Chapter 26
Dia sudah mengira pasukan musuh yang dipimpin Teng I masih sangat kelelahan. Apalagi mereka baru saja melakukan perjalanan jauh. Dengan cerdik Hang Beng membarenginya. Begitu mereka sampai, Hang Beng langsung menyerang pasukan Teng I secara tiba-tiba. Tentu saja serangan mendadak itu mengagetkan Teng I dan pasukannya.
Saat itu pasukan Teng I benar-benar belum siap. Mereka juga belum mendirikan perkemahan. Jelas, mereka tidak bisa menahan serangan tiba-tiba itu. Buru-buru mereka melarikan diri sampai sepuluh li jauhnya. Hang Beng memburu mereka dengan maksud tak memberi kesempatan. Kerusakan tentara Cin yang mendapat serangan itu tidak kecil.
Kabar mengenai kekalahan Teng I ini sampai ke telinga Jenderal Ciang Ham. Begitu mengetahui pasukan Teng I rusak berat, Ciang Ham memerintahkan Li Yu agar segera menghadang pasukan Hang Beng yang sedang mengejar pasukan Teng I.
"Li Yu, kau pukul bagian belakang pasukan Hang Beng segera!" kata Ciang Ham.
Ciang Ham sendiri akan memukul pasukan itu dari depan. Serangan yang datang dari dua arah ini membuat Hang Beng tidak tahan. Dalam suatu pertempuran yang amat kacau, Hang Beng akhirnya tewas dibunuh oleh Ciang Ham. Anak buah Hang Beng berlarian kalang kabut.
Ketika Raja Gwi melihat dua angkatan perang negeri Cee dan Couw sudah binasa, dia sadar negerinya bakal jatuh ke tangan tentara Cin. Dengan terburu-buru, dia bersama para menterinya segera meninggalkan kota. Dengan demikian, Ciang Ham berhasil menduduki kota itu. Kemudian, Ciang Ham mengistirahatkan pasukannya untuk beberapa hari lamanya. Sesudah tentaranya segar kembali, Ciang Ham memerintahkan angkatan perangnya maju kembali. Begitu sampai di tanah Tang-a, Ciang Ham memerintahkan angkatan perangnya berhenti dan beristirahat kembali. Lalu, Ciang Ham menyebarkan beberapa orang mata-mata untuk mencari tahu situasi di perkemahan musuh.
Sisa pasukan Hang Beng yang tidak mati dalam pertempuran hebat itu berhasil melarikan diri. Mereka pulang ke negeri Couw. Begitu sampai, mereka melaporkan apa yang terjadi pada Hang Beng dan pasukannya. Mereka juga melaporkan bahwa Raja Cee sudah mati dan negeri Gwi sudah jatuh ke tangan Ciang Ham.
"Sekarang Ciang Ham sudah mengerahkan tentaranya menuju ke negeri Couw," kata mata-mata itu.
"Saat ini tentara Cin sudah ada di tanah Tang-a." Ketika mendengar laporan itu, Hang Liang segera berunding dengan Hoan Ceng. Tak lama, dia sudah melaporkan hal itu pada Raja Couw Hwai Ong.
"Tuanku, pasukan musuh sudah sangat dekat. Mereka pun telah menaklukkan beberapa negeri tetangga. Kita harus segera mempersiapkan diri untuk menghadang serangan mereka!" ujar Hang Liang mengakhiri laporannya.
Mendengar laporan itu, Raja Hwai Ong segera mengeluarkan perintah. "Jenderal Hang Liang, Jenderal Hang I! Dengan dibantu oleh Hoan Ceng, kalian boleh membawa 20.000 prajurit pergi ke tanah Tang-a untuk memaksa musuh mundur!" kata Couw Hwai Ong. "Aku tak ingin negeri ini diduduki oleh para penjajah itu!" "Baik, Tuanku! Kami siap melaksanakan tugas!" kata Hang Liang dan kawan-kawan.
Kemudian, Hang Liang membawa tentaranya berangkat ke Tang-a. Tidak berapa lama, mereka telah sampai di tanah Tang-a. Sekitar lima li jauhnya dari kota itu, mereka membuat perkemahan. Sesudah perkemahan mereka beres, Hang I maju menantang musuh.
"Ciang Ham, keluar kau, aku Hang I menantangmu!" kata Hang I dengan lantang.
Dengan menunggang kuda, Ciang Ham lantas membawa anak buahnya keluar dari baraknya. Dia kini siap menyambut tantangan Hang I. Begitu mereka berhadapan, Hang I langsung menunjuk dengan cambuknya.
"Rajamu Ji Si Hong-tee sangat kejam dan jahat! Dia memakai Tio Ko menjadi Cay-Siang dan sudah membuat rakyat susah. Aku umpamakan kalian di sini seperti ikan di dalam kuali, jadi tinggal menunggu mati saja. Hari ini kau berani datang menyerang ke negeri kami, apa kau belum tahu kehebatan kami? Akan kami bunuh kalian semua!" kata Hang I.
"Negeri kami besar dan tentaranya sangat kuat. Setiap angkatan perang kami datang menyerang, semua negeri bisa kami taklukkan. Sedangkan kau cuma seorang perampok, berani benar kau melawan kami!" kata Ciang Ham tak kalah gertak.
Mendengar hinaan itu, Hang I langsung mengangkat tombaknya. Dengan hebat dia menerjang Ciang Ham. Dalam waktu singkat, mereka telah bertarung tiga puluh jurus. Tapi Ciang Ham tidak tahan meladeni kegagahan Hang I, maka buru-buru dia kabur. Melihat lawannya kabur, Hang I langsung mencambuk kudanya dan memburu Ciang Ham. Baru tiga li jauhnya, di tengah jalan mereka berpapasan dengan pasukan Li Yu.
Melihat Ciang Ham lari mendatangi, Li Yu memberi jalan supaya Ciang Ham lewat. Kemudian dengan sengaja dia menghadang Hang I dan pasukannya. Karena Ciang Ham lolos dari kejarannya, Hang I marah bukan main. Hang I menganggap itu semua terjadi karena ulah Li Yu. Dengan suara keras, Hang I membentak Li Yu.
"Hai bangsat, beraninya kau halangi jalanku!" bentak Hang I.
Akibat bentakan Hang I yang keras bagaikan guntur itu, kuda Li Yu kaget lalu berbalik kabur sampai 20 li jauhnya. Melihat itu, Hang I langsung memburu ke arah Li Yu dan akan menombaknya dari belakang. Teng I yang tahu bahaya sedang mengancam Li Yu, langsung dia menerjang ke arah Hang I. Tak berapa lama, Teng I dan Li Yu sudah mengepung Hang I. Tapi sedikit pun Hang I tak takut pada mereka berdua. Sesudah bertarung kira-kira dua puluh jurus, kedua panglima Cin itu tetap tak tahan menghadapi Hang I yang gagah. Maka terpaksa keduanya kabur. Tapi Hang I tak membiarkannya dan mengejar sekuat tenaganya.
Pertempuran Hang I dengan dua panglima Cin dilaporkan pada Hang Liang. Mendengar laporan itu, Hang Liang kaget. Dia takut keponakannya terlalu bernafsu dan masuk ke dalam pertahanan musuh.
"Ini berbahaya bagi Hang I, apalagi jika musuh memasang perangkap keji," kata Hang Liang.
Hang Liang buru-buru memerintahkan tiga panglimanya untuk membantu Hang I. "I Eng, Hoan Couw, dan Eng Pouw, kalian bawa 5.000 prajurit untuk bergerak maju membantu Hang I!" kata Hang Liang. Bantuan Hang Liang ini sangat berarti dan membuat pasukan Cin yang dipimpin oleh Ciang Ham harus mundur sejauh dua puluh li.
Pasukan Cin menderita kerusakan berat. Jenderal Ciang Ham segera mengumpulkan seluruh anak buahnya untuk diajak berunding. "Angkatan perang negeri Couw terlalu gagah dan kuat, tak bisa kita lawan dengan kekuatan tentara saja," kata Ciang Ham.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Li Yu.
"Mereka harus kita lawan dengan akal dan siasat yang jitu. Coba kalian pikir, hanya karena Hang I seorang saja kita tidak bisa mengalahkannya," kata Ciang Ham.
"Maksud Jenderal?" tanya yang lain.
"Sekarang sebaiknya kita tak usah melawan mereka! Tunggu sampai saatnya tepat! Ketika Hang I lengah dan tak mengira kita akan menyerangnya, kita kejutkan mereka dengan serangan mendadak! Barangkali kita bisa menang melawan mereka. Sekarang buat perkemahan, biarkan anak buah kita beristirahat!" kata Ciang Ham.
Sementara itu, dari jauh Ciang Ham menyaksikan kemenangan besar Hang I. Ketika Hang I mau mengejar terus, Hoan Pouw dan kawannya yang membawa amanat Hang Liang mencoba mencegahnya. Terpaksa Hang I menarik mundur pasukannya. Sesampai di markas, Hang I segera menemui Hang Liang untuk melaporkan kemenangannya.
"Ciang Ham dan pasukannya sudah rusak berat. Mereka semua harus kita kejar dan tangkap!" kata Hang I.
"Di negerinya, Ciang Ham jenderal perang nomor satu dan termasyhur namanya. Dia gagah perkasa dan pandai. Sekarang dia sudah tua, kami kira sudah tidak berguna. Sebaiknya besok kau tangkap dia!" kata Hang Liang setuju pada usul Hang I.
Keesokan harinya, Hang Liang memerintahkan anak buahnya memburu Ciang Ham. Sebagai panglima utama, Hang I mengambil jalan di bagian tengah. Panglima kedua Lauw Pang mengambil jalan di bagian timur, panglima ketiga Eng Pouw mengambil jalan di bagian barat. Ciang Ham akan dikepung dari tiga jurusan. Sesudah mengatur strategi, mereka langsung berangkat menangkap Ciang Ham.
Mereka mendekati perkemahan Ciang Ham. Ketika tentara Cin yang ada di perkemahan mendengar tiga panglima perang negeri Couw datang, mereka ketakutan sekali. Semua sudah tahu siapa Hang I. Maka begitu ketiga panglima Couw yang gagah tiba, mereka semakin ketakutan. Apalagi tentara Couw langsung memburu mereka yang ada di dalam perkemahan. Serangan hebat dari tiga jurusan bagaikan angin topan yang dahsyat. Tentara Cin yang mendapat hantaman, menjadi kalang kabut dan berusaha mencari selamat sendiri.
Jenderal Ciang Ham lari masuk ke dalam kota Teng-to. Su-ma Hin bersama Teng I melarikan diri ke kota Pok-yang. Li Yu lari ke kota Yong-kiu. Mereka terpecah menjadi tiga dan masing-masing membawa sisa pasukan mereka yang telah rusak berat. Tentara Couw akhirnya harus dibagi menjadi tiga pasukan untuk memburu tentara Cin yang melarikan diri itu.
Hang I bersama pasukannya memburu Li Yu yang kabur ke kota Yong-kiu. Sebelum Li Yu sempat masuk ke dalam kota, Hang I sudah berhasil mengejarnya. Dalam suatu pertarungan singkat, Hang I berhasil membunuh Li Yu. Ketika panglima kota Yong-kiu melihat kegagahan Hang I, dia menjadi amat ketakutan. Mereka terpaksa menyerah dan kota Yong-kiu berhasil direbut.
Lauw Pang bersama pasukannya memburu Teng I dan Su-ma Hin yang masuk ke kota Pok-yang. Ketika Lauw Pang sampai di suatu hutan lebat, Siauw Ho, anak buah Lauw Pang, menasihatinya. "Sekalipun musuh mendapat kerusakan berat, tetapi sebaiknya jangan terus diburu. Apalagi tempat ini tak kita kenal baik! Jika kita disergap, susah bagi kita untuk melarikan diri. Tempat seperti ini sungguh sangat berbahaya. Jika musuh nekat dan berbalik melawan, kita bisa celaka! Peribahasa mengatakan, 'Harimau terluka, jangan terus diburu.'" Lauw Pang kaget mendengar nasihat itu. Tiba-tiba dia sadar dan menghentikan pengejarannya. Dia memerintahkan pasukannya berhenti. Kemudian, mereka membangun perkemahan di tempat itu untuk berjaga-jaga.
Dikisahkan, Jenderal Ciang Ham yang kabur, terpaksa masuk ke dalam kota Teng-to.