jalan. Di sepanjang perjalanan itu, Cin Si Ong mengamati jalan-jalan dengan teliti. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tugu yang ada di pinggir jalan besar. Rupanya ada orang yang sengaja memasang tugu bertuliskan beberapa huruf besar. Bunyi tulisan itu kurang lebih begini: "Jika Cin Si Ong mati, maka negaranya akan terbagi-bagi."

Melihat tulisan di tugu tersebut, bukan main marahnya Cin Si Ong. "Kurang ajar, siapa yang membuat tugu ini? Pengawal, hancurkan tugu ini!" bentak Cin Si Ong.

Maka dikerahkanlah anak buahnya untuk menghancurkan tugu tersebut. Belum puas menghancurkan tugu, Cin Si Ong kemudian mengeluarkan perintah untuk mencari siapa yang membuat tulisan di atas tugu tersebut.

"Cari dan seret orang yang membuat tulisan di atas tugu ini!" ujar Cin Si Ong dengan marah.

Para pengawal Cin Si Ong segera disebar untuk mendapatkan informasi tentang pembuat tulisan itu. Namun, usaha keras pasukan Cin Si Ong mencari penulis tugu itu tidak berhasil. Karena kesal dan penasaran, Cin Si Ong lalu memerintahkan untuk membunuh semua tukang ukir batu yang tinggal di daerah itu. Tak cuma itu, Cin Si Ong juga membakar rumah-rumah mereka. Pembunuhan dilakukan dengan sangat kejam tanpa mempedulikan apakah tukang batu itu bersalah atau tidak.

Sesudah itu Cin Si Ong buru-buru pulang ke kota raja. Baru saja rombongannya sampai di bilangan Yan-ciu, hari sudah malam. Terpaksa rombongan ini bermalam di sana. Malamnya Cin Si Ong tidur, tetapi hatinya gelisah dan tidak tenang. Malam itu dia bermimpi. Dalam mimpinya dia bertarung dengan Hay Liong Ong, Sang Raja Naga.

Ternyata Hay Liong Ong sangat gagah perkasa. Dalam pertempuran itu, Cin Si Ong tidak mampu melawan raja naga itu. Ketika Cin Si Ong hendak kabur, dia mengawasi keadaan sekitar. Ternyata dia berada di tengah lautan dan Hay Liong Ong akan segera menelan dirinya. Cin Si Ong kaget bukan main, lalu dia buru-buru bangun. Sejak saat itu dia jatuh sakit dan sakitnya semakin hari semakin parah.

Pada suatu hari, Cin Si Ong yang merasa sakitnya tidak akan membaik segera menyuruh pengawal untuk memanggil Li Su. Sesudah Li Su datang, Cin Si Ong lalu berkata dengan sangat terharu, "Aku rasa penyakitku tidak akan bisa disembuhkan lagi. Aku sangat berdosa telah memerintahkan menimbun lautan. Jika aku sudah mati, kau boleh pergi ke tanah Siang-bun untuk mengambil anakku Tay-cu Hu Souw. Minta dia supaya mau menggantikanku menjadi kaisar negeri Cin! Aku harap kau menjalankan pesanku ini dengan baik."

Sesudah itu Cin Si Ong menyuruh Li Su menulis surat firman kaisar dan mengecapnya dengan stempel raja sesuai dengan pesannya itu. Sesudah Cin Si Ong menyampaikan pesan terakhirnya, dia meninggal dunia. Cin Si Ong berkuasa selama tiga puluh tujuh tahun. Ketika itu usianya baru lima puluh tahun.

Saat Cin Si Ong meninggal, tidak banyak orang yang tahu. Hanya Li Su, Tio Ko, Pangeran Ho Hai, dan para kasim saja yang tahu. Sementara itu, firman Cin Si Ong pun belum dilaksanakan. Tio Ko sangat baik pada Pangeran Ho Hai, dia bermaksud mendudukkan Ho Hai menjadi pengganti Cin Si Ong. Maka dia segera membujuk Li Su.

"Li Tay-hu, mengapa tidak kau ubah saja surat firman itu? Sebaiknya kita angkat Pangeran Ho Hai menjadi kaisar, toh sama-sama putra Cin Si Ong. Bukankah Ho Hai lebih baik daripada Hu Souw?" kata Tio Ko.

"Masalah ini tidak bisa kita lakukan. Sebagai menteri kita harus jujur dan setia kepadanya. Pesan terakhirnya merupakan sebuah perintah!" kata Li Su menolak ajakan Tio Ko berbuat curang.

"Aku harap Li Tay-hu tidak salah mengerti," kata Tio Ko. "Ingat baik-baik, umur manusia sangat pendek. Suatu hari kita tidak bisa berkuasa lagi dan seperti ular tidak memiliki bisa, anak kecil pun boleh mempermainkannya. Ingat baik-baik, Hu Souw sangat dekat dengan Bong Koat, padahal Bong Koat tidak pernah akur dengan kita. Jika Hu Souw yang menjadi raja, pasti dia akan mengangkat Bong Koat menjadi perdana menteri dan mencopot pangkat Tay-hu. Atau mungkin dia malah akan membinasakan Tay-hu. Coba Tay-hu pikirkan masalah ini baik-baik."

Mendengar ucapan Tio Ko, diam-diam Li Su jadi berpikir juga. Tiba-tiba dia berkata, "Tapi sungguhpun demikian, aku tidak berani mengubah pesan kaisar."

"Aku rasa pendapatmu salah!" kata Tio Ko. "Karena kau tak berani mengubah wasiat itu, maka suatu saat nanti itu akan membuat kita sengsara. Coba kau pikir, mana yang lebih baik, kita mengubah wasiat itu dan kita bisa hidup senang atau sebaliknya?"

Karena dipengaruhi terus, lama-lama hati Li Su pun guncang juga. Kemudian dia bangun dari kursinya. Dengan tidak banyak bicara lagi, dia menuruti nasihat Tio Ko untuk mengubah wasiat Cin Si Ong dan mengangkat Ho Hai menggantikan kedudukan ayahnya. Dengan keji komplotan ini pun lalu meniru dan membuat wasiat palsu. Dengan menggunakan nama Cin Si Ong, mereka menyuruh Giam Gak pergi untuk membawa wasiat tersebut kepada Hu Souw. Dalam wasiat tersebut diperintahkan agar Hu Souw segera bunuh diri.

Sementara itu, dikisahkan Li Su bersama Tio Ko membawa jenazah Cin Si Ong pulang ke kota Ham-yang. Begitu sampai, mereka lalu mengangkat Ho Hai menggantikan Cin Si Ong menjadi kaisar dengan gelar Ji Si Hong-tee. Lalu mereka menguburkan jenazah Cin Si Ong di kaki gunung Lee.

Begitu Ho Hai naik takhta, dia lalu memerintahkan agar penghuni istana yang tidak punya anak harus dikubur hidup-hidup di kuburan Cin Si Ong. Ternyata sifat dan kelakuan Ji Si Hong-tee sama dengan ayahnya. Sesudah itu Ji Si Hong-tee lalu mengangkat Li Su dan Tio Ko menjadi pejabat tinggi dan menyerahkan semua urusan negara baik sipil maupun militer kepada mereka berdua.

Keduanya jadi semakin jahat saja. Rakyat di seluruh daratan Tiongkok jadi semakin merasa tidak senang terhadap pemerintahan dinasti Cin. Mereka merasa tak enak makan dan tidur karena hidupnya selalu dalam ketakutan. Di berbagai tempat akhirnya orang-orang membuat perkumpulan untuk memicu huru-hara di dalam negeri.

Dikisahkan Pangeran Hu Souw yang sebenarnya berhak atas takhta kerajaan Cin, merasa sedih ketika menerima perintah agar dia segera bunuh diri. Hu Souw menangis sedih. Lalu dia berkata pada Bong Koat, "Menurut aturan yang berlaku, jika kaisar meminta kita mati, kita harus menurut! Apalagi aku adalah anaknya. Jelas aku harus menaati perintahnya. Maka sekarang aku siap minum racun yang ayahandaku perintahkan."

"Tunggu dulu, Pangeran jangan terburu nafsu. Memang seorang anak harus taat pada ayahnya. Tetapi hamba curiga, wasiat ayah Tuanku itu palsu," kata Bong Koat bersungguh-sungguh. "Sebab mana mungkin ayah Tuanku mau menghukum mati anaknya yang tidak berdosa! Menurut hamba, lebih baik Pangeran pergi dulu ke kota Ham-yang, temui sendiri kaisar! Jika benar dia mau menghukum mati Pangeran, apa boleh buat."

Namun, Hu Souw tidak mau mendengar nasihat dari Bong Koat, malah langsung meminum racun itu hingga tewas. Melihat kejadian itu, Bong Koat menangis sedih. Akhirnya dia segera mengurus jenazah Hu Souw dan memakamkannya dengan sangat sederhana.

Sesudah Giam Gak mendengar seluruh pembicaraan Bong Koat dengan Hu Souw dan melihat Hu Souw mati, dia buru-buru pulang ke kota Ham-yang. Kemudian dia melaporkan apa yang disaksikannya pada Li Su dan Tio Ko.

"Sebenarnya Jenderal Bong Koat sempat curiga dan tidak percaya dengan wasiat itu. Bahkan dia memperingatkan Pangeran Hu Souw agar berhati-hati dan jangan menaati perintah itu. Tetapi Pangeran Hu Souw tidak mau mendengar nasihat itu dan memilih untuk mati," kata Giam Gak mengakhiri laporannya.

Mendengar laporan itu, Ji Si Hong-tee jadi khawatir sendiri. Dia takut di kemudian hari Bong Koat akan membuat huru-hara. Apalagi jenderal itu memegang kekuasaan angkatan perang sebanyak tiga puluh ribu personel. Karena kebetulan banyak sanak keluarga Bong Koat yang tinggal di ibu kota, maka Ji Si Hong-tee lalu mengeluarkan perintah untuk membunuh seluruh keluarga Bong Koat.

Mendengar kabar sanak keluarganya dihabisi oleh Ji Si Hong-tee, Bong Koat lalu meminum racun hingga mati. Mendengar Bong Koat sudah mati, Li Su dan Tio Ko sangat senang sebab tidak ada lagi orang yang mereka takuti. Semakin hari mereka jadi makin bertingkah dan membuat rakyat jadi makin sengsara. Maka tak lama kemudian di seluruh negeri terjadi berbagai huru-hara, tetapi Li Su dan Tio Ko tidak melaporkannya kepada Ji Si Hong-tee. Bahkan sang kaisar baru pun sama sekali tidak peduli pada masalah negara. Siang dan malam kerjanya cuma bersenang-senang di istana.

Dikisahkan di kota Tay-koan, hiduplah seorang pria bernama Lauw Tay Kong. Dia mempunyai seorang istri yang bernama Un Siang. Sejak lama mereka memimpikan untuk mempunyai seorang anak laki-laki. Namun entah mengapa, anak yang diharapkan tak kunjung datang.

Pada suatu malam, tanpa sepengetahuan suaminya, Un Siang bermalam di tepi sebuah empang besar. Malam itu Un Siang bermimpi tidur bersama dengan seorang malaikat. Sementara itu, Lauw Tay Kong sedang sibuk mencari istrinya. Apalagi waktu itu hujan turun dengan amat lebatnya. Lauw Tay Kong pun jadi sangat khawatir.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment