Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 23

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 23

Aku sahabatmu, Hoan Couw, sudah lama bergabung dengan pasukan Hang Liang dari Kwe-kee.

"Apa kau sudah lupa pada janji kita dulu?" kata Hoan Couw.

Melihat Hoan Couw muncul dari belakang angkatan perang itu, buru-buru Eng Pouw turun dari atas kudanya.

Dia bersujud di hadapan Hang I.

"Kiranya kalian berdua adalah sahabat baik," kata Hang I.

"Siapa Eng Ciang-kun ini sebenarnya?" "Saudara Eng ini seorang gagah. Karena menyaksikan kekejaman Ji Si Hong-tee, dia mengumpulkan anak buah untuk melawan Raja Cin yang kejam itu. Dulu dia sudah berjanji padaku, jika kami bertemu dengan pemimpin yang bijaksana maka kami akan bergabung bersama-sama. Ketika aku baru bergabung dengan Tuan, saya ingin memberi kabar padanya. Tidak disangka kami malah bertemu di sini," kata Hoan Couw.

"Oh, begitu! Syukurlah, kalian bisa bertemu di sini!" kata Hang I gembira.

"Jika Anda hendak menyerang ke negeri Cin, aku bersedia bergabung dengan Hang Ciang-kun!" kata Eng Pouw.

Mendengar ucapan Eng Pouw, bukan main senangnya hati Hang I.

Dia lalu mengajak Eng Pouw menemui Hang Liang.

Hang I segera melaporkan bahwa Eng Pouw mau bergabung dengan pasukan dari Kwe-kee.

"Eng Ciang-kun yang gagah ini telah memutuskan untuk bergabung dengan kita!" tutur Hang I mengakhiri laporannya.

Mendengar laporan itu, bukan main girangnya Hang Liang.

"Ada peribahasa mengatakan, sebuah genderang perang mudah didapat, tapi seorang panglima gagah susah dicari. Sekarang Saudara Eng bersedia bergabung dengan kami. Hal ini tak ubahnya seperti aku mendapatkan sebuah kota besar. Ini jelas membuat tentara kita bertambah kuat," puji Hang Liang.

"Terima kasih atas pujian Tuan yang terlalu berlebihan itu!" kata Eng Pouw merendah.

Kemudian mereka merayakan kegembiraan itu.

Pada suatu hari....

Hang Liang berkata pada seluruh angkatan perang dan panglima-panglimanya.

"Hari ini kekuatan angkatan perang kita sudah cukup kuat untuk menjatuhkan Kerajaan Cin. Cuma kita belum punya penasihat perang yang andal. Dia harus pintar dan mengerti ilmu perang. Dengan demikian bisa membantu kita mengatur siasat perang," kata Hang Liang.

"Kalau begitu, Tuanku boleh mencarinya," kata Hoan Couw.

"Kau benar! Sudah lama aku mendengar di kota Hoa-yang, di desa Ki-cauw, ada seorang tua yang usianya sudah 70 tahun. Orang tua itu bernama Hoan Ceng. Dia sangat pandai dalam ilmu perang, jika kita bisa mendapatkannya sebagai Kun-su kita, maka aku yakin tak sulit untuk merobohkan Kerajaan Cin," kata Hang Liang.

"Kita harus sesegera mungkin mendapatkannya!" kata Hang I.

"Memang itu maksudku. Hanya aku membutuhkan seseorang yang pandai bicara untuk membujuk dia," kata Hang Liang agak ragu.

"Aku kenal dengan orang yang bernama Hoan Ceng itu," kata Kui Pouw.

"Jika Tuanku mengizinkan, sekarang juga aku akan pergi membujuknya." Ketika Hang Liang mendengar Kui Pouw kenal dan mau pergi menemui orang tua itu, dia menjadi senang.

Hang I setuju Kui Pouw pergi membujuk Hoan Ceng sambil membawa uang dan barang-barang berharga hari itu juga.

Kui Pouw segera berangkat ke kampung Ki-cauw.

Tidak berapa lama Kui Pouw sudah sampai di kampung Ki-cauw.

Karena tak tahu letak kampung Ki-cauw, terpaksa Kui Pouw bertanya-tanya pada orang yang tinggal di kampung itu.

"Di mana rumah Tuan Hoan Ceng?" tanya Kui Pouw.

"Dulu Hoan Ceng memang tinggal di kampung itu, tapi sekarang dia lebih banyak tinggal di atas gunung Ki Kouw dan tidak suka bertemu orang," kata orang itu.

"Di mana letaknya gunung itu, jika tidak keberatan saya minta untuk diantarkan menemuinya," kata Kui Pouw.

"Baiklah, saya akan mengantarkan Tuan ke sana!" kata orang itu.

Maka pergilah Kui Pouw bersama orang itu ke tempat Hoan Ceng.

Tidak berapa lama mereka telah sampai di depan rumah Hoan Ceng.

Pelayan Hoan Ceng segera menemui Kui Pouw.

"Tuan mencari siapa?" tanya si pelayan.

"Kami datang hendak bertemu dengan majikanmu, Tuan Hoan Ceng. Tolong sampaikan pada majikanmu, aku Kui Pouw utusan Hang Liang ingin bertemu dengannya," ujar Kui Pouw.

Pelayan itu lantas masuk akan memberitahu majikannya.

Ketika Hoan Ceng mendengar ada tamu yang datang dari tempat jauh, segera Hoan Ceng menyuruh pelayannya memanggil tamu-tamu itu masuk.

Tidak berapa lama Kui Pouw sudah ada di depan tuan rumah.

Kui Pouw bersoja untuk memberi hormat dan Hoan Ceng membalas dengan hormat.

"Silakan duduk," kata Hoan Ceng pada tamu-tamunya.

Setelah pelayan menyediakan teh hangat dan tamunya minum, Hoan Ceng bertanya.

"Apa maksud kedatanganmu, Tuan?" "Negara saat ini sedang kacau, di mana-mana timbul pemberontakan. Semua rakyat tidak puas terhadap Ji Si Hong-tee. Jenderal Hang Liang yang bijaksana ingin membebaskan rakyat dari penderitaan. Namun sampai saat ini, jenderal kami itu belum juga mempunyai seorang Kun-su. Maka kedatangan saya ke sini membawa perintah dari Jenderal Hang Liang untuk mengajak Tuan bergabung," kata Kui Pouw.

"Ah, apalah yang aku miliki sehingga dia memintaku untuk bergabung!" ujar Hoan Ceng.

"Sudah lama Jenderal Hang mendengar tentang kepandaian dan kebijaksanaan Sian-seng. Maka itu Jenderal Hang Liang bermaksud meminta Sian-seng datang membantunya. Dengan demikian Sian-seng bisa menolong rakyat yang menderita. Sian-seng seorang pandai dan bijaksana, jika Sian-seng tidak mau membantu kami menumpas negeri Cin, sampai kapan penderitaan rakyat akan berakhir? Saya sangat mengharapkan kemurahan hati Sian-seng!" bujuk Kui Pouw.

Ketika Hoan Ceng mendengar seluruh ucapan Kui Pouw, dia berkata, "Baiklah, aku mau pikir-pikir dulu. Beri aku beberapa waktu lamanya." Lalu Kui Pouw menyerahkan barang antaran yang dibawanya.

"Terimalah hadiah dari Jenderal Hang Liang," kata Kui Pouw.

"Jika Sian-seng tidak bersedia membantu, maka saya akan tetap berlutut di depan Sian-seng." "Sebaiknya Ciang-kun pulang dulu, sebab saya mau pikir-pikir dulu. Tunggu sampai besok pagi, baru saya beri kabar lagi," kata Hoan Ceng.

Kui Pouw tetap berlutut di hadapan Hoan Ceng dan tak mau bangun.

"Sesudah bertemu Sian-seng, saya seperti mendapatkan sebuah jimat yang sangat berharga. Saya harap Sian-seng mau menerima ajakan Jenderal Hang Liang. Jika tidak, maka saya tidak mau bangun, sebab besok saya khawatir Sian-seng mengubah pikiran," kata Kui Pouw.

Kui Pouw mencoba mendesak Hoan Ceng agar mau ikut menemui Hang Liang.

Apa yang dilakukannya membuat Hoan Ceng kewalahan.

Akhirnya Hoan Ceng memutuskan menerima tawaran Hang Liang.

"Baiklah aku mau ikut denganmu dan bersama-sama bekerja untuk Hang Liang," kata Hoan Ceng menyerah.

Mendengar Hoan Ceng sudah bersedia ikut, bukan main girangnya Kui Pouw.

Buru-buru dia bangun lalu mengucapkan terima kasih.

Malam harinya....

Hoan Ceng mencoba meramal dengan po-koa.

Tiba-tiba Hoan Ceng membanting-banting kakinya dan berkata sendiri.

"Ah, kiranya aku keliru menentukan sikapku. Hang Liang ternyata tidak punya peruntungan untuk menjadi raja. Tapi apa boleh buat, karena aku sudah bersedia bergabung, maka aku tidak boleh mungkir!" kata Hoan Ceng sedikit menggerutu.

Esok paginya....

Hoan Ceng ikut Kui Pouw menemui Hang Liang.

Lebih dahulu Kui Pouw menyuruh orang memberitahu Hang Liang bahwa dia sudah berhasil membawa Hoan Ceng ikut bersamanya.

Mendengar kabar itu, Hang Liang segera berpakaian rapi lalu keluar dari pesanggrahannya.

Tak berapa lama Kui Pouw yang mengawal Hoan Ceng telah tiba.

Hang Liang sudah menemuinya.

Mereka lalu duduk bersama-sama.

"Sudah lama saya mendengar nama besar Sian-seng, beruntung hari ini Sian-seng sudi datang ke mari. Saya juga gembira Sian-seng bersedia membantu dalam usaha kami menaklukkan negeri Cin. Saya harap Sian-seng mau bersungguh-sungguh membantu kami. Jika kami punya salah, kami harap Sian-seng mau menegur kesalahan kami itu hingga bisa diperbaiki dengan cepat!" "Hamba ini orang bodoh dan tak punya banyak pengetahuan. Tapi karena Ciang-kun bersedia mempekerjakan hamba, maka hamba pasti dengan sungguh-sungguh membantu usaha Tuanku itu," kata Hoan Ceng.

Mendengar ucapan Hoan Ceng, bukan main senangnya Hang Liang.

Saat itu dia pandang Hoan Ceng seperti gurunya.

Siang dan malam mereka berkumpul untuk membicarakan masalah penyerangan dan membangun suatu pemerintahan yang adil dan bijaksana.

Pada suatu hari mata-mata Hang Liang datang melapor.

"Saat ini Tan Sin sedang berperang dengan pasukan negeri Cin. Dia sedang bertempur dengan jenderal Ciang Ham. Tapi sayang, tentara Tan Sin telah mendapat kerusakan besar. Tan Sin sendiri melarikan diri ke kota Ji-in. Sayang, dia terbunuh oleh Cong Ke. Hal ini membuat orang-orang yang akan membantu Tan Sin jadi putus asa dan kembali ke negerinya masing-masing," papar mata-mata itu memberi laporan.

Ketika Hang Liang mendengar laporan itu, dia jadi terkejut.

Semula dia sudah berjanji dengan Tan Sin dan rekan lainnya untuk bersama-sama menyerang ke negeri Cin.

Ketika Hang Liang mendengar rekan-rekannya itu berhasil dikalahkan tentara Cin, dia jadi bingung.

Sampai beberapa lama, Hang Liang tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah berhasil menguasai diri, Hang Liang baru berkata, "Tidak disangka, Tan Sin telah mati sia-sia. Kalau begitu, untuk sementara kita tidak boleh mengerahkan angkatan perang kita."

"Hamba tahu mengapa Tan Sin mengalami kekalahan," kata Hoan Ceng.

"Apa penyebabnya?" tanya Hang Liang penasaran.

"Begini. Setahu hamba, Tan Sin ini seorang yang serakah, dia berani mengangkat diri menjadi Tay Ong," kata Hoan Ceng.

"Lalu?" tanya Hang Liang.

"Tampaknya kita tidak perlu membela negerinya karena jika dibantu pasti akan menjadi besar dan berkuasa," lanjut Hoan Ceng.

"Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?" tanya Hang Liang.

"Keluarga Ciang-kun telah menjadi panglima perang negeri Couw yang setia secara turun-temurun. Hamba yakin, kesetiaan Tuanku akan mampu membangun kembali negeri Couw yang sudah hancur ini.... Tapi...." "Tapi apa? Cepat katakan aku harus berbuat apa?" desak Hang Liang penasaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment