Chapter 25
Lauw Pang berhasil merampas kota Pay-koan. Akhirnya, mereka tinggal di kota Pay-koan. Orang-orang berdatangan bergabung dengan Lauw Pang. Bersama mereka, ikut para bekas jendral perang yang gagah berani.
Ketika Lauw Pang mendengar Hang Liang telah mengangkat Bi Sim menjadi Raja Couw, dia girang sekali. Sekarang dia mendengar bahwa pusat pemerintahan negeri Couw akan dipindah ke kota Hi-i. Maka Lauw Pang membawa anak buahnya untuk menyambut kedatangan Raja Couw dan rombongan.
Lauw Pang berharap dia dan pasukannya bisa bergabung untuk bersama-sama menyerang ke negeri Cin. Tidak berapa lama, Hang Liang dan Hoan Ceng sudah berhadapan dengan Lauw Pang. Hoan Ceng yang melihat Lauw Pang langsung terdiam.
"Ternyata benar aku telah salah pilih, sekarang aku ikut Hang Liang. Setelah kuperhatikan, orang ini ternyata akan lebih beruntung daripada Hang Liang! Bukan tidak mungkin dia akan menjadi seorang raja," pikir Hoan Ceng.
Masing-masing buru-buru turun dari atas kuda mereka untuk saling berkenalan. Sesudah saling berkenalan, Lauw Pang menyampaikan maksud kedatangannya. Ketika Hang Liang mendengar ucapan Lauw Pang, bukan main senangnya dia.
Kemudian Lauw Pang ikut ke kota Hi-I. Mendengar rombongan Raja Couw datang bersama angkatan perang besar, Tan Eng lalu keluar kota untuk menyambut. Tak lama, Hwai Ong dipersilakan masuk ke dalam kota itu.
Dikisahkan di bilang kota itu, ada seorang bijaksana. Cuma wajah orang itu sangat jelek. Badan orang ini kecil, dan kelihatan tidak bertenaga. Seperti kata peribahasa: Tahi ayam pun tidak punya, maka tak heran orang-orang tak memandang sebelah mata kepadanya.
Orang itu bernama Han Sin. Dia sangat senang menyandang pedang di pinggangnya. Dia sadar peruntungannya belum sampai. Maka dia pun hidup sederhana.
Pada suatu hari, Han Sin pergi mengail ikan di sebuah sungai. Sesudah seharian lamanya, dia tidak mendapatkan seekor ikan pun. Perutnya jadi kelaparan bukan main. Han Sin mencoba bertahan tapi dia tak bisa menahan rasa laparnya.
Untung Han Sin bertemu dengan seorang perempuan tua. Perempuan tua itu seorang tukang perahu. Ketika melihat Han Sin sedang kelaparan, dia jadi kasihan. Perempuan tua itu lalu memberinya makanan sampai Han Sin kenyang.
"Terima kasih atas budi baik Nyonya! Di kemudian hari, kalau saya mendapat rejeki dan bisa hidup senang pasti saya akan membalas kebaikan Nyonya," kata Han Sin.
Mendengar ucapan Han Sin, perempuan tua itu malah marah-marah. "Aku memberimu makan karena aku kasihan padamu, aku tidak mengharap kau akan membalas pemberianku itu!" kata si perempuan tua itu.
"Baiklah," kata Han Sin. "Terima kasih atas budi baikmu ini!" Demikian menderitanya Han Sin waktu itu.
Pada suatu hari Han Sin mendengar Hang Liang sudah jadi orang. Han Sin datang menemuinya untuk minta pekerjaan. Ketika melihat wajah Han Sin yang buruk, Hang Liang kurang senang dan menolak permintaan Han Sin untuk bekerja di tempatnya.
Ketika kejadian itu diketahui oleh Hoan Ceng, sang Kun-su menasihati Hang Liang. "Hang Liang Ciang-kun, sebaiknya kau terima Han Sin bekerja padamu. Aku rasa sekalipun wajahnya jelek, tapi dia seorang yang pandai. Jika Ciang-kun tidak mau memakai dia, aku takut nanti orang lain memakai dia untuk jadi musuh kita. Harap Ciang-kun dengarkan kata-kataku ini!" kata Hoan Ceng.
Ketika Hang Liang mendengar ucapan Hoan Ceng, akhirnya dia terpaksa memakai Han Sin menjadi parajurit pembawa tombaknya. Han Sin selalu berdiri di belakang tempat duduk Hang Liang. Han Sin sebenarnya tidak puas mendapat kedudukan seperti itu, tapi karena dia sedang susah dan tak punya pekerjaan lagi, dia menerima juga.
Sekalipun demikian sebenarnya hati Han Sin sangat kesal. Dikisahkan angkatan perang Hang Liang semakin lama jadi semakin kuat. Kota-kota yang sudah ditaklukkan pun makin bertambah. Bagi yang tidak mau takluk, Hang Liang segera mengirim angkatan perangnya untuk merebut daerah itu sampai dapat.
Bisa dikatakan hampir seluruh daerah-daerah yang pernah diduduki negeri Cin, sekarang sudah kembali ke dalam wilayah negeri Couw yang baru. Bahkan negeri lainnya takut mendengar kehebatan negeri Couw ini.
Kabar tentang berdirinya negeri Couw sudah lama sampai ke negeri Cin. Cuma waktu itu yang menjadi Cay-siang di negeri Cin yaitu seorang kan-sin bernama Tio Ko. Berbagai masalah kenegaraan tidak pernah dilaporkan pada rajanya. Menteri-menteri lain yang mau memberi tahu pada raja, jadi takut pada Tio Ko.
Ketika itu yang menjadi raja adalah Ji Si Hong-tee, anak Cin Si Ong yang kedua. Ji Si Hong-tee memang tidak mau tahu segala perkara di dalam negeri. Siang dan malam Raja Ji Si Hong-tee ini kerjanya cuma pelesir dan bersenang-senang. Dia tak pernah menghadiri pertemuan di istana.
Selain Tio Ko tak ada menteri lain yang bisa menemui Ji Hong-tee. Tak heran kalau masalah pemberontakan dan kekacauan di dalam negerinya, sampai saat itu belum diketahui Ji Si Hong-tee.
Pada suatu hari, Tio Ko mendengar bahwa Hang Liang sudah mengangkat raja baru. Tak hanya itu, Hang Liang juga telah berdamai dengan Lauw Pang dan Tan Eng. Tidak lama lagi mereka akan menyerang negeri Cin.
Dia juga sudah mendengar banyak kota yang sudah jatuh ke tangan negeri Couw. Sesudah Tio Ko mendengar kabar itu, barulah dia merasa takut dan gentar. Lalu dia memanggil Jenderal Ciang Ham untuk diajak berunding mengenai masalah yang timbul di dalam negeri.
Tio Ko yang sudah mulai ketakutan lalu berbohong pada sang jenderal. "Masalah ini sudah aku laporkan pada raja. Dia menyuruh Ciang-kun segera mengerahkan angkatan perang untuk membunuh semua pemberontak itu!" kata Tio Ko.
Ciang Ham yang menerima perintah itu langsung pamit untuk mengumpulkan semua panglima perangnya. Panglima-panglima itu antara lain Su-ma Hin, Tang I, dan Li Yu. Mereka diajak mufakat tentang pemberontakan di dalam negeri.
"Aku akan mengerahkan tentara sebanyak 30.000 orang dan aku akan langsung berangkat menumpas para pemberontak!" kata Ciang Ham pada para rekannya.
"Baik, Jenderal. Kami siap ikut ke medan perang!" kata Su-ma Hin dan kawan-kawan.
Esok harinya jenderal Ciang Ham membawa angkatan perangnya berangkat ke luar kota Han-kok-koan. Angkatan perang ini bergerak menuju ke negeri Couw. Tapi sebelum sampai ke negeri Couw, angkatan perang Cin lebih dahulu harus melintasi negeri Gwi.
Mendengar tentara pimpinan Ciang Ham akan melintas negerinya, Raja Gwi jadi gelisah bukan main. Raja Gwi sangat yakin tentara negeri Cin pasti lebih dahulu akan menyerang negaranya.
Karena tak lama lagi tentara Cin akan sampai di negerinya, Raja Gwi buru-buru berunding dengan para menterinya. Raja Gwi akhirnya memutuskan akan mengirim orang untuk pergi ke negeri Cee dan negeri Couw untuk meminta bantuan.
Begitu menerima utusan negeri Gwi yang minta bantuan, Hang Liang kaget. Dia berjanji akan melindungi negeri Gwi dari serbuan tentara Cin. "Tenanglah, aku akan mengirim tentara untuk membantu kalian!" ujar Hang Liang pada utusan negeri Gwi.
Kemudian Hang Liang mempersilakan utusan itu beristirahat. Tak lama Hang Liang langsung memerintahkan panglimanya untuk berkumpul. "Saudara Hang Peng, bawa 30.000 prajurit untuk menolong negeri Gwi," kata Hang Liang memberi perintah.
"Baik, Ciang-kun!" ujar Hang Peng.
Sementara di negeri Cee, Raja Tian Ciam pun menerima surat dari negeri Gwi. "Hm, rupanya negeri Cin kembali mengerahkan angkatan perangnya. Aku harus segera mengirim bantuan sebelum terlambat!" ujar Raja Tian Ciam.
Seperti juga negeri Couw, Raja Tian Ciam langsung membawa pasukannya untuk menolong negeri Gwi. Dia langsung memimpin sendiri pasukannya itu.
Tidak berapa lama pasukan dari negeri Couw dan Cee sudah sampai di negeri Gwi. Masing-masing membuat perkemahan mereka untuk menunggu kedatangan tentara dari negeri Cin.
Mata-mata negeri Cin melaporkan tentang datangnya bantuan ke negeri Gwi. Ketika Ciang Ham mendengar laporan dari mata-matanya, dia sedikit gentar. "Negeri Cee dan Couw sudah datang hendak menolong negeri Gwi," kata Ciang Ham pada anak buahnya.
Ciang Ham agak kecewa, tapi langsung dia perintahkan Su-ma Hin membawa tentaranya untuk bertempur menghadapi tentara negeri Cee. Perintah lain diberikan pada Tang I. "Bawa tentaramu untuk bertempur dengan tentara negeri Couw, aku akan menyusul dari belakang," kata Ciang Ham.
Su-ma Hin langsung berangkat dan menyerang perkemahan Raja Cee. Tapi serangan Su-ma Hin gagal. Bahkan sudah berkali-kali dia melakukan serangan pada pasukan Cee, tapi dia belum juga memperoleh kemenangan.
Su-ma Hin lalu mengatur siasat, dia menyembunyikan tentaranya di sebelah kiri dan kanan jalan. Salah satu pasukannya kembali menyerang ke perkemahan Raja Cee.
Karena diserang, Raja Cee keluar menyambut kedatangan musuh. Sesudah bertempur beberapa puluh jurus lamanya, Su-ma Hin pura-pura kalah. Dia memerintahkan tentaranya mundur.
"Mundur! Mundur!" teriak Su-ma Hin.
Raja Cee tidak mengira itu cuma sebuah tipu muslihat yang dijalankan oleh Su-ma Hin. Ketika Raja Cee melihat tentara Su-ma Hin mundur, Raja Cee memerintahkan tentaranya maju untuk memburu pasukan musuh.
Dengan bernafsu pasukan Cee mengejar mati-matian. Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba terdengar suara ribut sekali. Suara tambur dan gembreng dari kanan dan kiri jalan memekakkan telinga.
Dalam sekejap bermunculan pasukan Cin yang bersembunyi di kedua tepi jalan itu. Mereka langsung mengepung pasukan dari negeri Cee.
Karena serangan musuh sangat tiba-tiba dan jumlahnya besar sekali maka pasukan Raja Cee tidak tahan. Untuk terus melawan sudah tidak mungkin.
Raja Cee mencoba melarikan diri, tapi tidak bisa. Dalam pertempuran yang kalut, Raja Cee terpanah oleh musuh hingga tewas.
Sedang pasukannya banyak yang mati dan terluka. Yang masih hidup terpaksa takluk pada tentara Cin.
Diceritakan Hang Beng bersama pasukannya baru sampai di medan pertempuran.