Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 20

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 20

Lauw Tay Kong mencari dan terus mencari istrinya. Akhirnya, ia menemukan sang istri tengah bermalam di pinggiran empang. Begitu sampai di tepi empang tersebut, Lauw Tay Kong terkejut melihat seekor naga tengah melingkar di atas tubuh istrinya. Ia tidak berani mendekat hingga naga tersebut menghilang.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, hal aneh terjadi pada Un Siang, istri Lauw Tay Kong. Ia tiba-tiba hamil. Tepat sembilan bulan kemudian, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Lauw Pang alias Lauw Kui. Ada keunikan pada bayi tersebut, yakni terdapat 72 buah tahi lalat pada paha kirinya. Namun, kedua orang tua Lauw Pang tidak mau ambil pusing dengan tanda-tanda itu.

Lauw Pang tumbuh dengan sehat. Saat menginjak dewasa, tubuhnya tampak tegap dan wajahnya sangat tampan. Ia memiliki sifat sabar, penyayang, dan bijaksana. Kala itu, ia menjabat sebagai *teng-tiang* (semacam mandor) di kota Su-sui. Meski demikian, kehidupan Lauw Pang masih sangat sulit dan ia kurang dihargai orang lain. Apalagi saat itu ia gemar minum arak dan mabuk-mabukan.

Di kota Tay-koan, terdapat seorang sinshe peramal bernama Li Bun. Sudah lama Li Bun memperhatikan Lauw Pang. Ia yakin bahwa suatu hari nanti Lauw Pang akan menjadi orang besar. Setelah memantapkan penglihatannya, Li Bun pulang ke rumah dan memberitahu istrinya.

"Istriku, aku yakin kelak Lauw Pang akan menjadi orang besar!" tutur Li Bun.

"Lalu apa hubungannya dengan kita?" jawab istrinya.

"Tentu ada! Aku bermaksud menikahkan putri kita dengan Lauw Pang!" ujar Li Bun lagi.

Mendengar niat itu, istrinya marah. "Kau sudah gila! Anak kita cantik dan berbudi luhur, mengapa kau ingin menyerahkannya kepada pemuda berandalan seperti Lauw Pang?"

"Sabar dulu, Istriku. Jangan emosi. Aku melihat pemuda ini akan menjadi orang besar di masa depan," bujuk Li Bun.

"Orang besar? Apa kau tidak salah bicara? Pemuda itu jelas tidak berguna, kerjanya hanya mabuk-mabukan!" bentak istri Li Bun sengit. "Apa yang bisa diharapkan dari pemuda macam itu?"

"Ah, kau tahu apa? Yang kutahu dia akan sangat berguna," kata Li Bun kesal. "Sudah, jangan ikut campur. Biarkan aku yang menentukan masa depan anak kita!"

Mendengar ucapan tegas suaminya, sang istri akhirnya menurut. Li Bun kemudian mengundang Lauw Pang untuk makan dan minum arak di rumahnya. Saat itulah Li Bun mengutarakan maksudnya kepada sang tamu.

"Jika Anda tidak keberatan, saya ingin menjodohkan putri saya dengan Anda, Tuan Lauw," kata Li Bun sungguh-sungguh.

"Menjodohkan putri Tuan dengan saya? Apa saya tidak salah dengar?" tanya Lauw Pang terkejut.

"Ya, dengan Anda," lanjut Li Bun.

"Tetapi Tuan, saya tidak berani menerima putri Tuan Sinshe. Kebaikan Sinshe sangat saya hargai, namun ada tiga perkara yang mengganjal dalam diri saya," kata Lauw Pang.

"Soal apa itu?" tanya Li Bun.

"Pertama, saya tidak berpendidikan tinggi. Kedua, saya tidak memiliki kemampuan seperti orang lain. Ketiga, saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. Saya khawatir kelak hanya akan membuat anak Sinshe sengsara," aku Lauw Pang jujur.

"Ah, sudahlah! Aku tidak mempersoalkan hal itu. Aku harap Siang Kong tidak menolak niat baikku ini," kata Li Bun. "Apa pun yang menjadi kendala, mari kita pecahkan bersama."

Melihat kesungguhan tuan rumah yang didampingi istrinya, Lauw Pang tidak punya pilihan lain. Ia segera bersujud di hadapan Li Bun dan istrinya. "Ayah mertua dan Ibu mertua, terimalah hormat saya."

Setelah berbincang sebentar, Lauw Pang berpamitan untuk pulang. Li Bun ikut berjalan bersamanya. Ketika sampai di jalan raya, mereka bertemu dengan seseorang yang mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat kepada Lauw Pang.

"Sudah dua hari aku mencarimu, Lauw Kui. Susah sekali menemukanmu," kata orang itu.

Li Bun memperhatikan orang tersebut. Ia berbadan tinggi besar, berwajah angker, dan bersuara nyaring. Li Bun menyadari bahwa kelak orang itu pasti akan mendapatkan kesenangan dalam hidupnya. Ia lantas mengajak orang itu dan Lauw Pang ke rumah makan.

"Siapa nama Anda dan dari mana asal Anda?" tanya Li Bun.

"Nama saya Hoan Hwe, penduduk kota Pay-koan. Pekerjaan saya sehari-hari adalah jagal anjing. Tuan sendiri siapa? Baru hari ini kita bertemu, tetapi Tuan sudah menjamu saya," jawabnya.

"Nama saya Li Bun, berasal dari kota Tan-hu. Belum lama ini kami pindah ke Pay-koan. Sebenarnya sudah lama saya mendengar nama Anda yang terkenal. Kebetulan sekali kita bisa bertemu. Saya ingin bertanya, apakah Anda sudah berkeluarga?" tanya Li Bun.

"Saya orang miskin dan yatim piatu sejak kecil, mana mungkin saya mampu beristri?" jawab Hoan Hwe.

"Saya memiliki dua putri," kata Li Bun terus terang. "Yang sulung bernama Li Gan dan akan menikah dengan Lauw Kui. Putri kedua akan saya serahkan kepada Anda untuk dijadikan istri, jika Anda tidak keberatan."

Mendengar tawaran tulus tersebut, Hoan Hwe merasa malu. "Tuan, saya hanya orang miskin. Saya tidak berani menerima tawaran itu," tampiknya.

"Terima sajalah, Kawan! Hari ini Ayah mertua telah menyerahkan kedua putrinya kepada kita. Mengapa kau menolak?" sahut Lauw Pang.

"Bukan begitu, tetapi..." Hoan Hwe ragu.

"Ayah mertua sangat paham ilmu ramal. Ia meramalkan bahwa kelak kita akan mampu membiayai rumah tangga sendiri. Jadi, kau tidak perlu takut," tambah Lauw Pang.

Hoan Hwe segera berdiri dan bersoja di hadapan Li Bun. "Terima kasih Ayah mertua, terima kasih!"

Li Bun tertawa. "Sudahlah, aku memang rela menyerahkan putriku untukmu."

Pada suatu hari, pejabat kota Pay-koan memerintahkan Lauw Pang untuk mengantarkan beberapa ratus pekerja ke Gunung Lee San. Di tengah perjalanan, banyak pekerja yang berniat melarikan diri karena takut pada kekejaman Raja Cin.

"Tunggu!" seru Lauw Pang. "Dari dulu aku pun sering mendengar orang melarikan diri demi menghindari bahaya. Jika kalian pergi, aku pasti akan dihukum. Namun, memang sebaiknya kalian pergi saja agar tidak binasa di tempat kerja nanti."

Para pekerja bersoja di hadapan Lauw Pang. Mereka berkata, "Hukuman Raja Cin sangat berat. Jika Tuan membebaskan kami, kami tidak tega membiarkan Tuan dihukum berat."

"Kalian semua boleh pergi! Jangan cemaskan aku. Seperginya kalian, aku pun akan melarikan diri dan bersembunyi di gunung. Aku tidak mau menaati perintah Raja Cin lagi!" tegas Lauw Pang.

Mereka pun pergi setelah mengucapkan terima kasih. Namun, ada sekitar sepuluh orang yang memilih untuk tetap tinggal.

"Mengapa kalian tidak ikut dengan mereka?" tanya Lauw Pang.

"Kami ingin ikut dengan Tuan dan pergi bersama-sama," jawab mereka tulus.

Lauw Pang terharu dan mengangguk. "Baiklah, mari kita ambil jalan di depan agar aman."

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan seekor ular raksasa sepanjang lebih dari sepuluh depa yang melintang di tengah jalan. Para pekerja ketakutan dan berlarian menemui Lauw Pang. Mendengar hal itu, Lauw Pang segera mencabut pedangnya dan menghampiri ular tersebut. Begitu sampai, ia menebas ular itu hingga putus menjadi dua. Orang-orang terheran-heran melihat keberanian Lauw Pang yang sebelumnya dikenal sebagai penakut.

Lauw Pang kemudian membawa rombongannya berkumpul di atas Gunung Bong Tong. Sejak saat itu, ia mulai menerima orang-orang yang ingin bergabung dengannya hingga jumlah pengikutnya terus bertambah banyak.

Suatu hari, di tempat Lauw Pang membunuh ular raksasa tersebut, muncul seorang perempuan tua yang menangis siang dan malam. Ia meratap bahwa ular yang dibunuh itu adalah anaknya, yakni Raja Putih (Tek Tee), yang telah tewas di tangan Raja Merah (Cia Tee). Orang-orang yang mendengar cerita itu tidak percaya dan menganggapnya siluman. Namun, saat mereka hendak mengusirnya, perempuan tua itu menghilang secara misterius. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai percaya bahwa kelak Lauw Pang akan menjadi seorang raja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment