Chapter 27
Namun, pelariannya terus diburu oleh Panglima Eng Pou dari pihak Cou.
Eng Pou hanya bisa memburu sampai di luar kota karena pintu kota segera ditutup.
Setiap hari Ciang Ham ditantang Eng Pou dengan cacian kasar.
Namun, Ciang Ham mendiamkannya dan tidak mau keluar berperang.
Ketika Eng Pou menyerang kota itu, pertahanan kota malah diperkuat.
Eng Pou tidak bisa masuk ke dalam kota itu.
Mau tidak mau, Eng Pou harus menunggu di luar kota.
Selang beberapa hari kemudian...
Hang Liang datang menyusul.
Eng Pou keluar menyambut kedatangan Hang Liang.
Panglima Eng Pou melapor kepada Hang Liang, "Sekalipun sudah hamba tantang dengan kata-kata pedas, Ciang Ham tidak mau keluar, Tuanku!"
Mendengar laporan itu, Hang Liang kurang senang.
"Kali ini Ciang Ham sudah kehabisan tenaga. Dia bertahan di dalam kota. Mengapa tidak segera kau serang dia? Atau barangkali kau mau menunggu sampai bala bantuan mereka datang? Ini benar-benar siasat perang yang salah!"
"Memang benar tentara Ciang Ham sudah rusak berat," kata Eng Pou. "Tapi pasukannya masih banyak. Empat penjuru kota dijaga sangat keras. Kota itu sulit untuk diserang. Saya sarankan, lebih baik kita tunggu sampai ada kesempatan, baru kita serang mereka!"
Mendengar jawaban Eng Pou, Hang Liang bertambah kesal.
"Ucapanmu itu hanya pantas diucapkan oleh seorang bodoh!" bentak Hang Liang. "Jika tidak sekarang, kau mau menunggu sampai makanan kita habis?"
Kemudian Hang Liang segera mengeluarkan perintah, "Saat ini juga kota Teng-to harus diserang habis-habisan!" kata Hang Liang. "Sekarang kita harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk merebut kota Teng-to!"
Hang Liang kemudian memerintahkan pasukannya supaya maju dengan kekuatan penuh.
Kota Teng-to pun dikepung rapat.
Tentara Hang Liang berusaha menaiki kota dengan menggunakan tangga.
Tapi Hang Liang sedikit pun tidak mengira bahwa kota itu dipertahankan dengan sangat kuat.
Tentara Hang Liang tidak bisa merapat ke tembok kota.
Baru sampai ke pinggir, mereka sudah dihujani anak panah, batu, dan api.
Jatuhnya benda-benda itu seperti hujan lebat.
Korban di pihak Hang Liang jumlahnya sangat banyak.
Tentara Hang Liang banyak yang mati terpanah atau terkena batu.
Melihat hal itu, terpaksa Hang Liang memerintahkan agar pasukannya mundur.
Dia segera mengatur siasat baru untuk merebut kota Teng-to.
Berulang-ulang Hang Liang menyerang kota Teng-to, tapi serangannya selalu gagal.
Hingga akhirnya Hang Liang kehabisan akal.
Bahkan tentaranya pun mulai kelelahan karena siang dan malam menggempur kota Teng-to.
Mendapat kenyataan seperti itu, Hang Liang sangat kesal.
Pada suatu hari...
Ketika Hang Liang sedang duduk merenung dengan wajah sangat murung dan kesal, Han Sin si pembawa tombaknya datang menghadap.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Hang Liang dengan kesal.
"Menurut hamba, Ciang Ham bersama anak buahnya masih terlalu kuat! Mereka tidak mau berperang dan terus bertahan di dalam kota bukan karena takut. Mereka sedang menunggu kita lengah," kata Han Sin.
"Enak saja kau bicara, kau tahu apa?" bentak Hang Liang tambah kesal.
"Hamba sarankan, Ciang-kun lebih berhati-hati! Jangan sampai terperangkap oleh tipu daya musuh! Ciang-kun harus mengantisipasi serangan malam mereka! Serangan itu sangat berbahaya!" kata Han Sin lagi.
Mendengar ucapan Han Sin, tentu saja Hang Liang menjadi marah.
Karena Hang Liang memang kurang suka pada Han Sin, dia tidak percaya pada ucapan Han Sin.
"Aku tidak takut pada Ciang Ham yang tidak berguna itu! Dia seperti seekor tikus yang ketakutan! Sudah, kau jangan banyak omong, biar persoalan ini kutangani sendiri!" kata Hang Liang angkuh.
Dia sangat meremehkan lawan bicaranya itu.
"Kau tidak usah banyak bicara! Sejak kami menghimpun pasukan di kota Hwe-kee sampai sekarang, kami selalu dapat memenangkan setiap pertempuran!" bentak Hang Liang. "Apa istimewanya kota Teng-to ini? Apa yang harus aku takutkan? Aku tidak takut pada Ciang Ham. Mendengar namaku saja, nyali Ciang Ham sudah hancur! Mana berani dia melawan pasukanku? Kau orang yang tidak berguna, jangan banyak bicara di depanku!"
Sesudah itu Hang Liang membentak dan mengusir Han Sin.
Song Gi yang mendengar ucapan Han Sin, berpikir bahwa ucapan Han Sin sangat beralasan.
Song Gi segera memperingatkan Hang Liang agar mau memperhatikan nasihat anak buahnya itu.
"Ciang-kun, ucapan Han Sin jangan dianggap remeh! Ucapannya sangat masuk akal. Sekarang tentara kita sudah sangat kelelahan, siang dan malam mereka terus menggempur kota. Tapi hasilnya sia-sia saja! Sebaliknya, Ciang Ham sekalipun pasukannya rusak berat, tetapi di dalam kota tentaranya masih banyak dan kuat. Ciang Ham seorang jenderal negeri Cin yang termashyur. Dia mampu mengendalikan tentaranya. Sekali lagi, jangan Ciang-kun remehkan ucapan Han Sin itu!" kata Song Gi.
"Ah, sudahlah! Aku tidak mau membicarakan masalah itu lagi!" kata Hang Liang kesal.
Hang Liang tetap tidak mau mendengarkan nasihat itu, sekalipun sudah diucapkan oleh dua orang.
Malam harinya...
Ciang Ham yang telah menyebar mata-mata sudah tahu persis bahwa Hang Liang sangat tidak menghargai dirinya.
Di sini dia bisa menganalisis bahwa Hang Liang pasti sedang kurang waspada.
Malam itu Ciang Ham mengeluarkan perintah rahasia pada anak buahnya.
"Pada pukul tujuh malam, kalian semua harus sudah selesai masak nasi dan memberi makan kuda-kuda kita!" kata Ciang Ham. "Malam ini kalian harus makan sampai kenyang. Sesudah itu kaki kuda-kuda kita harus dipasangi peredam suara. Pada pukul sembilan, semua panglima dan prajurit harus sudah berkumpul di kantorku! Kalian harus menunggu perintahku!"
Perintah itu oleh para panglima dan prajurit dilaksanakan dengan patuh.
Pukul tujuh mereka mulai masak.
Sesudah makan, mereka memberi makan kuda-kuda.
Baru setelah itu mereka memasang pelana dan peredam suara pada kaki kudanya.
Tepat pukul sembilan, semua sudah berkumpul di depan kantor Ciang Ham.
Mereka sudah berpakaian tempur lengkap.
Ciang Ham dengan hati-hati mengatur siasat.
Sesudah itu dalam keadaan siap mereka menunggu perintah sampai pukul dua belas tengah malam.
Tak lama kemudian, Ciang Ham muncul kembali dari kantornya.
Dia duduk di kursinya.
Kepada semua jenderal dan anak buahnya, Ciang Ham mulai memberikan wejangan yang terakhir sebelum pasukannya berangkat.
"Malam ini kita akan mengadakan serangan mendadak terhadap musuh," kata Ciang Ham bersungguh-sungguh. "Kalian mau mendapat kemenangan, bukan?"
"Mau, Jenderal!" jawab anak buahnya.
"Bagus! Kesempatan kita hanya malam ini! Sekali serang, kita harus menang! Kalian harus bersungguh-sungguh saat berperang. Serang perkemahan mereka secara mendadak! Ketika genderang perang berbunyi, kalian harus langsung menyerbu! Bagi yang takut dan tidak berani maju, aku membunuhnya saat ini juga! Kalian mengerti?" kata Ciang Ham bersemangat.
"Baik, Jenderal! Kami mengerti!" kata anak buahnya.
Jenderal Ciang Ham memanggil para jenderal yang akan memimpin serangan.
Kemudian Ciang Ham mengatur siapa-siapa yang harus memimpin serangan itu.
Mereka juga ditentukan dari pintu mana mereka harus menyerang.
Sesudah rencana penyerangan secara rinci disampaikan, barulah Ciang Ham memerintahkan agar anak buahnya bersiap-siap.
Begitu saatnya tiba, Ciang Ham langsung memerintahkan agar pintu kota dibuka!
Pertama-tama, pintu kota sebelah timur dan barat.
Bagaikan air bah, dua pasukan Cin yang sudah siap tempur menyerbu.
Saat serangan tentara Cin dimulai, tentara Cou yang dipimpin oleh Hang Liang sedang tidur nyenyak.
Mereka memang sudah sangat kelelahan karena siang dan malam menggempur kota.
Sebaliknya, dua pasukan Ciang Ham yang menyerbu mereka masih segar.
Mereka cukup makan dan istirahat.
Pasukan yang sudah lama terkurung di dalam kota dan tidak pernah berperang secara terbuka itu, sekarang bergerak keluar secara serentak...
Sekitar setengah kilometer dari perkemahan tentara Hang Liang, Jenderal Ciang Ham lalu berteriak, "Bunyikan genderang perang secara serempak!"
Begitu mendengar suara genderang perang, panglima tentara Ciang Ham memberi komando.
"Maju! Serang!"
Pasukan Cin berhamburan bagaikan lebah yang dipukul sarangnya.
Mereka maju tanpa takut menyerbu ke perkemahan tentara Cou yang tidak siaga.
Mereka tampak saling berlomba ingin membunuh musuh sebanyak-banyaknya.
Mereka menghambur tanpa kendali, dibarengi suara derap kaki kuda dan prajurit yang menyerbu bagaikan gunung runtuh!
Tentara Hang Liang yang sedang tidur nyenyak, kaget begitu mendengar suara genderang.
Mereka bangun dengan panik.
Mereka gelagapan sambil mencari senjata dan kuda mereka.
Belum sampai mereka meraih senjata, tentara Cin sudah sampai.
Dengan mudah tentara Cin membunuh mereka tanpa belas kasihan.
Tidak adanya perlawanan, membuat mereka seperti sedang menebang pohon pisang.
Saat serangan tentara Cin datang, Hang Liang sedang tidur pulas.
Semalam karena kesal, Hang Liang terlalu banyak minum arak sehingga mabuk.
Dia terbangun karena kaget mendengar suara gaduh dan jeritan tentara yang dibantai.
Hang Liang melihat musuh sudah sampai, dan dia tidak sempat naik kuda lagi.
Sampai di depan pintu kemah, dia tertombak di perutnya oleh Sun Sin hingga tewas.
Banyak tentara Cou yang mati dan terluka.
Mereka tidak lagi sempat kabur dan terpaksa takluk pada pasukan Ciang Ham.
Sementara Song Gi dan Eng Pou yang melihat tidak ada harapan untuk melawan, segera kabur meninggalkan perkemahannya.
Ciang Ham mencoba melakukan pengejaran.
Namun, kedua panglima musuh itu sudah jauh.
Kali ini Ciang Ham mendapat kemenangan besar.
Mendengar Hang Liang tewas oleh serangan mendadak Ciang Ham, Lauw Pang buru-buru datang memberikan pertolongan.
Namun, sudah terlambat!
Begitu Lauw Pang sampai di tengah jalan, dia bertemu dengan Song Gi yang sedang mengumpulkan sisa pasukannya.
Banyak anak buah Song Gi yang terluka.
Lauw Pang segera bergabung dengan mereka dan bersama-sama kembali ke kota Yong-kiu.