Chapter 158
Kali ini, dua orang itu bersantap dengan pikiran masing-masing.
Pek Thong gembira karena berhasil menciptakan ilmu silat baru; sembari menyantap makanan, ia seolah sedang bersilat. Sementara itu, Kwee Ceng berharap segera selesai makan agar bisa membaca surat dari Oey Yong. Ia percaya sang nona memiliki kabar untuknya.
Setelah Pek Thong menghabiskan bakpao dan menghabiskan sisa kuah supnya, si bujang segera berbenah lalu berlalu. Kwee Ceng pun mengeluarkan lilinnya untuk dipecahkan. Benar saja, di dalamnya terdapat surat dari Oey Yong.
Si nona menulis: "Engko Ceng, jangan khawatir. Ayah sudah baik lagi denganku. Tunggulah, perlahan-lahan aku nanti akan meminta ayah agar melepaskanmu."
Setelah membaca, surat itu ditunjukkan kepada Pek Thong. Kakak angkatnya itu tertawa. "Di sini ada aku; dia tidak melepaskanmu pun tidak bisa!" katanya.
Cuaca mulai gelap. Kwee Ceng duduk bersemadi, namun ia senantiasa memikirkan Oey Yong sehingga tidak bisa tenang. Setelah sekian lama, barulah ia merasa tenteram. Saat itulah ia berpikir bahwa untuk bisa membebaskan diri, ia harus berlatih. Dengan kedua tangannya, ia menutup lubang hidung secara bergantian untuk mengatur napas. Kira-kira satu jam berlatih, Kwee Ceng merasakan kemajuan.
Tiba-tiba ia mendengar suara mendesir keras dan segera membuka matanya. Suasana sudah gelap, tetapi ia melihat rambut dan kumis putih bergerak-gerak. Ternyata, Ciu Pek Thong sedang melatih ilmu silat Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Setiap gerakan tangan tampak perlahan, namun embusan anginnya sangat keras. Itulah teknik menggunakan kelembutan untuk memelihara kekerasan.
Kwee Ceng merasa girang melihat kehebatan kakaknya. Namun, saat ia menonton dengan gembira, mendadak orang tua itu menjerit, disusul suara bentrokan keras. Suatu benda panjang dan hitam terlempar dari tubuhnya, membentur pohon, seolah baru saja disambar. Kwee Ceng terkejut melihat tubuh kakaknya terhuyung.
"Toako, ada apa?" tanyanya.
"Aku digigit ular berbisa!" sahut Pek Thong.
Bukan main kagetnya Kwee Ceng melihat wajah kakaknya yang sudah pias. Ia segera memapah orang itu masuk ke gua. Ia merobek ujung bajunya untuk membalut erat paha kakaknya guna mencegah bisa ular mengalir ke dalam tubuh. Saat menyalakan api, ia semakin terkejut melihat betis kakaknya telah membengkak.
"Di pulau ini biasanya tidak ada ular berbisa, entah dari mana datangnya binatang ini," ujar Pek Thong. Ia mengenali ular itu sebagai ular hijau.
Kwee Ceng mendengar suara kakaknya yang mulai lemah, pertanda racun ular itu sangat hebat. Beruntung, si kakak masih dapat mengendalikan napasnya sehingga tidak langsung pingsan. Tanpa ragu, Kwee Ceng membungkuk dan menempelkan mulutnya ke paha yang luka untuk menyedot darah yang telah tercemar racun.
Pek Thong terkejut. "Jangan! Ular itu berbisa, kau bisa mati!" Namun, Kwee Ceng tetap menyedotnya. Ia mencekal erat kaki kakaknya dan terus menyedot, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri. Pek Thong hendak berontak, namun tenaganya habis, tubuhnya lemas, tak dapat bergeming, bahkan akhirnya jatuh pingsan.
Kwee Ceng terus menyedot selama durasi orang menghabiskan sepiring nasi, lalu memuntahkan racun tersebut. Sebagian besar racun berhasil disedot. Berkat ilmu dalamnya, Pek Thong mendusin satu jam kemudian.
"Adik," katanya, "Hari ini kakakmu bakal pulang ke negeri baka. Sebelum mati, aku sangat bergirang bisa mengangkat saudara dengan orang berbudi sepertimu."
Kwee Ceng menitikkan air mata. Meski pergaulan mereka singkat, ia sangat tertarik dengan orang tua yang baik hati ini. Mereka sudah seperti saudara kandung.
Pek Thong tertawa dalam kedukaan. "Bagian dari Kiu Im Cin-keng berada di dalam peti kecil yang aku pendam di bawah tempat dudukku. Sebenarnya aku hendak mewariskannya kepadamu, tetapi karena kau telah mengisap racun ular, kau pun tidak akan panjang umur. Adikku, mari kita pulang ke dunia baka bersama-sama dengan bergandeng tangan."
Kwee Ceng terkejut mendengar bahwa ia bakal mati. Ia justru merasa tubuhnya sehat dan tidak ada tanda-tanda yang luar biasa. Ia segera menyalakan api untuk memeriksa luka kakaknya. Karena bahan api tinggal separuh, ia bertindak cepat. Ia mengeluarkan surat dari Oey Yong untuk dibakar, lalu mencari dahan dan daun kering di luar gua. Namun, ia terkejut karena tidak ada dahan kering; semua rumput hijau dan segar.
Dalam kebingungan, ia merogoh sakunya lagi dan menemukan gulungan kulit yang dulu dipakai Bwee Tiauw Hong untuk membungkus pisau belati. Tanpa pikir panjang, ia membakarnya. Saat api menyala, ia melihat wajah Pek Thong yang sudah menghitam, tidak lagi segar seperti biasanya.
Pek Thong mengawasi Kwee Ceng. Ia tersenyum, namun heran melihat wajah sang adik yang tetap sehat. Saat melihat benda yang menyala di tangan Kwee Ceng, ia melihat huruf-huruf tertulis di sana. Baru saja membaca belasan huruf, ia segera memadamkan api tersebut, lalu menghela napas lega.
"Eh, Adikku, kau pernah makan obat apa yang mujarab? Kau menyedot racun ular tetapi tidak mencelakai dirimu!"
Kwee Ceng teringat saat ia bersama Ang Cit Kong dan Oey Yong bertemu banyak ular di hutan cemara. Ia teringat pernah meminum darah ular milik Nio Cu Ong, yang membuatnya kebal terhadap ular berbisa. Ia pun menjelaskan hal itu.
Pek Thong mengangguk mengerti. Ia menunjuk benda tadi, "Jangan kau bakar itu! Itulah mustika!" Sebelum sempat bicara lebih lanjut, Pek Thong kembali pingsan.
Sebenarnya, benda itu memuat huruf-huruf Kiu Im Cin-keng bagian bawah. Dalam keadaan bingung, Kwee Ceng terus menguruti kakaknya, namun tidak ada hasil. Paha orang itu terasa panas seperti api dan bengkaknya bertambah. Khawatir, ia berlari ke luar gua dan berteriak, "Yong-jie! Oey Tocu! Tolong!" Namun, suaranya hanya bergema di lembah Tho Hoa To.
Kwee Ceng melompat turun. Ia tidak putus asa dan teringat sesuatu. "Ular berbisa tidak berani menggigitku, mungkin darahku bisa memunahkan racun."
Ia mengambil mangkuk teh Pek Thong dan menghunus pisau belatinya. Ia mengiris lengannya dan menampung darahnya ke dalam mangkuk. Setelah itu, ia menuangkan darahnya ke mulut Pek Thong. Karena banyak mengeluarkan darah, Kwee Ceng merasa lemas, menyandar di dinding gua, lalu jatuh tertidur.
Ia baru sadar ketika merasa ada orang yang meraba lengannya untuk membalut lukanya. Saat membuka mata, ia melihat Loo Boan Tong (Pek Thong) sudah siuman.
"Kau... kau sudah baik?" serunya.
"Aku baik, Adikku," sahut Pek Thong. "Kau telah menolongku dengan mengorbankan dirimu."
Kwee Ceng melihat paha kakaknya; warna hitam sudah lenyap, tinggal bekas merah dan bengkak. Keduanya tidak banyak bicara dan segera bersemadi. Setelah bersantap siang, Ciu Pek Thong menanyakan benda bertuliskan huruf-huruf tersebut.
Kwee Ceng teringat bahwa benda itu didapat dari gurunya yang kedua, Biauw-ciu Sie-seng Cu Cong, yang mengambilnya dari saku Bwee Tiauw Hong. Ia menuturkan peristiwa di Kwie-in-chung.
Ciu Pek Thong berpikir. Ia tidak mengerti mengapa Bwee Tiauw Hong mencatat Kiu Im Cin-keng di kulit itu.
"Toako, kau menyebutnya barang berharga, apakah artinya?" tanya Kwee Ceng.
"Aku ingin memeriksanya dulu baru bisa menjawab. Aku ingin membuktikan apakah ini asli atau palsu," jawab Pek Thong.
Ia masih menyimpan keraguan. Bukankah murid Coan Cin Pay dilarang mempelajari Kiu Im Cin-keng? Bukankah maksud Ong Tiong Yang mendapatkan kitab itu untuk menyingkirkan bencana? Ia tidak berani melanggar pesan itu. Akan tetapi, ia berpikir, "Bukankah aku tidak berniat mempelajarinya, melainkan hanya ingin melihat?"
Itulah sebabnya selama di dalam gua, ia telah memeriksa Kiu Im Cin-keng bagian atas dan membacanya berulang-ulang hingga hapal. Namun, bagian atas hanya memuat ilmu silat tangan kosong dan pedang tanpa rahasia untuk mengalahkan lawan, sehingga sia-sia jika tidak memiliki bagian bawahnya.