Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 31

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 31

Tidak berapa lama, terdengar suara genderang perang dibunyikan. Itu sebagai tanda bahwa kedua panglimanya sudah memenangkan peperangan. Mereka sengaja memberitahu Hang I agar segera menyerang benteng tentara Cin. Begitu Hang I mendengar suara tambur dibunyikan, dia mengeluarkan perintah.

"Maju dan hantam benteng tentara Cin yang dijaga oleh Ciang Ham!" kata Hang I.

Ketika itu Ciang Ham bersama Li Gi sedang menunggu kedatangan musuh. Mereka kaget melihat anak buahnya yang bersembunyi untuk menyergap di kanan dan kiri jalan datang berlarian karena kalah perang. Melihat kejadian itu, Ciang Ham tidak berani lama-lama tinggal di situ. Dia langsung mengeluarkan perintah.

"Segera bongkar benteng, cepat kabur dari tempat itu!" kata Ciang Ham.

Mendengar musuh membongkar benteng, Hang I kesal. Dia segera memburu mereka sekuat tenaga. Dengan demikian, Hang I dan anak buahnya berhasil membunuh puluhan ribu anak buah Ciang Ham hingga mayat mereka berhamburan di tanah lapang. Bau amis darah membubung ke udara.

Dikisahkan, Raja Tio sudah mendengar laporan bahwa bala bantuan dari negeri Couw berhasil mendapatkan kemenangan. Ketika Raja Tio mendengar bahwa Hang I sedang memburu Ciang Ham, dia segera memerintahkan panglimanya untuk membantu.

"Tan I dan Thio Ji, kalian bawa pasukan keluar kota. Bantu Jenderal Hang I memukul dan menghancurkan tentara Cin," kata Raja Tio.

Ciang Ham melarikan diri bersama sepuluh anak buahnya dari pasukan berkuda. Dia meninggalkan pasukan lain dan melarikan diri masuk ke dalam hutan rimba. Hoan Couw bersama Eng Pouw dari negeri Couw memburu musuhnya itu dengan bersemangat. Mereka berharap bisa menangkap Ciang Ham hidup-hidup.

Ketika Ciang Ham dan kawan-kawannya sudah hampir terkejar, di tengah jalan Hoan Couw dan Eng Pouw dihadang oleh panglima Cin. Para penghadang itu mencoba menyelamatkan Ciang Ham dari kejaran mereka. Panglima Cin itu terdiri dari Ciang Peng, Ciu Him, dan Ong Koan. Mereka adalah pasukan Cin yang masih segar.

Melihat ada musuh yang membantu Ciang Ham, dua panglima Couw yaitu Hoan Couw dan Eng Pouw segera menghentikan pengejaran. Karena musuh mendapat bantuan, mereka jadi ragu dan khawatir tidak akan sanggup menghadapi musuh. Terpaksa mereka pulang kembali untuk memberitahukan hal itu kepada Hang I.

Ketika itu Hang I sudah sampai di bawah kota milik negeri Tio. Raja Tio bersama rakyatnya sudah menyediakan arak dan makanan. Mereka menunggu di luar kota untuk menyambut. Begitu Hang I tiba, mereka memberi hormat kepadanya, sekaligus hendak menjamu Hang I yang sudah masuk ke dalam kota.

"Hari ini kita boleh segera menyerbu dan masuk ke wilayah negeri Cin," kata Hang I. "Jika terlalu lama tidak kita serang, siapa tahu mereka bisa bangkit kembali. Saat itu akan susah bagi kita untuk masuk ke wilayah negeri Cin. Jika kita mau menghancurkan negeri Cin, harus sekarang juga! Karena inilah saatnya yang tepat!"

Ketika itu Hang I langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Ong Li dan Siap Kan, dua panglima negeri Cin yang tertangkap, untuk dihadapkan kepadanya. Sesudah diadakan tanya jawab, Hang I memutuskan supaya algojo memancung kepala mereka berdua. Sesudah kedua panglima itu dihukum mati, Hang I mengeluarkan perintah baru.

"Kui Pouw dan Ciong Li Bwe, ambil lima ribu tentara dan tetaplah tinggal di negeri Tio untuk membantu penjagaan kota. Aku akan membawa dua puluh laksa tentara masuk ke wilayah negeri Cin. Aku akan memburu Ciang Ham," kata Hang I.

Kemudian Hang I dan pasukannya berangkat menuju negeri Cin. Selang beberapa hari, pasukan Hang I telah tiba di kota-kota negeri Cin. Saat Hang I dan angkatan perangnya tiba, panglima penjaga kota-kota itu langsung menyerah karena mereka gentar dan ngeri kepada Hang I. Mereka pun langsung membuka pintu kota sambil memasang hio sebagai tanda takluk kepada Hang I.

Dalam tiga hari, Hang I bersama angkatan perangnya bergerak ke kota lain. Akhirnya mereka masuk ke dalam wilayah negeri Cin sampai sejauh dua puluh li. Pada hari keempat, Hang I bersama angkatan perangnya telah sampai di tanah Ciang-lam.

"Jenderal, sebaiknya istirahatkan dulu angkatan perang Anda! Jangan masuk ke daerah musuh terlalu dalam. Anda harus melihat keadaan dulu. Sekalipun Ciang Ham telah kalah besar, tetapi di dalam negeri Cin masih banyak tentaranya!" kata Hoan Ceng.

"Hm, rasanya ucapan Sian-seng ada benarnya. Kita memang perlu beristirahat sambil mempelajari situasi negeri ini," kata Hang I. Kemudian Hang I memerintahkan anak buahnya membangun perkemahan untuk beristirahat.

Sementara dikisahkan, Ciang Ham yang terus diburu oleh pasukan Hang I sudah berhasil mengumpulkan kembali anak buahnya. Dengan susah payah Ciang Ham mengumpulkan sepuluh laksa lebih tentaranya. Ciang Ham mengeluarkan perintah agar pasukannya bertahan di kota Han-kok-koan. Ini adalah kota terpenting di negeri Cin. Itu sebabnya dengan mati-matian Ciang Ham menjaga kota itu secara disiplin.

Sudah beberapa kali Ciang Ham memohon kepada Kaisar Ji Si agar segera dikirim bala tentara. Dia berharap agar bisa mempertahankan kota itu. Namun, entah mengapa Ciang Ham tidak mendapat balasan dari rajanya. Ciang Ham menjadi sangat khawatir. Dia tidak tahu mengapa rajanya tidak menjawab permintaannya itu.

Ketika itu yang menjadi menteri besar di negeri Cin adalah Tio Ko. Sebagai menteri, Tio Ko tidak ingin rajanya ikut campur dalam berbagai masalah. Itu sebabnya kabar mengenai huru-hara di dalam negeri maupun yang terjadi di luar negeri tidak pernah dilaporkan kepada Raja Ji Si. Waktu itu raja mengira negaranya aman-aman saja. Tio Ko tidak mau rajanya tahu atau mendengar kabar buruk tentang negerinya.

Bukan itu saja, jika ada orang atau menteri yang berani banyak bicara di depan raja, Tio Ko tidak segan menganiaya orang itu. Karena itu, semua menteri berpangkat tinggi atau rendah tidak berani memberitahu Raja Ji Si. Waktu itu semua kekuasaan ada di tangan Tio Ko. Bahkan jiwa menteri-menteri pun ada di tangannya.

Sejak Ji Si menjadi raja, tidak pernah sekalipun dia mengurus negara. Semua masalah diserahkannya kepada Tio Ko seorang. Kerja Ji Si hanyalah bersenang-senang. Tak heran di negerinya terjadi kerusuhan dan kekacauan besar tanpa diketahuinya. Sebenarnya para panglimanya yang menjaga kota-kota perbatasan sudah banyak yang mengirim surat kepadanya, tetapi semua surat itu ditahan oleh Tio Ko. Bahkan banyak laporan yang dimusnahkan sebelum dibaca. Tio Ko tidak mau melapor.

Ketika Hang I dan angkatan perangnya masih berada di daerah Kang-lam, rakyat negeri Cin sudah kegerahan. Penduduk negeri itu sudah tidak senang dan gelisah. Mereka tidak enak makan dan tidur. Kabar tentang majunya angkatan perang Hang I sudah sampai ke istana raja, kecuali kepada Raja Ji Si. Semua orang, besar dan kecil, sudah tahu apa yang sedang mengancam mereka saat itu. Seluruh negeri kebingungan. Namun karena mereka takut kepada Tio Ko, mereka tidak berani melapor kepada Raja Ji Si.

Para menteri sudah gelisah. Mereka berusaha menyampaikan kabar buruk itu kepada raja. Mereka lalu beramai-ramai datang ke istana, tetapi pintu istana tertutup rapat. Terpaksa mereka harus menunggu di pintu istana dengan tidak sabar. Hari itu mereka tidak berhasil menemui raja. Hari berikutnya pun begitu. Sampai beberapa hari lamanya, mereka tidak melihat Raja Ji Si duduk di atas takhtanya. Mereka tidak bisa bertemu dengan raja, kecuali Tio Ko. Tak seorang pun diizinkan masuk ke istana raja, dan Tio Ko sendiri tidak mau melapor apa yang sedang terjadi di negeri Cin.

Dikisahkan Li Su, sahabat baik Tio Ko, waktu itu sangat kesal kepadanya karena kekuasaan Li Su telah dirampas oleh Tio Ko. Sekalipun benar dia menjadi menteri besar, tetapi Kaisar Ji Si tidak mau mendengar nasihatnya lagi. Tak heran jika Li Su merasa sakit hati dan sudah lama tidak mau ikut campur dalam urusan negara. Ketika Tio Ko mengetahui Li Su tidak senang kepadanya, Tio Ko pun mencari akal untuk menganiaya Li Su.

Pada suatu hari, Tio Ko pergi menemui Li Su di kantornya. Tio Ko lalu berkata kepada sahabatnya itu, "Saat ini Hang I bersama angkatan perangnya ada di wilayah Kang-lam. Jenderal Ciang Ham serta angkatan perangnya mendapat kerusakan besar. Sudah tiga puluh laksa tentara Cin yang binasa di tangan musuh. Kesulitan negeri kita bukan main besarnya! Sedang pembangunan Istana A-pong-kiong yang dimulai oleh Kaisar Cin Si Ong sampai saat ini belum selesai. Biaya sehari-hari yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Saat ini kita kekurangan angkatan perang dan kekurangan ransum. Mengapa Anda tidak mau menasihati raja supaya beliau menghentikan dulu pembangunan istana itu? Masalah ini harus segera Anda urus!"

"Bukan aku tidak mau ikut campur dalam masalah ini," kata Li Su. "Tapi Anda tahu sendiri kaisar selalu diam di dalam istana. Kapan aku bisa menemuinya?"

"Ah, itu soal mudah. Silakan Anda sediakan dulu surat permohonan untuk bertemu dengan raja. Biar suatu saat jika raja sedang senang hatinya, saya akan menyerahkan surat Anda kepadanya. Hasilnya akan kuberitahu kepada Anda, bagaimana?" kata Tio Ko.

"Baiklah," kata Li Su.

Pada suatu hari, ketika Kaisar Ji Si sedang minum arak bersama Tio Ko di dalam istana, Tio Ko menyuruh orang memberitahu Li Su agar segera memasukkan surat permohonannya. Li Su segera memasukkan suratnya dan meminta bertemu dengan raja. Sesudah dilakukannya beberapa kali, Kaisar Ji Si tetap tidak mau menemui Li Su. Dia malah memarahi Li Su.

"Kurang ajar, berani benar dia menasihatiku! Apa pun yang aku lakukan, itu urusanku!" maki sang kaisar.

Mendengar makian itu, tahulah Tio Ko bahwa kaisar Cin sangat benci pada Li Su. "Memang Li Su ini kurang ajar sekali," kata Tio Ko menghasut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment