Chapter 24
"Sekarang Tuanku harus mengangkat keturunan Raja Couw untuk menjadi raja kita. Maksudnya adalah untuk mengambil hati rakyat agar mereka tunduk kepada Tuanku! Dengan demikian, akan terlihat seolah-olah Tuanku sangat setia pada Raja Couw terdahulu. Orang tidak akan menganggap Tuanku ingin mengambil kedudukan untuk diri sendiri. Jika Tuanku mau berbuat begitu, hamba yakin semua orang akan setia kepada Tuanku! Sekalipun Kerajaan Cin sepuluh kali lipat lebih kuat, hamba yakin Tuanku bisa mengalahkannya," kata Hoan Ceng.
Hang Liang girang mendengar nasihat Hoan Ceng itu. "Sian-seng betul!" kata Hang Liang. "Kita memang harus mencari seorang raja sebagai simbol perjuangan kita." Kemudian Hang Liang mengangkat Hoan Ceng menjadi Kun Su.
Sesudah itu, dia memerintahkan pencarian keturunan Raja Couw. Namun, karena sudah lama negeri Couw diobrak-abrik oleh tentara Cin, keturunan dinasti Couw sudah habis, atau mungkin mereka melarikan diri dan bersembunyi di kampung-kampung. Karena itu, anak buah Hang Liang kesulitan mencari mereka.
Setelah sekian bulan lamanya tidak bisa menemukan keturunan Raja Couw, Hang Liang segera memerintahkan Ciong Li Bwe untuk mencarinya sampai dapat. Ciong Li Bwe menerima perintah itu dan segera membawa pengikutnya pergi ke bekas ibu kota negeri Couw. Dia juga mengirim orang-orangnya ke tempat lain. Tapi usaha mereka memang tidak mudah; tak ada tanda-tanda keturunan Raja Couw yang dapat mereka temukan.
Ciong Li Bwe lalu berdiskusi dengan anak buahnya. "Sekalipun mungkin keturunan Couw Ong masih ada, aku rasa mereka tidak akan berani tinggal di kota-kota. Pasti mereka akan tinggal di tempat yang sepi dan bertukar nama."
"Anda benar," kata rekannya.
Kemudian Ciong Li Bwe memutuskan untuk mencari keturunan Raja Couw di kampung-kampung. Entah sudah berapa banyak kampung dan tempat sunyi yang dia datangi, namun dia tetap tidak dapat menemukannya. Hal itu membuat Ciong Li Bwe merasa sangat kesal dan jengkel.
Selang beberapa bulan kemudian, Ciong Li Bwe dan anak buahnya sampai di sebuah tempat yang dinamakan tanah Lam-wa-pouw. Tanah itu berupa padang rumput yang luas. Di sana, Ciong melihat beberapa anak gembala sedang mengejar seorang anak remaja untuk dipukuli. Melihat kejadian itu, Ciong Li Bwe tertarik dan memerhatikan anak tersebut. Ternyata rupa anak itu tampan dan tingkah lakunya halus, sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika anak itu terkejar dan dipukuli, sedikit pun dia tidak marah atau melakukan perlawanan.
Ciong Li Bwe merasa kasihan, lalu mengusir anak-anak nakal tersebut. Sesudah mereka pergi, Ciong bertanya pada anak itu, "Mengapa teman-temanmu memukulimu, Nak?"
"Saya menjadi kuli penggembala kambing milik Tuan Ong Sia Tiang," kata anak itu. "Anak-anak itu mau memukuliku. Lalu aku bilang agar mereka jangan keterlaluan. Sekalipun aku seorang penggembala kambing yang hina, aku masih keturunan Raja Couw Kok. Karena saya berkata begitu, mereka semakin kesal dan terus memukuliku."
"Kau bilang kau masih keturunan Couw Ong. Lalu kenapa kau tinggal di sini?" tanya Ciong.
"Sebetulnya aku juga tidak tahu. Aku pernah mendengar ibu bercerita bahwa aku adalah cucu Raja Couw Hwai Ong. Karena Raja Couw kalah dalam perang, maka keluarga kami terpaksa melarikan diri dan bersembunyi di sini," kata anak itu.
Mendengar keterangan tersebut, Ciong girang bukan main. Lalu dia mengajak anak itu pulang ke rumah Ong Sia Tiang. Melihat kedatangan Ciong Li Bwe bersama penggembalanya, Ong Sia Tiang ketakutan. Dia heran mengapa penggembalanya datang bersama serombongan tentara. Ong Sia Tiang buru-buru berlutut dan berkata, "Hamba orang gunung dan tidak berdosa. Hamba tidak tahu apa maksud Jenderal datang ke tempat ini, ada perkara apa?"
"Kedatanganku bukan bermaksud jahat. Aku hanya minta agar kau membebaskan anak ini dari pekerjaannya sebagai gembala," kata Ciong Li Bwe dengan ramah.
Ong Sia Tiang segera masuk untuk memanggil anak gembala itu. Tidak berapa lama, anak itu dan ibunya keluar menemui Ciong Li Bwe. Ciong menanyakan asal-usul anak itu kepada ibunya. Mula-mula ibu anak itu takut bicara, tetapi dengan sabar Ciong Li Bwe memberi penjelasan hingga akhirnya dia mau bercerita.
"Sebenarnya anak ini adalah cucu dari Raja Couw Hwai Ong," kata wanita itu.
Sesudah menceritakan segala yang diketahuinya, dia mengambil sebuah baju sutra putih untuk diberikan kepada Ciong Li Bwe. Di bagian dalam baju tersebut terdapat tulisan yang sangat halus dan tidak begitu jelas. Ciong lalu membeberkan baju itu ke arah matahari sehingga tulisan itu terlihat jelas. Tulisan itu menyebutkan bahwa nama anak itu adalah Bi Sim. Dia adalah cucu Raja Couw Hwai Ong dan ibunya bernama Wei Si.
Sesudah melihat baju itu, Ciong Li Bwe merasa puas dan yakin bahwa Bi Sim adalah cucu Raja Couw. Lalu dia berkata pada Ong Sia Tiang, "Sekarang suruh anak itu ganti pakaian. Kau pun boleh ikut kami untuk mengantarkan anak ini sampai ke tempat Jenderal Hang. Aku yakin kau pasti diberi hadiah!"
Sesudah Bi Sim berganti pakaian, Ciong Li Bwe memintanya duduk di atas sebuah kursi. Sesudah itu, dia bersama anak buahnya bersujud kepada Bi Sim. "Semoga baginda panjang umur!" kata mereka serentak.
Setelah memberikan penghormatan, mereka segera bersiap mengantarkan Bi Sim ke tempat Hang Liang di kota Hoa-say. Selang beberapa hari, rombongan Ciong yang membawa calon pangeran negeri Couw itu tiba di Hoa-say. Saat bertemu Hang Liang, Panglima Ciong Li Bwe menceritakan asal-usul Bi Sim secara terperinci.
Mendengar laporan itu, Hang Liang berunding dengan Hoan Ceng. Sesudah yakin bahwa Bi Sim adalah keturunan Raja Couw, mereka sepakat mengangkatnya menjadi pemimpin. Mereka mencari hari baik untuk pengangkatan Bi Sim menjadi raja dan mengumumkannya kepada para pembesar di kota-kota sekitarnya.
Ketika tiba saat pengangkatan, Hang Liang mengumpulkan semua panglima dan anak buahnya. "Hari ini kita akan mengangkat Bi Sim menjadi raja dengan gelar Hwai Ong, dan ibunya, Wei Si, menjadi Ong Tay Houw. Negeri ini tetap kita sebut Couw Kok," kata Hang Liang.
Saat diangkat menjadi raja, umur Bi Sim baru tiga belas tahun. Dia belum mengerti apa-apa dan hanya menjadi raja boneka, sehingga segala urusan ditangani oleh Hang Liang. Sesudah Hwai Ong naik takhta, dia segera mengangkat Hang Liang menjadi Tay-su-ma dengan gelar Bu-sin-kun yang bertugas sebagai jenderal perang. Raja juga mengangkat Hoan Ceng menjadi Kun-su, sementara Kui Pouw dan Ciong Li Bwe diangkat menjadi Piauw-ki. Jenderal Eng Pouw menjadi Pian Ciang-kun, sedangkan Hoan Ceng dan I Eng menjadi San-ki Ciang-kun. Hwai Ong juga menaikkan pangkat semua anak buah Hang Liang dan memberikan hadiah kepada mereka. Ong Sia Tiang pun diberi hadiah dan segera pulang ke kampung halamannya.
Ketika negeri Couw jatuh ke tangan Cin Si Ong, ada seorang panglima perang Couw bernama Song Gi yang melarikan diri ke Sungai Kang-he. Di sini dia mengumpulkan bekas tentaranya yang masih setia. Karena tidak punya harapan untuk mempertahankan kerajaan, dia memilih menjadi perampok. Betapa gembiranya Song Gi saat mendengar Hang Liang mengangkat Bi Sim menjadi Raja Couw yang baru. Dia segera membawa anak buahnya untuk bergabung dengan Hang Liang.
Melihat kedatangan bekas panglima perang itu, Hang Liang langsung mengajak Song Gi menemui Couw Hwai Ong. Bertemu dengan bekas panglima kakeknya, Raja Couw Hwai Ong merasa senang. Dia mengangkat Song Gi menjadi Kong-cu Kouw-kun dan diperintahkan untuk memimpin anak buahnya sendiri.
Pada suatu hari, Hoan Ceng bersama Hang Liang dan Song Gi sedang berbincang. "Sekarang kerajaan Couw sudah berdiri kembali. Seluruh panglima sudah bergabung di bawah perintah Raja Couw. Tapi menurutku, tempat ini tidak boleh dijadikan ibu kota negeri Couw!" kata Hoan Ceng.
"Apa Kun-su punya pilihan?" tanya Hang Liang.
"Aku rasa hanya kota Hi-i yang pantas dijadikan ibu kota negara Couw! Selain kota itu baik dan kuat, aku dengar Tan Eng bersama angkatan perangnya ada di sana. Kabarnya dia juga mau bergabung dengan kita, maka lebih baik kita pindahkan pemerintahan ke sana. Bagaimana pendapat kalian?" kata Hoan Ceng.
"Kalau memang Kun-su menganggap hal itu lebih baik, kita laksanakan saja!" kata Hang Liang dan Song Gi setuju.
Kemudian dalam sebuah rapat kenegaraan, mereka mengutarakan hal itu kepada Couw Hwai Ong. "Tuanku, atas saran Tuan Hoan Ceng, sebaiknya kita memindahkan ibu kota negara ke Hi-i. Dengan pemindahan ini, Tuan Hoan berpendapat posisi kita akan semakin kuat," tutur Hang Liang.
"Benar, Tuanku! Hamba dengar penguasa kota Hi-i yang bernama Tan Eng pun siap untuk bergabung dengan kita," tambah Song Gi.
"Baiklah, jika kalian sudah sepakat! Aku setuju saja, apalagi jika dengan perpindahan ini negeri kita semakin maju," ujar Couw Hwai Ong. "Sekarang kalian boleh mempersiapkan rencana pemindahan itu!"
"Baik, Tuanku!" kata para menteri bersamaan.
Waktu berjalan dengan cepat hingga tiba saatnya pemindahan ibu kota ke Hi-i. Mereka pun segera berangkat. Di tengah jalan, tepat di pinggir Sungai Kang-wa, mereka bertemu dengan sepasukan tentara. Sekalipun jumlahnya tidak banyak, pasukan itu tampak sangat tertib dan teratur. Menyaksikan barisan itu, Hoan Ceng merasa kagum sekaligus heran.
"Siapa panglima pasukan itu? Melihat caranya mengatur barisan, jelas panglima itu punya kepandaian yang luar biasa," pikir Hoan Ceng.
Karena tertarik, Hoan Ceng, Bu Sin Kun, dan Hang Liang maju ke depan. Ternyata pasukan itu adalah tentara Lauw Pang yang sebelumnya berkumpul di Gunung Bong-tong-san.