Halo!

Lauw Pang Vs Hang Ie - Chapter 32

Memuat...
Lauw Pang Vs Hang Ie

Chapter 32

Hamba pernah mendengar Li Su mengucapkan hal yang tidak pantas kepada Tuanku. Ia mengatakan sangat menyesal tidak menuruti perintah Sian Tee (almarhum Cin Si Ong) dahulu. Padahal dalam *Wi-ciauw* (surat wasiat) Cin Si Ong, disebutkan dengan jelas bahwa Cin Si Ong hendak mengangkat Hu Souw menjadi raja." Mendengar ucapan Tio Ko itu, Ji Si Hong-tee semakin murka.

"Oh, rupanya dia mulai berani kepadaku! Kalau begitu, Li Su pasti berniat jahat!" "Pendapat Tuanku benar sekali," kata Tio Ko, ikut memperkeruh suasana. "Pi-hee juga tahu anak Li Su yang paling besar bernama Li Yu pernah menjadi *Tay-siu* di daerah Su-coan. Ada laporan bahwa ia bersekongkol dengan negeri Couw. Tetapi karena masalahnya tidak jelas, akhirnya perkara itu tidak diusut lagi. Sebenarnya Li Su telah melakukan kejahatan. Jika Pi-hee tidak memedulikan masalah ini, di kemudian hari akan timbul bahaya besar di dalam negeri Cin." Ji Si Hong-tee sangat marah dan berniat mencelakai Li Su.

Ketika Li Su mengetahui Tio Ko telah menipunya bahkan mengadukan hal yang tidak benar tentang dirinya kepada raja, Li Su kembali mengajukan surat pengaduan. Maksudnya adalah untuk membuka rahasia dan kejahatan Tio Ko. Saat Ji Si Hong-tee melihat surat pengaduan dari Li Su, ia bertambah tidak senang. "Keng sangat baik, Tim tahu betul itu. Jika bukan keng, siapa lagi yang Tim andalkan untuk mengurus negeri? Sekarang Li Su tidak boleh dibiarkan hidup lagi di dunia!" kata Ji Si Hong-tee. Begitu selesai bicara, Raja Cin itu mengeluarkan perintah. "Pengawal, segera tangkap Li Su dan sanak keluarganya! Mereka harus dibunuh di tengah alun-alun!" kata Ji Si Hong-tee.

Penangkapan segera dilaksanakan. Satu per satu sanak keluarga Li Su dibunuh di alun-alun. Orang-orang yang menyaksikan sangat terharu. Ketika tinggal Li Su dan istrinya yang belum dibunuh, mereka saling berpelukan dengan anak dan istrinya di tempat pembantaian. Tak lama, kepala mereka lalu ditebas! Dalam sekejap, habislah seluruh keluarga Li Su.

Orang-orang yang menyaksikan pembantaian atas Li Su dan keluarganya, ada yang senang karena Li Su dahulu banyak melakukan kejahatan; dia membantu Cin Si Ong melakukan kekejaman terhadap rakyat. Ada juga yang merasa kasihan karena ia yang berdosa, sanak keluarganya ikut dibantai.

*** Diceritakan.....

Pada suatu hari, Raja Ji Si sedang tidur siang. Ia mendengar gundik-gundiknya berbicara sesama mereka dengan suara perlahan dan nada sedih. Ji Si Hong-tee jadi kaget. Ia mendengar seorang *Kiong-li* (selir) bertanya kepada seorang *Tay-kam*. "Tentang kabar di luar hari ini, bagaimana Kong-kong?" tanya selir itu. "Jangan banyak tanya, tidak lama lagi kita pasti bakal menjadi setan tidak berkepala sebab kabarnya Jenderal Ciang Ham sudah kalah perang. Menurut keterangan, 270.000 tentaranya telah terbunuh dalam peperangan itu. Tidak lama lagi angkatan perang Hang I akan datang menyerang kota Ham-kok-koan, dan pasti kita akan binasa semuanya!"

Begitu Raja Ji Si mendengar perkataan itu, ia kaget. Ia segera memanggil orang-orang yang berbicara tadi. Ji Si bertanya dengan sabar. "Barusan kalian membicarakan soal apa?" kata Raja. Semua selir dan *thay-kam* menangis. Mereka tidak berani menceritakan apa yang tadi mereka bicarakan. Mereka takut pada Tio Ko. Raja Ji Si marah dan memaksa mereka menceritakan apa yang mereka bicarakan tadi.

Karena takut dihukum mati oleh raja, selir dan *thay-kam* segera memberikan keterangan. "Sekarang keadaan negeri Cin sangat kacau," kata selir raja. "Jenderal Ciang Ham sudah kalah perang dan tentaranya mendapat kerusakan berat! Sedang 270.000 tentara Cin sudah binasa dalam peperangan. Tidak lama lagi angkatan perang Hang I sudah sampai di daerah Kang-lam. Dalam waktu dekat mereka akan menyerang kota Ham-kok-koan. Jika kota Ham-kok-koan sampai jatuh ke tangan Hang I, maka negeri Cin sudah habis sama sekali! Semua orang sudah amat ketakutan pada Tio Ko, jadi tidak ada yang berani memberitahukan kepada Pi-hee. Hamba harap Pi-hee segera mengirim bala tentara untuk membantu Jenderal Ciang Ham. Jika terlambat, habislah negeri Cin ini." "Itu benar, Tuanku," kata *Thay-kam* ikut membenarkan.

Mendengar keterangan itu, Ji Si Hong-te seperti mendengar suara guntur di siang hari. Tubuhnya jadi gemetar. "Segera panggil Tio Ko ke mari!" katanya dengan sengit. Tidak berapa lama, Tio Ko pun sampai di hadapannya.

"Aku sudah memberimu kedudukan menjadi *Tay-siang*. Mengapa hari ini ketika takhtaku hampir terbalik, kau tidak mau memberitahuku bahwa bahaya besar sedang mengancam negeri ini? Tiga puluh laksa tentara sudah binasa. Hal itu tidak kau laporkan kepadaku! Menurut aturan, kau harus dihukum mati!" kata Ji Si Hong-tee.

Mendengar ucapan Ji Si Hong-tee yang kasar, Tio Ko marah. Ia menanggalkan kopiah kebesarannya lalu bersujud sambil berkata, "Maaf Tuanku, Tuanku telah mengangkat hamba menjadi *Tay-siang*. Hamba mendapat perintah untuk mengurus urusan dalam negeri. Hamba pun harus menuruti kehendak Tuanku menemani Tuanku di istana. Itu kewajiban hamba! Masalah militer bukan urusan hamba. Itu tanggung jawab *Tay-ciang-kun* (jenderal Perang)! Jika angkatan perang kalah, Tuanku boleh menegur Jenderal Ciang Ham dan Jenderal Ong Li, jangan salahkan hamba! Lagi pula kekacauan yang terjadi tidaklah begitu besar. Hanya karena rakyat banyak mulut, masalah dibesar-besarkan! Hamba harap Tuanku tidak mempercayai kabar bohong itu!" kata Tio Ko.

Ji Si Hong-te memang seorang yang tidak berguna. Dia tidak mengerti apa pun dalam soal pemerintahan. Ketika mendengar ucapan Tio Ko, dia diam lalu kembali bersenang-senang sebagaimana biasa. Ketika Tio Ko sudah pulang ke rumah, dia berpikir dalam hatinya. "Masalah yang dibicarakan oleh raja tadi, semua ini gara-gara Ciang Ham. Dia menyuap *Thay-kam* supaya melapor pada Ji Si Hong-tee. Jika bukan karena dia, mana mungkin kaisar mengetahui masalah itu?" pikir Tio Ko. Karena itu, Tio Ko jadi sakit hati pada Ciang Ham.

*** Pada suatu hari.....

Anak buah Tio Ko melapor. "Di luar ada utusan dari Jenderal Ciang Ham yang bernama Su-ma Hin," kata anak buahnya. "Mau apa dia?" tanya Tio Ko. "Dia bilang kedatangannya hendak melaporkan keadaan di medan perang. Su-ma Hin ingin bertemu dengan kaisar. Tetapi dia tahu harus bertemu dengan *Tay-siang* dulu untuk mohon bantuan mengantarnya kepada kaisar," kata anak buahnya.

Mendengar laporan itu, bukan main senangnya Tio Ko. "Hong-te telah menyalahkanku," pikir Tio Ko. "Sekarang jika kuberbolehkan dia bertemu kaisar, pasti aku bisa celaka! Lebih baik aku celakakan dia." Sesudah itu Tio Ko berkata pada anak buahnya, "Katakan pada utusan itu supaya menunggu beberapa hari lagi!" kata Tio Ko. "Akan kuatur pertemuan dia dengan raja!" "Baik, Tuanku," jawab anak buahnya.

Orang itu keluar menemui Su-ma Hin dan memberitahukan agar Su-ma Hin menunggu beberapa hari lagi. "Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Su-ma Hin. "Tidak! Menurut majikanku, harus menunggu beberapa hari lagi," kata anak buah Tio Ko. "Kalau begitu, baiklah," kata Su-ma Hin. Su-ma Hin terpaksa pulang ke penginapannya. Dia bermalam di gedung yang disediakan. Tiga hari lamanya dia menunggu, tetapi Tio Ko belum juga mau menemuinya.

Karena masalahnya amat penting, Su-ma Hin terpaksa menyuap anak buah Tio Ko. Dia meminta agar pesannya disampaikan kepada majikannya. Karena disuap dengan uang yang cukup banyak, orang itu merasa kasihan pada Jenderal Su-ma Hin. Dia kemudian berbisik memberitahukan satu rahasia pada Su-ma Hin. "Majikan hamba mau mencelakakan Tuan dan Jenderal Ciang Ham. Lebih baik Tuan segera melarikan diri saja. Jika Tuan tidak segera pergi, niscaya Tuan akan celaka," kata orang itu.

Mendengar keterangan itu, Su-ma Hin kaget. Segera dia menaiki kudanya dan melarikan diri keluar dari kota Ham-yang menuju Ham-kok-koan.

*** Selang tiga hari kemudian....

Tio Ko menyuruh anak buahnya memanggil Su-ma Hin. Tetapi dia mendapat laporan bahwa utusan Ciang Ham itu sudah kabur. Mengetahui Su-ma Hin sudah kabur, Tio Ko kaget. Dia segera mengeluarkan perintah pada dua orang bawahannya. "Segera susul Su-ma Hin, tangkap dia dan bawa kembali ke mari," kata Tio Ko.

Tapi sayang, kedua *Ke-ciang* itu tidak bisa mengejar buruannya karena Su-ma Hin sudah kabur jauh. Mereka buru-buru kembali untuk melapor pada Tio Ko. "Maaf Tuanku, Su-ma Hin sejak tiga hari yang lalu sudah keluar dari pintu kota Ham-yang, karena itu dia tidak bisa dikejar," kata anak buah Tio Ko.

Mendengar laporan yang mengecewakan itu, Tio Ko marah-marah. Bergegas dia pergi ke istana, lalu masuk ke dalam keraton untuk mengadu pada Ji Si Hong-tee. "Tay-siang ada apa? Kenapa Tay-siang kelihatannya amat terburu-buru?" tanya Ji Si Hong-tee. "Hamba hendak melapor Tuanku," kata Tio Ko. "Mengenai masalah apa?" tanya Ji Si Hong-tee.

"Karena kecerobohan Jenderal Ciang Ham dan para panglimanya, maka kita dikalahkan dalam peperangan dengan negeri Couw. Dosa Jenderal Ciang Ham dan kawan-kawannya sangat besar! Kekacauan yang ditimbulkan oleh Hang I dan angkatan perangnya, sekarang telah meluas ke mana-mana! Semua ini terjadi karena Jenderal Ciang Ham tidak becus berperang. Hamba juga mendapat informasi bahwa Ciang Ham dan para panglimanya telah bersekongkol dengan musuh. Sekarang Pi-hee harus mencopot kedudukannya dan mengganti dia dengan seorang yang gagah perkasa. Kemudian panggil Ciang Ham dan para panglimanya. Setelah masuk ke dalam kota, mereka harus segera dibunuh! Jika tidak, negeri Cin pasti akan menghadapi bahaya besar!" kata Tio Ko.

Mendengar laporan itu, Ji Si Hong-tee menjadi marah. Dia memerintahkan pada Tio Ko supaya mengutus cucu Tio Ko yang bernama Tio Siang untuk menggantikan kedudukan Jenderal Ciang Ham. Dia juga diperintahkan memanggil Jenderal Ciang Ham dan seluruh stafnya pulang ke kota Ham-yang untuk diperiksa perkaranya.

Diceritakan, Su-ma Hin dengan cepat meninggalkan Kota Raja. Dia melarikan kudanya dengan kencang. Tak lama, dia sudah ada di luar kota. Dia terus melarikan kudanya bagaikan terbang. Maka dalam waktu singkat, dia sudah sampai di kota Ham-kok-koan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment