Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 21

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 21

Tidak berapa lama, ribuan orang berdatangan ingin bergabung dengan Lauw Pang. Mereka tinggal di atas gunung Bong-tong-san karena tidak tahan oleh kekejaman raja negeri Cin. Mereka semua siap membentuk pasukan untuk menghapus kekejaman negeri Cin itu.

Dikisahkan di kota Pay-koan ada dua orang pemuda. Salah seorang bernama Co Cam, dan yang lain bernama Siauw Ho. Kedua orang ini bekerja di kantor Ti-koan. Ketika itu, mereka mengetahui peraturan Raja Cin sangat tidak adil. Raja Cin memaksa rakyat bekerja paksa untuk membuat "Ban Li Tiang Shia" atau bangunan lain-lain, sehingga orang-orang tidak tahan oleh kekejaman itu. Co Cam dan Siauw Ho lalu mengangkat Ti-koan Pay-koan menjadi pemimpin mereka melawan pemerintah. Siauw Ho dan Co Cam meminta bantuan pada Hoan Hwe untuk mengundang Lauw Pang datang ke kota Pay-koan, kemudian bersama-sama melawan raja negeri Cin.

Mendapat undangan itu, Lauw Pang membawa tentaranya ke kota Pay-koan. Mereka lalu membuat tangsi-tangsi tentara di luar kota Pay-koan. Ti-koan kota Pay-koan menjadi marah ketika mengetahui Siauw Ho dan Co Cam mengundang Lauw Pang datang ke kotanya. Ti-koan itu hendak membunuh Co Cam dan Siauw Ho, tetapi niat itu selalu gagal. Ketika rakyat mengetahui kebodohan Ti-koan itu, mereka menganggap Ti-koan itu harus disingkirkan. Akhirnya Ti-koan itu mereka bunuh. Sesudah Ti-koan itu mati, mereka segera menyambut Lauw Pang dan meminta agar Lauw Pang masuk ke dalam kota Pay-koan. Sesudah berunding, mereka lalu mengangkat Lauw Pang menjadi kepala di kota Pay-koan dengan gelar Pay Kong.

Sesudah Lauw Pang diangkat menjadi kepala di kota Pay-koan, Lauw Pang memerintahkan orang supaya membuat bendera. Sejak hari itu, Lauw Pang mengumumkan bahwa dia bersedia menerima orang-orang yang mau bergabung dengannya. Ketika orang-orang mendengar tentang Lauw Pang yang bijaksana, mereka segera menyatakan diri untuk bergabung di bawah perintah Lauw Pang. Tidak sampai satu bulan lamanya, orang-orang yang sudah terkumpul mencapai tiga ribu orang lebih.

Setelah kegagalan mereka dalam usaha membunuh Cin Si Ong, Hang Liang dan Hang I terpaksa pergi ke kota Hwe-kee. Kemudian mereka mengambil keputusan untuk tinggal sementara di kota itu. Tay-siu (Penguasa) di kota Hwe-kee bernama Un Tong. Sudah lama Un Tong mendengar bahwa Hang Liang dan Hang I adalah orang-orang pandai. Suatu hari, Un Tong memanggil Hang Liang untuk datang menemuinya. Maksud Un Tong ingin mengajaknya berunding dalam menghadapi pemerintah. "Aku sudah muak melihat kelakuan Raja Cin yang kejam, maka aku memutuskan untuk memberontak saja," tutur Un Tong pada Hang Liang. "Aku siap membantu kalian menghimpun tentara untuk melawan dinasti Cin." Mendengar semua ocehan tersebut, Hang Liang hanya diam. Dia merasa curiga dengan kata-kata manis Un Tong. Bagi Hang Liang, pejabat Un Tong sudah tidak asing. Dulu Un Tong pernah menjadi pejabat di bawah perintah Raja Couw, tetapi setelah kerajaan Couw berhasil direbut Cin Si Ong, dia malah berbalik mendukung Cin Si Ong. "Ah, aku ragu dengan orang ini. Siapa tahu dia cuma pura-pura untuk memancing dan menangkap orang-orang yang menentang kebijakan dinasti Cin," pikir Hang Liang dalam hati. "Sebaiknya aku harus bersikap hati-hati menghadapi bandit ini!" Setelah berpikir panjang, tiba-tiba Hang Liang menjawab, "Tampaknya ini masalah yang sangat besar, jadi aku belum bisa memutuskan hal itu sekarang," tutur Hang Liang pada Un Tong. Kemudian Hang Liang mohon pamit untuk kembali ke kediamannya.

Sekembalinya dari pertemuan Un Tong, Hang Liang yang telah punya penilaian terhadap Un Tong segera menceritakan hal itu pada Hang I. "Kita laki-laki sejati yang selamanya tidak akan tunduk di bawah perintah orang. Ditambah lagi aku perhatikan Un Tong itu orang tidak berguna. Aku yakin ajakannya itu cuma tipuan. Dia pasti tidak bersungguh-sungguh menentang Ji Si Hong-tee. Menurutmu mana yang lebih baik, kita bunuh dia lalu merampas kota Hwe-kee atau mengajaknya bergabung?" kata Hang Liang. "Menurut pendapatku, lebih baik singkirkan saja dia!" kata Hang I. "Kalau begitu besok pagi-pagi sekali, kau sembunyikan senjata tajam. Kau ikut aku menemui Un Tong. Begitu bertemu dengannya, kau boleh segera membunuhnya!" kata Hang Liang. "Baik!" kata Hang I.

Esok harinya, Hang I ikut dengan Hang Liang menemui Un Tong di kantornya. Begitu sampai, mereka dipersilakan masuk ke kantor Un Tong. Kemudian mereka dipersilakan duduk. Saat Un Tong sedang berunding dengan Hang Liang mengenai rencana pemberontakan melawan Ji Si Hong-tee, Hang I langsung menyergap Un Tong. "Memang kami hendak memberontak melawan Ji Si Hong-tee, tetapi orang sepertimu tidak bisa diajak bergabung. Aku yakin hatimu tidak setia pada cita-cita ini!" kata Hang I. Begitu selesai bicara, Hang I segera membacok leher Un Tong hingga putus dan Un Tong pun tewas seketika. Hang I lalu mengancam anak buah Un Tong. "Barang siapa berani melawan perintah pamanku, maka mereka akan kubunuh!" teriak Hang I. Menyaksikan kegagahan Hang I, anak buah Un Tong ketakutan dan bersedia menuruti. Lalu mereka beramai-ramai mengangkat Hang Liang menjadi penguasa kota Hwe-kee.

Di bawah perintah Un Tong ada dua panglima perang yang bijaksana. Yang pertama bernama Ciong Li Bwe, dan yang lain bernama Kui Pouw. Ketika mereka mendengar Hang I telah membunuh Un Tong dan hendak mengangkat Hang Liang menjadi penguasa Hwe-kee yang baru, mereka sangat marah. Lalu mereka berdua datang menghadap Hang Liang. Ciong Li Bwe dan Kui Pouw berkata pada Hang Liang, "Bedebah, kalian berani membunuh dan merampas kota yang dijaga Un Tong! Kalian juga terlalu berani mengangkat diri menjadi penguasa kota ini untuk menggantikan kedudukan tuan kami. Perbuatan kalian sungguh tidak pantas!" kata Ciong Li Bwe dan Kui Pouw hampir berbareng.

Hang I mengetahui bahwa kedua orang panglima itu sangat pandai dan bijaksana. Maka ketika Hang I mendengar ucapan mereka, dia langsung bicara mewakili pamannya. "Un Tong seorang yang put-tiong. Dulu dia seorang panglima negeri Couw yang gagah. Tetapi ketika kerajaan Couw tertimpa bencana, dia malah membelot. Maka dia harus kubunuh untuk bisa membalas sakit hati Raja Couw. Kurasa tindakanku merampas kota Hwe-kee sesuatu yang sangat pantas. Hal itu kulakukan karena aku ingin membalas jasa pada negeri Couw. Harap Ciang-kun tak perlu mempersoalkan hal itu lagi. Apakah saya salah jika ingin membela negaraku? Jika Ciang-kun mau bergabung dengan kami berperang dengan negeri Cin, suatu hari kita pasti mendapat kemenangan dan bisa menikmati kemenangan itu bersama-sama," kata Hang I.

Mendengar ucapan Hang I, kedua panglima itu mulai berunding dan berpikir. Setelah mereka mempertimbangkan baik-baik, maka Kui Pouw dan Ciong Li Bwe bersedia bergabung bersama Hang Liang dan Hang I untuk memerangi negeri Cin. Sesudah berhasil merebut kota Hwe-kee, Hang Liang lalu mengatur rakyat dengan baik dan adil. Begitu bupati-bupati yang kabupatennya masuk ke daerah Hwe-kee mendengar kebijaksanaan Hang Liang, mereka segera menyatakan ingin bergabung.

Pada suatu hari Ciong Li Bwe berkata kepada Hang Liang, "Saat ini kita harus mencari dukungan orang-orang gagah untuk membantu, Tuanku." kata Li Bwe. "Di daerah ini ada gunung yang bernama Touw-san. Di tempat itu ada gerombolan perampok. Jumlah mereka sekitar 8.000 orang lebih. Mereka dipimpin oleh dua orang. Yang satu bernama Hoan Couw dan satunya bernama I Eng. Kedua orang itu gagah perkasa. Jika Tuanku bisa menarik mereka, maka usaha Tuanku kami yakin akan berhasil." Mendengar keterangan itu, Hang Liang menjadi senang sekali. Dia memerintahkan Hang I dan Kui Pouw supaya pergi ke gunung Touw (Gunung Kelinci) untuk membujuk Hoan Couw dan I Eng. "Bujuklah mereka agar mau bergabung dengan kita!" perintah Hang Liang.

Begitu menerima perintah itu, Hang I dan Kui Pouw langsung berangkat. Tidak berapa lama, mereka telah sampai di kaki gunung Touw. Tiba-tiba mereka dihadang oleh para liauw-lo. "Mau apa kalian datang ke tempat kami?" tanya anak buah perampok. "Kami ingin bertemu dengan Tay Ong kalian. Tolong sampaikan padanya. Aku Hang I ingin berjumpa!" kata Hang I. "Baik," jawab anak buah perampok itu. Maka liauw-lo itu segera naik ke atas gunung untuk memberitahu atasannya. Begitu bertemu dengan pemimpinnya, dia langsung melapor. "Di kaki gunung ada dua orang tidak bersenjata, mereka minta bertemu dengan Tay Ong. Mereka bilang ingin bicara." "Suruh mereka naik!" kata Hoan Couw dan I Eng.

Sesudah mereka bertemu dan saling memberi hormat, I Eng ingin tahu maksud kedatangan Hang I menemuinya. "Hari ini saya datang ke sini, sebab saya pikir kita sependapat bahwa raja negeri Cin sangat kejam. Tak heran kalau di seluruh tempat, para orang gagah menentangnya. Mereka membentuk persatuan untuk melawan kebijakan negeri Cin," kata Hang I. "Maksud Tuan?" kata Hoan Couw. "Kita harus menyelamatkan orang-orang dari kekejaman Ji Si Hong-tee." kata Hang I. "Kalian berdua termasuk orang-orang gagah pada zaman ini. Mengapa kalian tidak mau turut melawan kekuasaan raja Cin yang jahat itu? Kami berdua mendapat perintah dari Hang Liang untuk mengundang Anda berdua untuk diajak bergabung. Kami harap kalian bersedia membantu kami memerangi kekejaman di seluruh negeri. Jika kita mampu merobohkan kerajaan Cin, di kemudian hari kemenangan itu bisa kita nikmati bersama-sama. Bagaimana menurut kalian?" "Raja negeri Cin memang jahat dan kejam, tetapi untuk merobohkannya masih sulit. Angkatan perangnya sangat banyak dan jendralnya gagah perkasa," kata I Eng. "Jika kita belum kuat benar, tidak bisa kita melawan mereka. Sekarang Anda sendiri punya kemampuan apa, hingga Anda berani mengatakan akan merobohkan mereka?" "Apa maksud Anda berdua?" tanya Hang I. "Hari ini saya mau mencoba kepandaianmu! Jika kau bisa mengalahkan kami berdua, baru kami bersedia bergabung dengan kalian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment