Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 29

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 29

"Bawa surat keputusan pengangkatan Hang I menjadi Tay-ciang-kun! Perintahkan juga agar dia segera menolong negeri Tio," kata Couw Hwai Ong.

Begitu Hang I menerima perintah langsung dari raja, dia segera mengeluarkan perintah. "Jenderal Eng Pouw, kau kuangkat jadi Sian-hong! Kuperintahkan kau untuk segera menyerang tentara Cin yang sedang mengepung negeri Tio," kata Hang I.

Ketika itu Ciang Ham siang dan malam sedang mengepung kota Ki-lok-kiong. Tapi usahanya merebut kota itu belum juga berhasil karena kota itu dijaga sangat kuat. Ketika Ciang Ham mendengar bahwa pasukan dari negeri Couw yang dipimpin oleh Hang I telah datang, dia segera memanggil Tang I dan Su-ma Hin.

"Kalian berdua harus segera membuat benteng pertahanan di seberang sungai. Sambut kedatangan musuh sebelum mereka menyeberang!" kata Ciang Ham.

Tidak lama kemudian, pasukan Jenderal Eng Pouw sudah sampai. Su-ma Hin dan Tang I dari pihak Cin segera menyambut kedatangannya. Tak lama mereka langsung berperang.

Setelah berperang selama beberapa puluh jurus, pasukan Cin bagian belakang berlarian kalang-kabut karena Hang I menyerang bagian belakang angkatan perang Cin dengan hebat. Su-ma Hin dan Tang I tidak sanggup menahan serangan Hang I tersebut. Mereka segera melarikan diri kembali ke benteng mereka. Begitu sampai, mereka melihat musuh pun sudah merampas benteng mereka. Terpaksa Su-ma Hin dan Tang I kabur meninggalkan pesanggerahan mereka.

Hang I telah berhasil merampas benteng, serta makanan dan senjata musuh. Setelah itu, ia segera mengeluarkan perintah. "Para panglima perangku, kalian harus langsung menyeberang sungai!" teriak Hang I.

Sambil memegang pedang terhunus, Hang I menyaksikan anak buahnya menyeberangi sungai. Hang I berwatak keras dan kemauannya pun keras. Ia ingin menghancurkan Ciang Ham dan angkatan perangnya dalam satu kali serangan. Paling tidak, tentara musuh itu harus mundur dari Ki-lok-kiong!

Ketika tentaranya sudah ada di seberang, Hang I segera mengeluarkan perintah. "Tenggelamkan semua perahu yang digunakan untuk menyeberang! Hancurkan semua periuk masak!" teriak Hang I.

Maka, periuk-periuk itu pun dipecahkan semuanya. Mereka hanya menyisakan makanan untuk tiga hari saja. Ini adalah siasat Hang I yang sangat nekat. Hang I berharap agar anak buahnya bertempur mati-matian, sebab mereka tak punya pilihan untuk mundur lagi.

Ketika semua perahu sudah ditenggelamkan, anak buahnya bingung dan kaget. "Para panglima dan prajuritku semuanya!" kata Hang I. "Dengarkan perintahku! Sekarang ransum kita hanya tinggal untuk tiga hari saja! Semua perahu untuk menyeberang sudah ditenggelamkan. Karena itu, kalian harus bersatu! Kalian harus bahu-membahu untuk menyerang tentara Cin. Aku harap dalam tiga hari kita bisa memenangkan peperangan ini! Jika kita berhasil, maka nyawa kita bisa selamat dan tetap hidup! Tapi jika gagal, niscaya kita pasti mati! Karena mau lari ke mana? Meskipun kita tidak mati dibunuh musuh, jika lari ke sungai akan mati terbenam di dalam air atau mati kelaparan karena tak punya makanan!"

Mendengar pidato Hang I, pasukan negeri Couw terpaksa mengangguk dan bersatu hati untuk bertempur mati-matian. Masing-masing merasa seolah-olah jiwa mereka sudah mati dan mereka harus bertempur habis-habisan! Barangkali saja mereka bisa menang, baru mereka bisa bertahan hidup. Tidak ada pilihan lain! Mereka semua bersorak dengan semangat.

"Hari ini kami akan bertempur mati-matian bersama Ciang-kun! Kami akan mengadu jiwa sampai napas penghabisan!" kata anak buah Hang I. Tekad mereka sudah bulat.

Malam harinya, Hang I mengerahkan angkatan perangnya maju ke medan perang. Sementara Hoan Ceng dan Ciong Li Bwe masih berada di barisan belakang tentara Couw. Mereka tidak ikut bersama Hang I menyeberang sungai.

Ketika mereka mendengar Hang I telah menenggelamkan perahu dan hanya menyisakan makanan untuk tiga hari saja, mereka kaget dan terharu. "Semangat tempur Hang Ciang-kun sangat hebat! Ia berharap bisa menghancurkan angkatan perang Cin dalam satu kali pertempuran!" kata Hoan Ceng. "Oleh karena itu, ia menenggelamkan semua perahu untuk menyeberang dan hanya menyediakan makanan untuk tiga hari saja! Ia berpikir dalam tiga hari ia akan mengalahkan musuh-musuhnya. Tapi jika dia kalah, pasti mereka akan jadi korban keganasan musuh. Sekarang kita harus berusaha mencegah agar jangan sampai hal itu terjadi!" Hoan Ceng segera memerintahkan seorang panglimanya.

"Angkut ransum sampai di pinggir sungai, jika dalam tiga hari Hang I dan angkatan perangnya mendapat kemenangan, seberangkanlah ransum itu untuk Hang I dan pasukannya. Tapi jika dalam tiga hari ternyata dia kalah, tanpa membawa ransum kita harus menyeberang untuk membantu pasukan Hang I," kata Hoan Ceng.

Apa yang dipikirkan oleh Hoan Ceng sungguh adalah pemikiran yang sangat baik. Ia berpikir jauh ke depan. Peribahasa mengatakan: Sedia payung sebelum hujan.

Tang I dan Su-ma Hin hanya memiliki separuh pasukan lagi. Pasukan mereka rusak berat dan banyak yang mati atau terluka. Melihat kenyataan itu, mereka segera kembali ke markas. Ketika bertemu dengan Jenderal Ciang Ham, mereka melaporkan kekalahan mereka melawan Hang I.

"Sekarang Hang I bersama pasukannya telah menyeberang sungai," kata Tang I.

Ketika Tang I belum selesai, datang seorang mata-mata melapor. "Hari ini Hang I telah menenggelamkan seluruh perahu mereka. Hamba mendengar mereka hanya menyisakan makanan untuk tiga hari! Hamba rasa Jenderal perlu memikirkan dan mengantisipasi hal ini! Hamba berpendapat bukan tidak mungkin Hang I mau mengadu nyawa secara nekat!" kata mata-mata itu.

Mendengar laporan itu, Ciang Ham kaget dan takut. Seperti peribahasa mengatakan: "Jika ada satu orang yang berani mati, maka seribu orang lainnya menjadi takut." Ciang Ham memanggil seluruh panglimanya agar berkumpul. Mereka terdiri dari Ong Li, Siap Kan, Souw Kak, Beng Hong, Han Ciang, Li Gi, Ciang Peng, Ciu Him, dan Ong Koan. Jumlah mereka ada sembilan jenderal.

"Kalian masing-masing harus membawa bala tentara, dibagi menjadi sembilan pasukan!" kata Ciang Ham mengatur siasat. "Sembunyikan pasukan itu di suatu tempat. Kalian harus sabar menunggu sampai pasukan Hang I sangat dekat! Saat itulah kalian serbu secara serempak! Hal ini bertujuan untuk mengejutkan pasukan musuh." Setelah kesembilan jenderal itu menerima perintah, mereka segera menjalankan perintah itu dengan baik. Mereka menyembunyikan pasukan mereka di suatu tempat yang sangat strategis.

Tak lama kemudian, pasukan Couw di bawah komando Hang I pun tiba. Tampak pasukan ini maju dengan bersemangat. Mereka bergerak langsung ke arah benteng pertahanan Ciang Ham seolah tak kenal takut. Tampak Hang I memimpin pasukannya di depan benteng tentara Cin.

Ketika itu, Jenderal Ciang Ham langsung keluar. Melihat Ciang Ham muncul, Hang I marah sekali. "Hai! Bangsat! Kau telah membinasakan pamanku! Hari ini aku datang akan membelah tubuhmu!" bentak Hang I.

Hang I pun langsung mengangkat tombaknya. Ia menerjang Ciang Ham dengan beringas. Ciang Ham tak tinggal diam. Ia menyambut serangan Hang I dengan gagah. Maka, terjadilah pertarungan seru di antara mereka!

Setelah berperang kira-kira tiga puluh jurus, Ciang Ham mulai kepayahan. Ia mencoba untuk lari. Tapi Hang I terus memburunya dari belakang. Ketika Ciang Ham hampir terkejar, Ong Li tiba. Ia langsung menghadang dan menyerang Hang I secara tiba-tiba. Hang I tidak mengira Ciang Ham yang licik telah menyembunyikan pasukan Bay-hok. Tanpa bertanya lagi, Hang I langsung menerjang musuh yang baru muncul itu.

Ong Li tidak tahan menghadapi Hang I yang gagah dan nekat itu. Setelah berperang sepuluh jurus, gerakan Ong Li sudah mulai kacau. Serangan-serangannya mulai tidak terarah. Sementara Hang I terus mendesaknya. Akhirnya Hang I pun berhasil menangkap Ong Li hidup-hidup. Ketika Ong Li tertangkap, Hang I melemparkan Ong Li dan menyerahkannya kepada anak buahnya.

Melihat Ong Li sudah tertangkap oleh musuh, Ciang Ham kabur. Hang I mengejarnya dengan gigih. "Hai Bangsat! Pengecut, mau lari ke mana kau? Kau pasti akan kutangkap sampai dapat," kata Hang I. Kuda "Ouw-tui-ma" milik Hang I dipacu dengan kencang.

Saat Hang I mengejar Ciang Ham, anak buah Hang I tertinggal jauh sekali. Setelah kabur cukup jauh, Ciang Ham menoleh dan melihat Hang I mengejarnya sendiri. Tiba-tiba kuda Ciang Ham berbalik. Ia kembali melawan Hang I. Tapi lagi-lagi Ciang Ham tak sanggup melawan Hang I. Ia hanya bisa menjaga serangan-serangan Hang I, tapi tidak bisa membalas menyerang.

Pada saat Jenderal Ciang Ham sedang kepayahan, tiba-tiba muncul Siap Kan bersama anak buahnya. Begitu muncul, Siap Kan langsung mengeroyok Hang I. Tapi sedikit pun Hang I tidak gentar. Hang I lalu mencabut Houw-pian yang tersandang di pinggangnya. Ia mengayunkan senjata ruyung itu untuk menyabet punggung Siap Kan sekuat tenaga. Tiba-tiba Siap Kan menjerit dan langsung muntah darah. Ia jatuh dari atas kudanya.

Ketika Hang I hendak menombak Siap Kan, anak buah Siap Kan bergegas mengangkat tubuh atasannya, lalu dibawa kabur. Melihat anak buahnya dikalahkan oleh Hang I, Ciang Ham segera melarikan diri. Para panglima bawahan Hang I seperti Hoan Couw dan Eng Pouw bersama-sama mengobrak-abrik tentara musuh. Mereka mengejar pasukan Cin yang melarikan diri. Lebih dari separuh tentara Cin mati dan terluka dalam peperangan hebat itu. Sampai sore Hang I masih mengamuk dan membantai tentara Cin.

Ketika Hang I masih ingin mengejar dan menghancurkan angkatan perang Cin, Hoan Ceng datang menyusul. Kun-su ini mencegah niat Hang I yang tak kenal lelah itu. "Ciang-kun sudah lelah, musuh pun sudah mundur. Hamba khawatir musuh membuat jebakan sehingga Ciang-kun terjebak dalam bahaya!" kata Hoan Ceng.

Mula-mula Hang I tak mau menurut, tapi Hoan Ceng memberi alasan yang lebih masuk akal. "Sekarang sudah malam, Ciang-kun!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment