Chapter 113
Tangan Kwee Ceng telah menjambret ular itu hingga kepalanya mengeluarkan darah. Binatang itu tidak bergerak lagi; ia sudah mati. Mulanya Ang Cit Kong tercengang, tetapi dengan lekas ia sadar.
"Tidak salah lagi!" katanya. "Tentulah *joan-wie-kah* ayahmu telah diwariskan kepadamu!"
Memang, ular itu menggigit *joan-wie-kah*, kepalanya pecah, lalu binasa. Selagi Kwee Ceng menyambar seekor ular, banyak yang lainnya lagi keluar dari rimba. Cit Kong segera mengeluarkan obat hitam dari sakunya, lalu memasukkannya ke dalam mulut untuk dikunyah. Dari dalam rimba masih saja terlihat ular yang keluar; hitungan ratusan, hitungan ribuan.
Maka Kwee Ceng berseru, "Cit Kong, mari lekas pergi!"
Cit Kong tidak menjawab. Ia menurunkan cupu-cupu dari punggungnya, membuka sumpalnya, lalu menuang isinya ke dalam mulut, dicampur dengan obat tadi. Setelah itu, ia menyemburkan cairan tersebut ke arah ular-ular itu, ke kiri dan ke kanan, hingga mereka bertiga terlindungi semburan arak.
Sejumlah ular yang mencium bau arak bercampur obat itu lantas rebah tak bergerak. Yang lainnya tak berani maju lebih jauh, tetapi karena yang di belakang masih banyak dan maju terus, mereka jadi kacau dengan sendirinya. Oey Yong gembira menyaksikan ular-ular itu bergumulan; ia menepuk-nepuk tangan.
Selagi si nona ini kegirangan, dari dalam rimba terdengar suara berisik. Terlihat tiga pria berpakaian putih semua, dengan tangan mencekal pentungan yang masing-masing dua tombak lebih panjang. Mereka berseru-seru mengusir ular-ular itu; pentungannya dipakai mengancam, mirip lagaknya bocah angon yang sedang menggembala kerbau atau kambing. Mual rasanya menyaksikan perkelahian ular-ular itu.
Ang Cit Kong menangkap seekor ular, lalu menyentiknya dengan tongkat. Dengan dua jari kiri, ia menjepit leher ular itu, kemudian dengan kelingking kanan ia menggurat perut ular hingga pecah berlubang untuk mengeluarkan nyalinya.
"Lekas telan ini! Jangan kena gigit, sangat pahit!" ucapnya kepada si nona.
Oey Yong menurut; ia lantas menelan nyali ular itu. Menyusul itu, ia merasa enak dan segar sekali.
"Eh, Engko Ceng, kau juga hendak makan nyali ular?" tanyanya.
Kwee Ceng menggelengkan kepala. Ia sudah menghirup darah ular sehingga tidak mempan racun ular itu. Bahkan, tidak ada ular yang berani menggigitnya; hanya Ang Cit Kong dan si nona yang tadinya diincar.
"Cit Kong, ular ini pasti ada yang memelihara," ujar Oey Yong.
Pak Kay mengangguk. Dengan wajah murka, ia mengawasi ketiga orang serba putih itu. Sebaliknya, mereka pun murka melihat orang membunuh ularnya dan memakan nyalinya. Setelah selesai membereskan ular-ular tersebut, mereka maju menghampiri.
"He, kalian tiga ekor iblis, apakah sudah tidak menghendaki nyawa lagi?" tegur salah satu dengan bengis.
"Tepat!" seru Oey Yong. "Kalian tiga ekor iblis, apakah kalian sudah tidak menghendaki nyawa sendiri?"
"Bagus!" seru Cit Kong seraya menepuk pundak si nona. Ia memuji balasan si nona yang bermulut lihai itu.
Tiga orang itu menjadi bertambah gusar. Seseorang yang kulit mukanya putih dan berusia pertengahan lantas melompat, menyodok si nona dengan pentungannya. Melihat sambaran anginnya, kepandaiannya bukanlah sembarangan. Cit Kong berlaku sebat; ia meluncurkan tongkatnya menyambut serangan itu. Dengan begitu, Oey Yong terhindar dari bahaya.
Penyerang itu lantas menjadi kaget. Tidak saja pentungannya mandek, ia juga tidak dapat menariknya kembali. Pentungan itu menempel seperti terpaku pada tongkat si pengemis. Ia lantas kehilangan semangat.
"Kau pergilah!" seru Ang Cit Kong selagi orang itu menarik keras. Saat tangannya digentak, terjengkanglah orang itu, terlempar ke dalam barisan ularnya, dan pentungannya hancur menjadi puluhan potong pendek.
Rupanya dia telah memakan obat pemunah sehingga ular tak berani menggigitnya. Dua orang lainnya terkejut, mereka mundur seketika. "Bagaimana, Toako?" tanya mereka kepada kawannya yang roboh itu.
Orang itu melompat bangun dengan gerakan "Ikan Gabus Melentik". Akan tetapi, ia terbanting keras; belum sampai berdiri, ia jatuh lagi, kembali menimpa ularnya hingga belasan ular mampus tertindih. Maka kawannya yang bermuka putih menyodorkan pentungan untuk membantunya bangun. Sekarang mereka bertiga tidak berani menyerang lagi, bahkan lantas masuk ke dalam kerumunan ular mereka.
"Siapa kamu!" tanya orang yang barusan terjungkal itu. "Kalau kau laki-laki, sebutkan nama kamu!"
Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak; ia tidak menyahuti.
"Kalian ini orang-orang macam apa?" Oey Yong balik bertanya. "Kenapa kau menggiring begitu banyak ular berbisa untuk mencelakai orang?"
Tiga orang itu saling mengawasi. Selagi satu di antaranya hendak menyahut, dari dalam rimba tampak muncul seorang pria yang berdandan seperti mahasiswa dengan baju putih mulus. Ia berjalan perlahan sambil memainkan kipas. Ia berjalan di antara banyak ular itu, yang menyingkir dengan sendirinya.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mengenali orang itu ialah Oeyang Kongcu, pemilik gunung Pek To San. Herannya, ular-ular itu menyingkir daripadanya. Tiga pengiring itu menghampiri si anak muda untuk berbicara, lalu menunjuk ke arah ular-ular yang tak berkutik itu; rupanya mereka mengadu.
Pemuda itu agaknya terperanjat, tapi lekas menjadi tenang pula. Ia maju menghampiri Ang Cit Kong dan kawan-kawan, memberi hormat sambil mengangguk, kemudian tertawa dan berkata, "Beberapa sahabatku ini telah berlaku kurang ajar kepada Locinpwee, untuk itu aku menghaturkan maaf."
Terus ia memandang Oey Yong dan meneruskan, "Kiranya Nona ada di sini. Sungguh tersiksa aku mencari dirimu."
Oey Yong tidak menggubris pemuda itu, ia hanya menoleh kepada si pengemis. "Cit Kong, orang inilah telur busuk yang paling besar! Kau baiknya mengajarinya adat!"
Ang Cit Kong mengangguk, lalu memandang si anak muda dengan roman bengis. "Untuk mengangon ular ada tempatnya, ada batasnya, ada waktunya, dan ada aturannya juga! Kau andalkan pengaruh siapa maka kau jadi begini gila-gilaan?"
"Semua ular ini datang dari tempat yang jauh sekali, semuanya sangat lapar, mereka jadi tidak dapat memakai aturan lagi," sahut si pemuda.
"Berapa banyak orang telah kau bikin celaka?" tegur Cit Kong.
"Kami menggembala di tanah belukar, belum pernah kami mencelakai orang," sahut si anak muda.
"Hm!" Cit Kong mengejek. "Belum pernah mencelakai orang! Kau toh orang bermarga Oeyang?"
"Benar!" jawabnya. "Kiranya Nona ini telah memberitahukannya padamu. Kau siapa, Lojinkee?"
Oey Yong mendahului si pengemis. "Namamu yang busuk! Siapa yang sudi menyebutnya!" katanya. "Nama Locinpwee ini tidak usah diberitahukan kepadamu, cuma akan membikin kau kaget!"
Oeyang Kongcu itu tidak gusar, ia melirik si nona sambil tersenyum. "Kau anaknya Oeyang Hong, bukan?" tanya Ang Cit Kong.
Belum si anak muda menyahut, tiga kawannya sudah gusar duluan. "Pengemis bangkotan tidak karuan, bagaimana besar nyalimu berani menyebut nama Sancu kami!" tegur mereka.
Ang Cit Kong tertawa lebar. "Lain orang boleh tidak menyebutnya, tetapi aku boleh!" katanya. Mendadak orang tua itu mencelat ke arah tiga orang tersebut dan "plak-plok!", muka mereka ditampar bolak-balik. Setelah itu, dengan menekan tongkatnya, ia melompat balik ke tempatnya berdiri tadi.
"Kepandaianmu ini, Cit Kong, kau belum mengajari aku!" ujar Oey Yong, seolah tidak menggubris peristiwa tadi. Cit Kong bukan saja menampar, ia juga membuat sambungan rahang mereka terlepas.
Oeyang Kongcu terperanjat, lekas-lekas ia menolong tiga orang itu. "Apakah Cinpwee mengenal pamanku?" tanyanya kepada Cit Kong dengan sikap hormat.
"Oh, kau jadinya keponakannya Oeyang Hong!" kata Cit Kong. "Sudah dua puluh tahun aku tidak bertemu dengan si racun tua bangkamu itu! Apakah dia belum mampus?"
Panas hatinya si anak muda, tetapi melihat orang lihai itu sepertinya mengenal baik pamannya, ia mau percaya bahwa pengemis ini adalah orang tingkat atas. Maka berkatalah ia, "Pamanku sering bilang, sebelum sahabat-sahabatnya pada habis mati terlebih dulu, dia masih belum ingin pulang ke langit."
Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak. "Anak yang baik, pandai kau mencaci orang dengan jalan memutar balik!" katanya. "Aku hendak tanya kau, perlu apa kau membawa-bawa sekalian mustikamu ini?" Ia maksudkan semua ular itu.
"Biasanya aku yang muda tinggal di barat," Oeyang Kongcu menyahut. "Tapi kali ini aku berangkat ke Tionggoan untuk belajar berkenalan. Lantaran iseng kesepian di tengah jalan, sekalian aku membawa mereka ini untuk main-main saja."
"Terang-terang kau berdusta!" semprot Oey Yong. "Ada demikian banyak wanita yang menemani kau, kau masih bilang iseng kesepian!"
Pemuda itu menggoyangkan kipasnya dua kali, matanya menatap si nona, lalu tersenyum dan bersenandung, "Duka hatiku, maka kenapa tidak ada orang lain? Karena kau, aku jadi bersenandung hingga kini!" Ia mengambil syair dari Kitab Syair yang ia campur aduk.
Oey Yong tidak gusar, ia sebaliknya tertawa. "Aku tidak membutuhkan kau mengambil hatiku! Lebih baik tak perlulah kau memikirkan aku!"
Pikiran si anak muda bagaikan melayang; tak tahu ia harus berkata apa. Ang Cit Kong lantas menegur, "Kau paman dan keponakan malang melintang di Barat; di sana tidak ada orang yang mengendalikan kamu. Jikalau di Tionggoan kau masih hendak berbuat seperti di sana, janganlah bermimpi di musim rontok! Dengan memandang pamanmu itu, aku tidak ingin berpandangan cupat seperti kau, maka lekaslah kau pergi!"
Oeyang Kongcu mendongkol bukan main, tetapi untuk melawan ia tidak unggul, dan untuk berlalu begitu saja, ia tidak puas. Maka akhirnya ia berkata, "Di sini aku yang muda meminta diri."