Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 22

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 22

Kami berdua bersedia diperintah!

Jika tidak, jelas kami tak mau bergabung dengan Anda!

Ada peribahasa mengatakan: "Orang mau menikam harimau berubah jadi menikam seekor anjing."

"Itu yang saya khawatirkan," kata Hoan Couw.

"Baiklah, aku bersedia mengikuti keinginan kalian!" kata Hang I.

"Kurasa aku sanggup melawan kalian!" "Kalau begitu, mari ikut kami!" kata Hang Couw dan I Eng.

Mereka kemudian mengajak kedua tamunya pergi ke tempat yang lapang di depan sebuah bio. Di tempat itu ada sebuah kuali besi yang beratnya ribuan kati.

"Tadi Hang Ciang-kun bilang dia sangat kuat. Sekarang silakan turunkan kuali itu, lalu taruh kembali di tempatnya semula! Kalau bisa berarti kami yakin Anda memang orang kuat!" kata Hoan Couw.

Mendengar tantangan itu Hang I tertawa sambil berkata, "Baiklah, kuturuti kemauanmu!" Kemudian Hang I mendekati kuali besi yang tingginya tujuh kaki dengan bulatan lima kaki.

Setelah memeriksa keadaan kuali besi itu, Hang I meminta anak buah Hoan Couw untuk menurunkan kuali itu dari tempatnya. Tapi mereka tidak bisa melakukannya karena beratnya. Kemudian Hang I menggulung kedua lengan bajunya dan mengangkat kuali besi itu dengan mudah.

Kuali besi itu jadi miring, kemudian dia betulkan kembali, terus berulang-ulang. Semua yang menyaksikannya jadi keheranan, mereka tak mengira Hang I demikian kuat.

Menyaksikan kekuatan Hang I, Hoan Couw dan I Eng jadi gembira. Tanpa terasa mereka bertepuk tangan.

"Hari ini kami baru menyaksikan kekuatan Hang Ciang-kun. Kami yakin kita punya kekuatan untuk merobohkan negeri Cin!" kata Hoan Couw dan I Eng.

Hang I tertawa sambil berkata, "Tadi tidak terhitung sebagai sesuatu yang mengherankan, sekarang saya mau mengangkat kuali ini." Setelah berkata begitu, Hang I segera mengangkat kuali dan berjalan-jalan mengelilingi bio sampai tiga kali.

Setelah melakukan itu, baru dia menaruh kuali besi itu di tempatnya. Sedikit pun Hang I tak tampak kelelahan.

"Bagaimana mengenai kekuatanku tadi?" kata Hang I sambil tersenyum.

Hoan Couw dan I Eng langsung bersujud di depan Hang I. "Hang Ciang-kun, Anda benar-benar orang hebat. Sekarang kami bersedia ikut di bawah perintah Ciang-kun!" kata mereka hampir berbarengan.

Hang I senang sekali. Lalu dia mengajak mereka bersama anak buahnya ikut ke kota Hwe-kee.

Sebelum meninggalkan gunung tersebut, Hoan Couw mengadakan pesta makan untuk memberi penghormatan pada Hang I.

Esok paginya, mereka bersiap-siap akan berangkat dengan membawa semua anak buahnya ke kota Hwe-kee. Di tengah jalan mereka bertemu dengan orang yang sedang ribut-ribut. Hang I tertarik mendengar keributan itu.

"Mengapa kalian ribut-ribut?" tanya Hang I.

"Di tempat ini telah terjadi perkara yang mengherankan. Di kaki gunung ini, sudah lama ada seekor macan kumbang yang sangat ganas. Macan kumbang itu sering membunuh binatang peliharaan milik penduduk. Tapi aneh, setelah macan kumbang itu menghilang, kini muncul seekor kuda liar dan galak sekali. Tidak seorang pun bisa menangkap kuda liar itu. Kuda ini pun sering merusak sawah dan tanaman milik penduduk. Ketika saya mendengar Ciang-kun dan anak buahmu akan lewat di tempat ini, maka saya datang untuk minta tolong pada Ciang-kun. Bunuh saja kuda itu!" kata salah seorang dari mereka.

Mendengar laporan itu, Hang I jadi tertarik. Dia mengajak Hoan Couw dan pengikutnya untuk melihat sendiri kuda liar itu. Sampai di tempat kuda liar, Hang I mengawasi kuda itu. Hang I melihat bahwa kuda itu selain liar juga kelihatan galak sekali. Kuda itu seolah ingin menerkam Hang I.

Hang I segera menggulung kedua lengan bajunya. Kemudian dia menghampiri kuda liar itu secara perlahan-lahan. Begitu kuda liar itu melihat Hang I mendatanginya, dia langsung menerjang. Hang I tak tinggal diam, dia mengelak lalu menjambak bulu suri kuda liar itu dan terus menunggangi kuda itu. Kuda itu kaget lalu mencoba menjatuhkan penunggangnya. Dengan liar dia melompat-lompat sambil meringkik. Tapi Hang I tetap berpegangan dengan kuat pada bulu suri kuda liar itu. Karena tak mampu menjatuhkan penunggangnya, kuda itu mengamuk lalu membawa lari Hang I berputar-putar mengelilingi gunung sampai beberapa kali. Tapi Hang I tetap melekat di atas punggung kuda liar itu. Akhirnya kuda itu kelelahan sendiri. Aneh, pada akhirnya dia menjadi jinak. Buru-buru Hang I memakaikan tali kekang dan kuda itu menjadi jinak.

Orang-orang yang tadi membuat gaduh pun berbondong-bondong menemui Hang I untuk bersoja mengucapkan terima kasih.

"Selamat! Selamat, Ciang-kun!" kata mereka senang sekali.

Di antara rombongan orang-orang itu, ada seorang tua yang mendatangi Hang I. Dia meminta Hang I mau datang ke rumahnya. Untuk menghormati permintaan orang tua itu Hang I bersama Hoan Couw datang ke rumah orang tua itu. Begitu sampai, orang tua itu mengeluarkan makanan dan memberi hormat pada Hang I.

"Ciang-jin (orang tua), hari ini kita baru bertemu. Mengapa Ciang-jin begitu hormat pada saya? Siapa nama Ciang-jin?" kata Hang I.

"Namaku Gi Kong," jawab tuan rumah. "Sekarang Ciang-kun umur berapa? Apakah Ciang-kun sudah mempunyai istri?" Mendapat berondongan pertanyaan orang tua itu, Hang I tersenyum.

"Belum," kata Hang I.

"Saya punya seorang anak perempuan," tiba-tiba orang tua itu berkata lagi. "Dia cerdas tapi sangat pendiam dan tidak gampang melihat dia tertawa. Sekalipun pada sanak famili sendiri, dia jarang mau menemuinya." Mendengar keterangan itu Hang I heran, tapi dia diam saja karena dia ingin tahu apa maunya orang tua itu.

"Dia paham ilmu soal sastra dan mengerti segala aturan (hukum). Ketika ibunya mengandung, ibunya bermimpi melihat burung Hong berbunyi di atas rumah kami. Saya pikir kelak anak ini pasti menjadi orang besar. Sudah banyak orang yang meminta, tapi saya tidak mau menyerahkannya. Tadi saya menyaksikan kegagahan Ciang-kun, maka saya pikir saya mau menyerahkan anak perempuan saya untuk dijadikan istri Ciang-kun. Bagaimana pendapat Ciang-kun?" tanya Gi Kong.

Setelah itu, Gi Kong menyuruh istrinya membawa keluar anak perempuannya itu. Tidak lama kemudian anak perempuan itu keluar menemui tamunya. Sampai di depan Hang I, dia menunduk dan buru-buru masuk kembali ke dalam rumah. Ketika melihat wajah anak perempuan itu, Hang I pun jadi girang. Karena selain cantik, anak perempuan itu tampak alim sekali.

Hang I buru-buru bersoja pada Gi Kong dan istrinya, lalu mengucapkan terima kasih. Kemudian Hang I melepaskan po-kiam yang disandangnya. Kemudian dia menyerahkannya pada Gi Kong sebagai tanda pertunangan mereka. Setelah itu Hang I lalu pamit untuk kembali ke kota Hwe-kee.

Sesampai di kota Hwe-kee, Hang I mengajak Hoan Couw dan I Eng untuk bertemu dengan Hang Liang. Melihat kedatangan mereka berdua, Hang Liang menjadi senang sebab kedua orang itu tampak gagah. Hang Liang lalu menyuruh mereka memimpin bekas anak buahnya. Ketika Hang Liang melihat kuda yang dituntun oleh Hang I, dia merasa kagum.

"Dari mana kau peroleh kuda itu?" tanyanya.

"Aku menangkapnya. Kuda ini tingginya tujuh kaki, panjangnya sepuluh kaki dan bulunya hitam mulus. Benar-benar kuda yang bagus," kata Hang I.

"Aku beri nama kuda itu "Ouw Tui Ma", selain Hang I tidak boleh ada yang menungganginya," kata Hang Liang dengan girang.

Hang Liang merasa girang dan bangga karena Hang I begitu gagah. Karena kegagahan keponakannya, banyak orang yang kini mau berada di bawah perintahnya. Hang Liang yakin tak lama lagi mereka akan mampu menjatuhkan Kerajaan Cin.

Sebelum mengadakan gerakan, Hang Liang terlebih dulu mengawinkan Hang I dengan putri Gi Kong yang bernama Gi Ki. Gi Ki mengajak saudara sepupunya bernama Gi Cu-ki ikut bergabung dengan tentara Hang Liang. Dengan demikian pasukan Hang Liang makin hari bertambah kuat.

Tak cuma itu, banyak orang-orang gagah dari berbagai pelosok negeri berdatangan untuk bergabung dengan Hang Liang. Mereka sepakat mau merobohkan Kerajaan Cin. Dalam tempo kurang dari tiga bulan, pasukan Hang Liang sudah mencapai 100.000 orang tentara. Melihat perkembangan pasukannya, Hang Liang langsung mengajak beberapa orang kepercayaannya untuk berunding dan menentukan hari penyerangan ke negeri Cin.

Ketika angkatan perang Hang Liang akan berangkat, seluruh rakyatnya berlutut di pinggir jalan besar. Mereka mengucapkan selamat jalan dan selamat bertempur. Mereka juga amat berterima kasih karena Hang Liang melarang anak buahnya membuat rakyat menderita.

"Hari ini kami akan berangkat memerangi negeri Cin," kata Hang Liang. "Tujuan utamanya untuk menyelamatkan kalian dari penindasan Raja Cin yang kejam! Jika kami berhasil maka di kemudian hari kalian tidak akan menderita lagi. Bahkan aku berencana menghapuskan pajak bagi rakyat Hwe-kee selama sepuluh tahun. Maka berdoalah dan bekerjalah dengan tekun sesuai dengan kemampuan masing-masing!" Setelah berkata begitu, Hang Liang mengerahkan angkatan perangnya maju ke selatan wilayah Kian-gwa.

Baru setengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang mata-mata yang melaporkan bahwa mereka telah dihadang perusuh yang hendak mencegat pasukan itu. Mendengar laporan itu, Hang Liang langsung memerintahkan Hang I maju. Begitu Hang I bertemu dengan panglima musuh, dia merasa kagum karena panglima itu tampak gagah sekali.

"Siapa namamu dan mengapa kalian berani menghadang angkatan perang kami!" kata Hang I.

"Namaku Eng Pouw. Aku berasal dari kota Liok-an. Kami menghadangmu sebab kami ingin tahu apa maksudmu mengerahkan angkatan perang?" kata Eng Pouw. "Aku jenderal negeri Couw, turunan Hang Yan. Namaku Hang I. Karena Ji Si Hong-tee sangat jahat, maka kami mengumpulkan pasukan dan akan menyerang negeri Cin," kata Hang I.

Saat keduanya sedang bicara, dengan gagah Hoan Couw maju ke depan. Sebelum terjadi perselisihan antara Hang I dan panglima musuh, Hoan Couw langsung berteriak.

"Eng Ciang-kun, mengapa kau tidak segera turun dari kudamu sekarang juga?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment