Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 28

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 28

Mereka langsung memberitahukan hal itu kepada Hang I. Mendengar kabar pamannya tewas, Hang I kaget bukan main.

"Apakah pamanku tewas dalam serangan itu?" jerit Hang I yang kemudian langsung pingsan. Para panglima Hang I segera memberikan pertolongan.

Hang I pingsan cukup lama. Sesudah sadar, dia langsung menangis sedih. "Sejak kecil saya sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Hanya paman yang memelihara dan mengajariku sampai dewasa. Sebelum aku sempat membalas budi, dia sudah meninggal. Bagaimana aku tidak berduka?" Sesudah berkata begitu, dia menangis tidak henti-hentinya.

Hoan Ceng mencoba menghibur Hang I. "Hang Ciang-kun mati karena membela negara, jadi bisa dikatakan Hang Liang adalah seorang yang setia. Ingatlah bahwa umur manusia berada di tangan Tuhan. Tidak ada gunanya Ciang-kun menangis lagi. Jika Ciang-kun bisa meneruskan pekerjaannya, pasti di akhirat beliau akan senang. Kami tahu Ciang-kun sangat berbakti, tetapi mengapa Ciang-kun harus menangis seperti perempuan? Itu bukan sifat seorang laki-laki sejati!" bujuk Hoan Ceng.

Mendengar nasihat dan penghiburan dari Hoan Ceng, semangat Hang I bangkit kembali. "Terima kasih atas nasihatnya, Tuan! Aku bersedia menuruti nasihat Sian-seng!" ujar Hang I tegar. "Suatu saat aku pasti akan membalaskan dendam paman kepada Ciang Ham!"

Sesudah itu, Hang I menguburkan jenazah Hang Liang di wilayah kota Teng-to. Selesai menguburkan jenazah pamannya, Hang I mengeluarkan perintah. "Semua siap untuk mengejar tentara Cin yang telah membunuh pamanku!" kata Hang I. Tak lama kemudian pasukannya sudah bergerak melakukan pengejaran. Namun, di tengah jalan Hang I mendengar kabar bahwa Ciang Ham dan angkatan perangnya sudah menyeberang sungai. Menurut laporan mata-mata, mereka akan menyerang negeri Tio.

Dikisahkan di negeri Tio, karena Raja Tio ketakutan, dia melarikan diri dan masuk ke dalam Ki-lok-kiong. Ki-lok-kiong adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Cin Bun Kong untuk berjaga-jaga jika terjadi kerusuhan. Benteng tersebut sangat kuat dan susah dihancurkan.

Mendengar keterangan itu, Hang I menyadari bahwa angkatan perang Ciang Ham sudah kuat kembali. Jika Hang I maju terus, dia merasa tidak akan bisa mengalahkan pasukan Ciang Ham. Kemudian Hang I berunding dengan Hoan Ceng.

"Saat ini tentara kita mendapat pukulan berat dari tentara Cin, sedangkan pamanku baru saja meninggal. Aku dengar tentara Cin semakin kuat. Apa akal kita selanjutnya, Sian-seng?" tanya Hang I pada Hoan Ceng.

"Menurut hamba, saat ini ibu kota negeri Couw kosong tidak terjaga. Ditambah lagi musuh semakin dekat ke ibu kota. Lebih baik kita pulang dulu, lalu kita pindahkan ibu kota negeri Couw ke kota Peng-seng agar sulit diserang musuh. Baru sesudah itu kita kembali mengerahkan tentara untuk menyerang musuh," kata Hoan Ceng.

Hang I setuju dengan saran Hoan Ceng. Mereka segera bersiap pulang ke ibu kota negeri Couw. Hang I kemudian melaporkan apa yang terjadi dan menyampaikan saran untuk pemindahan kota. "Untuk menghindari serangan musuh, sebaiknya kita memindahkan kota, Tuanku!" ujar Hang I.

"Kalau memang demikian, aku setuju saja!" kata Raja Couw. Hang I segera mengatur perpindahan rajanya dan semua dapat diselesaikan dengan baik. Sesudah Couw Hwai Ong tinggal di kota Peng-seng, kota itu resmi dijadikan ibu kota negeri Couw.

Pada suatu hari, datang seorang utusan dari negeri Tio. Raja Couw Hwai Ong menyilakan utusan itu dipanggil ke hadapannya. "Apa maksud kedatanganmu ke mari?" tanya Raja Couw Hwai Ong.

"Hamba diperintah untuk mengantarkan surat pada Tuanku," kata si utusan. "Maksud raja hamba, dia ingin meminta pertolongan pada Tuanku. Saat ini negeri Tio dalam bahaya dan tinggal menunggu kehancurannya."

"Apa sebabnya?" tanya Couw Hwai Ong.

"Panglima Ciang Ham dari negeri Cin sudah lama mengepung benteng kota Ki-lok-kiong, padahal di dalam kota kami sudah kekurangan makanan," kata si utusan. "Kuda-kuda milik panglima perang kami pun sudah habis disembelih untuk dimakan karena kami kelaparan. Kami makan apa saja yang bisa kami makan, tetapi tetap saja lebih dari separuh rakyat kami telah mati kelaparan. Ituran sebabnya kami sangat mengharapkan bantuan Tay-ong!"

Couw Hwai Ong tertegun mendengar cerita utusan negeri Tio itu. Namun, karena Hang Liang yang menjadi andalannya pun tewas di tangan Ciang Ham, Couw Hwai Ong menjadi bingung dan hanya diam seribu bahasa. Melihat rajanya terdiam, Hoan Ceng mencoba memecahkan suasana.

"Negeri Tio harus segera ditolong," kata Hoan Ceng tegas. "Sekalipun negeri Tio tidak punya hubungan dengan kita, Tuanku harus ingat bahwa jika negeri Tio jatuh ke tangan negeri Cin, hal itu akan sangat berbahaya."

"Maksud Kun-su?" tanya Couw Hwai Ong.

"Bahaya terhadap kita akan bertambah besar karena negeri Cin jadi semakin kuat," kata Hoan Ceng. "Akhirnya kita akan lebih sukar mengalahkan mereka, maka sebisanya kita harus menolong negeri Tio!"

"Baiklah, aku akan segera mengambil keputusan," jawab Raja. Kemudian Couw Hwai Ong mengangkat Jenderal Song Gi menjadi Toa-ciang-kun, Hang I menjadi Hu-ciang-kun, dan Hoan Ceng menjadi Kun-su. Mereka berangkat dengan membawa dua ratus ribu tentara untuk menolong negeri Tio.

Esok paginya, berangkatlah angkatan perang negeri Couw. Setelah sampai di daerah An-yang, Jenderal Song Gi sengaja tidak langsung menyerang. Hal ini berlangsung sampai empat puluh enam hari karena Song Gi memang takut pada tentara Cin yang gagah berani. Selain itu, dia tahu benar kecerdikan dan kepandaian Ciang Ham. Diam-diam dia juga bersekongkol dengan negeri Cee; mereka telah mengadakan kesepakatan untuk menjadikan anaknya yang bernama Song Siang sebagai menteri di negeri Cee.

Hang I heran mengapa Song Gi tidak segera mengerahkan angkatan perangnya. Karena kesal, Hang I menanyakan masalah penyerangan itu. "Song Ciang-kun, mengapa sampai sekarang Anda belum mengerahkan angkatan perang untuk menghantam tentara Cin? Padahal Anda tahu saat ini negeri Tio cuma tinggal menunggu kehancurannya. Bahkan mereka sangat mengharapkan pertolongan kita!" kata Hang I.

"Aku sedang menunggu saat yang tepat!" jawab Song Gi.

"Jika Ciang-kun tidak segera menyerang, ini sama saja dengan menghambur-hamburkan bahan makanan dengan sia-sia!" kata Hang I kesal. "Jika Ciang-kun mengerahkan angkatan perang sejak lama, barangkali kita sudah berhasil menghancurkan kepungan tentara Cin."

"Ingat, tentara kita belum lama mendapat kerusakan berat. Mereka masih trauma oleh kegagahan Ciang Ham," kata Song Gi. "Lebih baik kita pantau dulu kedua negara yang sedang berperang itu sampai tentara Cin kelelahan, baru kita serang mereka. Barangkali kita bisa mengalahkan mereka dan mendapat kemenangan. Jika kita kurang hati-hati, jangan-jangan tentara kita malah akan rusak berat."

"Song Ciang-kun, mengapa kau begitu penakut? Sekarang negeri Tio dan pasukannya tinggal menunggu mati, bagaimana mereka bisa berperang lagi? Jika kita tidak segera membantunya, mereka akan hancur!" kata Hang I dengan kasar.

Song Gi yang memegang kekuasaan atas angkatan perang Couw tidak mau mendengarkan nasihat Hang I. Dia tetap pada pendiriannya untuk tidak maju berperang. Pada suatu hari, Song Gi mengantarkan anaknya ke negeri Cee karena akan segera dijadikan menteri di negeri itu. Sesampainya di kota Bu-yam, dia menyerahkan anaknya pada Raja Cee.

Sesudah urusannya selesai, Song Gi pulang ke perkemahannya di dekat An-yang. Begitu sampai, dia mengadakan pesta makan dengan anak buahnya yang setia. Pesta itu hanya untuk kesenangan dirinya saja tanpa memedulikan kesusahan anak buahnya, padahal saat itu sedang musim dingin. Seluruh bala tentara Couw menggerutu kesal; mereka menganggap Song Gi tidak mementingkan tugas negara dan malah sibuk mengurus anaknya.

Malam itu, Hang I sedang meronda di sekitar perkemahan tentara. Mendengar para prajurit mengeluarkan kekesalannya pada Song Gi, Hang I merasa sangat geram. Saat itu juga dia ingin melabrak Song Gi.

Esok harinya, ketika Song Gi sedang duduk bersama panglima-panglimanya, Hang I datang menemui dan membentaknya dengan suara keras. "Song Gi, ternyata kau berhati busuk! Di saat tugas tengah diemban, kau malah bersekongkol dengan negeri Cee. Kau malah mengantarkan anakmu jadi menteri di sana, padahal Raja Couw telah mengangkatmu jadi panglima perang untuk menolong negeri Tio. Sudah sekian lama kau tidak juga mengerahkan pasukan! Aku kira kau ingin memberontak pada kerajaan Couw! Atas perintah Couw Ong, akan kubunuh kau!"

Mendengar ucapan Hang I, Song Gi sangat kaget. Dia segera memerintahkan panglimanya untuk menangkap Hang I, namun tidak satu pun yang mau menuruti perintahnya. Melihat hal itu, Song Gi turun dari kursinya dan mencoba kabur. Hang I segera mencabut pedangnya dan memburu Song Gi. Tanpa perlawanan berarti, Hang I menebas leher Song Gi hingga putus.

Menyaksikan kejadian itu, para panglima lain berkata, "Yang mengangkat Couw Ong jadi raja adalah paman Ciang-kun. Pasti beliau senang karena Ciang-kun telah membunuh pengkhianat itu! Kami semua akan taat pada perintahmu!" Para jenderal menyatakan setia dan akan melapor pada Raja Couw supaya Hang I diangkat menjadi Toa-ciang-kun.

Sesudah itu, Hang I memerintahkan Hoan Couw untuk menangkap anak Song Gi yang saat itu masih berada di perbatasan negeri Cee. Hoan Couw segera mengejar dan membunuh anak Song Gi tersebut. Setelah berbagai laporan dari medan perang sampai ke negeri Couw, Raja Couw memerintahkan Ciong Li Bwe untuk mengantarkan perintahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment